PENDAHULUAN
Minggu ini kita memasuki Minggu Jubilate yang mengingatkan tentang
panggilan untuk bersukacita di dalam Tuhan. Kata Jubilate sendiri
berarti “bersoraklah” atau “bersukacitalah”. Ini bukan sekadar ajakan untuk
merasa senang, tetapi ajakan untuk memiliki sukacita yang berasal dari Tuhan.
Namun, dalam kenyataannya, sukacita sering kali menjadi sesuatu yang mudah
berubah. Ketika hidup berjalan baik, hati terasa ringan dan penuh syukur.
Tetapi ketika menghadapi masalah, tekanan, atau ketidakpastian, sukacita itu
perlahan memudar. Pikiran mulai dipenuhi kekhawatiran, hati menjadi gelisah,
dan sukacita seolah hilang.
Hal ini menunjukkan bahwa sering kali sukacita masih bergantung pada
keadaan. Selama keadaan mendukung, sukacita ada. Tetapi ketika keadaan berubah,
sukacita ikut goyah. Akibatnya, kehidupan iman menjadi tidak stabil karena
hati terus mengikuti situasi yang berubah-ubah.
Di tengah keadaan seperti itu, firman Tuhan dalam Kisah Para Rasul 2:22–28
membawa kembali kepada dasar yang benar. Bagian ini adalah khotbah Petrus pada
hari Pentakosta, di mana ia menjelaskan tentang Yesus yang mati dan bangkit.
Petrus tidak berbicara tentang keadaan hidup, tetapi tentang karya Allah yang
pasti dan tidak berubah.
Di sinilah letak perbedaan yang besar. Sukacita yang berasal dari keadaan
akan selalu berubah, tetapi sukacita yang berakar pada Kristus tidak akan
goyah. Kebangkitan Kristus menjadi dasar yang kuat yang tidak tergantung pada
situasi apa pun.
Karena itu, Minggu Jubilate mengajak untuk melihat kembali sumber sukacita
dalam hidup. Sukacita sejati bukan berasal dari apa yang dimiliki atau dialami,
tetapi dari siapa yang menjadi pusat hidup. Ketika hidup berpusat pada Kristus
yang bangkit, di tengah keadaan apa pun, hati tetap dapat bersukacita dan
jiwa tetap dapat bersorak-sorak.
PENJELASAN NAST
Dalam khotbahnya, Petrus memulai dengan menegaskan bahwa Yesus Kristus
adalah pribadi yang nyata, yang hidup di tengah manusia dan dikenal oleh banyak
orang. Kehadiran-Nya tidak tersembunyi, tetapi dinyatakan melalui berbagai
mujizat dan tanda. Semua itu bukan sekadar perbuatan luar biasa, tetapi bukti
bahwa Allah sendiri sedang bekerja melalui Dia. Artinya, sejak awal, hidup
Yesus sudah menunjukkan bahwa Allah tidak jauh, tetapi hadir di tengah manusia.
Namun, Petrus tidak berhenti pada kehidupan Yesus saja. Ia
membawa perhatian kepada salib. Ia
menjelaskan bahwa kematian Yesus bukan kejadian yang tiba-tiba atau kegagalan,
melainkan bagian dari rencana Allah. Apa yang terlihat sebagai penderitaan dan
kekalahan justru menjadi jalan keselamatan. Di sinilah terlihat bahwa Allah
tetap bekerja, bahkan di tengah situasi yang paling gelap sekalipun. Hal ini
sejalan dengan kebenaran firman Tuhan bahwa “Allah turut bekerja dalam
segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan” (Roma 8:28).
Puncak dari seluruh berita ini adalah kebangkitan. Petrus menegaskan bahwa
Allah membangkitkan Yesus dan maut tidak dapat menguasai-Nya. Ini adalah inti
iman Kristen. Kebangkitan bukan hanya peristiwa, tetapi kemenangan. Kemenangan
atas dosa, atas maut, dan atas segala kuasa yang mengikat manusia. Karena itu,
kebangkitan menjadi dasar sukacita yang sejati. Seperti yang ditegaskan dalam 1
Korintus 15:55, “Hai maut, di manakah kemenanganmu?” Kematian tidak lagi
menjadi akhir.
Petrus kemudian mengutip perkataan Daud untuk menunjukkan bahwa semua ini
sudah dinubuatkan sejak dahulu. Pernyataan bahwa Tuhan tidak membiarkan Dia
tinggal dalam dunia orang mati menunjukkan bahwa kebangkitan Yesus adalah
bagian dari rencana Allah yang sudah disiapkan. Kehadiran Tuhan yang terus
menyertai menjadi sumber ketenangan dan kekuatan. Dari persekutuan dengan Tuhan
itulah muncul sukacita yang penuh, seperti tertulis: “Engkau akan melimpahi
Aku dengan sukacita di hadapan-Mu.”
Keseluruhan bagian ini menunjukkan bahwa sukacita sejati tidak dibangun di
atas keadaan hidup yang berubah-ubah, tetapi di atas kebenaran yang tidak
berubah, yaitu Kristus yang hidup. Karena Kristus bangkit, hidup tidak
dikuasai oleh ketakutan, masa depan tidak dikuasai oleh ketidakpastian, dan
hati memiliki alasan untuk tetap bersukacita.
