Khotbah Kenaikan Tuhan Yesus Ke Surga 14 Mei 2026 - Yesus Naik Ke Surga dan Akan Datang Kembali (Kisah Para Rasul 1 : 1 - 11)
Pendahuluan
Hari Kenaikan Tuhan Yesus Kristus
ke surga merupakan salah satu peristiwa penting dalam iman Kristen. Empat puluh
hari setelah kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus terangkat ke surga di depan mata
murid-muridNya. Peristiwa ini bukan sekadar kisah perpisahan antara Tuhan Yesus
dan murid-murid, tetapi sebuah kemenangan dan penggenapan karya keselamatan
Allah. Kenaikan Tuhan Yesus menyatakan bahwa Ia telah menang atas dosa, maut,
dan kuasa dunia. Ia kembali dalam kemuliaan kepada Bapa, memerintah sebagai
Raja di atas segala raja, dan suatu hari nanti Ia akan datang kembali dalam
kemuliaanNya.
Bagi banyak orang, perpisahan
sering kali identik dengan kehilangan. Ketika seseorang yang dikasihi pergi,
hati menjadi sedih, kosong, dan takut menghadapi hari-hari ke depan.
Demikianlah yang mungkin dirasakan murid-murid ketika melihat Tuhan Yesus naik
ke surga. Selama kurang lebih tiga tahun mereka hidup bersama-sama dengan
Yesus. Mereka mendengar suara-Nya, melihat mujizat-Nya, menyaksikan kasih dan
kuasa-Nya secara nyata. Dalam setiap perjalan hidup para murid-muridNya, Tuhan Yesus
selalu ada bersama mereka. Tetapi kini, mereka melihat Guru yang mereka kasihi
terangkat naik meninggalkan mereka.
Namun kenaikan Tuhan Yesus
bukanlah akhir dari segalanya. KenaikanNya bukan tanda bahwa Tuhan Yesus
meninggalkan umat-Nya tanpa harapan. Justru melalui kenaikan itu, menunjukkan
bahwa karyaNya telah sempurna. Ia naik ke surga untuk memerintah dalam
kemuliaan dan tetap menyertai umatNya melalui penyertaan Roh Kudus. Karena itu
Hari Kenaikan Tuhan Yesus bukan hari kesedihan, melainkan hari pengharapan.
Gereja diingatkan bahwa Tuhan yang disembah adalah Tuhan yang hidup, yang
memerintah, dan yang akan datang kembali.
Yesus Naik ke Surga dan Akan
Datang Kembali, membawa kita melihat bahwa kehidupan orang percaya tidak
berhenti pada dunia ini. Dunia sering membuat manusia merasa bahwa kebahagiaan
hanya terletak pada harta, jabatan, keberhasilan, dan kenyamanan hidup.
Akibatnya banyak orang bekerja tanpa henti demi mengejar apa yang dunia
tawarkan. Tidak sedikit pula orang Kristen yang akhirnya hidup tanpa arah
rohani. Ibadah menjadi rutinitas, doa menjadi formalitas, pelayanan menjadi
kebiasaan tanpa penghayatan. Hati manusia mudah melekat kepada dunia, tetapi
lupa bahwa semua yang ada di dunia ini akan berlalu.
Banyak orang hidup dalam
kecemasan. Ada yang takut menghadapi masa depan, takut kehilangan pekerjaan,
takut dengan keadaan ekonomi, takut sakit, takut gagal, bahkan takut menjalani
hidup. Banyak orang tampak tersenyum di luar, tetapi sebenarnya lelah dan kosong
di dalam hati. Tidak sedikit orang percaya yang mulai kehilangan sukacita dan
pengharapan karena tekanan hidup yang berat. Dunia menawarkan banyak hal,
tetapi tidak mampu memberi damai yang sejati.
Dalam Kisah Para Rasul 1:1–11, mengingatkan
bahwa pengharapan orang percaya bukan terletak pada dunia, melainkan pada
Kristus yang hidup. Yesus memang naik ke surga, tetapi Ia tidak meninggalkan
umatNya sendirian. Sebelum naik, Ia memberikan janji tentang Roh Kudus yang
akan menyertai dan menguatkan murid-muridNya. Ia juga memberikan tugas agar
mereka menjadi saksiNya sampai ke ujung bumi.
