Teologi Keimaman Harun dan Melkisedekh Sebagai Pelayan dan Hamba
ABSTRAKSI
Tulisan ini mengkaji secara mendalam aspek teologis dari keimaman yang diperankan oleh
dua tokoh penting dalam Alkitab, yakni Melkisedek dan Harun, dengan penekanan
pada peran mereka sebagai pelayan dan hamba Tuhan. Keimaman dalam
Alkitab bukan hanya menyangkut fungsi liturgis, tetapi juga menggambarkan
panggilan ilahi sebagai perantara antara Allah dan manusia. Dengan pendekatan
biblis, historis, dan teologis, makalah ini membandingkan keimaman
Melkisedek—yang bersifat abadi, tidak bergantung pada garis keturunan, dan
berasal langsung dari otoritas Allah—dengan keimaman Harun yang diwariskan
secara turun-temurun, bersifat ritualistik, dan tunduk pada sistem hukum Musa.
Dalam terang Perjanjian Baru, Yesus Kristus dipahami sebagai penggenapan
sempurna dari keimaman menurut tatanan Melkisedek, yang melebihi keterbatasan
keimaman Harun. Keimaman Kristus bersifat kekal, penuh kasih, dan berdasarkan
pada kuasa hidup yang tak tergoyahkan. Ini menunjukkan bahwa pelayanan gereja
masa kini seharusnya berakar pada relasi yang hidup dengan Kristus, serta
dijalankan dalam kekudusan, kerendahan hati, dan kesetiaan terhadap panggilan
Allah.
Tulisan ini tidak hanya
menyajikan analisis perbandingan historis, tetapi juga menawarkan refleksi
praktis bagi gereja di era modern. Dalam konteks krisis spiritual,
kecenderungan formalisme dalam ibadah, dan penyempitan makna pelayanan hanya
sebagai jabatan, pemahaman yang benar tentang keimaman sebagai wujud
penghambaan menjadi semakin relevan. Pelayanan sejati tidak semata-mata
menjalankan tugas-tugas struktural gereja, melainkan tumbuh dari kehidupan
rohani yang berpijak pada karya penebusan Kristus. Dengan meneladani keimaman
Kristus yang mengikuti pola Melkisedek, para pelayan gereja masa kini—baik
pendeta, penatua, diaken, maupun jemaat biasa—dipanggil untuk mempersembahkan
hidup mereka sebagai korban yang kudus, hidup, dan menyenangkan hati Allah.
Kata Kunci : Teologi Keimaman, Imam Melkisedek, Imam Harun.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Keimaman merupakan salah satu topik sentral dalam Alkitab, khususnya dalam pemahaman mengenai hubungan antara Allah dan umat-Nya. Dalam konteks Perjanjian Lama, peran imam tidak hanya bersifat liturgis, tetapi juga spiritual dan sosial. Imam bertindak sebagai perantara antara Allah dan manusia, sebagai penyampai kehendak Allah, serta sebagai penjaga kekudusan umat. Di tengah pentingnya peran ini, Alkitab memperkenalkan dua figur utama yang mencerminkan dua jalur keimaman yang berbeda namun sama-sama signifikan: Melkisedek dan Harun.
Melkisedek muncul secara singkat dalam Kejadian 14:18–20, tetapi keberadaannya membawa bobot teologis yang sangat dalam. Ia digambarkan sebagai raja Salem dan imam Allah Yang Mahatinggi, yang memberkati Abraham dan menerima persembahan darinya. Penampakan singkat ini kemudian mendapat pengakuan eskatologis dalam Mazmur 110:4, “Engkau adalah imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek,” dan dikembangkan lebih jauh dalam surat kepada orang Ibrani. Di sana, Melkisedek menjadi tipologi dari keimaman Yesus Kristus keimaman yang tidak bergantung pada garis keturunan atau hukum manusia, melainkan ditetapkan secara langsung oleh Allah berdasarkan kekekalan dan kebenaran (bdk. Ibrani 5–7).
Sementara itu, Harun, saudara Musa, ditetapkan oleh Allah sebagai imam pertama bagi bangsa Israel. Garis keimaman Harun kemudian dilanjutkan oleh keturunannya dan menjadi dasar dari sistem keimaman Lewi. Keimaman Harun berfokus pada pelaksanaan hukum Musa, persembahan korban, pengudusan umat, dan pemeliharaan tatanan ibadah di Kemah Suci dan kemudian di Bait Allah. Sistem ini menekankan ketertiban ritual dan hukum, dan bersifat eksklusif hanya bagi keturunan Lewi.
Dua jalur keimaman ini, meskipun berbeda, tidak bisa dilihat sebagai antagonis. Keduanya memiliki fungsi masing-masing dalam sejarah penyelamatan Allah. Namun, dalam Perjanjian Baru, muncul pertanyaan teologis yang mendalam: Mengapa Yesus tidak menjadi Imam Besar menurut garis Harun, tetapi justru menurut tatanan Melkisedek? Apa makna teologis dari perbedaan ini? Dan bagaimana implikasinya terhadap pemahaman kita tentang pelayanan gereja masa kini? Lebih lanjut, baik Melkisedek maupun Harun sama-sama dapat dilihat sebagai pelayan dan hamba Allah. Melkisedek, meski tidak dijelaskan latar belakang keturunannya, menjalankan fungsi sakral dan spiritual dengan otoritas langsung dari Allah. Ia memberkati Abraham bapa orang beriman dan menerima penghormatan darinya, suatu tindakan yang menunjukkan otoritas rohani yang lebih tinggi. Ia adalah pelayan yang membawa damai dan kebenaran. Dalam hal ini, ia mencerminkan dimensi keimaman yang bersifat ilahi dan universal.
Sebaliknya, Harun menjalankan keimaman dalam konteks umat yang berproses menuju pemahaman akan kekudusan Allah. Ia berfungsi sebagai hamba dalam sistem yang sangat tertib dan ketat. Kesetiaannya pada perintah Tuhan, meski tidak sempurna (ingat peristiwa lembu emas), mencerminkan kerendahan hati dan ketergantungan pada anugerah Allah. Ia menjadi gambaran dari pelayanan yang tunduk kepada hukum, namun juga menyadari keterbatasan manusia di hadapan kekudusan Tuhan. Ketika kita berbicara mengenai teologi keimaman Melkisedek dan Harun, kita tidak hanya sedang membahas dua tokoh sejarah, tetapi juga sedang menggali makna spiritual dari pelayanan dan pengabdian. Dalam Melkisedek, kita melihat gambaran pelayanan yang tidak terikat pada sistem manusia, tetapi datang langsung dari relasi dengan Allah. Dalam Harun, kita melihat pelayanan yang taat, struktural, dan dijalankan dengan ketekunan dalam konteks umat yang nyata. Kedua figur ini, dalam peran mereka sebagai pelayan dan hamba, menunjukkan bahwa pelayanan kepada Allah selalu menuntut kesetiaan, pengorbanan, dan pengabdian total.
Pemahaman tentang keimaman ini menjadi semakin penting ketika dikaitkan dengan keimaman Kristus dalam Perjanjian Baru. Penulis surat Ibrani dengan tegas menyatakan bahwa Yesus adalah Imam Besar menurut peraturan Melkisedek, bukan Harun (Ibrani 7:11–28). Hal ini menunjukkan bahwa keimaman Kristus tidak bergantung pada hukum Musa, melainkan pada kekekalan dan kuasa kehidupan yang tidak terhapus. Ini menjadi landasan bagi kita untuk memahami bahwa pelayanan Kristen tidak lagi berdasarkan hukum yang tertulis di loh batu, tetapi pada kasih karunia yang ditulis di hati oleh Roh Kudus. Dalam konteks gereja masa kini, pemahaman tentang keimaman sebagai pelayanan dan perhambaan menjadi semakin relevan. Gereja bukan hanya institusi, melainkan tubuh Kristus yang dipanggil untuk melayani dunia. Pelayan-pelayan Tuhan di dalam gereja—baik pendeta, penatua, diaken, maupun jemaat biasa—semua dipanggil untuk menjalani hidup sebagai imam, pelayan, dan hamba. Dalam terang Melkisedek, mereka dipanggil untuk melayani berdasarkan hubungan langsung dengan Kristus dan menjadi alat pembawa damai dan berkat bagi sesama. Dalam terang Harun, mereka dipanggil untuk setia dalam tugas, taat pada firman Tuhan, dan memelihara kesucian jemaat.
Namun, di tengah berbagai tantangan modern individualisme, materialisme, dan runtuhnya otoritas rohani peran keimaman sebagai bentuk pelayanan dan perhambaan kepada Allah sering kali tereduksi menjadi jabatan atau sekadar aktivitas gerejawi. Di sinilah perlunya gereja kembali menggali dan memahami secara mendalam teologi keimaman, khususnya dalam terang figur Melkisedek dan Harun. Studi yang mendalam akan dua tokoh ini akan menolong gereja untuk menyeimbangkan antara spiritualitas dan struktur, antara panggilan pribadi dan tanggung jawab komunitas. Dengan demikian, kajian mengenai Teologi Keimaman Melkisedek dan Harun Sebagai Pelayan dan Hamba menjadi sangat penting, tidak hanya sebagai upaya akademis untuk memahami sejarah dan teologi Alkitab, tetapi juga sebagai refleksi praktis bagi kehidupan gereja dan setiap orang percaya dalam menjalani panggilan ilahi. Pelayanan bukanlah soal jabatan, tetapi tentang hati yang melayani. Dan keimaman bukan hanya warisan sejarah, tetapi panggilan untuk hidup kudus, melayani sesama, dan menyembah Allah dengan segenap hidup.
Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi Rumusan Masalah dalam penulisan ini :
1. Apa perbedaan utama antara keimaman Harun dan Melkisedek?
2. Bagaimana keimaman tersebut menggambarkan sifat sebagai pelayan dan hamba?
3. Apa relevansi teologi keimaman ini dalam kepemimpinan gerejawi masa kini?
Tujuan Penulisan
Adapun yang menjadi Tujuan Penulisan dalam penulisan ini
1. Menganalisis secara teologis keimaman Harun dan Melkisedek.
2. Menunjukkan bahwa inti dari keimaman adalah pelayanan dan penghambaan.
3. Menarik implikasi praktis bagi kepemimpinan gerejawi kontemporer.
LANDASAN BIBLIS TEOLOGIS TENTANG KEIMAMAN
Pengertian Imamat dalam Perjanjian Lama dan Baru
Kata dalam Perjanjian Lama untuk imam hampir selalu adalah kōhēn. Satu-satunya pengecualian terdapat dalam bagian-bagian yang merujuk pada imam-imam penyembah berhala, seperti di 2 Raja-raja 23:5; Hosea 10:5; Zefanya 1:4, di mana digunakan kata chemarim. Makna asli dari kata kohen tidaklah pasti. Tidak mustahil bahwa pada masa awal kata ini dapat merujuk pada pejabat sipil sekaligus keagamaan, bandingkan 1 Raja-raja 4:5; 2 Samuel 8:18; 20:26. Yang jelas, kata ini selalu merujuk pada seseorang yang menempati posisi terhormat dan bertanggung jawab, serta memiliki otoritas atas orang lain; dan hampir selalu digunakan untuk menunjuk pada pejabat keagamaan.[1]
Secara Etimologi, kata benda כּׄהֵן (kōhēn) muncul sebanyak 740 kali dalam Perjanjian Lama; ini adalah satu-satunya istilah yang digunakan untuk menyebut imam-imam Yahweh, namun juga digunakan untuk menyebut imam-imam dari dewa-dewa asing, seperti: Baal dari Fenisia (2 Raja-raja 10:19; 11:18), Dagon, dewa bangsa Filistin (1 Samuel 5:5), Kemos, dewa bangsa Moab (Yeremia 48:7), Milkom, dewa bangsa Amon (Yeremia 49:3), Imam-imam di bukit-bukit pengorbanan (1 Raja-raja 12:32), Seorang imam dari kota On di Mesir (Kejadian 41:45), Seorang imam bangsa Midian (Keluaran 3:1), Dan Melkisedek, imam Allah Mahatinggi (El Elyon) (Kejadian 14:18). Beberapa penulis Alkitab juga menggunakan istilah kōmer untuk menyebut imam-imam penyembah berhala (2 Raja-raja 23:5; Hosea 10:5; Zefanya 1:4). Kata kerja denominatif kihēn berarti “melayani sebagai imam”, dan digunakan dalam berbagai bagian Kitab Suci (Keluaran 31:10; Imamat 7:35; Bilangan 3:3 dan seterusnya; Ulangan 10:6; Yehezkiel 44:13; Hosea 4:6; 1 Tawarikh 5:36). Kata benda kehunnah menunjuk kepada para imam di tempat kudus (1 Samuel 2:36) dan keimaman secara umum (Keluaran 29:9; Bilangan 3:10; dan lainnya). Asal-usul kata kōhēn tidak sepenuhnya jelas, walaupun kata ini muncul dalam bahasa Ugaritik, Fenisia, Aram, dan Nabataean dengan arti “imam.” Dalam bahasa Arab, kata serumpun kāhin berarti "pelihat" atau "peramal", yang merupakan perkembangan khusus dari makna dasarnya dan menunjukkan bagian dari tugas imamat.
Dalam bahasa Akkadia, kata kānu dalam bentuk akar ke-5 berarti "sujud, menyembah." Dalam bahasa Suryani, kata kahēn selain berarti "menjadi imam," juga memiliki arti "membawa kelimpahan, membuat bahagia" (bandingkan dengan kahhinlā’, yang berarti "kelimpahan"). Dalam bahasa Ibrani, kata kēhēn berarti "berdiri di hadapan Allah," atau "melayani" (bandingkan dengan Ulangan 10:8), dan secara transitif dapat berarti "membaringkan atau mempersembahkan korban" (bandingkan dengan Ayub 31:15).[2]
Kata dalam Perjanjian Baru untuk imam adalah hiereus, yang secara asal-usul tampaknya berarti “orang yang perkasa,” dan kemudian berkembang menjadi “orang suci” atau “pribadi yang dipersembahkan kepada Allah.”[3] Septuaginta (LXX) menerjemahkan kata kohen lebih dari 700 kali dengan kata hiereus atau turunannya, seperti: hierateuein (sebanyak 22 kali), hierateuma (misalnya dalam Keluaran 19:6), hiereusin, dan hierateia. LXX mengenali makna dari aktivitas kultik secara khusus dalam terjemahan seperti: hiereus (Imamat 4:3; Yosua 22:13; 1 Raja-raja 1:25; 1 Tawarikh 15:14), dan archiereus (2 Samuel 8:17), yang secara makna berbeda cukup signifikan dari pengertian asli mengenai keimaman. Terjemahan menggunakan kata leitourgein (2 Tawarikh 11:14) juga menunjukkan penekanan utama pada pelayanan ibadah atau kultus. Penggunaan kata peritheinai dalam Yesaya 61:10 mencerminkan ketidakpastian terhadap teks Ibrani Masoret (MT).[4]
Menurut Yohanes Chrysostom dalam karyanya tentang imamat, Gereja adalah Kota Allah, dan pemerintahannya dipercayakan kepada para imam. Para imam dibedakan dari orang awam seperti halnya manusia dari binatang. Sebagai pelayan sakramen dan pemegang kuasa atas kunci-kunci, mereka memiliki wewenang atas surga dan neraka, dan karenanya harus dihormati lebih tinggi daripada raja dan pangeran, lebih dihormati daripada orang tua di dunia ini. Semakin tinggi jabatan seorang imam, semakin besar pula kesulitan dan bahaya dari panggilan imam tersebut. Oleh karena itu, para imam harus membedakan diri mereka dari kaum awam bukan hanya melalui kualitas moral dan praktis (karena imamat adalah suatu "hal yang membutuhkan kebajikan malaikat"), tetapi juga melalui ketepatan doktrin dan pengetahuan, yaitu, dengan pemahaman yang tepat terhadap doktrin Gereja dan pengertian terhadap Kitab Suci. Dengan demikian, sesuai dengan tuntutan jabatan imam, mereka dapat membela Gereja dan ajarannya terhadap orang kafir dan bidat, terhadap orang Yahudi dan para penanya yang ingin tahu dalam tubuh Gereja itu sendiri, serta berhasil membangun jemaat. Tetapi lebih menekankan pada tuntutan umum bahwa seorang imam seharusnya mencari pelatihan teologis untuk digunakan secara praktis dalam panggilan hidupnya, yaitu, pengetahuan tentang doktrin Gereja dan Kitab Suci. Dalam tulisan ini, bagaimanapun juga, ia tidak berlebihan dalam menggambarkan besarnya tanggung jawab dari imamat.[5]
Fungsi dan Tugas Imam dalam Tradisi Israel
Menurut sumber P, kekudusan dan kemurnian yang terus-menerus merupakan persyaratan penting bagi jabatan imam (Imamat 21:6 dan seterusnya). Sebelum para imam mendekati mezbah, mereka harus membasuh tangan dan kaki mereka (Keluaran 30:11–21). Mereka juga harus menjauhkan diri dari minuman anggur pada hari-hari mereka melayani di mezbah (Yehezkiel 44:21). Hanya mereka yang tidak memiliki cacat fisik yang boleh memasuki tempat kudus (Imamat 21:17–21). Para imam tidak boleh menajiskan diri dengan menyentuh mayat (kecuali untuk anggota keluarga dekat), dan mereka juga tidak boleh mengenakan tanda-tanda perkabungan (Imamat 21:1–5). Mereka tidak boleh menikahi perempuan sundal atau perempuan yang telah diceraikan (Imamat 21:7). Keimaman di Israel bukanlah suatu panggilan rohani, melainkan sebuah profesi; sebagaimana banyak profesi di wilayah Timur Dekat Kuno, jabatan ini bersifat turun-temurun. Istilah "menguduskan" (Keluaran 29:44) dan "mengisi tangan" (Hakim-hakim 17:12; "melantik") merupakan istilah teknis untuk pengangkatan ke dalam jabatan imam. Tanpa penahbisan khusus, seorang imam tetap memasuki lingkup yang kudus dan menerima hak atas persembahan korban. Namun, Rupprecht berpendapat bahwa istilah "mengisi tangan" sebenarnya mengacu pada ritus penahbisan formal, meskipun rincian liturgisnya mungkin diambil dari ritual-ritual lain. Tidak terdapat bukti bahwa penahbisan resmi Harun dan anak-anaknya oleh Musa (Keluaran 29; Imamat 8) pernah diulang di kemudian hari.[6]
Seorang imam mempersembahkan kurban-kurban. Para imam duniawi setiap hari mempersembahkan kurban-kurban, meskipun kurban-kurban ini tidak pernah menghapus dosa-dosa (10:11). "Sebab setiap Imam Besar ditetapkan untuk mempersembahkan kurban dan persembahan" (8:3). Maka dari itu kalau kita memang mau menganggap serius imamat sebagai salah satu konsepsi pokok untuk menafsirkan karya Kristus, kita harus melihat Dia sedang mempersembahkan kurban. Seandainya Ia ada di dunia ini, Ia tidak akan men jadi imam, sebab sudah ada imamat yang mempersembahkan persembahan dan kurban (8:4).[7]
Imamat sebagai Pelayanan dan Pengabdian
