Khotbah Minggu 14 Juni 2024 (Minggu II Set. Trinitatis) - Dibenarkan oleh Karena Iman (Galatia 2 : 15 – 21)

Pendahuluan

Salah satu pergumulan terbesar dalam kehidupan iman adalah pertanyaan tentang bagaimana manusia dapat diterima oleh Allah. Hampir semua agama mengajarkan pentingnya melakukan kebaikan, menjalankan aturan-aturan tertentu, dan hidup dengan benar. Karena itu tidak sedikit orang yang berpikir bahwa keselamatan atau penerimaan Allah dapat diperoleh melalui usaha manusia. Semakin baik seseorang hidup, semakin besar pula kemungkinan ia diterima oleh Allah. Cara berpikir seperti ini sangat mudah muncul karena manusia pada dasarnya ingin memperoleh sesuatu melalui usahanya sendiri.

Namun Alkitab mengajarkan sesuatu yang berbeda. Alkitab menunjukkan bahwa masalah utama manusia bukanlah kurang berbuat baik, melainkan dosa yang telah merusak hubungan manusia dengan Allah. Dosa membuat manusia tidak mampu mencapai standar kekudusan Allah dengan kekuatannya sendiri. Sehebat apa pun usaha manusia, ia tetap tidak dapat menghapus dosanya dan menjadikan dirinya benar di hadapan Allah. Karena itu keselamatan tidak dapat diperoleh melalui usaha manusia, tetapi harus datang dari Allah sendiri.

Persoalan inilah yang menjadi latar belakang Surat Galatia. Jemaat-jemaat di Galatia pada awalnya telah menerima Injil yang diberitakan oleh Rasul Paulus. Mereka percaya kepada Yesus Kristus dan mengalami sukacita keselamatan. Namun setelah Paulus meninggalkan mereka, datanglah beberapa pengajar yang mengajarkan bahwa iman kepada Kristus saja tidak cukup. Mereka mengatakan bahwa orang percaya juga harus menaati hukum Taurat, terutama sunat dan berbagai aturan keagamaan Yahudi, agar dapat diterima sepenuhnya oleh Allah.

Ajaran ini terdengar meyakinkan. Mereka tidak menolak Yesus Kristus, tetapi menambahkan syarat-syarat lain di samping Kristus. Mereka mengajarkan bahwa keselamatan memerlukan iman kepada Kristus ditambah ketaatan kepada hukum Taurat. Dengan kata lain, karya Kristus dianggap belum cukup sehingga harus dilengkapi oleh usaha manusia.

Inilah yang membuat Paulus sangat prihatin. Jika keselamatan dapat diperoleh melalui perbuatan manusia, maka inti Injil telah hilang. Jika manusia dapat menjadi benar melalui hukum Taurat, maka kematian Yesus di kayu salib menjadi tidak diperlukan. Karena itulah nada Surat Galatia berbeda dari surat-surat Paulus yang lain. Sejak awal surat ini, Paulus berbicara dengan sangat tegas karena ia melihat bahwa yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar perbedaan pendapat, melainkan kebenaran Injil itu sendiri.

Di sepanjang surat ini, Paulus berulang kali menegaskan bahwa manusia diselamatkan hanya oleh kasih karunia Allah melalui iman kepada Yesus Kristus. Keselamatan bukan hasil usaha manusia, bukan upah karena kebaikan manusia, dan bukan hadiah karena keberhasilan menaati hukum Taurat. Keselamatan adalah pemberian Allah yang diterima dengan iman.

Galatia 2:15–21 merupakan salah satu bagian terpenting dalam surat ini. Dalam bagian ini Paulus menjelaskan dengan sangat jelas mengapa manusia tidak dapat dibenarkan oleh hukum Taurat dan mengapa pembenaran hanya dapat diterima melalui iman kepada Kristus. Paulus bahkan menggunakan pengalaman pribadinya sendiri sebagai seorang Yahudi yang dahulu sangat taat kepada hukum Taurat. Ia pernah berpikir bahwa ketaatan kepada hukum dapat membuatnya benar di hadapan Allah. Namun setelah berjumpa dengan Kristus, ia menyadari bahwa semua usahanya tidak dapat menyelamatkan dirinya.