Kitab Kisah Para Rasul sendiri
ditulis oleh Lukas sebagai kelanjutan dari Injil Lukas. Jika Injil Lukas
berbicara tentang karya dan pelayanan Yesus selama di dunia, maka Kisah Para
Rasul menjelaskan bagaimana pekerjaan Tuhan terus berlangsung melalui penyertaan
Roh Kudus di tengah gereja mula-mula. Kitab ini ditujukan kepada Teofilus dan
juga kepada semua orang percaya, supaya gereja memahami bahwa Injil tidak
berhenti ketika Yesus naik ke surga. Justru dari situlah dimulai tugas besar
gereja untuk memberitakan keselamatan kepada dunia.
Kisah Para Rasul 1 : 1 - 11, ini
menjadi jembatan antara pelayanan Yesus di dunia dan pelayanan gereja setelah
kenaikan-Nya. Murid-murid yang sebelumnya penuh ketakutan dipersiapkan menjadi
saksi Kristus. Mereka tidak dipanggil untuk hanya berdiri memandang ke langit,
tetapi pergi menjalankan tugas Tuhan di dunia. Demikian juga gereja saat ini.
Tuhan tidak memanggil orang percaya untuk hidup pasif, sibuk dengan diri
sendiri, atau hanya menikmati keselamatan secara pribadi. Tuhan memanggil
gereja menjadi terang dan garam dunia. Di tengah dunia yang penuh kebencian,
gereja dipanggil membawa kasih. Di tengah dunia yang penuh kepalsuan, gereja
dipanggil hidup dalam kebenaran. Di tengah dunia yang penuh ketakutan dan
keputusasaan, gereja dipanggil membawa pengharapan tentang Kristus yang hidup
dan akan datang kembali.
Hari Kenaikan Tuhan Yesus ke
surga seharusnya membuat iman orang percaya semakin kuat. Kita diingatkan bahwa
hidup ini bukan hanya tentang hari ini. Ada pengharapan kekal yang sudah
disediakan Tuhan bagi umat-Nya. Yesus yang naik ke surga tetap memegang hidup
kita, mendengar doa kita, menyertai langkah kita, dan suatu hari nanti Ia akan
datang kembali dalam kemuliaan. Maka selama masih ada waktu, marilah kita hidup
setia, berjaga-jaga, dan tetap menjadi saksi Kristus di tengah dunia.
Penjelasan
Nast
Kisah Para Rasul 1:1–11 dimulai
dengan penegasan dari Lukas bahwa segala sesuatu yang dilakukan dan diajarkan
oleh Yesus Kristus tidak berhenti ketika Ia mati di kayu salib. Lukas menulis
kepada Teofilus bahwa Yesus yang telah menderita dan disalibkan itu sungguh
bangkit dan hidup. Selama empat puluh hari Yesus menampakkan diri kepada
murid-murid-Nya dan berbicara tentang Kerajaan Allah. Ini bukan sekadar cerita
penghiburan untuk murid-murid yang sedih, melainkan bukti bahwa maut tidak
dapat mengalahkan Kristus.
Murid-murid sebenarnya pernah
mengalami kehancuran iman. Ketika Yesus ditangkap dan disalibkan, mereka
dipenuhi ketakutan. Mereka melarikan diri, bersembunyi, bahkan Petrus
menyangkal Yesus tiga kali. Mereka merasa semua pengharapan telah berakhir.
Guru yang mereka andalkan telah mati. Dunia mereka seakan runtuh. Namun ketika
Yesus bangkit dan menampakkan diri kepada mereka, semuanya berubah. Ketakutan
berubah menjadi keberanian, kesedihan berubah menjadi sukacita, dan
keputusasaan berubah menjadi pengharapan.
Inilah kekuatan kebangkitan
Kristus. Kebangkitan Yesus bukan hanya peristiwa masa lalu, tetapi kuasa yang
terus bekerja dalam hidup orang percaya sampai hari ini. Banyak orang Kristen
saat ini hidup dalam ketakutan dan tekanan. Ada yang takut menghadapi masa
depan karena ekonomi sulit. Ada yang lelah memikirkan keluarga dan pekerjaan.
Ada yang merasa hidupnya hancur karena kegagalan, kehilangan, atau sakit
penyakit. Bahkan tidak sedikit orang percaya yang diam-diam kehilangan semangat
hidup dan merasa Tuhan jauh dari mereka.
Tetapi kebangkitan Kristus
mengingatkan bahwa tidak ada keadaan yang terlalu gelap bagi Tuhan. Yesus yang
bangkit sanggup memulihkan hati yang hancur, menguatkan yang lemah, dan memberi
harapan kepada mereka yang hampir menyerah. Dunia boleh berubah, keadaan hidup
boleh sulit, tetapi Kristus tetap hidup dan memegang kehidupan umat-Nya.
