Khotbah Minggu 5 Juli 2026 (Minggu V Set. Trinitatis) - Keselamatan Bagi Bangsa Bangsa (Zakharia 8 : 20 - 23)
Pendahuluan
Di tengah kehidupan saat ini, masih sering dijumpai
pandangan bahwa keselamatan, kasih, atau perhatian hanya diberikan kepada
orang-orang tertentu saja, misalnya kepada mereka yang berasal dari kelompok,
suku, atau lingkungan yang sama. Sikap seperti ini juga dapat muncul dalam
kehidupan bergereja, ketika gereja lebih berfokus pada dirinya sendiri dan
kurang menyadari bahwa Allah memanggil umat-Nya untuk menjadi berkat bagi semua
orang. Padahal sejak awal, Alkitab memperlihatkan bahwa Allah adalah Allah bagi
seluruh dunia. Kasih dan keselamatan yang Ia anugerahkan tidak pernah dibatasi
oleh perbedaan suku, bangsa, bahasa, maupun status sosial.
Kitab Zakharia ditulis pada masa pascapembuangan
Babel, sekitar tahun 520 SM. Pada waktu itu sebagian umat Israel telah kembali
ke Yerusalem setelah sekian lama hidup sebagai orang buangan di Babel. Mereka
pulang dengan harapan besar, tetapi kenyataan yang mereka hadapi jauh dari
harapan. Kota Yerusalem masih dalam keadaan rusak, tembok-tembok belum dibangun
kembali, keadaan ekonomi sulit, dan pembangunan Bait Allah berjalan dengan
lambat. Keadaan ini membuat semangat umat melemah dan menimbulkan pertanyaan:
apakah Tuhan masih menyertai dan mempedulikan mereka?
Melalui pelayanan Nabi Zakharia, Tuhan meneguhkan
umat-Nya agar tidak kehilangan pengharapan. Kitab Zakharia berisi banyak janji
pemulihan, penghiburan, dan pengharapan bagi Israel. Tuhan menegaskan bahwa Ia
tetap setia kepada perjanjian-Nya. Ia akan memulihkan Yerusalem, memberkati
umat-Nya, serta menghadirkan masa depan yang penuh damai sejahtera. Namun,
pemulihan yang dijanjikan Allah tidak berhenti pada Israel saja. Tuhan
mempunyai rencana yang jauh lebih besar, yaitu menghadirkan keselamatan bagi segala
bangsa.
Konteks langsung dari Zakharia pasal 8 adalah jawaban
Tuhan terhadap pertanyaan umat mengenai praktik puasa (Za. 7:1-3). Melalui
nabi-Nya, Tuhan mengingatkan bahwa yang terutama bukanlah ritual keagamaan
semata, melainkan kehidupan yang dipenuhi keadilan, kasih, kesetiaan, dan
ketaatan kepada Allah. Setelah menegur umat, Tuhan kemudian menyampaikan
serangkaian janji pemulihan bagi Sion. Salah satu puncak dari janji tersebut
terdapat dalam Zakharia 8:20-23. Nats ini menggambarkan suatu masa ketika
bangsa-bangsa dari berbagai tempat akan datang ke Yerusalem untuk mencari
Tuhan. Mereka akan saling mengajak untuk beribadah kepada Tuhan dan mengakui
bahwa Allah hadir di tengah umat-Nya.
Dengan demikian, Zakharia 8:20-23 menegaskan bahwa
keselamatan Allah bersifat universal. Allah tidak hanya memulihkan Israel,
tetapi juga menghendaki supaya melalui umat-Nya, bangsa-bangsa lain mengenal
Dia. Nats ini sekaligus mengingatkan gereja pada masa kini bahwa umat Tuhan
dipanggil untuk menjadi saksi yang menghadirkan kasih dan keselamatan Allah
bagi dunia.