Karena itu, ketika Paulus berkata, "orang dibenarkan bukan karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh iman dalam Yesus Kristus," ia tidak sedang menyampaikan sebuah teori teologis semata. Ia sedang bersaksi tentang kebenaran yang telah mengubah hidupnya. Ia telah meninggalkan kepercayaan pada dirinya sendiri dan sepenuhnya bersandar pada Kristus. Meskipun kebanyakan orang tidak lagi bergumul dengan persoalan sunat atau hukum Taurat seperti jemaat Galatia, sering kali muncul kecenderungan yang sama, yaitu mengukur hubungan dengan Allah berdasarkan perbuatan dan pencapaian rohani. Ada yang merasa lebih layak diterima Allah karena rajin beribadah, aktif melayani, atau melakukan banyak kebaikan. Sebaliknya, ada yang merasa tidak layak datang kepada Allah karena menyadari banyak kelemahan dan kegagalannya.

Galatia 2:15–21, firman Tuhan mengingatkan bahwa dasar keselamatan dan penerimaan Allah bukanlah apa yang telah dilakukan manusia, melainkan apa yang telah dilakukan Kristus di kayu salib. Manusia tidak dibenarkan karena usahanya, tetapi karena iman kepada Yesus Kristus. Oleh sebab itu, kehidupan orang percaya harus dibangun di atas kasih karunia Allah dan bukan di atas kemampuan dirinya sendiri. Inilah kabar baik Injil yang diberitakan Paulus kepada jemaat Galatia dan yang terus diberitakan kepada gereja hingga hari ini: manusia dibenarkan oleh karena iman kepada Kristus saja.

Penjelasan Nats

Pada ayat 15–16, Paulus langsung masuk ke inti pembahasannya, yaitu bagaimana manusia dapat dinyatakan benar di hadapan Allah. Sebagai orang Yahudi, Paulus dan Petrus memiliki banyak keistimewaan. Mereka menerima hukum Taurat, mengenal penyembahan kepada Allah, dan hidup dalam tradisi umat pilihan. Namun setelah mengalami perjumpaan dengan Kristus, Paulus menyadari bahwa semua keistimewaan itu tidak dapat membuat seseorang menjadi benar di hadapan Allah.

Paulus berkata, "kamu tahu, bahwa tidak seorang pun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat" (ay. 16). Kata yang digunakan untuk "dibenarkan" adalah δικαιόω (dikaioō), yang berarti "menyatakan benar", "membebaskan dari tuduhan", atau "menganggap seseorang benar di hadapan pengadilan." Ini adalah istilah hukum. Jadi ketika Paulus berbicara tentang pembenaran, ia tidak sedang berbicara tentang manusia yang menjadi sempurna tanpa dosa, tetapi tentang Allah yang menyatakan orang berdosa menjadi benar karena karya Kristus.

Menariknya, dalam ayat 16 Paulus mengulang kata δικαιόω (dikaioō) sebanyak tiga kali. Pengulangan ini menunjukkan betapa pentingnya pokok ajaran tersebut. Paulus ingin memastikan bahwa jemaat Galatia memahami bahwa dasar keselamatan bukanlah usaha manusia, melainkan karya Kristus.

Paulus juga menggunakan istilah ἔργων νόμου (ergōn nomou), yang diterjemahkan "perbuatan hukum Taurat." Kata ἔργον (ergon) berarti pekerjaan atau perbuatan, sedangkan νόμος (nomos) berarti hukum. Yang dimaksud bukan hanya Sepuluh Hukum Tuhan, tetapi seluruh sistem hukum Taurat yang dijalankan oleh orang Yahudi. Paulus menegaskan bahwa tidak seorang pun dapat dibenarkan melalui ergōn nomou, sebab tidak ada manusia yang mampu melakukan seluruh hukum Allah dengan sempurna.

Sebaliknya, Paulus mengatakan bahwa manusia dibenarkan melalui πίστις Ἰησοῦ Χριστοῦ (pistis Iēsou Christou), yaitu iman kepada Yesus Kristus. Kata πίστις (pistis) berarti iman, kepercayaan, keyakinan, atau penyerahan diri. Iman bukan hanya mengakui bahwa Yesus ada, tetapi mempercayakan seluruh hidup kepada-Nya. Dengan kata lain, keselamatan bukan bergantung pada apa yang kita lakukan bagi Kristus, tetapi pada apa yang telah Kristus lakukan bagi kita melalui salib dan kebangkitan-Nya.

Ayat ini menjadi dasar utama ajaran Reformasi Gereja yang dirumuskan dengan istilah sola fide, yaitu "hanya oleh iman". Manusia tidak diselamatkan karena perbuatannya, melainkan karena iman kepada Kristus yang telah menyelesaikan karya keselamatan.