Selama empat puluh hari itu Yesus
berbicara tentang Kerajaan Allah. Menariknya, Yesus tidak mempersiapkan
murid-murid untuk mencari kenyamanan hidup, melainkan mempersiapkan mereka
menjadi saksi. Sebelum naik ke surga, Yesus memerintahkan murid-murid untuk
tetap tinggal di Yerusalem dan menantikan janji Bapa, yaitu Roh Kudus.
Perintah untuk menunggu ini
sangat penting. Secara manusia murid-murid mungkin merasa mereka sudah siap.
Mereka sudah mendengar pengajaran Yesus secara langsung, melihat
mujizat-mujizat-Nya, bahkan menyaksikan kebangkitan-Nya. Namun Yesus tahu
mereka tetap tidak akan sanggup menjalankan tugas besar itu dengan kekuatan
sendiri.
Tuhan ingin murid-murid belajar
bahwa pelayanan bukan soal kemampuan manusia, melainkan soal kuasa Tuhan. Sebab
manusia mudah merasa kuat ketika memiliki pengetahuan, pengalaman, jabatan,
atau kemampuan berbicara. Bahkan dalam kehidupan gereja sekarang, sering kali
orang sibuk melayani tetapi kehilangan hubungan pribadi dengan Tuhan. Pelayanan
akhirnya hanya menjadi rutinitas. Orang aktif di gereja, tetapi kosong secara
rohani. Banyak melayani, tetapi sedikit berdoa. Banyak kegiatan, tetapi
kehilangan kasih mula-mula kepada Tuhan.
Karena itu Yesus meminta
murid-murid menunggu Roh Kudus. Roh Kudus adalah sumber kekuatan gereja. Tanpa
Roh Kudus, pelayanan hanya menjadi pekerjaan manusia. Tetapi ketika Roh Kudus
bekerja, orang-orang biasa dapat dipakai Tuhan melakukan perkara-perkara luar
biasa.
Kita melihat bagaimana
murid-murid yang dulu penuh ketakutan berubah menjadi pemberita Injil yang
berani. Mereka rela dipenjara, dihina, bahkan mati demi Kristus. Bukan karena
mereka hebat, tetapi karena Roh Kudus memenuhi hidup mereka.
Di tengah percakapan itu,
murid-murid bertanya kepada Yesus, “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini
memulihkan kerajaan bagi Israel?” Pertanyaan ini menunjukkan bahwa mereka masih
memiliki pemikiran duniawi. Mereka masih berharap Yesus mendirikan kerajaan politik
yang membebaskan Israel dari penjajahan Romawi.
Sering kali manusia juga seperti
itu. Kita lebih tertarik pada berkat jasmani daripada kehendak Tuhan. Banyak
orang datang kepada Tuhan hanya supaya hidupnya lancar, usahanya berhasil,
sakitnya sembuh, atau masalahnya selesai. Tidak salah meminta pertolongan
Tuhan, tetapi sering kali hubungan dengan Tuhan hanya berhenti pada kebutuhan
pribadi. Kita ingin Tuhan bekerja untuk rencana kita, tetapi jarang bertanya
apakah kita sudah hidup sesuai rencana Tuhan.
Yesus tidak menjawab pertanyaan
murid-murid sesuai harapan mereka. Ia justru mengalihkan perhatian mereka
kepada tugas yang lebih besar. Yesus berkata bahwa mereka akan menerima kuasa
ketika Roh Kudus turun ke atas mereka dan mereka akan menjadi saksi-Nya mulai
dari Yerusalem, Yudea, Samaria, sampai ke ujung bumi.
Kisah Para Rasul 1 : 8 Tetapi
kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan
menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke
ujung bumi." Kalimat ini menjadi inti kitab Kisah Para Rasul sekaligus
panggilan gereja sepanjang zaman. Menjadi saksi berarti hidup yang
memperlihatkan Kristus kepada dunia. Kesaksian bukan hanya tentang berkhotbah
di mimbar. Kesaksian terlihat melalui kehidupan sehari-hari: kejujuran, kasih,
kesabaran, pengampunan, kerendahan hati, dan kesetiaan hidup kepada Tuhan.