Para imam adalah pejabat kerajaan, dipimpin oleh seorang pemimpin yang biasanya disebut hakkōhēn, misalnya Azaria (1 Raja-raja 4:2), Yehoyada (2 Raja-raja 11:9; 12:8), Uria (2 Raja-raja 16:10), dan Hilkia (2 Raja-raja 22:10,12,14). Beberapa bagian lain menyebut "imam besar" sebagai kōhēn hāro’š, misalnya Seraya (2 Raja-raja 25:18), Amarya (2 Tawarikh 19:11), dan Azarya (2 Tawarikh 26:20; 31:10). Imam besar mewakili dan mengawasi seluruh keimaman; ia bertanggung jawab langsung kepada raja (bdk. 2 Raja-raja 12:8). Menurut 2 Raja-raja 11:12, imam besar Yehoyada mengurapi raja muda Yoas untuk menjadi raja. Selain kōhēn hāro’š, 2 Raja-raja 25:18 menyebut Zefanya sebagai kōhēn mišneh. Yeremia 29:26 merujuk pada imam yang sama ini sebagai yang bertanggung jawab atas rumah TUHAN, yang kemungkinan berarti bahwa ia adalah kepala polisi bait suci. Di antara tingkatan yang lebih tinggi dalam keimaman, ziqnê hakkōhănîm atau "imam-imam senior" memainkan peran penting. Sebagai kepala dari keluarga-keluarga imam, mereka dipanggil untuk melakukan tugas-tugas khusus: Raja Hizkia mengutus mereka bersama pejabat lainnya kepada nabi Yesaya untuk meminta nasihat menghadapi ancaman Asyur (2 Raja-raja 19:1-7); nabi Yeremia menggunakan mereka sebagai saksi nubuatnya tentang bencana atas Yerusalem (Yer. 19:1-15). Jabatan "imam besar" (hakkōhēn haggādôl) tidak berkembang hingga periode pasca-pembuangan. Rekan sezaman Zerubabel, Yosua, adalah orang pertama yang menyandang gelar ini (Hagai 1:1,12,14; 2:2,4; Zakharia 3:1,8; 6:11). Imam besar Elyasib memimpin daftar orang-orang yang membangun kembali tembok Yerusalem (Nehemia 3:1,20). Nehemia 13:28 menegur salah satu cucunya karena menikahi putri gubernur bukan-Yahudi dari Samaria. Akhirnya, Sirakh 50:1-21 adalah pujian penuh semangat kepada imam besar Simon II (225–192 SM). Ketika gelar ini diberikan kepada para imam sebelumnya, maka kita sedang berhadapan dengan rekonstruksi atau redaksi (2 Tawarikh 34:9; Bilangan 35:25,28,32). Salah satu papirus Elephantine (408 SM) menggunakan padanan bahasa Aram, yaitu kāhnā’ rabbā’ untuk imam besar Yohanan dari Yerusalem. Mishnah dan Talmud sering menggunakan istilah kōhēn gādōl atau kāhnā rabbā. Dokumen-dokumen pasca-pembuangan lainnya, termasuk P, menggunakan istilah tambahan sebagai sinonim dari "imam besar": hakkōhēn hammāšîah ("imam yang diurapi"; Imamat 4:3,5,16); kepala pejabat (nāgîd) dari rumah Allah (1 Tawarikh 9:11; 2 Tawarikh 31:13; Nehemia 11:11); "pangeran" (Daniel 9:25); dan "pemimpin perjanjian" (Daniel 11:22).[8]
KEIMAMAN HARUN DALAM TRADISI LEWITIKAL
Keimaman Harun
Harun (Ibr: אַהֲרוֹן = ’ahărôn) merupakan Kakak laki-laki Musa. Seorang Lewi dan Imam Besar pertama. Alkitab mencatat bahwa Harun adalah anak dari Amram (1 Taw. 6:3). Harun adalah juru bicara untuk Musa, yang telah mengeluh kepada Tuhan bahwa ia lamban bicara (Kel. 4:10–14). Harun menikahi Elisheba, putri Aminadab, saudara perempuan Nahason (Keluaran 6:23), dan mereka memiliki empat anak laki-laki: Nadab, Abihu, Eleazar, dan Itamar. Dua anak pertama "mempersembahkan api asing" dan mati di dekat Kemah Suci (Imamat 10:1–2; Bilangan 3:4). Dua lainnya melayani sebagai imam di bawah Harun hingga ia wafat, lalu Eleazar menjadi Imam Besar (Bilangan 20:26).[9] Allah secara tegas menetapkan bahwa tanggung jawab atas pemeliharaan dan pelayanan di Kemah Suci hanya diberikan kepada suku Lewi. Tidak ada satu pun dari suku lain yang diizinkan untuk mengemban tugas suci ini. Bahkan di antara orang Lewi sendiri, hanya keturunan Harun yang telah dipilih secara khusus oleh Tuhan yang diperkenankan untuk melaksanakan tugas keimaman. Jabatan imam adalah tugas yang kudus dan tidak bisa dijalankan oleh sembarang orang; hanya mereka yang ditetapkan oleh Allah melalui garis keturunan Harun yang boleh melayani di hadapan-Nya sebagai imam.[10] Gelar "imam" secara konsisten dan terus-menerus disematkan pada nama Harun, bahkan sampai pada titik di mana gelar tersebut tampak begitu melekat erat, seolah-olah telah menjadi bagian integral dari identitas Harun itu sendiri, bukan sekadar sebuah jabatan atau fungsi keagamaan. Penyebutan Harun hampir selalu diiringi dengan penegasan perannya sebagai imam, menandakan betapa pentingnya jabatan tersebut dalam memahami figur Harun dalam konteks teologis dan historis. Lebih jauh lagi, ketika Harun meninggal dunia dan posisi imam besar diteruskan oleh putranya, Eleazar, tradisi penyematan gelar ini pun berlanjut. Eleazar pun tidak hanya dikenal sebagai anak Harun, tetapi juga secara langsung dikenali melalui gelar keimamannya. Hal ini menunjukkan bahwa jabatan imam bukan hanya bersifat pribadi, melainkan juga diwariskan secara turun-temurun dalam garis keturunan Harun, dan menjadi identitas yang melekat kuat dalam kehidupan serta peran mereka di tengah umat Israel.[11]
Harun adalah imam besar yang ditunjuk oleh-Nya bagi jemaat-Nya, dengan mengizinkan dupa imam besar yang dipersembahkan oleh Harun untuk menebus murka-Nya, dan dengan menyingkirkan tulah; Dia juga memberi mereka pengukuhan lebih lanjut tentang keimamatan-Nya, melalui mukjizat yang sangat cocok untuk membungkam semua gerutu jemaat. Tuhan memerintahkan Musa untuk mengambil dua belas tongkat dari para pemimpin suku Israel, satu untuk keluarga leluhur dari setiap suku mereka, dan untuk menulis pada masing-masing nama suku; tetapi pada suku suku Lewi dia harus menulis nama Harun, karena setiap tongkat akan mewakili kepala keluarga leluhur mereka, yaitu untuk kepala suku yang ada; dan dalam kasus Lewi, kepala suku adalah Harun. Musa melaksanakan perintah ini. Dan ketika ia masuk ke dalam kemah pertemuan pada pagi berikutnya, lihatlah, tongkat Harun dari kaum Lewi telah bertunas dan mengeluarkan tunas, dan telah berbunga dan berbuah. Lalu Musa membawa semua tongkat itu keluar dari Bait Suci, dan memberikannya kepada masing-masing miliknya; selebihnya, sebagaimana dapat kita simpulkan dari konteksnya, tidak berubah, sehingga seluruh bangsa dapat yakin bahwa Allah telah memilih Harun.[12]
Proses penetapan seseorang menjadi imam yang dipanggil oleh Allah diawali dengan sebuah upacara pentahbisan yang khidmat, mencakup tiga unsur penting: pelantikan resmi ke dalam jabatan, pengurapan dengan minyak sebagai lambang pengudusan, dan persembahan korban (lih. Imamat pasal 8). Setelah pentahbisan, penerimaan mereka ke dalam jabatan imamat secara penuh ditegaskan melalui pelaksanaan pengorbanan, baik untuk diri mereka sendiri maupun bagi umat, sebagai bentuk pelayanan perantara antara Allah dan umat-Nya (lih. Imamat pasal 9). Selanjutnya, pengudusan atau penguatan batas-batas sakral jabatan imamat itu sendiri ditegaskan kembali melalui suatu tindakan penghakiman ilahi, yaitu ketika Allah menghukum mati Nadab dan Abihu, putra-putra Harun, karena mereka mempersembahkan api asing yang tidak diperintahkan oleh Tuhan (lih. Imamat pasal 10). Peristiwa ini menjadi titik penting dalam pengajaran mengenai kekudusan dan kepatuhan dalam jabatan keimaman. Sebagai tanggapan terhadap kejadian ini, Allah memberikan sejumlah petunjuk tambahan yang berkaitan dengan perilaku dan tanggung jawab para imam dalam menjalankan tugas-tugas suci mereka, sehingga jabatan imamat tidak dijalankan sembarangan, melainkan dalam ketaatan mutlak kepada kehendak Allah.[13]
Kaum Harun diteguhkan dalam jabatan imamat (ay. 10). Mereka sudah dipanggil untuk memegang jabatan itu sebelumnya, dan telah ditahbiskan untuk itu. Di sini mereka ditugaskan untuk memegang jabatan mereka sebagai imam. Rasul Paulus meng gunakan ungkapan yang sama (Rm. 12:7), yang diterjemahkan se bagai untuk melayani. Jabatan pelayanan menuntut kesiapsedia an yang terus-menerus dan ketekunan yang sungguh-sungguh. Pekerjaan pelayanan itu silih berganti, dan begitu cepat berlalu kesempatan-kesempatannya yang baik untuk melakukannya, se hingga harus siap sedia terus-menerus. Di sini diulangi apa yang dikatakan sebelumnya (1:51): Orang awam yang mendekat harus dihukum mati. Perintah ini melarang orang lain mana pun untuk menyerobot jabatan imam. Tak seorang pun boleh datang men dekat untuk melayani kecuali Harun dan anak-anaknya, semua yang lain adalah orang-orang asing.[14]
Tugas Imamat Harun dalam Kemah Suci dan Bait Allah
