Khotbah Partangiangan - Tetap Berdoa (Ayub 33 : 26 - 33)

Pendahuluan

Dalam kehidupan, tidak ada seorang pun yang selalu menjamin dirinya kuat dalam segala hal. Ada masa ketika hati terasa tenang dan hidup berjalan baik, tetapi ada juga masa ketika manusia merasa lelah, kecewa, bingung, dan hampir menyerah. Terkadang masalah datang bertubi-tubi: persoalan keluarga, ekonomi, kesehatan, pekerjaan, pelayanan, bahkan pergumulan batin yang tidak diketahui orang lain. Dalam keadaan seperti itu, manusia sering bertanya: “Tuhan, mengapa ini terjadi kepadaku?”

Tidak sedikit orang Kristen yang ketika menghadapi penderitaan mulai kehilangan semangat untuk berdoa. Ada yang merasa doanya tidak didengar Tuhan. Ada yang kecewa karena pergumulan hidup tidak segera berubah. Ada yang mulai jarang datang kepada Tuhan karena merasa lelah dengan keadaan hidupnya. Akibatnya, hubungan dengan Tuhan perlahan menjadi jauh.

Padahal justru ketika hidup terasa berat, manusia semakin membutuhkan doa. Sebab doa bukan hanya tentang meminta sesuatu kepada Tuhan, tetapi tentang tetap percaya dan tetap bergantung kepada-Nya. Doa adalah tempat manusia mencurahkan air mata, ketakutan, kekecewaan, dan pengharapannya kepada Tuhan. Orang yang tetap berdoa di tengah penderitaan menunjukkan bahwa ia masih percaya bahwa Tuhan sanggup menolong hidupnya. Bagaimana pun keadaan hidup kita, jangan pernah berhenti datang kepada Tuhan. Sebab sering kali ketika manusia merasa sudah tidak kuat lagi, justru di situlah Tuhan bekerja memulihkan dan menguatkan hidupnya.

Bagian firman Tuhan saat ini diambil dari Kitab Ayub. Kitab ini berbicara tentang pergumulan hidup seorang yang saleh bernama Ayub. Ayub adalah orang yang takut akan Tuhan dan hidup benar di hadapan-Nya. Namun dalam waktu yang singkat, ia kehilangan hampir semuanya: harta bendanya, anak-anaknya,  kesehatannya,  bahkan dukungan dari orang-orang di sekitarnya.

Penderitaan Ayub begitu berat sampai ia mempertanyakan hidupnya sendiri. Sahabat-sahabat Ayub menganggap penderitaan itu pasti karena dosa, tetapi sebenarnya kitab ini menunjukkan bahwa tidak semua penderitaan adalah hukuman Tuhan. Ada hal-hal yang berada di dalam rencana dan kedaulatan Allah yang tidak selalu dipahami manusia.

Dalam pasal 33, seorang muda bernama Elihu berbicara kepada Ayub. Elihu mencoba menjelaskan bahwa Allah dapat memakai penderitaan untuk menyadarkan, mendidik, dan membawa manusia kembali kepada-Nya. Melalui Ayub 33:26–33 kita melihat bagaimana Tuhan tetap membuka jalan pemulihan bagi manusia yang datang kepada-Nya dalam doa.

Firman ini sangat relevan dengan kehidupan orang Kristen saat ini. Banyak orang hidup dengan hati yang lelah. Ada yang tersenyum di luar tetapi menangis di dalam. Ada yang tetap beribadah, tetapi hatinya penuh ketakutan. Ada yang mulai kehilangan pengharapan karena pergumulan hidup terasa terlalu berat.

Dunia saat ini juga membuat banyak orang semakin jauh dari kehidupan doa. Kesibukan, tekanan hidup, media sosial, dan berbagai persoalan membuat manusia lebih sibuk mencari kekuatan dari dunia daripada datang kepada Tuhan. Padahal dunia tidak dapat memberikan damai sejahtera yang sejati.

Melalui firman Tuhan hari ini, kita diingatkan bahwa seberat apa pun pergumulan hidup, jangan berhenti berdoa. Sebab Tuhan masih mendengar. Tuhan masih peduli. Dan Tuhan masih sanggup memulihkan hidup orang yang datang kepada-Nya.

Penjelasan Nast

Pada ayat 26 dikatakan: “Ia berdoa kepada Allah, dan Allah berkenan menerimanya”. Ayat ini menunjukkan hubungan yang dipulihkan antara manusia dengan Tuhan. Setelah melewati penderitaan dan pergumulan, orang itu kembali kepada Allah dalam doa. Ini menunjukkan bahwa di tengah kesesakan, masih ada jalan untuk datang kepada Tuhan. Sering kali ketika manusia mengalami masalah berat, ada dua kemungkinan yang terjadi. Ada orang yang semakin dekat kepada Tuhan, tetapi ada juga yang justru menjauh dari Tuhan. Ada yang tetap setia berdoa walaupun menangis, tetapi ada juga yang berhenti berdoa karena kecewa. Jangan pernah berhenti datang kepada Tuhan, sebab Tuhan tidak menolak orang yang berseru kepada-Nya. Tuhan tidak menutup telinga terhadap doa orang yang datang dengan hati yang hancur.

