Khotbah Minggu 28 Juni 2026 (Minggu IV Set. Trinitatis) - Kasih yang Menggembirakan dan Menguatkan (Filemon 1 : 4 - 7)

Pendahuluan

Setiap orang tentu pernah mengalami masa-masa yang sulit dalam hidup. Ada saat ketika hati dipenuhi oleh kekhawatiran, kekecewaan, kesedihan, atau kelelahan karena berbagai persoalan yang dihadapi. Tekanan ekonomi, persoalan dalam keluarga, masalah kesehatan, pergumulan dalam pekerjaan, maupun tantangan dalam pelayanan sering kali membuat seseorang kehilangan sukacita dan semangat. Tidak sedikit orang yang tetap tersenyum di hadapan orang lain, tetapi sebenarnya sedang memikul beban yang berat di dalam hatinya.

Dalam keadaan seperti itu, kehadiran seseorang yang peduli dapat menjadi berkat yang sangat besar. Perhatian yang sederhana, seperti mendengarkan keluh kesah, memberikan penghiburan, mengunjungi, mendoakan, atau sekadar menyapa dengan tulus, sering kali mampu menguatkan hati yang lemah. Bahkan, melalui tindakan kasih yang sederhana, seseorang dapat kembali memiliki pengharapan dan semangat untuk melanjutkan hidup. Karena itu, kasih bukan hanya sebuah perasaan, tetapi juga tindakan nyata yang dapat membawa sukacita dan kekuatan bagi orang lain.

Hal inilah yang tampak dalam kehidupan Filemon. Surat Filemon merupakan salah satu surat pribadi Rasul Paulus yang ditulis ketika ia sedang berada di dalam penjara. Surat ini ditujukan kepada Filemon, seorang anggota jemaat yang terpandang di Kolose. Rumah Filemon dipakai sebagai tempat persekutuan jemaat, sehingga ia memiliki peranan penting dalam kehidupan gereja mula-mula. Surat ini sebenarnya ditulis Paulus untuk memohon agar Filemon menerima kembali Onesimus, seorang budak yang pernah meninggalkannya, tetapi yang kemudian bertobat dan menjadi percaya kepada Kristus melalui pelayanan Paulus.

Namun sebelum Paulus menyampaikan permohonannya mengenai Onesimus, Paulus terlebih dahulu berbicara tentang kehidupan Filemon. Dalam ayat 4–7, Paulus mengungkapkan rasa syukur kepada Allah karena iman dan kasih yang dimiliki Filemon. Meskipun Paulus sedang berada dalam penjara, ia tetap bersukacita ketika mendengar kesaksian tentang Filemon. Kasih Filemon kepada sesama ternyata telah membawa sukacita, penghiburan, dan kekuatan bagi banyak orang percaya, bahkan bagi Paulus sendiri. Filemon 1:4–7, mengajak kita untuk melihat bahwa kehidupan orang percaya seharusnya menjadi sumber sukacita dan penguatan bagi sesama. Iman kepada Kristus tidak hanya dinyatakan melalui perkataan atau pengakuan, tetapi juga melalui kasih yang nyata. Kasih yang demikianlah yang menggembirakan hati, menguatkan yang lemah, dan menghadirkan kehadiran Kristus di tengah kehidupan bersama.

Penjelasan Nats

Paulus memulai suratnya dengan mengatakan, “Aku mengucap syukur kepada Allahku, setiap kali aku mengingat engkau dalam doaku” (ay. 4). Kata "mengucap syukur" berasal dari kata Yunani εὐχαριστῶ (eucharistō), yang berarti menyatakan rasa syukur dengan penuh sukacita kepada Allah. Ucapan syukur Paulus ini sangat menarik, sebab surat ini ditulis ketika ia sedang berada di dalam penjara. Secara manusiawi, Paulus memiliki banyak alasan untuk mengeluh: ia kehilangan kebebasannya, menghadapi penderitaan, dan masa depannya tidak menentu. Namun, Paulus tidak berfokus pada penderitaannya sendiri. Sebaliknya, ia tetap mampu bersyukur karena melihat pekerjaan Allah dalam kehidupan orang lain.

Paulus bersyukur bukan karena Filemon adalah orang yang kaya atau terpandang, tetapi karena kehidupan rohani Filemon telah menjadi kesaksian yang baik. Setiap kali Paulus mengingat Filemon, yang muncul dalam hati Paulus adalah rasa syukur dan doa. Hal ini menunjukkan adanya hubungan rohani yang sangat erat antara seorang rasul dan anak rohaninya. Paulus tidak sekadar mengenal Filemon sebagai rekan pelayanan, tetapi juga terus menopangnya dalam doa. Bagi Paulus, doa bukanlah sesuatu yang dilakukan sesekali, melainkan bagian yang tidak terpisahkan dari pelayanannya.

Ayat ini sekaligus mengajarkan bahwa kehidupan seorang percaya dapat menjadi alasan bagi orang lain untuk bersyukur kepada Allah. Pertanyaannya adalah: ketika orang lain mengingat kehidupan kita, apakah mereka terdorong untuk bersyukur kepada Tuhan, atau justru sebaliknya? Kehidupan yang dipenuhi iman dan kasih akan selalu membawa sukacita bagi orang-orang di sekitarnya.

