Khotbah Minggu 10 Mei 2026 - Tetap Berdoa (Kolose 1 : 9 - 14)
Pendahuluan
Minggu ini kita memasuki Minggu Rogate. Kata Rogate berasal dari
bahasa latin yang berarti ”Berdoalah” atau ”Mintalah”
(Yohanes 16:24). Doa bukan hanya dilakukan saat mengalami kesusahan, tetapi
menjadi bagian dari hidup sehari-hari orang Kristen. Minggu Rogate adalah
panggilan bagi setiap orang percaya untuk kembali membangun kehidupan doa yang
sungguh-sungguh. Tuhan ingin umat-Nya datang kepada-Nya, berbicara kepada-Nya,
dan berharap penuh kepada-Nya. Orang percaya hidup bukan hanya dengan
kekuatan sendiri, tetapi dengan hati yang terus berseru kepada Tuhan dalam doa.
Di minggu Rogate mengingatkan seluruh orang percaya bahwa doa bukan
pilihan, melainkan panggilan hidup orang Kristen. Tuhan sendiri mengundang
umat-Nya untuk datang kepada-Nya dalam doa. Tuhan tidak pernah menutup telinga
terhadap seruan anak-anak-Nya. Bahkan ketika manusia merasa lemah, bingung, dan
tidak tahu harus berkata apa, Tuhan tetap mendengar setiap doa yang dinaikkan
dengan iman.
Di dalam kehidupan ini, setiap orang pasti memiliki pergumulan. Ada
pergumulan ekonomi, keluarga, pekerjaan, kesehatan, pendidikan, pelayanan,
bahkan pergumulan di dalam hati yang tidak diketahui orang lain. Ada orang yang
terlihat tersenyum di luar, tetapi sebenarnya sedang lelah di dalam. Ada yang
tetap melayani Tuhan, tetapi diam-diam sedang kehilangan kekuatan. Ada yang
tetap datang ke gereja, tetapi hatinya mulai jauh dari Tuhan.
Di tengah keadaan seperti itu, sering kali manusia mencari banyak tempat
untuk mendapatkan kekuatan. Ada yang sibuk mencari hiburan supaya melupakan
masalahnya. Ada yang lebih banyak bercerita kepada teman daripada datang kepada
Tuhan. Ada yang mencoba menyelesaikan semuanya dengan kekuatannya sendiri.
Tetapi tanpa disadari, satu hal yang paling penting justru mulai ditinggalkan,
yaitu doa.
Banyak orang Kristen hari ini masih tahu cara berdoa, tetapi tidak lagi
hidup dalam doa. Mulut masih bisa mengucapkan doa, tetapi hati sudah tidak
sungguh-sungguh mencari Tuhan. Doa sering kali hanya dilakukan saat makan, saat
ibadah, atau ketika sedang mengalami masalah besar. Ketika hidup terasa baik,
doa mulai berkurang. Ketika kesibukan datang, waktu berdoa mulai hilang.
Akibatnya hubungan dengan Tuhan perlahan menjadi renggang.
Padahal doa bukan hanya kegiatan rohani. Doa adalah nafas hidup orang
percaya. Sama seperti tubuh tidak dapat hidup tanpa bernafas, demikian juga
iman tidak dapat bertahan tanpa doa. Orang yang jarang berdoa akan lebih mudah
dikuasai rasa takut, khawatir, kecewa, marah, dan putus asa. Sebaliknya, orang
yang tetap hidup dalam doa akan memiliki kekuatan untuk bertahan menghadapi
keadaan hidup.
Tuhan memanggil kita bukan hanya untuk sesekali berdoa, tetapi hidup di
dalam doa setiap hari. Melalui doa, manusia belajar berharap kepada Tuhan.
Melalui doa, hati yang gelisah menjadi tenang. Melalui doa, orang yang lemah
memperoleh kekuatan baru. Dan melalui doa, orang percaya tetap memiliki
hubungan yang dekat dengan Tuhan di tengah dunia yang semakin menjauh dari-Nya.
Inilah yang diajarkan oleh Rasul Paulus dalam Kolose 1:9–14. Paulus
menunjukkan bahwa ia tidak pernah berhenti berdoa bagi jemaat di Kolose. Yang
menarik, Paulus menulis surat ini ketika ia sedang berada di penjara. Secara
manusia, Paulus sendiri sedang mengalami penderitaan. Ia dibatasi, mengalami
kesulitan, dan hidup dalam keadaan yang tidak nyaman. Tetapi Paulus tidak sibuk
mengasihani dirinya sendiri. Di tengah penderitaannya, ia tetap memikirkan
jemaat dan terus membawa mereka di dalam doa.
