Pada minggu ini kita memasuki Minggu Quasimodogeniti adalah hari Minggu pertama setelah Paskah. Nama ini berasal dari bahasa Latin “Quasi modo geniti infantes” yang berarti “seperti bayi yang baru lahir”. Ungkapan ini diambil dari 1 Petrus 2:2, yang mengajak orang percaya untuk merindukan “susu yang murni dan rohani”, seperti bayi yang baru lahir membutuhkan susu.
Setelah merayakan kebangkitan Kristus pada Paskah, orang percaya diingatkan
bahwa mereka telah menerima hidup yang baru. Hidup yang lama sudah
ditinggalkan, dan sekarang hidup sebagai manusia baru di dalam Kristus. Pada
zaman gereja mula-mula, minggu ini juga berkaitan dengan orang-orang yang baru
dibaptis pada Paskah. Mereka dianggap seperti “bayi rohani” yang baru lahir dan
mulai belajar hidup dalam iman.
Di zaman sekarang ini, kata kudus sering terasa jauh dari kehidupan
sehari-hari. Banyak orang berpikir bahwa hidup kudus itu hanya untuk pendeta,
pelayan gereja, atau orang-orang yang dianggap “rohani sekali”. Bahkan ada yang
merasa bahwa hidup kudus itu terlalu sulit, terlalu tinggi, dan tidak mungkin
dijalani di tengah kehidupan yang penuh tantangan seperti sekarang.
Dunia yang kita hidupi hari ini lebih banyak berbicara tentang kebebasan.
Bebas melakukan apa saja, bebas mengikuti keinginan hati, bebas menentukan mana
yang menurut kita benar. Akibatnya, banyak orang mulai kehilangan arah. Hal-hal
yang dulu jelas salah, sekarang dianggap biasa saja. Dosa tidak lagi terasa
sebagai sesuatu yang harus dijauhi, tetapi malah sering diterima sebagai bagian
dari gaya hidup.
Tanpa kita sadari, cara berpikir seperti ini juga bisa memengaruhi
kehidupan orang percaya. Kita bisa mulai berkompromi sedikit demi sedikit. Kita
tahu itu tidak benar, tetapi kita berkata, “tidak apa-apa, semua orang juga
melakukannya.” Akhirnya, hidup kita tidak lagi berbeda dari dunia.
Di tengah keadaan seperti itu, firman Tuhan melalui 1 Petrus mengingatkan
kembali siapa kita sebenarnya. Kita bukan lagi orang yang hidup sembarangan,
tetapi orang yang sudah dipanggil oleh Tuhan. Kita bukan hanya percaya kepada
Kristus, tetapi juga dipanggil untuk hidup seperti Kristus.
Tuhan tidak hanya memanggil kita untuk hidup kudus, tetapi juga menunjukkan bagaimana memulainya. Dan langkah pertama itu bukan dari luar, tetapi dari dalam yaitu pikiran yang diperbarui dan diarahkan kepada Tuhan.
1. Hidup dengan Pikiran yang Siap dan Terarah (ayat 13)
Firman Tuhan berkata, “Siapkanlah akal budimu…”. Ini berarti hidup
kudus dimulai dari pikiran. Sering kali orang mengira dosa hanya soal tindakan,
padahal sebelum seseorang jatuh dalam perbuatan, biasanya dimulai dari apa yang
dipikirkan. Pikiran yang tidak dijaga akan mudah dipengaruhi oleh apa yang
dilihat, didengar, dan diinginkan. Ketika pikiran mulai terbiasa dengan hal
yang salah, lama-kelamaan hati menjadi kebal dan akhirnya perbuatan pun
mengikuti.
Karena itu, firman Tuhan mengajak untuk hidup dengan kesadaran dan pengendalian diri. Kita tidak bisa hidup sembarangan, tetapi harus belajar mengarahkan pikiran kepada Tuhan. Selain itu, firman Tuhan juga menekankan agar pengharapan kita sepenuhnya diletakkan kepada Kristus. Artinya, hidup kita tidak bergantung pada keadaan, tidak bergantung pada manusia, tetapi tertuju kepada Tuhan yang setia. Dari sinilah hidup kudus itu dimulai, yaitu dari pikiran yang diperbarui dan diarahkan kepada Tuhan.
2. Hidup dalam Ketaatan, Bukan Menuruti Keinginan Lama
(ayat 14)
Firman Tuhan menyebut orang percaya sebagai anak-anak yang taat. Ini
menunjukkan bahwa kita sudah memiliki identitas yang baru di dalam Tuhan.