Harun adalah seorang Imam Besar yang dipilih dari antara manusia, dan ia tidak mampu melepas perasaannya yang alami meski ia mengenakan pakaian imam yang kudus. Ia berdiam diri (ay. 3), tetapi penderitaannya makin berat, seperti halnya yang dialami Daud (Mzm. 39:3).[15] Dalam Imamat Harun, satu-satunya syarat untuk menjadi imam adalah memiliki garis keturunan dari Harun, dengan beberapa batasan tertentu yang diperlukan. Imam-imam dari tatanan Harun melayani “sebagai gambaran dan bayangan dari hal-hal surgawi” (Ibrani 8:5; 9:1–12). Imamat Harun disebut sebagai suatu “tatanan” (Ibrani 7:11). Dalam suatu tatanan, harus ada lebih dari satu orang. Satu orang saja tidak dapat membentuk suatu tatanan imam.[16] Tugas kepada para imam keturunan Harun, sebagai para penjaga pintu di rumah Allah, untuk berhati-hati supaya tak seorang pun yang dilarang oleh hukum, datang mendekat. Mereka harus mengusir semua penyusup, karena mereka akan menajiskan barang-barang kudus jika mendekati Kemah Pertemuan. Suku Lewi harus memberi tahukan orang lain bahwa jika mereka mendekat, mereka sendiri lah yang akan terkena bahaya, mereka akan mati oleh tangan Allah, seperti yang terjadi pada Uza.[17]
Dengan demikian, Harun dan keturunannya dari garis keturunan langsung ditetapkan untuk memegang jabatan Imam Besar secara permanen dan bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas-tugas utama dalam ibadah. Namun, karena ada juga tanggung jawab yang lebih kecil atau bersifat pembantu dalam pelayanan bait Allah, maka Tuhan memanggil orang-orang dari suku Lewi dan mempersembahkan mereka kepada Harun untuk membantu dalam tugas-tugas tersebut. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa peran pelayanan orang Lewi merupakan pelengkap atau pendukung dari Imamat Harun.[18] Kepada anak-anak Kehat, anak kedua dari Lewi dan kakek dari Musa serta Harun, diberikan tugas untuk mengangkut, di atas bahu mereka, tabut perjanjian, kedua mezbah (satu dari tembaga dan satu dari emas), serta seluruh perlengkapan dan bejana dari tempat kudus. Tabut itu dibungkus dengan kain penudung yang paling kudus, dan tirai Kemah Suci dilipat dan dibawa secara terbuka. Pemindahan bagian dari struktur ini berada di bawah pengawasan langsung Imam Besar, dan tidak diperbolehkan menggunakan kendaraan apa pun.[19] Tirai dalam Kemah Suci berfungsi sebagai pembatas antara ruang kudus dan ruang maha kudus (Keluaran 26:33). Anak-anak Harun, yang menjabat sebagai imam, hanya diizinkan melayani di bagian ruang kudus; sementara itu, seluruh umat Israel tidak diizinkan memasuki ruang tersebut. Hanya Imam Besar yang boleh masuk ke ruang maha kudus, itupun hanya satu kali dalam setahun. Namun, dalam perjanjian baru melalui Kristus, semua orang percaya tidak lagi hanya dianggap sebagai penyembah seperti umat Israel dahulu, melainkan juga sebagai imam-imam Allah. Hal ini ditegaskan dalam Wahyu 1:5–6, yang menyatakan bahwa Kristus, yang mengasihi kita dan telah menyucikan kita dari dosa-dosa kita dengan darah-Nya, telah menjadikan kita raja dan imam bagi Allah, Bapa-Nya.[20] Bagian yang menggambarkan karakter sejati seorang imam dan sebagian pekerjaannya adalah Ibrani 5:1. Beberapa hal penting dijelaskan dalam ayat ini: (a) Imam diambil dari antara manusia untuk menjadi wakil mereka; (b) Ia ditetapkan oleh Allah (bandingkan ayat 4); (c) Ia aktif dalam hal-hal yang menyangkut Allah demi kepentingan manusia, yakni dalam perkara rohani; (d) Tugas utamanya adalah mempersembahkan kurban dan persembahan bagi dosa. Namun, pekerjaan imam mencakup lebih dari itu. Ia juga menjadi perantara doa bagi umat (Ibrani 7:25), dan memberkati mereka dalam nama Allah (Imamat 9:22).[21]
Kelemahan dan Keterbatasan Keimaman Harun
Penulis Kitab Ibrani menyebut imamat yang diberikan kepada Harun dan anak-anaknya, serta yang juga diberikan kepada saudara-saudara mereka, orang Lewi, sebagai Imamat Lewi. "Karena itu, jikalau oleh imamat Lewi orang mencapai kesempurnaan sebab berdasarkan imamat itu umat Israel telah menerima hukum Taurat apakah perlu lagi ditetapkan seorang imam lain menurut peraturan Melkisedek dan yang tidak disebut menurut peraturan Harun?" (Ibrani 7:11). Namun, lebih sering imamat ini disebut sebagai Imamat Harun atau Imamat yang Lebih Rendah (Lesser Priesthood). Gelar atau nama penjelas yang diberikan kepada tingkat-tingkat imamat (seperti Melkisedek, Harun, Lewi) diberikan karena keistimewaan dan kebenaran dari tokoh-tokoh tertentu yang memegang jabatan tersebut pada zaman dahulu.[22] Dalam kitab Imamat, orang Lewi hanyalah pelayan bagi para imam, sedangkan dalam kitab Ulangan, para imam adalah orang Lewi yang memimpin ibadah, atau dengan kata lain, semua orang Lewi adalah imam. Bahwa tidak adanya perbedaan yang jelas antara berbagai kelas orang Lewi dalam Ulangan dapat dijelaskan oleh fakta bahwa, sementara Imamat ditulis dengan detail yang tepat untuk para imam, Ulangan adalah catatan ringkasan hukum Taurat yang bersifat umum dan lisan, yang ditujukan kepada umat secara umum dan oleh karena itu secara alamiah menyebutkan para pendeta secara keseluruhan.[23] Imam-imam Harun bukan saja manusia fana, melainkan juga manusia berdosa, yang memiliki kelemahan-kelemahan baik yang menimbulkan dosa maupun yang alami. Mereka perlu mempersembahkan korban, pertama-tama un tuk dosa-dosa mereka sendiri, dan kemudian untuk umat.[24] Imamat Lewi dan hukum Taurat tidak mampu membawa umat kepada kesempurnaan sejati. Keduanya tidak dapat memberikan pengalaman penuh atas hal-hal baik yang menjadi tujuan mereka. Sebaliknya, peran mereka lebih kepada menunjukkan arah atau membimbing umat menuju tujuan tersebut, namun bukan menyempurnakan mereka.[25] Allah tidak pernah memberikan kepastian seperti itu kepada imam imam Harun mengenai kelanggengan mereka. Tidak pernah Ia sampai bersumpah atau berjanji bahwa imamat mereka akan menjadi imamat kekal. Oleh karena itu Ia tidak memberi mere ka alasan apa pun untuk mengharapkan kelanggengan jabat an imamat mereka, tetapi lebih untuk melihatnya sebagai hu kum sementara.[26]
KEIMAMAN MELKISEDEK
Siapakah Melkisedek?
Nama Melkisedek secara umum diartikan sebagai "raja kebenaran" (dari bahasa Ibrani: ṣedeq berarti kebenaran, dan melek berarti raja). Namun, arti ini tidak bersifat harfiah, melainkan mencerminkan makna yang muncul dari penafsiran bahasa.[27] Melkisedek hanya muncul satu kali dalam Kejadian 14:18-20. Disebutkan bahwa Melkisedek adalah raja Salem dan imam Allah Yang Mahatinggi, bahwa ia membawa roti dan anggur untuk Abraham ketika Abraham kembali setelah menang perang, bahwa ia memberkati Abraham, dan ia menerima darinya perpuluhan dari rampasan perang. Tak dibicarakan sedikit pun mengenai silsilah atau keturunannya. Sesudah itu tak pernah dikatakan apa pun mengenai dia lagi dalam PL, kecuali disebut satu kali dalam Mazmur 110:4. Arti nama Melkisedek adalah ”raja kebenaran” dan gelarnya berarti ”raja damai sejahtera”.[28] Kemunculan Melkisedek dalam Alkitab penting secara teologis. Ini memberikan bukti kuat bahwa pengetahuan akan Allah yang benar yang dimiliki oleh Nuh dan anak-anaknya tidak punah. Abraham yang monoteistik (Kejadian 18:25) secara tegas mengakui Melkisedek sebagai imam dari Allah Yang Mahatinggi (El Elyon), yang disembah Abraham (Kej. 14:18–20). Dalam diri Melkisedek, terdapat bukti akan tradisi kuno penyembahan kepada Tuhan sejati yang jauh mendahului Yerusalem sebagai tempat suci (lih. pengalihan batu dari Gunung Moria ke mahkota, 2 Samuel 24:18–25; 1 Tawarikh 21:18–30). Mungkin Musa sudah tahu sesuatu tentang “tempat yang akan dipilih TUHAN” untuk pusat peribadatan (Ulangan 12:5). Kitab Ibrani, berdasarkan pengumuman dalam Mazmur 110 tentang imamat Mesias yang non-Haruni, mengembangkan doktrin tentang imamat Kristus yang berhasil secara sempurna (Ibrani 6:20; 7:1–8:13).[29]