Dalam kehidupan Kristen, sukacita sering kali diuji oleh kenyataan hidup.
Ada saat di mana keadaan tidak sesuai harapan, doa terasa belum terjawab, atau
jalan hidup terasa berat dan tidak jelas. Dalam situasi seperti itu, sangat
mudah bagi hati untuk kehilangan sukacita dan digantikan oleh kekhawatiran.
Namun, firman Tuhan mengingatkan bahwa dasar sukacita bukanlah keadaan,
melainkan Kristus. Kristus yang mati dan bangkit menunjukkan bahwa Allah tetap
bekerja, bahkan ketika manusia tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Kebangkitan menjadi bukti bahwa tidak ada keadaan yang terlalu gelap bagi
Tuhan.
Ketika hidup berpusat pada Kristus, cara memandang hidup pun berubah.
Masalah tidak lagi menjadi pusat perhatian karena ada keyakinan bahwa Tuhan
lebih besar dari masalah itu. Dari keyakinan inilah lahir sukacita yang lebih
dalam. Sukacita yang tidak tergantung pada apa yang terjadi di luar, tetapi
berasal dari hubungan dengan Tuhan di dalam hati.
Firman Tuhan juga menegaskan dalam Filipi 4:4, “Bersukacitalah
senantiasa dalam Tuhan.” Ini menunjukkan bahwa sukacita bukan sekadar
reaksi terhadap keadaan, tetapi keputusan iman untuk tetap percaya kepada
Tuhan.
Sukacita dalam Tuhan bukan berarti hidup tanpa kesulitan, tetapi berarti
memiliki pengharapan yang tetap di tengah kesulitan. Ada keyakinan bahwa Tuhan
tidak meninggalkan, Tuhan memegang hidup, dan Tuhan akan membawa setiap langkah
kepada tujuan-Nya.
Karena itu, hati dapat tetap bersukacita dan jiwa tetap bersorak-sorak,
bukan karena hidup selalu mudah, tetapi karena Kristus hidup dan menyertai.
REFLEKSI
Kita perlu melihat kembali dengan jujur, seperti apakah sukacita yang
selama ini dimiliki. Apakah sukacita itu mudah berubah ketika keadaan berubah?
Ketika semuanya berjalan baik, hati terasa tenang, tetapi ketika masalah
datang, sukacita itu perlahan hilang. Jika demikian, berarti sukacita masih
bergantung pada keadaan, bukan pada Tuhan.
Firman Tuhan hari ini mengajak untuk melihat lebih dalam. Sukacita yang
sejati bukanlah sesuatu yang datang dari luar, tetapi sesuatu yang lahir dari
dalam, dari hubungan dengan Kristus yang hidup. Kristus yang telah mati dan
bangkit menjadi dasar yang tidak tergoyahkan. Di dalam Dia ada hidup, ada
pengharapan, dan ada kepastian yang tidak berubah.
Ketika hidup belum sesuai harapan, ketika doa terasa belum terjawab, ketika
jalan terasa berat, di situlah iman diuji. Apakah tetap percaya bahwa Tuhan
bekerja? Apakah tetap percaya bahwa kebangkitan Kristus adalah bukti bahwa
tidak ada yang mustahil bagi Tuhan?
Sukacita dalam Tuhan bukan berarti menutup mata terhadap kenyataan hidup,
tetapi melihat kenyataan hidup dengan iman. Ada keyakinan bahwa di tengah semua
yang terjadi, Tuhan tetap hadir, tetap memegang hidup, dan tidak pernah
meninggalkan.
Ketika hati mulai kembali kepada Kristus, perlahan ada ketenangan yang
muncul. Bukan karena masalah hilang, tetapi karena ada keyakinan bahwa Tuhan
lebih besar dari masalah. Dari situlah lahir sukacita yang lebih dalam,
sukacita yang tidak mudah hilang, sukacita yang membuat hati tetap kuat dan
jiwa tetap bersorak-sorak.
PENUTUP
Kisah Para Rasul 2:22–28, terlihat dengan jelas bahwa dasar sukacita orang
percaya bukanlah keadaan hidup, tetapi Kristus yang telah mati dan bangkit.
Dunia bisa berubah, keadaan bisa tidak menentu, bahkan hidup bisa penuh
pergumulan. Tetapi Kristus tidak berubah. Ia hidup, dan Ia memegang hidup
setiap orang yang percaya kepada-Nya.
Ketika semua yang lain goyah, masih ada satu yang tetap: kehadiran Tuhan
yang setia. Ketika kekuatan diri sendiri habis, masih ada Tuhan yang menjadi
kekuatan. Ketika jalan terasa gelap, masih ada terang dari Tuhan yang menuntun.
Karena itu, tidak ada alasan untuk hidup tanpa pengharapan. Tidak ada
alasan untuk menyerah pada keadaan. Di dalam Kristus, selalu ada alasan untuk
tetap berdiri, tetap percaya, dan tetap bersukacita.
Biarlah dari dalam hati yang paling dalam, lahir pengakuan iman yang kuat:
Bahwa di tengah segala keadaan, hati tetap bersukacita dan jiwa tetap
bersorak-sorak, karena Kristus hidup dan tidak pernah meninggalkan.
Amin.