Penjelasan Nast
Zakharia 8:20-23 menggambarkan suatu penglihatan yang
luar biasa tentang masa depan umat Allah. Setelah berbicara mengenai pemulihan
Yerusalem dan berkat bagi umat-Nya, Tuhan kini memperlihatkan bahwa pemulihan
itu tidak hanya dinikmati oleh Israel, tetapi juga akan membawa bangsa-bangsa
lain datang kepada Tuhan. Perikop ini menunjukkan bahwa keselamatan yang
berasal dari Allah memiliki jangkauan yang universal.
Pada ayat 20, firman Tuhan diawali dengan ungkapan, "Beginilah
firman TUHAN semesta alam." Ungkapan ini berulang kali muncul dalam
pasal 8 dan menegaskan bahwa janji ini berasal dari Allah sendiri. Di tengah
kondisi Israel yang masih lemah setelah pembuangan, Tuhan memberikan sebuah
visi yang melampaui keadaan mereka saat itu. Secara manusiawi, sulit
membayangkan bahwa Yerusalem yang sedang dibangun kembali dan masih dipenuhi
keterbatasan suatu saat akan menjadi tujuan bagi banyak bangsa. Namun Allah
sanggup melakukan hal-hal yang melampaui kemampuan dan penglihatan manusia.
Ayat 21 menyatakan bahwa penduduk dari satu kota akan
pergi ke kota yang lain sambil berkata, "Marilah kita pergi untuk
melunakkan hati TUHAN dan mencari TUHAN semesta alam." Frasa "melunakkan
hati TUHAN" berasal dari bahasa Ibrani לְחַלּוֹת אֶת־פְּנֵי יְהוָה (leḥallôt
et-pĕnê YHWH) yang secara harfiah berarti "mencari kemurahan wajah
TUHAN". Ungkapan ini menggambarkan sikap rendah hati di hadapan Allah,
yaitu datang kepada-Nya dengan penuh pertobatan, pengharapan, dan kerinduan
akan belas kasihan-Nya.
Selanjutnya, kata "mencari" berasal
dari kata Ibrani בָּקַשׁ (baqash), yang berarti mencari dengan
sungguh-sungguh, berusaha mendapatkan, atau merindukan suatu relasi yang dekat.
Dengan demikian, bangsa-bangsa itu tidak sekadar datang untuk mengetahui
informasi tentang Allah Israel, melainkan mereka ingin mengalami sendiri
hadirat dan karya Allah dalam hidup mereka.
Hal yang menarik adalah bahwa kerinduan untuk mencari
Tuhan dilakukan secara bersama-sama. Mereka saling mengajak: "Aku pun
hendak pergi." Gambaran ini menunjukkan bahwa iman sejati memiliki
sifat yang menular dan mengundang. Orang yang telah mengalami kasih dan
pertolongan Tuhan tidak akan menyimpan pengalaman itu bagi dirinya sendiri,
tetapi akan mengajak orang lain untuk datang kepada Tuhan. Kehidupan umat yang
dipulihkan Allah akan menjadi kesaksian yang menarik banyak orang.
Pada ayat 22, nubuat tersebut semakin dipertegas: "Jadi
banyak bangsa dan suku-suku bangsa yang kuat akan datang mencari TUHAN semesta
alam di Yerusalem." Istilah "bangsa yang kuat"
menunjukkan bangsa-bangsa besar yang memiliki pengaruh, kekuatan politik, dan
kekuasaan militer. Pernyataan ini sangat mengejutkan jika dilihat dari konteks
historisnya. Pada masa Zakharia, Israel bukanlah bangsa yang kuat. Mereka
hanyalah komunitas kecil yang baru kembali dari pembuangan dan sedang berjuang
membangun kembali kehidupan mereka.
Namun Tuhan ingin menegaskan bahwa daya tarik umat
Allah tidak terletak pada kekuatan politik, ekonomi, ataupun militer, melainkan
pada kehadiran Allah di tengah-tengah mereka. Yerusalem akan menjadi pusat
perhatian bangsa-bangsa bukan karena kemegahan manusianya, tetapi karena Tuhan
berdiam di sana. Nubuat ini juga mengingatkan kembali janji Allah kepada
Abraham dalam Kejadian 12:3, bahwa melalui keturunannya segala kaum di muka
bumi akan mendapat berkat. Dengan demikian, sejak awal Allah telah merencanakan
keselamatan bagi seluruh dunia.