Dahulu kita hidup tanpa arah yang jelas, mengikuti keinginan sendiri, dan tidak
peduli apakah itu benar atau salah. Namun sekarang, setelah mengenal Tuhan,
kita dipanggil untuk hidup berbeda.
Masalahnya, sering kali keinginan lama itu masih muncul. Kadang kita tahu sesuatu itu tidak benar, tetapi tetap melakukannya karena sudah terbiasa. Firman Tuhan mengingatkan agar kita tidak lagi hidup seperti dulu. Hidup dalam ketaatan berarti kita belajar meninggalkan kebiasaan lama dan mulai hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Ini bukan proses yang instan, tetapi perjalanan seumur hidup. Orang yang sungguh percaya akan terus belajar untuk berubah, bukan kembali ke kehidupan yang lama.
3. Hidup Kudus dalam Seluruh Aspek Kehidupan (ayat 15)
Firman Tuhan berkata, “Hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh
hidupmu.” Kata “seluruh” menunjukkan bahwa tidak ada bagian hidup kita yang
boleh terlepas dari Tuhan. Kekudusan bukan hanya saat kita berada di gereja
atau saat kita beribadah, tetapi harus terlihat dalam kehidupan sehari-hari.
Sering kali orang membagi hidupnya menjadi dua bagian. Di satu sisi ingin terlihat rohani, tetapi di sisi lain masih hidup sembarangan. Namun Tuhan menghendaki kehidupan yang utuh. Kekudusan harus nyata dalam cara kita berbicara, dalam sikap kita terhadap orang lain, dalam pekerjaan kita, bahkan dalam pikiran dan hati kita. Semua ini penting karena Allah yang memanggil kita adalah Allah yang kudus. Hidup kita seharusnya mencerminkan siapa Dia.
4. Hidup Kudus Karena Allah Kudus (ayat 16)
Firman Tuhan berkata, “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” Ini
menunjukkan bahwa standar hidup orang percaya bukan dunia, melainkan Allah
sendiri. Sering kali kita merasa sudah cukup baik karena tidak seburuk orang
lain. Kita membandingkan diri dengan manusia, bukan dengan Tuhan. Padahal Tuhan
memanggil kita untuk melihat kepada-Nya sebagai standar hidup.
Kekudusan bukan hanya soal aturan yang harus ditaati, tetapi tentang hubungan dengan Allah. Semakin kita dekat dengan Tuhan, kita akan semakin sadar akan dosa dan semakin rindu untuk hidup benar. Hidup kudus bukan karena terpaksa atau takut dihukum, tetapi karena kita mengasihi Tuhan dan ingin menyenangkan hati-Nya. Dari hubungan inilah muncul keinginan untuk hidup yang berkenan kepada-Nya.
Jadi, hidup dalam kekudusan bukan sesuatu yang jauh atau mustahil. Hidup kudus dimulai dari pikiran yang diarahkan kepada Tuhan, dilanjutkan dengan ketaatan dalam kehidupan sehari-hari, terlihat dalam seluruh aspek hidup, dan berakar pada hubungan yang dekat dengan Allah yang kudus.
Ilustrasi
Ada seorang pemuda yang baru saja membeli HP baru. Masih kinclong, layarnya
bersih, tidak ada goresan sedikit pun. Begitu beli, dia langsung pasang casing
terbaik, pasang anti gores, bahkan kalau pegang pun hati-hati sekali. Setiap
ada debu sedikit, langsung dilap. Pokoknya dijaga benar-benar.
Tapi lama-lama berubah. Setelah beberapa minggu, dia mulai merasa biasa
saja. Mulai malas bersihkan layar, mulai asal taruh, kadang ditaruh di tempat
kotor, bahkan dipakai sambil makan sampai kena minyak. Aplikasi juga mulai
sembarangan diinstal. Yang penting menarik, langsung download, tanpa pikir
panjang.
Awalnya HP itu cepat dan enak dipakai. Tapi lama-lama mulai lemot. Banyak
iklan muncul tiba-tiba. Baterai cepat habis. Kadang error sendiri. Akhirnya dia
bingung dan kesal, lalu berkata, “Kok jadi begini ya?”
Padahal bukan HP-nya yang berubah, tapi cara dia merawatnya yang berubah.
Hidup kita sering seperti itu.
Waktu pertama kali sungguh-sungguh dengan Tuhan, kita jaga hidup dengan
hati-hati. Kita pilih apa yang kita lihat, kita dengar, dan kita lakukan. Kita
tidak mau sembarangan, karena kita tahu hidup ini berharga di hadapan Tuhan.