Allah berkenan menerimanya. Ini menunjukkan kasih dan kemurahan Tuhan. Allah bukan Tuhan yang senang melihat manusia menderita. Tuhan rindu memulihkan manusia. Bahkan ketika manusia jatuh dan lemah, Tuhan tetap membuka tangan-Nya bagi orang yang mau kembali kepada-Nya.

ia akan memandang wajah-Nya dengan bersorak-sorai”. Dalam pemahaman Perjanjian Lama, “melihat wajah Allah” berbicara tentang hubungan yang dekat dengan Tuhan. Dosa membuat manusia jauh dari Tuhan, tetapi pertobatan dan doa membawa manusia kembali menikmati hadirat Tuhan. Banyak orang kehilangan damai sejahtera karena hidup jauh dari Tuhan. Hati manusia penuh kecemasan, iri hati, ketakutan, dan tekanan hidup. Banyak orang mencoba mencari ketenangan melalui hiburan dunia, tetapi tetap merasa kosong di dalam hati. Damai sejahtera sejati hanya ditemukan ketika manusia kembali dekat dengan Tuhan.

Lalu ayat 27 berkata: “Aku telah berbuat dosa, dan yang lurus telah kubengkokkan”. Ini adalah pengakuan dosa. Pemulihan dimulai ketika manusia mau merendahkan diri di hadapan Tuhan. Banyak orang sulit dipulihkan karena terlalu sibuk membenarkan diri mereka sendiri. Manusia hidup di zaman di mana orang sulit mengakui kesalahan. Orang lebih mudah menyalahkan keadaan, menyalahkan orang lain, bahkan menyalahkan Tuhan. Tetapi firman Tuhan mengajarkan bahwa hati yang rendah di hadapan Tuhan adalah awal pemulihan.

Selanjutnya dikatakan: “tetapi hal itu tidak dibalaskan kepadaku”. Ini berbicara tentang kasih karunia Tuhan. Manusia sebenarnya layak menerima hukuman karena dosa, tetapi Tuhan masih memberikan kesempatan untuk bertobat dan kembali kepada-Nya. Bukankah sampai hari ini kita juga hidup karena kasih karunia Tuhan? Jika Tuhan menghitung semua dosa manusia, tidak ada seorang pun yang layak berdiri di hadapan-Nya. Tetapi Tuhan tetap sabar dan memberikan kesempatan kepada manusia untuk berubah.

Ayat 28 berkata: “Ia telah membebaskan nyawaku dari jalan ke liang kubur, dan hidupku akan melihat terang” Ini adalah gambaran pemulihan dari Tuhan. Allah sanggup mengangkat manusia dari kehancuran hidupnya. “Liang kubur” melambangkan kebinasaan, keputusasaan, dan kegelapan hidup. Sedangkan “terang” melambangkan pengharapan dan kehidupan baru.

Banyak orang yang hidup dalam “kegelapan”, ada yang hidup dalam dosa. Ada yang kehilangan arah hidup. Ada yang terikat kebencian dan kepahitan. Ada yang hampir menyerah menghadapi hidupnya. Tetapi firman Tuhan berkata bahwa Tuhan sanggup membawa manusia kembali melihat terang. Tidak ada hidup yang terlalu rusak bagi Tuhan. Tidak ada hati yang terlalu hancur untuk dipulihkan Tuhan.

Ayat 29–30 menjelaskan bahwa Allah berkali-kali bekerja dalam hidup manusia untuk menyelamatkannya. Kadang Tuhan memakai penderitaan untuk menyadarkan manusia. Ada orang yang baru sungguh-sungguh berdoa ketika sakit. Ada yang baru kembali kepada Tuhan ketika mengalami kegagalan. Ada yang baru sadar pentingnya Tuhan setelah kehilangan banyak hal dalam hidup. Bukan berarti Tuhan senang melihat manusia menderita. Tetapi kadang Tuhan mengizinkan pergumulan supaya manusia berhenti mengandalkan dirinya sendiri dan kembali bergantung kepada Tuhan.

Begitu banyak orang sekarang yang terlalu sibuk mengejar dunia sampai lupa Tuhan. Manusia merasa kuat dengan uang, jabatan, dan kemampuan dirinya. Tetapi ketika semuanya terguncang, manusia baru sadar bahwa hanya Tuhan yang menjadi sandaran sejati. Karena itu firman Tuhan mengajak kita untuk tetap hidup dalam doa, bukan hanya ketika susah, tetapi setiap waktu.