Pada ayat 17–18, Paulus mulai menjawab keberatan yang mungkin muncul. Sebagian orang mungkin berpikir bahwa jika manusia tidak lagi bergantung pada hukum Taurat, maka ia bebas hidup sesuka hati. Paulus menolak anggapan itu dengan sangat tegas.

Ia bertanya, "adakah Kristus menjadi pelayan dosa?" Lalu ia menjawab dengan ungkapan Yunani yang sangat kuat: μὴ γένοιτο (mē genoito) Ungkapan ini berarti "sekali-kali tidak!", "mustahil!", atau "jangan sampai demikian!" Ini adalah salah satu ungkapan penolakan paling tegas yang sering digunakan Paulus dalam surat-suratnya.

Menurut Paulus, iman kepada Kristus tidak membuat seseorang semakin jauh dari Allah. Justru ketika seseorang sungguh-sungguh percaya kepada Kristus, hidupnya akan berubah. Ia tidak lagi hidup di bawah kuasa dosa. Keselamatan oleh iman bukan menghasilkan kehidupan yang sembarangan, melainkan kehidupan yang diperbarui oleh kasih karunia Allah.

Paulus berkata, "jikalau aku membangun kembali apa yang telah kurombak, aku menyatakan diriku sebagai pelanggar hukum Taurat." Maksudnya, jika setelah menerima keselamatan dalam Kristus ia kembali menjadikan hukum Taurat sebagai dasar keselamatannya, maka ia sedang menghancurkan Injil yang telah diterimanya. Ia seperti seorang yang telah keluar dari penjara tetapi memilih masuk kembali ke dalamnya.

Pada ayat 19, Paulus membuat pernyataan yang sangat dalam: "Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah." Kata "mati" berasal dari kata Yunani ἀποθνῄσκω (apothnēskō), yang berarti mati atau berakhir. Paulus tidak sedang berbicara tentang kematian fisik, tetapi tentang berakhirnya hubungan dirinya dengan hukum Taurat sebagai jalan keselamatan.

Hukum Taurat telah menunjukkan dosanya. Hukum Taurat membuat Paulus sadar bahwa ia tidak mampu memenuhi standar Allah. Dengan demikian Taurat membawa Paulus kepada Kristus. Setelah menemukan keselamatan dalam Kristus, Taurat tidak lagi menjadi sarana untuk memperoleh keselamatan. Sekarang ia hidup bagi Allah karena anugerah yang telah diterimanya.

Puncak seluruh bagian ini terdapat pada ayat 20, yang sering disebut sebagai kesaksian pribadi Paulus tentang hidup dalam Kristus.  Paulus berkata: "Aku telah disalibkan dengan Kristus." Dalam bahasa Yunani digunakan kata: συνεσταύρωμαι (sunestaurōmai).

Kata ini berasal dari dua bagian, yaitu σύν (sun) yang berarti "bersama" dan σταυρόω (stauroō) yang berarti "menyalibkan". Bentuk kata ini menunjukkan suatu tindakan yang telah terjadi di masa lalu tetapi hasilnya masih terus berlaku hingga sekarang. Artinya, ketika Kristus disalibkan, Paulus secara rohani ikut disalibkan bersama Dia. Manusia lamanya yang dikuasai dosa telah dihukum bersama Kristus.  Karena itu Paulus melanjutkan: "Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup." Di sini Paulus tidak mengatakan bahwa kepribadiannya hilang. Yang berubah adalah pusat hidupnya. Dahulu hidupnya berpusat pada dirinya sendiri, prestasi agamanya, dan ketaatannya pada hukum Taurat. Sekarang pusat hidupnya adalah Kristus.

Lalu ia berkata: "Melainkan Kristus yang hidup di dalam aku." Kata "hidup" berasal dari kata Yunani ζάω (zaō), yang berarti hidup, bernapas, atau memiliki kehidupan. Kristus bukan hanya menyelamatkan Paulus dari dosa, tetapi juga menjadi sumber kehidupan yang baru. Kehidupan Paulus sekarang dipimpin dan dikuasai oleh Kristus.

Paulus berkata: "Hidup yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman." Kata "iman" yang digunakan tetap πίστις (pistis). Ini menunjukkan bahwa iman bukan hanya pintu masuk keselamatan, tetapi juga cara hidup orang percaya setiap hari. Orang percaya berjalan, melayani, mengambil keputusan, menghadapi penderitaan, dan menjalani kehidupannya dengan terus mempercayai Kristus.