Pada ayat 5 Paulus menjelaskan alasan ia bersyukur, yaitu karena ia mendengar tentang “kasihmu kepada semua orang kudus dan tentang imanmu kepada Tuhan Yesus.” Dalam bahasa Yunani, kata "kasih" adalah ἀγάπη (agapē). Kata ini menunjuk kepada kasih yang tidak berpusat pada diri sendiri, melainkan kasih yang rela berkorban demi kebaikan orang lain. Kasih seperti inilah yang telah dinyatakan Allah melalui Yesus Kristus dan yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang percaya.

Sementara itu, kata "iman" berasal dari kata Yunani πίστις (pistis), yang tidak hanya berarti percaya secara intelektual, tetapi juga menunjuk pada kesetiaan, komitmen, dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Kristus. Dengan demikian, iman menurut Paulus bukan sekadar mengakui Yesus sebagai Tuhan, tetapi hidup dalam ketaatan dan kesetiaan kepada-Nya.

Susunan kalimat Paulus dalam ayat ini sangat menarik. Iman Filemon kepada Kristus dinyatakan melalui kasihnya kepada sesama. Dengan kata lain, iman dan kasih tidak dapat dipisahkan. Iman yang sejati selalu menghasilkan kasih yang nyata. Seseorang tidak dapat mengaku mengasihi Kristus tetapi membenci atau mengabaikan sesamanya. Rasul Yohanes juga menegaskan hal yang sama: “Barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya” (1Yoh. 4:20).

Kasih Filemon juga bersifat universal, sebab Paulus mengatakan bahwa ia mengasihi “semua orang kudus.” Artinya, kasih Filemon tidak dibatasi oleh status sosial, latar belakang, atau kepentingan pribadi. Hal ini sangat penting mengingat konteks masyarakat Romawi pada waktu itu sangat dipengaruhi oleh perbedaan status antara orang merdeka dan budak, kaya dan miskin, tuan dan hamba. Namun, di dalam Kristus, semua orang dipandang sebagai saudara seiman. Karena itu, kasih Kristen harus melampaui segala batas sosial dan perbedaan yang ada.

Pada ayat 6 Paulus menyatakan doanya: “Dan aku berdoa, supaya persekutuanmu di dalam iman turut bekerja.” Kata "persekutuan" diterjemahkan dari kata Yunani κοινωνία (koinōnia). Kata ini memiliki arti yang sangat kaya, yaitu kebersamaan, partisipasi, berbagi, atau mengambil bagian dalam kehidupan bersama. Dalam gereja mula-mula, koinōnia bukan hanya berarti berkumpul bersama, tetapi juga saling memperhatikan, saling menopang, dan berbagi kehidupan sebagai satu tubuh di dalam Kristus.

Paulus berdoa agar koinōnia yang dimiliki Filemon menjadi semakin nyata dan berdampak. Frasa “turut bekerja” berasal dari kata Yunani ἐνεργής (energēs), yang berarti aktif, efektif, menghasilkan, atau bekerja dengan kuasa. Paulus menghendaki agar iman Filemon tidak menjadi iman yang pasif, yang hanya disimpan untuk diri sendiri, tetapi menjadi iman yang aktif dan menghasilkan buah dalam kehidupan bersama.

Paulus juga mengatakan bahwa melalui persekutuan iman itu, Filemon akan semakin mengenal “segala yang baik yang ada pada kita karena Kristus.” Kata "pengetahuan" dalam ayat ini berasal dari kata Yunani ἐπίγνωσις (epignōsis), yang berarti pengetahuan yang mendalam, penuh, dan berdasarkan pengalaman. Paulus ingin menegaskan bahwa seseorang tidak akan bertumbuh dalam pengenalan akan Kristus hanya melalui pengetahuan teoritis semata, tetapi juga melalui praktik kasih dan pelayanan kepada sesama. Semakin seseorang melayani dan berbagi kasih, semakin ia memahami hati Kristus.

Pada ayat 7 Paulus mencapai puncak dari ucapan syukurnya dengan berkata: “Sebab dari kasihmu sudah banyak orang kudus dikuatkan hatinya.” Frasa “dikuatkan hatinya” berasal dari kata Yunani ἀναπέπαυται (anapepautai), bentuk sempurna dari kata kerja ἀναπαύω (anapauō), yang berarti menyegarkan, memulihkan, memberikan kelegaan, atau membuat seseorang beristirahat dari kelelahan.

Bentuk kata kerja yang digunakan Paulus menunjukkan bahwa kasih Filemon telah memberikan dampak yang terus berlangsung. Banyak orang percaya telah mengalami pemulihan dan penguatan melalui kehidupannya. Kemungkinan besar rumah Filemon tidak hanya menjadi tempat pertemuan jemaat, tetapi juga tempat di mana orang-orang mengalami penerimaan, perhatian, dan penghiburan.