Jemaat Kolose pada waktu itu sedang menghadapi tantangan yang besar. Mereka
mulai dipengaruhi oleh ajaran-ajaran yang dapat menjauhkan mereka dari Kristus.
Iman mereka sedang diuji. Karena itu Paulus sadar bahwa jemaat tidak cukup
hanya diberi nasihat atau pengajaran. Mereka membutuhkan doa supaya tetap kuat
dan bertahan di dalam Tuhan.
Keadaan ini sangat mirip dengan kehidupan orang Kristen saat ini. Kita
hidup di zaman yang penuh kesibukan dan gangguan. Banyak orang lebih sibuk
melihat handphone daripada membuka Alkitab. Banyak orang lebih cepat mencari
jawaban di media sosial daripada datang kepada Tuhan dalam doa. Dunia
menawarkan begitu banyak hal yang membuat manusia perlahan kehilangan waktu
bersama Tuhan.
Akibatnya banyak orang Kristen menjadi lemah secara rohani. Sedikit masalah
langsung putus asa. Sedikit tekanan langsung menyerah. Sedikit kecewa langsung
menjauh dari Tuhan. Mengapa? Karena kehidupan doa mulai hilang.
Melalui firman Tuhan, kita diingatkan kembali bahwa kekuatan orang percaya
bukan terletak pada uang, jabatan, kepintaran, atau kemampuan diri sendiri.
Kekuatan orang percaya terletak pada hubungannya dengan Tuhan. Dan hubungan itu
dijaga melalui doa.
Karena itu, sekalipun hidup penuh pergumulan, sekalipun doa belum dijawab,
sekalipun keadaan terasa berat, firman Tuhan mengajak kita untuk tetap berdoa.
Sebab orang yang tetap berdoa tidak akan berjalan sendirian. Tuhan akan
menguatkan, menolong, dan memimpin hidupnya sampai akhir.
Penjelasan Nats
Paulus memulai bagian ini dengan berkata:
“Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti
berdoa untuk kamu.” (ay. 9)
Kalimat ini memperlihatkan hati seorang pelayan Tuhan yang sungguh
mengasihi jemaat. Paulus bukan hanya seorang pengkhotbah yang pandai berbicara,
tetapi juga seorang pendoa. Walaupun ia berada di penjara, Paulus tidak
berhenti memikirkan kehidupan rohani jemaat Kolose. Ia sadar bahwa kekuatan
terbesar jemaat bukan terletak pada kemampuan mereka sendiri, tetapi pada
pertolongan Tuhan yang mereka terima melalui doa.
Paulus mengatakan “tiada berhenti-henti berdoa.” Ini menunjukkan
bahwa doa bukan sesuatu yang dilakukan hanya saat ada masalah besar, melainkan
menjadi bagian dari hidup setiap hari. Paulus memahami bahwa jemaat sedang
menghadapi ancaman ajaran palsu, tekanan iman, dan godaan dunia. Karena itu
mereka membutuhkan doa terus-menerus supaya tetap bertahan di dalam Tuhan.
Keadaan ini sangat mirip dengan kehidupan orang Kristen saat ini. Hari ini
banyak orang percaya menghadapi tekanan hidup yang berat. Ada tekanan ekonomi,
tekanan pekerjaan, masalah rumah tangga, pergumulan pelayanan, dan tekanan dari
lingkungan yang semakin jauh dari Tuhan. Banyak orang mulai lelah secara
rohani. Ada yang mulai jarang beribadah. Ada yang kehilangan semangat melayani.
Ada yang tetap datang ke gereja, tetapi hatinya penuh kekhawatiran dan
ketakutan.
Karena itu firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa kehidupan orang percaya
harus tetap melekat kepada Tuhan melalui doa. Sebab tanpa doa, hati manusia
mudah menjadi dingin. Tanpa doa, iman menjadi lemah. Tanpa doa, manusia mulai
mengandalkan kekuatannya sendiri dan perlahan menjauh dari Tuhan.