Paulus kemudian menambahkan kalimat yang sangat pribadi: "Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku."  Kata "mengasihi" berasal dari kata Yunani ἀγαπάω (agapaō), yang menunjuk pada kasih yang rela berkorban. Sedangkan "menyerahkan diri" berasal dari kata παραδίδωμι (paradidōmi), yang berarti menyerahkan atau memberikan diri demi orang lain.

Paulus tidak hanya berbicara tentang doktrin keselamatan. Ia berbicara tentang pengalaman pribadi dengan Kristus yang mengasihinya dan menyerahkan nyawa-Nya baginya. Pada ayat 21, Paulus menutup pembahasannya dengan sebuah kesimpulan yang sangat kuat: "Aku tidak menolak kasih karunia Allah."

Kata "kasih karunia" berasal dari kata Yunani χάρις (charis), yang berarti pemberian yang cuma-cuma, kebaikan yang tidak layak diterima, atau anugerah.

Paulus menyadari bahwa keselamatan sepenuhnya adalah hasil charis, bukan hasil usaha manusia. Karena itu ia berkata: "Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus." Kata "sia-sia" berasal dari kata Yunani δωρεάν (dōrean), yang berarti tanpa alasan, percuma, atau tanpa tujuan.

Paulus sedang menegaskan bahwa jika manusia dapat diselamatkan melalui usaha dan perbuatannya sendiri, maka kematian Kristus tidak diperlukan. Namun justru karena manusia tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri, Kristus datang, mati di salib, dan bangkit untuk memberikan keselamatan kepada manusia.

Dengan demikian, inti dari Galatia 2:15–21 adalah bahwa manusia dibenarkan (dikaioō) bukan oleh perbuatan hukum Taurat (ergōn nomou), melainkan oleh iman (pistis) kepada Yesus Kristus. Keselamatan adalah anugerah (charis) Allah yang diberikan melalui karya Kristus. Karena itu kehidupan orang percaya tidak lagi berpusat pada dirinya sendiri, tetapi pada Kristus yang hidup di dalam dirinya. Orang yang telah dibenarkan oleh iman dipanggil untuk menjalani seluruh hidupnya dengan terus bersandar kepada Kristus dan kepada kasih karunia-Nya.

Refleksi

Galatia 2:15–21 mengajak setiap orang percaya untuk memeriksa kembali dasar imannya. Apakah selama ini hubungan dengan Allah dibangun di atas kasih karunia Kristus atau di atas usaha diri sendiri?

Sering kali tanpa disadari muncul kebanggaan rohani karena pelayanan, pengetahuan Alkitab, atau berbagai pencapaian dalam kehidupan iman. Namun firman Tuhan mengingatkan bahwa semua itu tidak dapat menjadi dasar keselamatan. Dasar keselamatan hanyalah Yesus Kristus.

Bagian ini juga mengajak untuk hidup setiap hari dalam iman. Orang percaya bukan hanya diselamatkan oleh iman, tetapi juga dipanggil untuk hidup oleh iman. Ketika menghadapi pergumulan, ketidakpastian, dan tantangan hidup, iman kepada Kristus menjadi sumber kekuatan yang memampukan untuk tetap setia.

Penutup

Galatia 2:15–21 menegaskan bahwa manusia dibenarkan bukan karena perbuatannya, melainkan karena iman kepada Yesus Kristus. Tidak ada usaha manusia yang mampu menghapus dosa atau membuatnya layak di hadapan Allah. Keselamatan adalah anugerah yang diberikan Allah melalui kematian dan kebangkitan Kristus.

Karena itu orang percaya tidak lagi hidup dengan mengandalkan kekuatannya sendiri. Sebagaimana dikatakan Paulus, "bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku." Kehidupan yang telah dibenarkan oleh iman adalah kehidupan yang terus bersandar kepada Kristus, hidup dalam kasih karunia-Nya, dan memuliakan Dia dalam setiap langkah kehidupan.

Akhirnya, keselamatan bukanlah tentang apa yang dapat dilakukan manusia bagi Allah, tetapi tentang apa yang telah Allah lakukan bagi manusia melalui Yesus Kristus. Oleh sebab itu, orang benar akan hidup oleh iman kepada Kristus yang telah mengasihi dan menyerahkan diri-Nya bagi dunia. Amin (SRDP)