Tapi lama-lama kita mulai merasa biasa saja. Mulai longgar. Mulai berkata,
“Ah, tidak apa-apa ini.” Sedikit demi sedikit kita biarkan hal-hal yang tidak
baik masuk dalam hidup kita. Tanpa sadar, hati kita mulai penuh dengan hal yang
tidak benar, pikiran mulai kacau, dan hidup rohani terasa “lemot”.
Hidup dalam kekudusan itu seperti merawat HP tadi. Kalau tidak dijaga,
bukan langsung rusak besar, tetapi pelan-pelan menurun. Awalnya mungkin tidak
terasa, tetapi lama-lama akan terlihat dampaknya dalam hidup kita. Pikiran jadi
tidak jernih, hati jadi mudah tergoda, dan hubungan dengan Tuhan terasa jauh.
Kekudusan bukan sesuatu yang terjadi sekali saja, tetapi sesuatu yang harus
dijaga setiap hari dengan kesadaran dan kesungguhan.
Bedanya dengan HP, hidup kita tidak pernah terlambat untuk dipulihkan. Tuhan tidak pernah menolak ketika kita datang kembali kepada-Nya. Ia sanggup membersihkan hati kita, memperbarui hidup kita, dan memulihkan hubungan kita dengan-Nya. Karena itu, hidup kudus bukan soal menjadi sempurna, tetapi tentang kesediaan untuk terus menjaga hidup dan kembali kepada Tuhan setiap kali kita menyadari bahwa kita mulai menjauh.
Aplikasi
Firman Tuhan hari ini tidak hanya untuk didengar, tetapi untuk direnungkan
secara pribadi. Setiap kita perlu melihat ke dalam diri sendiri dengan jujur.
Apakah selama ini pikiran kita sungguh diarahkan kepada Tuhan, atau justru
lebih banyak dipenuhi oleh hal-hal dunia yang menjauhkan kita dari-Nya? Kadang
tanpa sadar, kita membiarkan pikiran kita dipenuhi hal yang tidak benar, dan
itu perlahan memengaruhi cara hidup kita.
Selain itu, kita juga perlu bertanya, apakah masih ada kebiasaan lama yang
kita pertahankan. Mungkin kita sudah percaya kepada Tuhan, sudah aktif dalam
pelayanan, tetapi masih ada bagian hidup yang belum kita serahkan sepenuhnya
kepada Tuhan. Kita tahu itu tidak benar, tetapi kita tetap memeliharanya.
Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk berani berubah, bukan dengan kekuatan
sendiri, tetapi dengan pertolongan Tuhan.
Hidup dalam kekudusan bukan berarti kita langsung menjadi sempurna dan
tidak pernah salah. Hidup kudus adalah proses. Proses di mana kita terus
belajar meninggalkan dosa, terus membuka diri untuk diperbarui oleh Tuhan, dan
terus mendekat kepada-Nya setiap hari. Kadang kita jatuh, kadang kita lemah,
tetapi yang penting adalah kita tidak tinggal diam dalam keadaan itu. Kita mau
bangkit, mau kembali kepada Tuhan, dan mau hidup lebih benar dari hari ke hari.
Di tengah dunia yang semakin jauh dari Tuhan, justru di situlah orang percaya dipanggil untuk hidup berbeda. Bukan untuk menjadi sombong atau merasa lebih baik dari orang lain, tetapi untuk menjadi terang yang menunjukkan bahwa hidup bersama Tuhan itu nyata dan membawa perubahan.
Penutup
Melalui 1 Petrus 1:13–16, Tuhan mengingatkan bahwa hidup Kristen bukan
hanya tentang percaya di dalam hati, tetapi juga tentang bagaimana kita
menjalani hidup setiap hari. Kita dipanggil untuk hidup dengan pengharapan
kepada Kristus, hidup dalam ketaatan, dan terus bertumbuh dalam kekudusan.
Panggilan ini bukan sesuatu yang ringan, tetapi juga bukan sesuatu yang
mustahil. Tuhan tidak hanya memanggil kita untuk hidup kudus, tetapi Ia juga
menolong dan memampukan kita. Ketika kita mau berserah dan berjalan bersama
Tuhan, Ia akan membentuk hidup kita sedikit demi sedikit menjadi semakin serupa
dengan kehendak-Nya.
Akhirnya, marilah kita tidak hanya menjadi pendengar firman, tetapi juga
pelaku firman. Biarlah hidup kita benar-benar berbeda, bukan karena usaha kita
semata, tetapi karena Tuhan yang bekerja di dalam kita. Kiranya melalui hidup
kita, orang lain dapat melihat bahwa kita adalah milik Tuhan, dan nama Tuhan
dimuliakan.