Ayat 31–33 menutup bagian ini dengan ajakan yang sangat penting: diam, mendengar, dan belajar. Elihu tidak hanya berbicara, tetapi juga mengajak Ayub untuk memberi ruang bagi hikmat. Ini menunjukkan bahwa relasi dengan Tuhan tidak hanya dibangun melalui kata-kata kita, tetapi juga melalui kesediaan untuk mendengar. Dalam konteks doa, ini berarti doa bukan hanya tentang berbicara kepada Tuhan, tetapi juga tentang membuka hati untuk menerima suara Tuhan.

Dalam penderitaan, manusia perlu belajar diam di hadapan Tuhan dan mendengar suara-Nya. Kadang ketika hidup sulit, manusia terlalu sibuk mengeluh dan mempertanyakan Tuhan sampai lupa mendengar apa yang ingin Tuhan ajarkan melalui pergumulan itu. Ada masa di mana Tuhan bekerja bukan dengan langsung mengubah keadaan, tetapi dengan mengubahkan hati manusia supaya menjadi lebih kuat, lebih dewasa, dan lebih dekat kepada-Nya. Karena itu jangan hanya meminta Tuhan segera mengangkat masalah, tetapi mintalah juga supaya Tuhan memberi kekuatan dan hikmat untuk melewati semuanya.

Di sinilah kita perlu mengubah cara pandang kita terhadap kehidupan. Sering kali kita melihat penderitaan sebagai tanda bahwa Tuhan tidak peduli, atau bahkan menghukum. Namun, melalui firman ini, kita diajak untuk melihat bahwa bisa jadi justru di dalam pergumulan itulah Tuhan sedang bekerja paling aktif. Ia sedang menarik kita kembali, meluruskan jalan kita, dan menyelamatkan kita dari kehancuran yang lebih besar. Doa menjadi sarana untuk membuka mata rohani kita, sehingga kita dapat melihat bahwa Tuhan tidak pernah berhenti bekerja, bahkan ketika kita tidak mengerti.

Realitas kehidupan Kristen saat ini menunjukkan bahwa banyak orang lebih nyaman berbicara daripada mendengar. Dalam doa, kita sering datang dengan daftar permintaan, tetapi jarang memberi waktu untuk merenungkan firman Tuhan atau menunggu dalam keheningan. Akibatnya, kita kehilangan arah, karena kita tidak benar-benar mendengar kehendak Tuhan. Firman ini mengingatkan bahwa doa yang utuh adalah dialog: ada saat kita berbicara, tetapi juga ada saat kita diam dan membiarkan Tuhan berbicara melalui firman-Nya. Dengan demikian, keseluruhan bagian ini menunjukkan bahwa doa bukan sekadar aktivitas rohani, tetapi proses pemulihan yang utuh: dimulai dari kembali kepada Tuhan, dilanjutkan dengan pengakuan dosa, disadarkan akan pekerjaan Tuhan dalam hidup, dan diakhiri dengan sikap hati yang mau mendengar dan belajar. Inilah doa yang hidup, doa yang membawa perubahan, bukan hanya pada keadaan, tetapi terutama pada hati manusia.

Penutup

Tuhan tidak pernah meninggalkan dan mengabaikan manusia yang datang kepada-Nya. Sekalipun hidup penuh penderitaan, sekalipun hati terasa lelah, sekalipun jalan hidup terasa gelap, Tuhan tetap membuka jalan pemulihan bagi orang yang mau datang kepada-Nya dalam doa. Mungkin orang lain tidak memahami pergumulan yang kita alami. Mungkin tidak semua orang mengerti rasa sakit yang kita rasakan. Tetapi Tuhan mengetahui semuanya. Tidak ada air mata yang tersembunyi di hadapan Tuhan. Dan sama seperti Tuhan sanggup membawa Ayub melewati penderitaannya, Tuhan juga sanggup menolong kita melewati setiap pergumulan hidup. Karena itu jangan menyerah. Jangan menjauh dari Tuhan. Tetaplah datang kepada-Nya. Tetaplah percaya. Tetaplah berdoa. Sebab di dalam Tuhan selalu ada pengharapan, pemulihan, dan terang bagi setiap orang yang berharap kepada-Nya. Dalam keadaan apa pun, sulit atau senang, gelap atau terang, jangan berhenti berdoa. Karena doa adalah jalan pulang kepada Tuhan. Dan setiap kali kita kembali melalui doa, kita akan menemukan bahwa Tuhan masih ada di sana, menunggu, menerima, dan memulihkan kita. Tetaplah berdoa, sebab di sanalah hidup kita dipulihkan. Amin. (SRDP)