Penyebutan pertama tentang seorang imam dalam Alkitab ditemukan dalam Kejadian 14:18, yang menyatakan bahwa Melkisedek, raja Salem, datang membawa roti dan anggur, dan disebut sebagai ”imam Allah Yang Mahatinggi”. Meskipun sebelumnya terdapat tindakan-tindakan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh lain seperti Habel yang mempersembahkan korban yang dapat diasosiasikan dengan fungsi keimaman, namun tidak secara eksplisit disebutkan adanya jabatan imam. Dalam Ibrani 7:3, Melkisedek digambarkan sebagai sosok yang menyerupai Anak Allah dan disebut sebagai imam untuk selama-lamanya.[30] Melkisedek secara umum dikenal sebagai tokoh sejarah yang paling misterius yang datang dengan tangan yang penuh dengan hadia yang besar untuk keluarga Abraham. Dalam Kejadian 14 : 18-20 kita melihat satu-satunya penampakan Melkisedek dalam sejarah. Ia tidak disebutkan lagi dalam Kitab Suci sampai Daud berbicara tentangnya dalam Kitab Mazmur 110:4. Seribu tahun berlalu sebelum ia disebutkan kembali dalam Kitab Ibrani.[31] Melkisedek menerima imamat melalui garis keturunannya, yang diwariskan dari Adam sesuai dengan panggilan Tuhan, dan bahwa ia (Melkisedek) memberikan imamat kepada Abraham.[32] Melkisedek, yang dikenal sebagai imam dari Allah Yang Mahatinggi sekaligus raja Salem, merupakan sosok yang luar biasa pada zamannya. Ia dikenal karena iman dan kesalehannya yang besar, meskipun ada banyak aspek dalam kisah hidupnya yang bersifat unik dan misterius. Sebagai imam, Melkisedek pastilah menikmati seluruh hak istimewa dari jabatan keimaman, dan dengan dasar otoritas itu, ia juga memerintah sebagai seorang raja atau patriark. Iman dan wibawanya begitu besar sehingga setelah masa hidupnya, imamat itu sendiri dikenang dan dinamai menurut dirinya.[33]
Joseph Smith menjelaskan bahwa alasan mengapa imamat ini disebut sebagai "Imamat Melkisedek" (atau "Imamat menurut tatanan Melkisedek") adalah karena Melkisedek merupakan imam besar yang sangat luar biasa. Sebelumnya, imamat ini dikenal dengan nama "imamat suci menurut tatanan Putra Allah." Namun, untuk menghormati nama Allah dan menghindari penyebutan nama-Nya secara berulang-ulang dalam pertemuan gereja, maka imamat ini kemudian dinamai menurut Melkisedek, sehingga disebut sebagai "Imamat Melkisedek." Melkisedek dikenal sebagai sosok yang memegang dua peranan penting sekaligus, yaitu sebagai raja dan imam. Kemungkinan besar, peran keimaman yang ia emban setidaknya dipengaruhi oleh kedudukannya sebagai raja. Namun demikian, dalam keseluruhan narasi Alkitab, Melkisedek tampaknya merupakan satu-satunya figur yang menjalankan fungsi imamat tanpa adanya penetapan formal menurut garis keturunan Lewi atau perintah ilahi secara eksplisit, sehingga ia sering dianggap sebagai pengecualian yang unik dalam sejarah keimaman Israel.[34] Engkau adalah imam untuk selama-lamanya menurut tata cara Melkisedek." Alkitab mengajarkan bahwa terdapat dua jenis imamat: yang pertama berdasarkan urutan Melkisedek, dan yang kedua adalah imamat yang ditetapkan bagi Harun, anak-anaknya, serta keturunan mereka. Keduanya ditetapkan oleh panggilan Allah dan memiliki sifat kekal. Mengenai imamat Melkisedek, dinyatakan bahwa akan muncul seorang imam lain yang serupa dengannya bukan berdasarkan aturan hukum yang bersifat jasmani, melainkan berdasarkan kuasa kehidupan yang kekal.[35]
Ciri Keimaman Melkisedek: Kekal, Adil, dan Damai
Syarat pertama bagi seorang imam adalah bahwa ia harus laki-laki dan berasal dari kalangan manusia. Seperti yang tertulis dalam Ibrani 5:1, "Sebab setiap imam besar, yang diambil dari antara manusia, ditetapkan bagi manusia dalam hal-hal yang berhubungan dengan Allah, supaya ia mempersembahkan persembahan dan korban karena dosa." Ayat ini menegaskan tujuan Allah yang jelas, yakni bahwa imam besar haruslah manusia, bukan Roh Kudus ataupun malaikat. Melkisedek, karena itu, bukan makhluk roh, melainkan benar-benar seorang manusia. Namun, dia juga bukan manusia biasa; dia adalah seorang yang benar dan adil. Sebagaimana dinyatakan dalam Ibrani 7:2, Melkisedek adalah Raja kebenaran dan juga Raja damai.[36]
Tatanan Melkisedek bersifat kekal dan tidak memerlukan garis keturunan seperti yang dibutuhkan dalam imamat Harun. Ini menunjukkan keunggulan yang sangat besar dibandingkan dengan garis keturunan Harun. Karena asal-usul dan akhir kehidupan Melkisedek yang tidak dijelaskan dalam Alkitab, ia menjadi gambaran yang lebih tepat bagi Imam Besar kita, yaitu Yesus Kristus, yang telah ada sejak kekekalan sebagai Anak Allah. Yesus memenuhi syarat menjadi imam menurut tatanan Melkisedek bukan karena keturunan, sebab Ia berasal dari suku Yehuda, bukan Lewi, sehingga tidak memenuhi syarat menurut imamat Harun. Namun, syarat menjadi imam dalam tatanan Melkisedek adalah memiliki “kuasa hidup yang tidak dapat binasa” (Ibr. 7:16), dan ini hanya dimiliki oleh Kristus. Salah satu ciri khas imamat Melkisedek adalah sifat kerajaannya. Imamat Kristus bukan hanya bersifat keimaman tetapi juga kerajaan, sebagaimana terlihat dari penobatan-Nya yang disebutkan di beberapa bagian Alkitab (misalnya Ibrani 1:3, 8:1, 10:12). Ini menunjukkan kemuliaan khusus dari jabatan imam besar yang dimiliki Kristus. Meski tokoh Melkisedek dalam Kejadian terlihat misterius, namun ia menjadi bayangan dari penggenapan yang jauh lebih besar, yaitu Kristus. Penulis kitab Ibrani kemungkinan memilih tokoh Melkisedek karena berbagai alasan, seperti seringnya ia mengutip Mazmur 110 yang sangat ia hargai, atau karena ketertarikannya pada kisah Abraham. Bisa juga karena penulis mengetahui spekulasi keagamaan Yahudi saat itu tentang Melkisedek, seperti yang terdapat dalam gulungan Qumran (11Q Melkisedek), walau penafsirannya berbeda. Penulis mungkin ingin menunjukkan bahwa meskipun Yesus bukan dari suku Lewi, Ia tetap layak menjadi Imam Besar karena alasan yang lebih tinggi.[37] Melkisedek dipandang lebih unggul dibanding para imam Lewi, yang harus memiliki garis keturunan tertentu untuk dapat melayani sebagai imam (lih. Neh. 7:63 dan Im. 21:13). Oleh sebab itu, bagi penulis Ibrani, Melkisedek menjadi simbol dan gambaran profetik dari Kristus—Anak Allah yang telah ada sebelum segala sesuatu dan merupakan Imam Besar kekal, yang juga tidak berasal dari suku Lewi (lih. Ibr. 7:13).[38]
Kristus Sebagai Imam Menurut Tatanan Melkisedek
Imamat Melkisedek adalah suatu tatanan. Ada lebih dari satu imam yang termasuk di dalamnya. Tatanan imam ini memiliki beberapa ciri sebagai berikut: Mereka dipanggil oleh Allah (Ibrani 5:1–5). Mereka adalah anak-anak Allah (ayat 5, 6). Pernyataan khusus tentang status sebagai anak ini setara dengan penetapan dalam jabatan imamat (ayat 8–10). Mereka adalah imam sekaligus raja (pasal 7:1–2). Sepanjang sejarah suci yang tercatat, dengan satu pengecualian, masing-masing imam dalam tatanan ini berdiri sendiri dalam imamatnya, tidak didahului atau digantikan oleh siapa pun dalam jabatan imam tersebut; imamatnya tidak dapat digantikan (ayat 17, 24). Semua ciri ini terpenuhi dalam diri Yesus Kristus. Kristus sebagai “Imam menurut aturan Melkisedek” bukanlah hal yang kebetulan ataupun insidental. Roh Kudus tidak menggunakan bahasa secara sembarangan atau bermain-main dengan kata-kata. Tujuan dari Yehova adalah untuk menyampaikan kepada kita pemahaman baru tentang kebenaran dan keindahan yang berkaitan dengan imamat Kristus. Namun, upaya dari Pikiran Ilahi untuk meninggikan Kristus sebagai Imam Besar kita yang agung akan menjadi sia-sia bagi kita, jika kita tidak dapat memahami makna dari imamat Melkisedek, dan tidak menangkap keindahan serta realitas agung dari kebenaran yang hendak disampaikan ketika Juruselamat kita disebut sebagai “Imam Besar selama-lamanya menurut aturan Melkisedek.” Ungkapan tersebut tidak akan memiliki kekuatan atau makna apa pun jika tidak ada solusi atau pemahamannya. Apakah mungkin bahwa inti dari khotbah, keindahan klimaks dari kitab Ibrani dalam meninggikan imamat Kristus, tidak ditangkap oleh para pelajar Alkitab yang tekun? Tidak demikian halnya, jika kita mampu memecahkan persoalan yang kini memerlukan perhatian kita secara penuh. Jika ada yang takut akan “melanggar wilayah yang terlarang,” kita dapat dengan percaya diri berlindung di balik undangan ini: “Pikirkanlah Dia yang adalah Rasul dan Imam Besar pengakuan kita, yaitu Kristus Yesus” dalam jabatan-Nya sebagai “Imam menurut aturan Melkisedek”.[39]
PERBANDINGAN KEIMANAN MELKISEDEK DAN KEIMAMAN HARUN
Imam Melkisedek dan imam Harun merupakan dua figur penting dalam Alkitab yang menggambarkan dua tipe keimaman yang berbeda: keimaman yang kekal dan tidak berdasarkan keturunan (Melkisedek), serta keimaman yang bersifat turun-temurun dalam sistem hukum Taurat (Harun). Perbedaan ini bukan hanya bersifat struktural, tetapi juga teologis.
