Kasih setia yang dimaksud bukan sekadar perasaan,
melainkan tindakan nyata Allah yang terus memelihara, menolong, dan setia
kepada umat-Nya, sekalipun umat sering kali tidak setia. Kasih Tuhan tetap
teguh tidak berubah oleh situasi, tidak berkurang karena penderitaan, dan tidak
hilang oleh kegagalan manusia. Oleh karena itu, di minggu Misericordias Domini
mengajak setiap orang percaya untuk merespons kasih setia Tuhan tersebut
melalui pertobatan dan pembaruan hidup.
Kitab Habakuk lahir dari situasi yang penuh pergumulan.
Pada masa itu, bangsa Yehuda hidup dalam ketidakadilan, kekerasan, dan
penyimpangan dari hukum Tuhan. Di tengah kondisi itu, ancaman dari bangsa Babel
semakin nyata dan menimbulkan ketakutan akan kehancuran.
Nabi Habakuk hadir di tengah situasi ini dengan
pergumulan bangsa Israel yang berada di masa pembuangan Babel. Nama “Habakuk”
sendiri berasal dari bahasa Ibrani ืֲืַืงּืּืง (แธคฤแธaqqรปq) yang berarti “memeluk” atau
“merangkul”. Makna ini sangat dalam, karena menggambarkan sikap iman yang tetap
“memeluk Tuhan” di tengah keadaan yang sulit. Ketika situasi tidak dapat
dipahami, iman tetap berpegang erat kepada Tuhan.
Nabi Habakuk melihat kenyataan yang pahit dan ia
mempertanyakannya kepada Tuhan. Ia berseru mengapa kejahatan dibiarkan dan
mengapa Tuhan seolah-olah diam. Pergumulan ini menunjukkan bahwa iman bukan
berarti tidak pernah bertanya, tetapi berani membawa seluruh pergumulan itu
kepada Tuhan.
Namun perjalanan Nabi Habakuk tidak berhenti pada
pertanyaan. Ia mengalami perubahan yang besar: dari kebingungan menjadi
kepercayaan, dari kegelisahan menjadi penyembahan, dan dari ketakutan menjadi
sukacita. Ia belajar untuk tetap “memeluk” Tuhan, bukan karena keadaan sudah
baik, tetapi karena Tuhan tetap setia.
Konteks kehidupan saat ini tidak jauh berbeda.
Ketidakpastian ekonomi, tekanan pekerjaan, pergumulan keluarga, sakit penyakit,
dan kekhawatiran akan masa depan menjadi bagian dari kehidupan. Ada saat di
mana doa terasa belum dijawab, usaha belum berhasil, dan harapan terasa jauh.
Dalam keadaan seperti itu, sering muncul pertanyaan yang
sama seperti Habakuk: mengapa ini terjadi, dan di mana Tuhan? Firman Tuhan pada
hari ini tidak langsung menjawab semua pertanyaan itu, tetapi mengarahkan
kepada sikap iman yang lebih dalam. Sukacita sejati tidak bergantung pada
keadaan, tetapi pada hubungan dengan Tuhan yang tetap setia.
PENJELASAN NATS
Habakuk pasal 3 adalah doa yang berbentuk nyanyian iman.
Bagian ayat 10–15 menampilkan gambaran yang sangat kuat tentang kehadiran
Tuhan. Gunung-gunung digambarkan gemetar, air bah bergemuruh, dan langit seakan
ikut bereaksi. Dalam bahasa Ibrani, kata untuk “gemetar” yang digunakan adalah ืจָืְืืּ (ragzu), yang menunjuk pada guncangan yang hebat, bukan
sekadar gerakan biasa. Ini menegaskan bahwa ketika Tuhan hadir, seluruh ciptaan
merespons dengan takut dan hormat.
Air bah digambarkan dengan kekuatan yang tidak
terkendali, tetapi dalam bagian ini justru terlihat bahwa kekuatan itu berada
di bawah kendali Tuhan. Bahkan matahari dan bulan disebut “berhenti”, yang
menggambarkan bahwa terang sekalipun tunduk kepada kuasa Tuhan. Semua ini
menunjukkan bahwa Tuhan bukan Allah yang jauh, tetapi Allah yang aktif bekerja
dalam sejarah dan memiliki kuasa atas seluruh ciptaan.
Ayat 16 menunjukkan perubahan suasana. Habakuk merasakan
tubuhnya gemetar. Kata ืจָืַื (ragaz) menggambarkan keguncangan dari dalam diri, bukan
hanya fisik tetapi juga emosional. Bibirnya bergetar dan tulangnya terasa
lemah. Ini menunjukkan bahwa perjumpaan dengan Tuhan menyadarkan akan kelemahan
manusia. Namun di tengah ketakutan itu, muncul sikap menanti dengan tenang,
yaitu sikap percaya bahwa Tuhan tetap bekerja meskipun keadaan belum berubah.
Ayat 17–18 menjadi puncak. Digambarkan kehancuran total:
pohon ara tidak berbunga, anggur tidak berbuah, hasil zaitun gagal, ladang
tidak menghasilkan, dan ternak tidak ada. Ini adalah keadaan tanpa harapan.
Namun justru di tengah keadaan itu muncul pengakuan iman: “Namun aku akan
bersorak-sorai di dalam Tuhan.”
Kata “bersorak-sorai” berasal dari bahasa Ibrani ืขָืืֹื (aloz), yang berarti sukacita yang meluap dan aktif.