Paulus kemudian berkata bahwa ia berdoa supaya jemaat:
“Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang
benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna”
Ini adalah inti doa
Paulus. Ia tidak pertama-tama
berdoa supaya jemaat menjadi kaya, terkenal, atau bebas masalah. Paulus berdoa
supaya mereka mengenal kehendak Tuhan.
Hari ini banyak orang lebih sibuk mengejar keinginannya sendiri daripada
mencari kehendak Tuhan. Banyak orang berdoa hanya supaya Tuhan memberkati
rencana mereka, tetapi jarang bertanya apakah hidup mereka sesuai dengan
kehendak Tuhan. Bahkan tidak sedikit orang Kristen mengambil keputusan penting
dalam hidupnya tanpa melibatkan Tuhan. Ketika memilih pekerjaan, pasangan
hidup, usaha, pendidikan, atau pelayanan, yang dicari sering kali hanya
keuntungan dan kenyamanan, bukan kehendak Tuhan.
Padahal mengenal kehendak Tuhan adalah hal yang sangat penting. Sebab
manusia bisa saja berhasil menurut dunia, tetapi gagal di hadapan Tuhan.
Manusia bisa terlihat hebat di luar, tetapi kehilangan damai sejahtera di
dalam.
Paulus memakai kata “supaya kamu menerima” yang berarti kehidupan
orang percaya haruslah dipenuhi oleh kehendak Tuhan. Artinya Tuhan tidak hanya
menjadi bagian kecil dalam hidup, tetapi menjadi pusat kehidupan mereka.
Kemudian Paulus berbicara tentang “hikmat dan pengetahuan yang benar.”
Ini menunjukkan bahwa orang percaya tidak cukup hanya memiliki pengetahuan
Alkitab secara teori. Banyak orang tahu ayat firman Tuhan, tetapi sulit
melakukannya. Banyak orang pandai berbicara tentang kasih, tetapi mudah
membenci. Banyak orang mengerti tentang pengampunan, tetapi sulit mengampuni.
Banyak orang rajin mendengar khotbah, tetapi hidupnya tidak berubah.
Karena itu Paulus berdoa supaya jemaat memiliki hikmat rohani, yaitu
kemampuan untuk hidup sesuai firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Sebab
iman Kristen bukan hanya soal apa yang diketahui, tetapi bagaimana firman itu
terlihat melalui kehidupan.
Paulus lalu berkata:
“sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam
segala hal” (ay. 10)
Pengenalan akan Tuhan harus menghasilkan perubahan dalam hidup. Orang yang
sungguh mengenal Tuhan tidak akan hidup sembarangan. Semakin dekat seseorang
kepada Tuhan, seharusnya semakin terlihat perubahan dalam hidupnya.
Hari ini banyak orang ingin disebut Kristen, tetapi tidak mau hidup seperti
Kristus. Ada yang aktif melayani di gereja, tetapi kasar di rumah. Ada yang
rajin beribadah, tetapi tidak jujur dalam pekerjaan. Ada yang pandai berdoa,
tetapi mudah membenci dan memfitnah orang lain. Firman Tuhan mengingatkan bahwa
hidup orang percaya harus “layak” di hadapan Tuhan.
Kata “layak” bukan berarti hidup sempurna tanpa dosa, tetapi hidup
yang terus berusaha menyenangkan hati Tuhan. Orang percaya tetap bisa jatuh
dalam kelemahan, tetapi ia tidak nyaman hidup dalam dosa. Ia terus belajar
berubah dan bertumbuh.
Paulus juga berkata bahwa hidup orang percaya harus:
“memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik”
Buah kehidupan terlihat melalui tindakan nyata. Iman yang hidup pasti
menghasilkan buah. Buah itu terlihat dalam kasih, kesabaran, kerendahan hati,
pengampunan, kepedulian, dan kesetiaan kepada Tuhan.
Dunia saat ini sedang haus melihat teladan hidup orang percaya. Banyak
orang kecewa kepada kekristenan bukan karena ajaran Yesus salah, tetapi karena
kehidupan orang Kristen sering tidak mencerminkan Kristus. Karena itu Tuhan
memanggil setiap orang percaya untuk menjadi terang melalui kehidupan
sehari-hari.
Kemudian Paulus berkata:
“dan dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya”
Paulus sadar bahwa hidup orang percaya tidak mudah. Mengikut Tuhan bukan
berarti hidup bebas masalah. Bahkan sering kali orang yang setia kepada Tuhan
justru mengalami banyak pergumulan.