Paulus sendiri mengakui bahwa ia memperoleh “sukacita besar” (χαρά, chara) dan “hiburan” (παράκλησις, paraklēsis) karena kasih Filemon. Menariknya, kata paraklēsis juga dapat berarti penguatan, dorongan, atau penghiburan yang mengangkat seseorang dari kelemahannya. Meskipun Paulus sedang dipenjara, ia tetap dikuatkan oleh kesaksian hidup Filemon. Ini menunjukkan bahwa kasih yang nyata memiliki kuasa untuk menjangkau bahkan orang yang berada jauh sekalipun.

Paulus sedang mempersiapkan hati Filemon untuk menerima Onesimus kembali sebagai saudara seiman. Jika Filemon telah menunjukkan kasih kepada semua orang kudus, maka kasih yang sama juga harus dinyatakan kepada Onesimus. Dengan demikian, nast ini bukan hanya berbicara tentang kasih secara umum, tetapi juga tentang kasih yang sanggup mengampuni, menerima, dan memulihkan hubungan yang telah rusak.

Firman Tuhan mengajak setiap orang percaya untuk bertanya: apakah kehadiran kita di tengah keluarga, gereja, dan masyarakat telah membawa sukacita, penghiburan, dan kekuatan bagi orang lain? Sebab iman yang sejati kepada Kristus akan selalu menghasilkan kasih yang menggembirakan dan menguatkan sesama.

Refleksi

Filemon 1:4–7 mengingatkan bahwa kualitas iman seorang Kristen tidak hanya diukur dari seberapa sering ia beribadah, seberapa aktif ia melayani, atau seberapa banyak pengetahuan Alkitab yang dimilikinya. Iman yang sejati harus terlihat dalam kehidupan sehari-hari, terutama melalui kasih kepada sesama. Paulus memuji Filemon bukan karena kedudukannya, kekayaannya, atau kemampuannya, melainkan karena kasihnya telah membawa sukacita dan penguatan bagi banyak orang.

Kita dipanggil untuk menghadirkan kasih Kristus secara nyata. Kasih tidak boleh berhenti pada kata-kata, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan. Mengunjungi anggota jemaat yang sakit, mendoakan mereka yang sedang mengalami pergumulan, mendengarkan mereka yang sedang terluka, memberi perhatian kepada mereka yang mulai menjauh dari persekutuan, dan menolong mereka yang berkekurangan merupakan bentuk kasih yang nyata. Terkadang, sebuah pesan singkat yang berisi doa dan penguatan dapat menjadi sarana Tuhan untuk menghibur seseorang yang sedang putus asa.

Firman Tuhan ini juga mengajak untuk mengevaluasi kehidupan bersama di tengah gereja. Apakah gereja telah menjadi tempat yang menghadirkan sukacita dan penguatan, atau justru menjadi tempat yang dipenuhi perselisihan, iri hati, dan penghakiman? Tidak jarang persekutuan orang percaya justru dirusak oleh gosip, fitnah, persaingan, dan sikap saling menjatuhkan. Akibatnya, banyak orang terluka dan kehilangan sukacita dalam persekutuan. Kehidupan Filemon mengingatkan bahwa kehadiran seorang percaya seharusnya membawa kesejukan, penghiburan, dan damai sejahtera bagi sesama.

Filemon menjadi teladan bahwa kehidupan seorang percaya dapat menjadi berkat bagi banyak orang. Pertanyaannya adalah: ketika orang lain berjumpa dengan kita, apakah mereka merasakan kasih Kristus? Apakah kehadiran kita di tengah keluarga, gereja, tempat kerja, kampus, dan masyarakat membawa sukacita dan penguatan? Ataukah justru perkataan dan tindakan kita sering kali melukai, mengecewakan, dan melemahkan orang lain?

Penutup

Kehidupan Filemon menunjukkan bahwa kasih yang lahir dari iman kepada Kristus adalah kasih yang nyata, aktif, dan berdampak bagi sesama. Kasih seperti inilah yang membawa sukacita kepada Paulus, menguatkan hati banyak orang kudus, dan memuliakan Allah.

Di tengah dunia yang semakin individualistis, penuh persaingan, dan sering kali kehilangan kepedulian, orang Kristen dipanggil untuk menjadi pembawa kasih Kristus. Dunia membutuhkan lebih banyak orang percaya yang mau mendengarkan, mendoakan, mengampuni, menolong, dan menguatkan sesamanya. Gereja tidak hanya dipanggil untuk memberitakan kasih Kristus, tetapi juga untuk menghadirkannya melalui kehidupan sehari-hari.

Kiranya setiap orang percaya semakin bertumbuh dalam iman kepada Kristus, sehingga melalui perkataan, sikap, dan tindakan, banyak orang mengalami sukacita, penghiburan, dan penguatan. Dengan demikian, gereja sungguh menjadi persekutuan yang menghadirkan kasih Kristus bagi dunia. Amin. SRDP

🤝 Dukung Pelayanan Firman Tuhan

Apabila khotbah, renungan, dan artikel di website ini menjadi berkat, Anda dapat ikut mendukung pelayanan ini melalui doa maupun persembahan kasih.

❤️ Dukung Pelayanan