Kata lain, ืֶืִืืָื
(egilah), menunjukkan kegirangan yang mendalam. Sukacita ini tidak bergantung
pada keadaan, tetapi pada Tuhan.
Sukacita itu diarahkan kepada Allah yang menyelamatkan.
Kata ืְืฉׁืּืขָื (yeshu‘ah) berarti pembebasan nyata. Artinya dasar
sukacita adalah tindakan Tuhan yang menyelamatkan.
Ayat 19 menegaskan bahwa Tuhan adalah kekuatan. Kata ืַืִื (cheil) berarti kekuatan atau kemampuan. Kekuatan bukan
berasal dari diri sendiri, tetapi dari Tuhan. Gambaran “kaki seperti rusa”
menunjukkan kemampuan berjalan di tempat yang sulit. Tuhan tidak selalu
mengubah keadaan, tetapi memberi kemampuan untuk tetap berjalan di dalamnya.
APLIKASI
Bergembira dalam Tuhan bukanlah sesuatu yang muncul
secara otomatis. Bergembira dalam Tuhan adalah pilihan iman yang harus
terus diperjuangkan di tengah kenyataan hidup yang tidak selalu mudah. Habakuk
tidak menunggu keadaan berubah baru bersukacita, tetapi ia memilih bersukacita
ketika keadaan justru sedang paling sulit.
Dalam kehidupan sehari-hari, sering muncul kecenderungan
untuk mengaitkan sukacita dengan keadaan. Ketika segala sesuatu berjalan baik,
hati menjadi tenang. Namun ketika keadaan berubah, sukacita pun ikut hilang.
Firman ini mengarahkan pada dasar yang berbeda: sukacita yang tidak bergantung
pada keadaan, tetapi pada kasih setia Tuhan yang pernah tidak berubah.
Bersukacita dalam Tuhan berarti belajar melihat hidup
dengan cara pandang iman. Ketika usaha belum berhasil, iman melihat bahwa Tuhan
masih bekerja. Ketika doa belum dijawab, iman percaya bahwa Tuhan tetap
mendengar. Ketika jalan terasa tertutup, iman tetap yakin bahwa Tuhan sedang
membuka jalan yang belum terlihat.
Sikap ini tidak lahir dalam satu waktu, tetapi melalui
proses berjalan bersama Tuhan. Dalam proses itu, ada beberapa hal yang menjadi
nyata dalam kehidupan:
- tetap
percaya, bukan karena keadaan sudah jelas, tetapi karena Tuhan dapat
dipercaya
- tetap
bersyukur, bukan karena semua sudah terpenuhi, tetapi karena Tuhan tetap
memelihara
- tetap
setia, bukan karena hidup mudah, tetapi karena Tuhan tetap setia terlebih
dahulu
Di tengah pergumulan hidup modern, seperti tekanan
ekonomi, tuntutan pekerjaan, relasi yang tidak mudah, dan rasa cemas akan masa
depan. Sukacita dalam Tuhan menjadi kekuatan untuk tidak menyerah. Sukacita itu
menjaga hati agar tidak dikuasai oleh ketakutan, kekecewaan, atau keputusasaan.
Kasih setia Tuhan mengingatkan bahwa dasar hidup orang
percaya tidak pernah berubah. Ketika segala sesuatu di luar berubah, kasih
Tuhan tetap sama. Dari sinilah muncul ketenangan dan keberanian untuk tetap
melangkah.
Sukacita dalam Tuhan juga menjadi kesaksian hidup. Ketika
seseorang tetap memiliki pengharapan di tengah kesulitan, itu menunjukkan bahwa
ada sesuatu yang lebih kuat dari keadaan, yaitu iman kepada Tuhan. Sukacita
seperti ini bukan hanya menguatkan diri sendiri, tetapi juga menjadi terang
bagi orang lain.
PENUTUP
Habakuk tidak melihat perubahan keadaan secara langsung.
Ancaman tetap ada, kesulitan tetap nyata, dan masa depan tetap penuh
ketidakpastian. Namun yang berubah adalah hatinya. Ia tidak lagi dikuasai oleh
ketakutan, tetapi dipenuhi oleh iman.
Perubahan hati ini menjadi kunci. Ketika hati dipegang oleh iman, keadaan tidak lagi menentukan arah hidup. Dari hati yang percaya, lahir kekuatan untuk tetap berdiri. Dari hati yang percaya, muncul keberanian untuk tetap berjalan. Dari hati yang percaya, tumbuh sukacita yang tidak tergantung pada situasi.
1. Inilah inti dari iman yang sejati: bukan hidup tanpa masalah, tetapi hidup yang tetap berpegang pada Tuhan di tengah masalah.
2. Kasih setia Tuhan tidak pernah berubah. Apa yang menjadi dasar iman Habakuk juga menjadi dasar iman saat ini. Tuhan yang sama masih bekerja, masih memelihara, dan masih menyertai.
3. Di tengah segala perubahan hidup, tetap ada satu kepastian: Tuhan tetap setia.
4. Selalu ada alasan untuk tetap bergembira. Bukan karena hidup selalu mudah, tetapi karena Tuhan selalu hadir.
5. Bergembira dalam Tuhan bukanlah akhir dari pergumulan, tetapi kekuatan untuk menjalani setiap pergumulan dengan iman. Amin. (SRDP)