Ada orang yang setia berdoa tetapi masih sakit. Ada yang rajin melayani
tetapi tetap mengalami kesulitan ekonomi. Ada yang hidup benar tetapi tetap
difitnah dan disakiti. Karena itu manusia membutuhkan kekuatan dari Tuhan.
Menariknya, Paulus tidak berkata bahwa Tuhan akan membuat semua masalah
hilang. Tetapi Tuhan memberikan kekuatan supaya orang percaya mampu bertahan
dalam menghadapi masalah.
Banyak orang terlihat kuat di luar, tetapi sebenarnya hatinya lelah. Ada
yang terus tersenyum di depan orang lain, tetapi diam-diam menangis saat
sendirian. Ada ibu yang lelah memikirkan keluarganya. Ada ayah yang memikul
tekanan ekonomi. Ada anak muda yang bergumul dengan masa depannya. Ada pelayan
Tuhan yang mulai kehilangan semangat.
Firman Tuhan, mengingatkan bahwa Tuhan sanggup memberikan kekuatan baru
kepada orang yang berharap kepada-Nya. Kekuatan dari Tuhan bukan hanya membuat
kita mampu berjalan saat hidup mudah, tetapi juga membuat kita tetap berdiri
saat hidup terasa berat.
Maka Paulus menjelaskan bahwa kekuatan itu membuat orang percaya:
“menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar”
Tekun berarti tetap bertahan di tengah tekanan. Sabar berarti tetap
memiliki hati yang tenang menghadapi orang lain dan keadaan hidup.
Kadang manusia ingin Tuhan segera mengubah keadaan, tetapi yang tidak kita
sadari, Tuhan terlebih dahulu mengubahkan hati manusia supaya menjadi lebih
kuat. Ada doa yang tidak langsung dijawab karena Tuhan sedang membentuk
ketekunan dan iman kita.
Paulus kemudian berkata:
“dan mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa”
Ini sangat luar biasa karena Paulus menulis surat ini dari penjara. Secara
manusia ia mempunyai banyak alasan untuk mengeluh, tetapi ia tetap berbicara
tentang syukur. Manusia mudah bersyukur ketika hidup berjalan baik, tetapi
sulit bersyukur saat menghadapi penderitaan. Sedikit masalah membuat orang
mulai marah kepada Tuhan. Sedikit kesulitan membuat orang mulai kecewa dalam
iman. Tetapi Paulus mengajarkan bahwa ucapan syukur tidak bergantung pada
keadaan. Orang percaya bersyukur karena Tuhan tetap baik dan setia.
Paulus berkata bahwa Tuhan:
“melayakkan kamu mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk
orang-orang kudus di dalam kerajaan terang”
Keselamatan adalah anugerah Tuhan. Tidak ada manusia yang layak
diselamatkan karena kebaikannya sendiri. Semua manusia berdosa. Tetapi melalui
kasih karunia-Nya yang diberikan secara cuma-cuma kepada manusia, melayakkan
kita untuk menerima keselamatan. Karena itu tidak ada alasan untuk sombong
secara rohani. Semua yang kita terima adalah karena kasih karunia Tuhan.
Paulus melanjutkan:
“Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke
dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih”
Ini berbicara tentang perubahan hidup yang dikerjakan Kristus. Dahulu
manusia hidup dalam kuasa dosa dan kegelapan. Kegelapan itu terlihat melalui
kebencian, kepalsuan, hawa nafsu, keserakahan, dendam, dan hidup jauh dari
Tuhan. Bukankah dunia saat ini penuh dengan kegelapan? Banyak orang kehilangan
kasih. Kejahatan semakin meningkat. Kebencian mudah tersebar. Orang rela
menyakiti sesama demi keuntungan diri sendiri. Banyak hati dipenuhi iri,
dendam, dan kepahitan. Tetapi melalui Kristus, manusia dipindahkan ke dalam
kerajaan terang. Artinya hidup orang percaya tidak lagi dikuasai dosa. Memang
manusia masih bisa jatuh dalam kelemahan, tetapi sekarang ia hidup di bawah
pimpinan Tuhan.