Asal Usul dan Penetapan
Melkisedek muncul secara misterius dalam Kejadian 14:18–20 sebagai "imam Allah Yang Mahatinggi" tanpa asal usul yang jelas. Surat Ibrani menekankan bahwa Melkisedek "tidak berbapa, tidak beribu, tidak bersilsilah" (Ibrani 7:3), yang menunjukkan bahwa imamatnya tidak didasarkan pada garis keturunan.[40] Melkisedek adalah imam yang tidak disebutkan berasal dari garis keturunan manapun. Dalam Kejadian 14:18, ia muncul sebagai raja Salem dan imam Allah Yang Mahatinggi. Penulis surat Ibrani menekankan bahwa ia “tidak berbapa, tidak beribu, tidak bersilsilah” (Ibrani 7:3), menandakan keimaman yang tidak berdasarkan warisan biologis.[41]
Sebaliknya, Harun ditetapkan sebagai imam pertama dalam sistem keimaman Israel melalui perintah langsung dari Allah dalam Keluaran 28. Penunjukan ini bersifat legal-formal dan diwariskan kepada keturunannya.[42] Imam Harun merupakan bagian dari sistem keimaman yang diinstitusikan melalui Musa dan Hukum Taurat. Harun, sebagai saudara Musa, diangkat oleh Allah untuk menjadi imam pertama bangsa Israel (Kel. 28:1), dan jabatan ini diteruskan secara turun-temurun dalam suku Lewi.[43]
Karakter Kekal dan Keterbatasan
Keimaman Harun dibatasi oleh usia dan kematian. Ibrani 7:23 menjelaskan bahwa “ada banyak imam, karena mereka dicegah oleh maut untuk tetap menjabat.” Artinya, sistem keimaman ini bersifat sementara dan terus digantikan oleh keturunan berikutnya.[44] Keimaman Melkisedek dianggap bersifat kekal. Dalam Ibrani 7:17, Yesus dikatakan “menjadi imam untuk selama-lamanya, menurut peraturan Melkisedek,” yang menunjukkan bahwa keimaman ini tidak mengenal akhir.[45]
Fungsi dan Lingkup Pelayanan
Keimaman Harun sangat terikat pada hukum dan ritual korban dalam Kemah Suci dan Bait Allah. Pelayanannya bersifat seremonial dan terbatas pada penebusan simbolis melalui darah binatang.[46] Sebaliknya, Melkisedek digambarkan sebagai raja dan imam sekaligus, menyatukan dua fungsi yang terpisah dalam sistem Israel. Ia memberkati Abraham dan menerima persembahan darinya, melambangkan superioritasnya atas sistem Levitikal. Dalam tipologinya, Yesus menggenapi keimaman Melkisedek karena Ia adalah Raja dan Imam yang mempersembahkan diri-Nya sekali untuk selama-lamanya.[47]
PERSPEKTIF KRISTOLOGIS: YESUS SEBAGAI IMAM DAN HAMBA
Kristus Sebagai Imam Agung
Yesus adalah Imam Agung yang sungguh-sunggu mengenal manusia dan sekaligus mengenal Allah. Keagungan yang murini dan ke-Allah-an yang mutlak dari Yesus. Yesus situ memang agung, bukan karena kehormatan yang diberikan manusia atau karena perhiasan lahiriah, melainkan karena hakekat diriNya sendiri. Yesus begitu agung dan besar sehingga bahkan langitpun terlalu kecil bagiNya. Tidak ada seorangpun yang pernah menekankan kebesaran Yesus yang murni.[48] Ajaran tentang jabatan imamat yang disandang Kristus itu sendiri begitu luar biasanya, dan merupakan bagian yang begitu mendasar dari iman Kristen. Tidak ada hal lain yang membuat orang-orang Yahudi begitu senang dengan kaum Lewi selain penghargaan mereka yang tinggi terhadap jabatan imamat mereka. Karena itu, tidak diragukan lagi bahwa jabatan imamat merupakan ketetapan yang suci dan paling unggul. Sungguh merupakan ancaman yang sangat keras terhadap orang-orang Yahudi (Hos. 3:4), ketika diumumkan bahwa selama berhari-hari orang Israel akan diam tanpa raja atau imam, tanpa korban, dan tanpa efod dan terafim.[49] Perjanjian Lama menubuatkan dan melambangkan imamat Sang Penebus yang akan datang. Ada rujukan yang jelas dalam Mazmur 110:4 dan Zakharia 6:13. Selain itu, sistem keimaman dalam Perjanjian Lama, khususnya jabatan imam besar, secara jelas melambangkan Mesias yang berfungsi sebagai imam. Dalam Perjanjian Baru, hanya ada satu kitab yang secara eksplisit menyebut Yesus sebagai imam, yaitu Surat kepada Jemaat Ibrani, namun dalam surat ini gelar itu digunakan berulang kali: Ibrani 3:1; 4:14; 5:5; 6:20; 7:26; 8:1.[50] Kristus adalah "Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah" (2:17). Sifat-sifat Kristus itu penting, begitu juga kenyataan bahwa imamat-Nya dijalankan bagi Allah. Hakikat imamat adalah menjadi pengantara dalam pemberian persembahan. Imam harus menjadi pengantara sejati bagi orang-orang yang dia layani sebagai imam, dan ia harus menjalankan imamatnya dengan mempersembahkan kurban kepada Allah (5:1). Para imam besar duniawi bisa saja menjadi wakil-wakil yang sejati. Imam itu adalah seorang manusia biasa seperti orang-orang yang diwakilinya, dan lebih dari itu, ia pun seorang berdosa, sehingga ia harus mempersembahkan kurban baik untuk dosa-dosanya sendiri maupun dosa orang-orang (5:3). Mempersembahkan kurban adalah hal yang kudus, dan tak seorang pun diizinkan melakukan hal itu, kecuali kalau ia dipanggil oleh Allah. Hal ini berlaku untuk para imam Lewi, dan berlaku juga untuk Kristus (5:4-5).[51]
Tuhan Yesus adalah Imam Besar yang tepat yang kita bu tuhkan, sebab diri-Nya kudus, mutlak sempurna. Cermati lah gambaran yang kita punya tentang kekudusan pribadi Kristus yang diungkapkan dalam berbagai kata, yang kese muanya dipandang para ahli theologi sebagai berhubungan dengan kemurnian-Nya yang sempurna. Ia saleh, bebas secara sempurna dari semua kebiasaan atau pemikiran dosa, tidak ada kecenderungan sedikit pun pada dosa dalam kodrat-Nya. Dosa tidak berdiam dalam diri-Nya, meskipun dosa berdiam dalam orang orang Kristen yang terbaik. Tidak sedikit pun ada pada Nya kecenderungan untuk berdosa.[52]
Kristus sebagai Hamba yang Menderita
Yesus datang ke dunia agar dapat memenuhi syarat sebagai Imam Besar yang setia. Ia menjadi manusia supaya bisa merasakan semua pengalaman hidup manusia, kecuali dosa, sehingga Ia layak menjalankan tugas sebagai Imam Besar. Dalam Perjanjian Lama, imam besar dipilih dari antara manusia supaya bisa mewakili umat dengan setia (Ibrani 5:1-2). Begitu juga, Kristus dipilih dari antara manusia untuk alasan yang sama (Ibrani 5:4-5). Seperti yang tertulis dalam Ibrani 2:10, Allah menyempurnakan Yesus melalui penderitaan agar Ia dapat memimpin banyak orang menuju keselamatan. Melalui pengalaman hidup sebagai manusia, Kristus mencapai kesempurnaan yang diperlukan untuk menjadi Imam Besar. Ibrani 2:17-18 menjelaskan bahwa Ia harus menjadi sama seperti saudara-saudara-Nya agar dapat menjadi Imam Besar yang penuh belas kasih dan setia kepada Allah dalam mendamaikan dosa umat manusia. Karena Ia sendiri telah mengalami penderitaan dan pencobaan, Ia mampu menolong mereka yang sedang mengalami pencobaan.[53]
Kristus mempersembahkan satu kurban, kurban diri-Nya sendiri, dan daya guna kurban itu sempurna dan abadi. Berbeda dengan para imam Lewi yang harus mempersembahkan kurban setiap hari, Ia hanya mempersembahkan satu kurban berupa diri-Nya, satu kali untuk selamanya (7:27). Ini adalah suatu gagasan yang sangat penting dan yang diulang-ulang. "Ia hanya satu kali saja menyatakan diri-Nya, pada zaman akhir untuk menghapuskan dosa oleh kur- ban-Nya" (9:26); Ia dikurbankan satu kali untuk menanggung dosa-dosa banyak orang (9:28); Ia mempersembahkan satu kurban karena dosa (10:12); dengan satu persembahan Ia telah menyempurnakan untuk selamanya orang-orang yang telah dikuduskan (10:14); "oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri- Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat" (9:14). Oleh karena itu Ia bisa berkata secara definitif: "Tidak perlu lagi dipersembahkan kurban karena dosa" (10:18). Persembahan yang diberikan Kristus adalah persembahan tubuh-Nya (10:10). Ada sementara orang yang menafsirkan bagian ini dari surat Ibrani seakan-akan penulis mau meyakinkan orang bahwa yang penting bukanlah per sembahan berupa kurban material, melainkan kehendak yang pasrah. Menurut mereka persembahan kurban binatang zaman dahulu tidak berharga, sebab kehendak korban tidak dilibatkan. Akan tetapi Kristus mempersembahkan diri dengan suka rela. Tentu saja hal ini ada benarnya. Akan tetapi kita tidak boleh melupakan fakta bahwa Allah menghendaki agar kita dikuduskan "satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus". Kita tidak bisa menafsirkan Surat Ibrani dengan tepat, tanpa melihat bahwa penulis memandang penting persembahan tubuh itu.[54]
Setiap Imam Besar ditetapkan untuk mempersembahkan korban dan persembahan. Apa pun yang dibawa orang untuk dipersembahkan kepada Allah, baik berupa persembahan demi penebusan maupun korban pendamaian atau persembahan syukur, harus dipersembahkan oleh sang imam, yang akan menebus kesalahan mereka melalui darah korban, serta meng harumkan pemberian dan pelayanan mereka dengan ukupan suci untuk membuat diri dan perbuatan mereka diterima melalui semua perlambangan itu. Oleh karena itu, sungguh pen ting bagi imamat Kristus bahwa Ia mempunyai sesuatu untuk dipersembahkan. Ia yang diperlambangkan selama ini menye diakan diri-Nya sendiri untuk dipersembahkan, yaitu kodrat manusiawi-Nya untuk diletakkan di atas mezbah kodrat ilahi Nya, sebagai korban pendamaian agung yang mengakhiri semua pelanggaran dan dosa sampai selamanya. Ia memiliki ukupan-Nya, yaitu kebenaran-Nya dan jasa-jasa-Nya sendiri untuk dipersembahkan bersama segala sesuatu yang dipersembahkan umat-Nya kepada Allah melalui diri-Nya, agar mereka dapat diterima. Janganlah kita berani menghampiri Allah, atau mempersembahkan apa pun kepada-Nya, selain di dalam dan melalui Kristus, sambil mengandalkan jasa dan perantaraan-Nya. Jika kita diterima, itu adalah di dalam Dia yang dikasihi-Nya.[55]
Relevansi Pelayanan Kristus Bagi Pemimpin Gereja Masa Kini
Dalam kitab Ibrani, jabatan imam besar bangsa Israel merupakan gambaran tentang Kristus. Dalam Ibrani 4:14 dijelaskan bahwa kita sekarang memiliki Imam Besar yang agung, yaitu Yesus, Anak Allah, yang telah menembus seluruh langit. Ayat selanjutnya menyatakan bahwa Ia mampu memahami kelemahan-kelemahan kita. Ibrani 7:24 menyebut bahwa keimaman-Nya bersifat kekal dan tidak berpindah kepada orang lain, dan ayat 26 menegaskan bahwa Imam Besar yang kita butuhkan adalah pribadi yang kudus, tanpa cela, tidak bercacat, terpisah dari orang berdosa, dan ditinggikan setinggi-tingginya di surga. Ibrani 8:1 kembali menegaskan bahwa kita memiliki Imam Besar seperti itu, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah Yang Mahatinggi di surga. Setiap aspek dari kehidupan dan tugas imam besar ini sebenarnya menggambarkan dan meramalkan pelayanan serta pribadi Yesus. Karena kita pun dipanggil untuk menjadi imam bagi Allah, maka penahbisan ke dalam jabatan imamat ini mengandung banyak pelajaran yang penting untuk di teladani.[56]
Pelayanan Yesus Kristus sebagai Imam Besar menurut tatanan Melkisedek memiliki dampak teologis dan praktis yang signifikan terhadap pemahaman tentang kepemimpinan gereja masa kini. “Keimaman Kristus dalam surat kepada Ibrani menegaskan bahwa pelayanan gereja harus bersumber dari karya penebusan-Nya yang sempurna dan kekal”.[57]
1. Pelayanan yang Berakar dalam Relasi dengan Allah
Yesus tidak menjadi Imam Besar berdasarkan silsilah Harun, melainkan berdasarkan kuasa kehidupan yang tidak dapat binasa (Ibrani 7:16). Hal ini menunjukkan bahwa dasar pelayanan Kristus adalah relasi langsung dengan Allah dan penunjukan ilahi, bukan keturunan atau hukum institusional, “keimaman Kristus melampaui sistem imamat Lewi karena berasal dari relasi kekal dengan Allah”.[58] Pemimpin gereja masa kini perlu meneladani ini dengan membangun pelayanan yang lahir dari kehidupan doa dan kedekatan dengan Kristus.