Dunia saat ini sedang kehilangan
banyak hal. Dunia kehilangan kasih karena orang semakin mudah membenci. Dunia
kehilangan kejujuran karena manusia lebih mengejar keuntungan. Dunia kehilangan
damai karena hati dipenuhi iri hati dan egoisme. Dalam keadaan seperti itu,
Tuhan memanggil gereja menjadi terang. Orang percaya dipanggil membawa kasih di
tengah kebencian, membawa pengharapan di tengah keputusasaan, dan membawa
kebenaran di tengah dunia yang penuh kepalsuan. Kesaksian hidup orang percaya
mungkin menjadi satu-satunya yang bisa dilihat orang lain dari tingkah laku
kita setiap hari.
Setelah mengatakan semua itu, Tuhan
Yesus terangkat naik ke surga di depan mata murid-muridNya. Bayangkan bagaimana
perasaan mereka saat itu. Mereka memandang Yesus semakin jauh hingga tertutup
awan. Dalam Alkitab, awan sering melambangkan kemuliaan Allah. Kenaikan Yesus
menunjukkan bahwa Ia dimuliakan dan kembali kepada Bapa sebagai Raja yang
berkuasa. Namun kenaikan Yesus bukan berarti Ia meninggalkan murid-muridNya.
Justru dari surga Yesus tetap bekerja melalui Roh Kudus. Ia menjadi Pengantara
bagi umatNya, mendengar doa-doa mereka, dan memimpin gerejaNya sampai hari ini.
Ketika murid-murid terus
memandang ke langit, dua malaikat berkata bahwa Yesus akan datang kembali
dengan cara yang sama seperti mereka melihat Dia naik ke surga. Ini adalah
janji yang sangat penting bagi gereja. Dunia yang kita jalani saat ini penuh
penderitaan. Ada tangisan, ketidakadilan, sakit penyakit, peperangan, dan
berbagai pergumulan hidup yang membuat manusia lelah. Kadang orang bertanya,
“Sampai kapan semua ini berlangsung?” Firman Tuhan memberikan jawaban bahwa
sejarah dunia tidak akan berakhir dalam kekacauan. Yesus akan datang kembali
sebagai Raja yang mulia.
Kedatangan Kristus yang kedua
kali menjadi pengharapan sekaligus peringatan. Pengharapan bagi mereka yang
setia kepada Tuhan, tetapi juga peringatan agar orang percaya tidak hidup
sembarangan. Sebab sering kali hati manusia terlalu melekat pada dunia. Kita
sibuk mengejar harta, kenyamanan, dan kesenangan, tetapi lupa mempersiapkan
diri menyambut Tuhan. Hari Kenaikan Tuhan Yesus mengingatkan bahwa hidup ini
sementara. Dunia bukan rumah kekal orang percaya. Karena itu selama Tuhan masih
memberi kesempatan hidup, marilah kita hidup dalam iman, setia melayani Tuhan,
menjaga kekudusan hidup, dan terus menjadi saksi Kristus sampai Ia datang
kembali dalam kemuliaanNya.
Refleksi
Sering kali tanpa sadar kita
hidup seperti murid-murid yang berdiri memandang ke langit setelah Yesus naik
ke surga. Mata tertuju kepada Tuhan, tetapi hati masih terikat kepada dunia.
Kita datang beribadah, berdoa, bahkan menyebut nama Tuhan, tetapi kehidupan
sehari-hari sering tidak mencerminkan Kristus. Kita ingin diberkati Tuhan,
tetapi tidak mau dipakai Tuhan. Kita ingin ditolong Tuhan keluar dari masalah,
tetapi enggan menyerahkan hidup sepenuhnya kepadaNya. Sebab sering kali dunia
begitu mudah menguasai hati manusia. Kita bekerja keras mengejar uang, jabatan,
kenyamanan, dan pengakuan manusia, sampai-sampai hubungan dengan Tuhan mulai
menjadi dingin. Doa mulai berkurang, firman Tuhan jarang direnungkan, ibadah
hanya menjadi kebiasaan, dan pelayanan kehilangan kasih.
Melalui peristiwa kenaikan Tuhan
Yesus, firman Tuhan mengingatkan bahwa Yesus tidak pernah meninggalkan umatNya.
Ketika Yesus naik ke surga, bukan berarti Ia menjauh dari manusia. Justru Ia
memerintah dalam kemuliaan dan tetap bekerja melalui Roh Kudus. Mata manusia
mungkin tidak melihatNya, tetapi tanganNya tetap menopang kehidupan umatNya
sampai hari ini. Kadang kita terlalu fokus melihat beratnya masalah sehingga
lupa melihat besarnya kuasa Tuhan. Murid-murid pernah merasa kehilangan arah
ketika Yesus disalibkan, tetapi kebangkitan dan kenaikan Kristus mengubah hidup
mereka. Mereka yang dahulu takut menjadi berani. Mereka yang dahulu lemah
menjadi kuat. Semua itu terjadi karena mereka percaya bahwa Tuhan hidup dan
menyertai mereka.