Dalam terang Perjanjian Baru, nubuat ini mencapai
penggenapannya melalui Yesus Kristus. Melalui kematian dan kebangkitan Kristus,
tembok pemisah antara Yahudi dan non-Yahudi telah diruntuhkan (Ef. 2:14).
Keselamatan kini terbuka bagi semua orang yang percaya kepada Kristus. Amanat
Agung yang diberikan Yesus kepada murid-murid-Nya untuk menjadikan semua bangsa
murid-Nya (Mat. 28:19-20) merupakan kelanjutan dari visi universal yang telah
dinubuatkan oleh Zakharia.
Ayat 23 merupakan klimaks dari seluruh perikop ini.
Dikatakan bahwa "sepuluh orang dari berbagai bahasa bangsa-bangsa akan
memegang punca jubah seorang Yahudi." Dalam tradisi Ibrani, angka
sepuluh sering digunakan secara simbolis untuk menunjukkan jumlah yang banyak
atau penuh. Artinya, banyak orang dari berbagai bangsa dan bahasa akan datang
kepada umat Allah.
Ungkapan "berbagai bahasa bangsa-bangsa"
menegaskan sifat universal dari keselamatan Allah. Perbedaan bahasa, budaya,
dan latar belakang tidak lagi menjadi penghalang untuk datang kepada Tuhan.
Semua bangsa dipanggil untuk mengambil bagian dalam keselamatan yang
disediakan-Nya.
Tindakan "memegang punca jubah" juga
memiliki makna simbolis yang mendalam. Kata Ibrani כָּנָף (kanaph) dapat
berarti "ujung", "punca jubah", atau "sayap".
Dalam Bilangan 15:38-39, umat Israel diperintahkan untuk mengenakan jumbai pada
punca jubah mereka sebagai tanda identitas umat perjanjian. Dengan memegang
punca jubah seorang Yahudi, bangsa-bangsa menyatakan kerinduan mereka untuk
ikut mengambil bagian dalam berkat, penyembahan, dan persekutuan dengan Allah.
Pernyataan mereka, "Kami mau pergi menyertai
kamu, sebab kami telah mendengar bahwa Allah menyertai kamu," menjadi
inti dari seluruh perikop ini. Bangsa-bangsa tertarik kepada Israel bukan
karena kehebatan Israel itu sendiri, melainkan karena mereka melihat dan
mendengar bahwa Allah hadir di tengah umat-Nya. Kehadiran Allah menjadi
kesaksian yang paling kuat.
Demikian pula gereja pada masa kini dipanggil bukan
untuk menarik dunia melalui kemegahan gedung, kekuasaan, atau popularitas,
melainkan melalui kehidupan yang mencerminkan kehadiran Kristus. Ketika gereja
hidup dalam kasih, kesatuan, kekudusan, keadilan, dan pelayanan, dunia akan
melihat bahwa Allah benar-benar hadir di tengah umat-Nya. Pada akhirnya,
kesaksian hidup yang memancarkan kehadiran Allah akan membawa banyak orang
datang untuk mengenal dan mengalami keselamatan di dalam Kristus.
Refleksi
Zakharia 8:20-23 mengingatkan bahwa Allah adalah Allah
bagi semua bangsa. Sejak semula, Allah tidak pernah merencanakan keselamatan
hanya untuk sekelompok orang tertentu, tetapi Ia menghendaki agar seluruh umat
manusia mengenal dan mengalami kasih-Nya. Karena itu, gereja dipanggil bukan
untuk hidup bagi dirinya sendiri, melainkan untuk menjadi alat Allah dalam
menghadirkan keselamatan dan kasih-Nya di tengah dunia.