2. Pelayaan sebagai Bentuk Penghambaan
Yesus bukan hanya Imam, tetapi juga Hamba yang menderita. Dalam Ibrani 2:17–18, dijelaskan bahwa Ia menjadi sama dengan saudara-saudara-Nya untuk menjadi Imam Besar yang penuh belas kasih. Kristus menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati lahir dari kerelaan untuk menderita bagi yang dipimpin.[59] Oleh karena itu, kepemimpinan gerejawi yang sejati adalah kepemimpinan yang bersedia untuk melayani, bukan dilayani (Markus 10:45).
3. Kepemimpinan yang Kudus dan Tak Bercacat
Ibrani 7:26 menggambarkan Yesus sebagai Imam Besar yang kudus, tanpa salah, tidak bercacat, dan terpisah dari orang-orang berdosa. Kekudusan Yesus adalah syarat utama dalam pelayanan-Nya sebagai Imam, dan ini menjadi dasar moral bagi seluruh kepemimpinan Kristen.[60] Pemimpin gereja dipanggil untuk menjadi teladan dalam kekudusan dan integritas.
4. Pelayanan yang Efektif dan Tak Terbatas
Yesus mempersembahkan diri-Nya satu kali untuk selamanya (Ibrani 10:10–14), berbeda dengan para imam Harun yang harus mempersembahkan korban setiap hari. Efektivitas pelayanan Kristus bukan karena ritus berulang, tetapi karena kualitas korban yang sempurna.[61] Ini mengajarkan bahwa pelayanan gereja yang berpusat pada Kristus akan berdampak lebih besar daripada sekadar aktivitas liturgis.
5. Perpaduan Peran Imam dan Raja
Yesus, seperti Melkisedek, adalah Imam dan Raja (Ibrani 7:1–2). Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan gerejawi harus memiliki keseimbangan antara otoritas dan penggembalaan. Figur Yesus menyatukan kekuatan seorang raja dan kelembutan seorang imam dalam satu pribadi.[62] Oleh karena itu, pemimpin gereja dituntut untuk memimpin dengan hikmat dan kasih.
6. Pelayanan yang memberkati Dunia\
Melkisedek memberkati Abraham dan membawa roti serta anggur (Kejadian 14:18–20), lambang dari damai sejahtera dan persekutuan. Pelayanan Kristus tidak hanya bersifat sakral, tetapi juga berdampak sosial dan relasional.[63] Gereja masa kini harus menyadari bahwa tugas pemimpinnya adalah membawa damai dan berkat di tengah dunia yang penuh kekacauan.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan kajian teologis dan biblis terhadap keimaman Melkisedek dan Harun sebagai pelayan dan hamba, dapat disimpulkan beberapa hal penting:
1. Keimaman merupakan panggilan ilahi yang mendalam—bukan sekadar jabatan, melainkan bentuk pelayanan dan perhambaan yang mengakar pada relasi antara Allah dan manusia. Dalam Perjanjian Lama, Harun mewakili sistem keimaman yang legal dan struktural, sementara Melkisedek menggambarkan keimaman yang langsung berasal dari Allah dan bersifat kekal.
2. Yesus Kristus menggenapi kedua pola keimaman tersebut, tetapi secara khusus Ia ditetapkan sebagai Imam Besar menurut tatanan Melkisedek. Keimaman Kristus tidak berasal dari garis keturunan Lewi, melainkan dari kuasa kehidupan yang kekal (Ibrani 7:16). Ini menekankan bahwa pelayanan Kristus bersumber dari Allah secara langsung dan mencakup aspek kekudusan, belas kasih, dan pengorbanan diri.
3. Pelayanan Kristus sebagai Imam sekaligus Hamba menjadi model utama bagi pemimpin gereja masa kini. Yesus menampilkan pelayanan yang tidak hanya berkualitas tinggi secara rohani, tetapi juga penuh kasih dan empati terhadap umat yang dilayani (Ibrani 2:17–18; Markus 10:45).
4. Pemimpin gereja masa kini harus meneladani karakter Kristus: melayani dalam kekudusan, kesetiaan, tanpa pamrih, dan dengan semangat pengorbanan. Jabatan rohani bukan tempat berkuasa, melainkan tempat untuk mengasihi, mengarahkan, dan menguduskan jemaat dalam terang firman Allah.
Saran bagi Teologi dan Praktik Gereja
Berdasarkan kesimpulan di atas, berikut adalah beberapa saran yang dapat diajukan untuk pengembangan teologi dan praktik gereja masa kini:
1. Penguatan Pemahaman Teologis Mengenai Keimaman
Gereja perlu terus mengedukasi para pelayan Tuhan, termasuk jemaat awam, mengenai makna keimaman yang sejati dalam terang Kristus. Teologi keimaman bukan sekadar kajian historis, tetapi fondasi untuk pembentukan karakter dan motivasi pelayanan yang benar.
2. Penekanan pada Spiritualitas dan Relasi Pribadi dengan Allah
Seperti Melkisedek dan terutama Kristus, pelayanan harus lahir dari hubungan yang hidup dan kudus dengan Allah, bukan hanya dari struktur atau pendidikan teologis. Pelatihan rohani, pembinaan doa, dan perenungan firman perlu lebih ditekankan dalam proses pembinaan pemimpin gereja.
3. Kepemimpinan Gereja Harus Berdasarkan Model Kristus
Gereja masa kini diundang untuk meneladani kepemimpinan Kristus yang merendahkan diri, melayani dalam kasih, dan tidak mencari keuntungan pribadi. Model kepemimpinan semacam ini akan lebih relevan dan berdampak di tengah dunia yang haus akan ketulusan dan keadilan.
4. Pelayanan Gereja Harus Berakar dalam Kekudusan dan Integritas
Jabatan keimaman menuntut kehidupan yang konsisten, murni, dan penuh integritas. Setiap pemimpin gereja harus menjadi teladan dalam karakter dan kehidupan moral, agar kehadirannya benar-benar merefleksikan kemuliaan Kristus.
5. Revitalisasi Liturgi dan Sakramen dalam Terang Keimaman Kristus
Ibadah dan pelayanan sakramental dalam gereja seharusnya diarahkan untuk menyatakan karya Kristus yang satu kali untuk selama-lamanya. Liturgi tidak boleh dipisahkan dari realitas pengorbanan dan kemenangan Kristus.
Daftar Pustaka
A. Seiss, Joseph. The
Gospel In Leviticus. Philadelphia: Lindsay & Blakiston, 1860.
A. Toffteen, Olaf.
The Historic Exodus. Chicago : Oriental Society of The Western
Theological Seminary, 1909.
B. Keeler, Joseph.
The Lesser Priesthood and Notes on Church Government. Salt Lake City :
Deseret Book Co, 1929.
Barclay, William. Pemahaman
Alkitab Setiap Hari : Surat Ibrani. Jakarta : BPK-Gunung Mulia, 2008.
Botterweck, G.
Johannes. Ringgren, Helmer & Josef Fabry, Heinz. Theological Dictionary
Of The Old Testament Volume VII. Michigan : William B. Eerdmans Publishing
Company, 1995.
Brown, Colin. The
New International Dictionary New Testament Theology Volume I. Michigan,
Regency Reference Library, 1971.
Bruce, F. F. The
Epistle to the Hebrews. Grand Rapids: Eerdmans, 1990.
Bruce, F.F. The
Epistle to the Hebrews, Revised Edition. Grand Rapids: Eerdmans,
1990.
Clarence Thiessen,
Henry. Teologi Sistematika. Malang : Gandum Mas, 1992.
de Vaux, Roland. Ancient
Israel: Its Life and Institutions, trans. John McHugh. Grand Rapids:
Eerdmans, 1997.
France, R.T. The
Gospel of Mark. Grand Rapids: Eerdmans, 2002.
Guthrie, Donald. New
Testament Theology. Leicester : Inter-Varsity Press, 1981.
Guthrie, Donald. The
Letter to the Hebrews : Tyndale New Testament Commentaries.
Leicester: IVP, 1983.
Hartley, John E. Leviticus,
Word Biblical Commentary Vol. 4. Dallas: Word Books, 1992.
Henry, Matthew. Kitab Bilangan, Ulangan. Surabaya :
Momentum, 2019.
Henry, Matthew. Kitab
Ibrani, Yakobus, 1 & 2 Petrus, 1-3 Yohanes, Yudas, Wahyu. Surabaya :
Momentum, 2016.
Henry, Matthew. Kitab
Keluaran, Imamat. Surabaya : Momentum, 2019.
Hopkins Strong,
Augustus. Systematic Theology Volume I The Doctrine of God. Philadelphia
: Rochester Theological Seminary, 1907.
Keil, F. &
Delitzsch, F. Biblical Commentary on The Old Testament Volume III The
Pentateuch. London : Edinburgh, 1867.
Keil, F. &
Delitzsch, F. Biblical Commentary on The Old Testament Volume II The
Pentateuch. London : Edinburgh, 1867.
Knight III, George
W. The Pastoral Epistles: A Commentary on the Greek Text. Grand Rapids:
Eerdmans, 1992.
L. Lane, William. Hebrews
1–8: Word Biblical Commentary. Dallas: Word Books, 1991.
L. Lane, William. Hebrews:
A Call to Commitment. Grand Rapids: Baker Books, 1985.