Sering kali kita terlalu sibuk
mempersiapkan kehidupan di dunia, tetapi lupa mempersiapkan diri menyambut
kedatangan Tuhan. Kita tahu Yesus akan datang kembali, tetapi hidup kita masih
sembarangan. Padahal semua yang ada di dunia ini hanya sementara. Harta akan
ditinggalkan. Jabatan akan berakhir. Kecantikan dan kekuatan tubuh akan pudar.
Tidak ada satu pun yang dapat dibawa ketika manusia berdiri di hadapan Tuhan. Yang
Tuhan cari bukanlah seberapa kaya kita, seberapa terkenal kita, atau seberapa
besar keberhasilan kita. Tuhan mencari hati yang setia. Tuhan mencari hidup
yang mau taat dan dipakai menjadi saksi-Nya.
Jika selama ini hati kita mulai
jauh dari Tuhan, kembalilah. Jika selama ini kita terlalu mencintai dunia,
belajarlah mengarahkan hati kepada perkara yang kekal. Jika selama ini kita
hidup dalam ketakutan dan keputusasaan, ingatlah bahwa Yesus yang naik ke surga
itu tetap memegang hidup kita. Jangan hanya menjadi orang Kristen yang tahu
tentang Tuhan, tetapi jadilah orang percaya yang sungguh hidup bersama Tuhan.
Penutup
Kenaikan Yesus Kristus ke surga
bukan akhir dari karya keselamatan Allah, melainkan awal dari pengharapan besar
bagi gerejaNya. Yesus yang naik ke surga adalah Tuhan yang hidup, yang menang
atas dosa dan maut, yang memerintah dalam kemuliaan, dan yang suatu hari nanti
akan datang kembali. Dunia ini terus berubah. Kehidupan tidak selalu mudah.
Akan ada air mata, kegagalan, penderitaan, dan pergumulan yang membuat manusia
lemah. Kadang kita merasa sendirian menjalani hidup. Kadang doa terasa belum
dijawab. Kadang hati lelah karena terlalu lama memikul beban kehidupan. Tetapi
melalui firman Tuhan hari ini, Tuhan mengingatkan bahwa umat-Nya tidak pernah
berjalan sendiri.
Yesus yang naik ke surga tetap
melihat air mata umatNya. Ia mengetahui setiap pergumulan, setiap rasa takut,
setiap luka, bahkan setiap doa yang tidak pernah diucapkan dengan kata-kata.
Tuhan tidak pernah terlambat menolong umat-Nya. Mungkin pertolongan Tuhan tidak
selalu datang sesuai waktu yang kita inginkan, tetapi Tuhan tidak pernah
meninggalkan anak-anak-Nya. Karena itu jangan kehilangan pengharapan. Tetaplah
setia meskipun dunia semakin gelap. Tetaplah hidup benar meskipun banyak orang
memilih jalan yang salah. Tetaplah mengasihi meskipun dunia penuh kebencian.
Tetaplah menjadi saksi Kristus meskipun harus menghadapi tantangan dan
penderitaan.
Ingatlah bahwa hidup ini bukan
tujuan akhir. Kita hanyalah musafir di dunia ini. Rumah kita yang sesungguhnya
ada bersama Tuhan. Dan suatu hari nanti, Yesus yang naik ke surga itu akan
datang kembali dalam kemuliaanNya untuk menjemput umat yang setia kepada-Nya. Pada
saat itu tidak ada lagi air mata, penderitaan, sakit penyakit, ataupun
kematian. Semua pergumulan hidup akan berakhir di dalam kemuliaan Tuhan. Karena
itu selama Tuhan masih memberi kesempatan hidup, marilah kita hidup dengan
sungguh-sungguh bagi Dia. Biarlah hidup kita menjadi terang bagi dunia dan
menjadi kesaksian yang memuliakan nama Tuhan. Jangan menyerah. Jangan
meninggalkan Tuhan. Tetap pegang imanmu. Sebab Tuhan yang naik ke surga itu
akan datang kembali. Dan ketika hari itu tiba, kiranya kita didapati tetap
setia berdiri di hadapanNya. Amin.
(SRDP)