Nats ini juga mengajak setiap orang percaya untuk
melihat kembali kualitas kesaksian hidupnya. Bangsa-bangsa dalam nats ini
berkata, "Kami mau pergi menyertai kamu, sebab kami telah mendengar,
bahwa Allah menyertai kamu." Perkataan ini menunjukkan bahwa yang
menarik orang lain kepada Tuhan bukan pertama-tama karena kehebatan umat,
melainkan karena kehadiran Allah yang nyata dalam kehidupan mereka.
Pertanyaannya, apakah orang-orang di sekitar kita dapat melihat kehadiran Allah
melalui sikap, perkataan, dan tindakan kita? Apakah dalam keluarga, tempat
kerja, lingkungan masyarakat, dan persekutuan gereja, kita memancarkan kasih,
damai sejahtera, pengampunan, dan kebenaran Kristus?
Pada masa sekarang, gereja sering diperhadapkan pada
berbagai tantangan, seperti individualisme, persaingan, konflik, bahkan sikap
eksklusif yang membuat gereja semakin tertutup terhadap dunia di sekitarnya.
Tidak jarang gereja lebih sibuk mengurus kepentingan internalnya daripada
menghadirkan kasih Allah bagi masyarakat. Padahal, gereja dipanggil untuk
menjadi terang dan garam dunia (Mat. 5:13-16). Gereja harus menjadi komunitas
yang terbuka, menerima, melayani, dan merangkul semua orang tanpa membedakan latar
belakang suku, bahasa, status sosial, maupun keadaan ekonomi.
Selain itu, nats ini juga mengingatkan bahwa misi
memberitakan Injil bukan hanya tugas pendeta atau pelayan gereja, tetapi
merupakan panggilan seluruh orang percaya. Setiap orang Kristen adalah saksi
Kristus di mana pun ia berada. Kesaksian itu dapat diwujudkan melalui perkataan
yang membangun, kepedulian kepada sesama, kejujuran dalam pekerjaan, kesetiaan
dalam keluarga, serta kerelaan melayani mereka yang membutuhkan. Ketika
kehidupan orang percaya memancarkan kasih Kristus, maka orang lain akan tertarik
untuk mengenal Tuhan.
Oleh karena itu, panggilan bagi gereja masa kini bukan
hanya mengajak orang datang ke gereja, tetapi juga menghadirkan gereja di
tengah dunia. Dunia yang penuh dengan perpecahan, ketidakadilan, kebencian, dan
keputusasaan membutuhkan kesaksian umat yang sungguh-sungguh hidup bersama
Allah. Ketika gereja hidup seturut kehendak-Nya, dunia akan melihat bahwa Allah
benar-benar hadir di tengah umat-Nya.
Penutup
Zakharia 8:20-23 menghadirkan sebuah visi besar
tentang karya Allah yang melampaui batas-batas manusia. Allah memulihkan Israel
bukan hanya untuk kepentingan Israel sendiri, tetapi supaya melalui umat-Nya,
bangsa-bangsa lain datang mencari Tuhan. Keselamatan yang Allah sediakan
bersifat universal, terbuka bagi semua orang yang mau datang kepada-Nya.
Firman Tuhan ini mengingatkan bahwa identitas umat
Allah selalu berkaitan dengan panggilan untuk menjadi saksi. Gereja tidak
dipanggil untuk hidup secara tertutup dan berpusat pada dirinya sendiri, tetapi
dipanggil untuk menjadi tanda kehadiran Allah di tengah dunia. Dunia harus
dapat melihat kasih Allah melalui kehidupan umat-Nya, mendengar kabar
keselamatan melalui kesaksian mereka, dan mengalami karya Kristus melalui
pelayanan gereja.
🤝 Dukung Pelayanan Firman Tuhan
Apabila khotbah, renungan, dan artikel di website ini menjadi berkat, Anda dapat ikut mendukung pelayanan ini melalui doa maupun persembahan kasih.
❤️ Dukung Pelayanan