Laird Harris, R.,
L. Archer, Jr. Gleason., K. Waltke, Bruce. Theological Wordbook Ofthe Old
Testament Volume 1. Chicago : Moody Press, 1980.
Louis. Berkhof, Systematic
Theology. Michigan : B. Eerdmans Publishing Company 1949.
Morris, Leon. Hebrews:
Bible Commentary Series. Downers Grove, IL: IVP Academic, 1983.
Morris, Leon. Teologi Perjanjian Baru. Malang : Gandum
Mas, 1996.
Post, Stephen. A
Treatise on The Melchisedek and The Callings of God. Iowa :
Nonpareil Printing Co, 1872.
Rabiger, J.
F. Encyclopaedia Of Theology Vol I. Edinbuegh: T&T
Clark, 1884.
Reaser, G. W. Melchizedek
Or The Exaltation Of The Son Of Man. Boston : Sherman, French &
Company, 1913.
Rugh, Gil, Melchizedekian
Priesthood of Christ and Its Application to The Believer. Nebraska :
Published by Indian Hills Community Church, 2021.
Shaw Caldecott, W.
The Tabernacle Its History & Structure. Philadelphia : The Union
Press, 1904.
Shelley, Bruce L. Church
History in Plain Language, 4th Edition. Nashville: Thomas Nelson,
2013.
Stott, John. The
Cross of Christ. Downers Grove: InterVarsity Press, 2006.
W. Harris, Ralph. Lambang-Lambang di Perjanjian Lama. Malang :
Gandum Mas, 2006.
W. Soltau, Henry.
The Tabernacle, The Priesthood and The Offerings. London : Morgan and
Scott, 1875.
Waltke, Bruce K. An
Old Testament Theology: An Exegetical, Canonical, and Thematic Approach.
Grand Rapids: Zondervan, 2007.
Whitfield,
Frederick. The Tabernacle Priesthood and Offerings of Israel. London :
James Nisbet & Co, 1884.
Winchester, B. A
History Of The Priesthood. Philadelphia : Brown, Bicxing & Guilbert,
1843.
Wright, F. T. Melchizedek.
Practicaprophetica, 2024.
Wright, N. T. Jesus
and the Victory of God. Minneapolis: Fortress Press, 1996.
[1] Louis Berkhof, Systematic
Theology (Michigan : B. Eerdmans Publishing Company 1949), 397.
[2] G. Johannes Botterweck, Helmer
Ringgren & Heinz Josef Fabry, Theological Dictionary Of The Old
Testament Volume VII (Michigan : William B. Eerdmans Publishing Company,
1995), 66.
[3] Louis Berkhof, Systematic
Theology, 397.
[4] G. Johannes Botterweck, Helmer
Ringgren & Heinz Josef Fabry, Theological Dictionary Of The Old
Testament Volume VII, 66.
[5] J. F, Rabiger, Encyclopaedia Of
Theology Vol I (Edinbuegh: T&T Clark, 1884), 21.
[6] G. Johannes Botterweck, Helmer
Ringgren & Heinz Josef Fabry, Theological Dictionary Of The Old
Testament Volume VI, 70.
[7] Leon Morris, Teologi Perjanjian Baru (Malang : Gandum Mas,
1996), 424.
[8] G. Johannes Botterweck, Helmer
Ringgren & Heinz Josef Fabry, Theological Dictionary Of The Old
Testament Volume VI, 71.
[9] R. Laird Harris, Gleason L.
Archer, Jr., Bruce K. Waltke, Theological Wordbook Ofthe Old Testament
Volume 1 (Chicago : Moody Press, 1980), 15.
[10] Frederick Whitfield, The
Tabernacle Priesthood and Offerings of Israel (London : James Nisbet &
Co, 1884), 37.
[11] Olaf A. Toffteen, The Historic
Exodus (Chicago : Oriental Society of The Western Theological Seminary,
1909), 94
[12] F. Keil & F. Delitzsch, Biblical
Commentary on The Old Testament Volume III The Pentateuch (London :
Edinburgh, 1867), 113.
[13] F. Keil & F. Delitzsch, Biblical
Commentary on The Old Testament Volume II The Pentateuch (London :
Edinburgh, 1867), 333.
[14] Matthew Henry, Kitab Bilangan, Ulangan (Surabaya : Momentum,
2019), 28.
[15] Matthew Henry, Kitab Keluaran,
Imamat (Surabaya : Momentum, 2019), 711.
[16] G. W. Reaser, Melchizedek Or
The Exaltation Of The Son Of Man (Boston : Sherman, French & Company,
1913), 22-23.
[17] Matthew
Henry, Kitab Bilangan, Ulangan (Surabaya : Momentum, 2019), 29.
[18] Joseph B. Keeler, The Lesser
Priesthood and Notes on Church Government (Salt Lake City : Deseret Book
Co, 1929), 14.
[19] W. Shaw Caldecott, The
Tabernacle Its History & Structure (Philadelphia : The Union Press,
1904), 3.
[20] Henry W. Soltau, The
Tabernacle, The Priesthood and The Offerings (London : Morgan and Scott,
1875), 34.
[21] Louis Berkhof, Systematic
Theology, 397.
[22] Joseph B. Keeler, The Lesser
Priesthood and Notes on Church Government, 15.
[23] Augustus Hopkins Strong, Systematic
Theology Volume I The Doctrine of God (Philadelphia : Rochester Theological
Seminary, 1907), 387.
[24] Matthew Henry, Kitab Ibrani, Yakobus,
1 & 2 Petrus, 1-3 Yohanes, Yudas, Wahyu (Surabaya : Momentum, 2016),
122.
[25] Matthew Henry, Kitab Ibrani,
Yakobus, 1 & 2 Petrus, 1-3 Yohanes, Yudas, Wahyu, 117.
[26] Matthew Henry, Kitab Ibrani,
Yakobus, 1 & 2 Petrus, 1-3 Yohanes, Yudas, Wahyu,120.
[27] Colin Brown, The New
International Dictionary New Testament Theology Volume I (Michigan, Regency
Reference Library, 1971), 581.
[28] Leon Morris, Teologi Perjanjian Baru, 422.
[29] R. Laird Harris, Gleason L.
Archer, Jr., Bruce K. Waltke, Theological Wordbook Ofthe Old Testament
Volume 1, 510.
[30] Stephen Post, A Treatise on The
Melchisedek and The Callings of God (Iowa : Nonpareil Printing Co, 1872),
2.
[31] Gil Rugh, Melchizedekian
Priesthood of Christ and Its Application to The Believer (Nebraska :
Published by Indian Hills Community Church, 2021), 9-10.
[32] Stephen Post, A Treatise on The
Melchisedek and The Callings of God, 4.
[33] B. Winchester, A History Of The Priesthood (Philadelphia
: Brown, Bicxing & Guilbert, 1843), 22.
[34] Joseph A. Seiss, The Gospel In
Leviticus (Philadelphia: Lindsay & Blakiston, 1860), 122.
[35] Stephen Post, A Treatise on The
Melchisedek and The Callings of God, 4.
[36] F. T. Wright, Melchizedek (Practicaprophetica,
2024), 6.
[37] Donald Guthrie, New Testament
Theology (Leicester : Inter-Varsity Press, 1981), 484.
[38] Colin Brown, The New
International Dictionary New Testament Theology Volume I, 619.
[39] G. W. Reaser, Melchizedek Or
The Exaltation Of The Son Of Man, 23.
[40] George W. Knight III, The
Pastoral Epistles: A Commentary on the Greek Text (Grand Rapids: Eerdmans,
1992), 82.
[41] Leon Morris, Hebrews: Bible
Commentary Series (Downers Grove, IL: IVP Academic, 1983), 69.
[42] Bruce K. Waltke, An Old
Testament Theology: An Exegetical, Canonical, and Thematic Approach (Grand
Rapids: Zondervan, 2007), 446.
[43] Roland de Vaux, Ancient Israel:
Its Life and Institutions, trans. John McHugh (Grand Rapids: Eerdmans,
1997), 356.
[44] F. F. Bruce, The Epistle to the
Hebrews (Grand Rapids: Eerdmans, 1990), 151.
[45] William L. Lane, Hebrews 1–8:
Word Biblical Commentary (Dallas: Word Books, 1991), 183.
[46] John E. Hartley, Leviticus,
Word Biblical Commentary Vol. 4 (Dallas: Word Books, 1992), 187.
[47] N. T. Wright, Jesus and the
Victory of God (Minneapolis: Fortress Press, 1996), 412.
[48] William Barclay, Pemahaman
Alkitab Setiap Hari : Surat Ibrani (Jakarta : BPK-Gunung Mulia, 2008), 57.
[49] Matthew Henry, Kitab Ibrani,
Yakobus, 1 & 2 Petrus, 1-3 Yohanes, Yudas, Wahyu, 111.
[50] Louis Berkhof, Systematic
Theology, 397-398.
[51] Leon Morris, Teologi Perjanjian
Baru, 423.
[52] Matthew Henry, Kitab Ibrani,
Yakobus, 1 & 2 Petrus, 1-3 Yohanes, Yudas, Wahyu, 122.
[53] Henry Clarence Thiessen, Teologi Sistematika (Malang : Gandum
Mas, 1992), 323-324.
[54] Leon Morris, Teologi
Perjanjian Baru, 424.
[55] Matthew Henry, Kitab Ibrani,
Yakobus, 1 & 2 Petrus, 1-3 Yohanes, Yudas, Wahyu, 129.
[56] Ralph W. Harris, Lambang-Lambang di Perjanjian Lama (Malang :
Gandum Mas, 2006), 86.
[57] William L. Lane, Hebrews: A
Call to Commitment (Grand Rapids: Baker Books, 1985), 112.
[58] F.F. Bruce, The Epistle to the
Hebrews, Revised Edition (Grand Rapids: Eerdmans, 1990), 138.
[59] N.T. Wright, Jesus and the
Victory of God, 314.
[60] John Stott, The Cross of Christ
(Downers Grove: InterVarsity Press, 2006), 245.
[61] Donald Guthrie, The Letter to
the Hebrews : Tyndale New Testament Commentaries, (Leicester: IVP,
1983), 172.
[62] R.T. France, The Gospel of Mark
(Grand Rapids: Eerdmans, 2002), 419.
[63] Bruce L. Shelley, Church
History in Plain Language, 4th Edition (Nashville: Thomas Nelson,
2013), 187.