Ayat 14 menjadi puncak dari bagian ini:
“di dalam Dia kita memiliki penebusan, yaitu pengampunan dosa”
Inilah inti Injil. Manusia berdosa seharusnya menerima hukuman, tetapi
Kristus datang menebus manusia melalui pengorbanan-Nya di kayu salib. Darah
Yesus membayar hutang dosa manusia. Karena itu pengampunan bukan sesuatu yang
murah. Keselamatan dibayar dengan penderitaan dan kematian Kristus. Dan karena
pengampunan itu, orang percaya tidak lagi hidup dalam penghukuman, melainkan
hidup dalam kasih karunia Tuhan. Hal ini mengingatkan bahwa orang percaya harus
tetap hidup dalam doa, tetap bertumbuh mengenal Tuhan, tetap setia dalam
penderitaan, dan tetap bersyukur karena keselamatan yang sudah diberikan
Kristus.
Refleksi
Sering kali kita rajin berdoa ketika hidup sedang tenang, atau bahkan lupa
untuk berdoa, dan mulai kecewa ketika doa terasa belum dijawab Tuhan. Ada orang
yang berkata, “Saya sudah lama berdoa, tetapi keadaan saya tidak berubah” Ada yang mulai lelah berdoa karena pergumulan keluarga tidak selesai, penyakit
belum sembuh, ekonomi belum membaik, atau masalah hidup terasa semakin berat. Namun
Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa doa bukan hanya tentang meminta sesuatu
yang kita ingini dan jawaban dari Tuhan, tetapi tentang tetap memiliki hubungan
yang dekat dengan Tuhan.
Paulus tetap berdoa sekalipun ia sendiri sedang berada di penjara. Ia tidak
berhenti percaya hanya karena keadaan hidupnya sulit. Kadang Tuhan tidak
langsung mengubah keadaan, tetapi Tuhan terlebih dahulu menguatkan hati kita
supaya mampu melewati keadaan itu. Ada doa yang dijawab cepat, ada doa yang
menunggu waktu Tuhan, dan ada doa yang dijawab dengan cara yang berbeda dari
keinginan kita. Tetapi satu hal yang pasti: Tuhan tidak pernah menutup telinga
terhadap doa orang percaya. Jangan pernah berhenti berdoa hanya karena lelah
menunggu. Jangan menyerah hanya karena belum melihat jawaban. Tetaplah datang
kepada Tuhan. Sebab orang yang terus berdoa sedang belajar percaya bahwa Tuhan
tetap bekerja sekalipun mata manusia belum melihatnya.
Ada banyak orang yang terlihat kuat di luar, tetapi sebenarnya sedang lelah
di dalam. Ada yang memendam masalah sendirian karena merasa harus kuat. Ada
yang terus tersenyum, tetapi hatinya penuh beban. Manusia memiliki batas. Kita
tidak sanggup memikul semuanya sendiri. Karena itu Paulus berkata bahwa
Tuhanlah yang menguatkan orang percaya dengan kuasa-Nya. Kadang manusia terlalu
mengandalkan kemampuan sendiri sampai lupa bersandar kepada Tuhan. Ketika
semuanya berjalan baik, manusia merasa dirinya kuat. Tetapi ketika masalah
datang, barulah sadar bahwa tanpa Tuhan manusia sangat lemah. Tuhan tidak
pernah meminta kita menjadi kuat dengan kekuatan sendiri. Tuhan hanya meminta
kita tetap percaya dan tetap datang kepada-Nya.
Penutup
Kolose 1:9–14 mengajarkan bahwa kehidupan orang percaya tidak dapat dipisahkan dari doa. Paulus tetap berdoa walaupun ia berada di penjara. Ia memahami bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari keadaan yang nyaman, tetapi dari hubungan yang dekat dengan Tuhan. Saat ini Tuhan juga memanggil kita untuk tetap berdoa. Ketika hidup terasa berat, tetaplah berdoa. Ketika hati kecewa, tetaplah berdoa. Ketika jawaban Tuhan terasa lama, tetaplah berdoa. Sebab melalui doa, Tuhan menguatkan hati yang lemah, meneguhkan iman yang goyah, dan memimpin hidup kita tetap berjalan di dalam terang-Nya. Jangan sampai kesibukan dunia membuat kita jauh dari Tuhan. Jangan sampai hati kita lebih penuh oleh kekhawatiran daripada doa. Sebab orang yang berhenti berdoa perlahan akan kehilangan kekuatan rohaninya. Tetapi orang yang tetap berdoa akan tetap berdiri, tetap kuat, dan tetap setia sampai akhir, karena Tuhan tidak pernah meninggalkan orang yang berseru kepada-Nya. Amin (SRDP)