Khotbah Partangiangan (Minggu V Set. Trinitatis) - Keselamatan Bagi Bangsa Bangsa (Wahyu 7 : 9 - 17)
Pendahuluan
Hidup manusia tidak pernah
terlepas dari berbagai pergumulan dan penderitaan. Ada orang yang bergumul
dengan masalah ekonomi, sakit penyakit, konflik dalam keluarga, kehilangan
orang yang dikasihi, ketidakadilan, bahkan penolakan karena iman yang dipegangnya.
Dalam situasi seperti itu, tidak jarang muncul pertanyaan: apakah Allah masih
memperhatikan umat-Nya? Apakah penderitaan yang dialami orang percaya akan
berakhir? Dan siapakah yang pada akhirnya akan memperoleh keselamatan?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini
juga dialami oleh jemaat mula-mula pada akhir abad pertama. Mereka hidup dalam
tekanan dan penganiayaan dari Kekaisaran Romawi. Banyak orang Kristen mengalami
diskriminasi, kehilangan pekerjaan, dipenjara, bahkan dibunuh karena mereka
menolak menyembah kaisar dan tetap mengakui bahwa hanya Yesus Kristus adalah
Tuhan. Di tengah situasi yang penuh ketakutan dan penderitaan itu, Tuhan
menyatakan firman-Nya melalui Rasul Yohanes untuk menghibur, menguatkan, dan
meneguhkan iman jemaat.
Kitab Wahyu ditulis oleh Rasul
Yohanes ketika ia berada dalam pembuangan di Pulau Patmos (Why. 1:9),
kemungkinan pada masa pemerintahan Kaisar Domitian sekitar tahun 90–96 M.
Berbeda dengan banyak kitab Perjanjian Baru lainnya, Kitab Wahyu menggunakan bahasa
simbolis dan penglihatan-penglihatan apokaliptik untuk menyatakan bahwa
sekalipun dunia tampak dikuasai oleh kuasa kejahatan, sesungguhnya Allah tetap
berdaulat atas sejarah. Kitab ini ditulis bukan untuk menimbulkan ketakutan,
melainkan untuk memberikan pengharapan kepada umat Tuhan agar tetap setia,
sebab pada akhirnya Kristus akan menang dan umat-Nya akan turut mengambil
bagian dalam kemenangan itu.
Dalam pasal 6, Yohanes melihat
pembukaan enam meterai yang menggambarkan berbagai penderitaan, peperangan,
kelaparan, kematian, dan penghakiman Allah atas dunia. Gambaran tersebut
menimbulkan pertanyaan yang sangat mendasar pada akhir pasal 6: "Sebab
sudah tiba hari besar murka mereka dan siapakah yang dapat bertahan?"
(Why. 6:17). Pertanyaan inilah yang dijawab dalam pasal 7.
Pasal 7 berfungsi sebagai suatu
selingan (interlude) di antara pembukaan meterai keenam dan ketujuh.
Sebelum penghakiman Allah dilanjutkan, Yohanes diperlihatkan bahwa Allah
mengenal, memelihara, dan menjaga umat-Nya. Pada bagian pertama pasal 7 (ay.
1-8), Yohanes melihat 144.000 orang yang dimeteraikan sebagai milik Allah.
Kemudian, dalam ayat 9-17, Yohanes melihat suatu penglihatan yang jauh lebih
luas, yaitu suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat dihitung
jumlahnya, berasal dari segala bangsa, suku, kaum, dan bahasa, berdiri di
hadapan takhta Allah dan Anak Domba.
Penglihatan ini menegaskan bahwa
keselamatan Allah tidak terbatas hanya kepada satu bangsa atau kelompok
tertentu. Keselamatan yang dikerjakan oleh Yesus Kristus menjangkau semua
manusia yang percaya kepada-Nya. Di tengah penderitaan dan pergumulan hidup,
umat Tuhan diberikan pengharapan bahwa pada akhirnya akan ada suatu persekutuan
yang besar dari seluruh dunia yang berkumpul di hadapan Allah untuk memuji dan
menyembah-Nya. Mereka adalah orang-orang yang telah melewati penderitaan,
tetapi tetap setia kepada Kristus dan akhirnya menikmati keselamatan yang
kekal. Kasih dan keselamatan Allah bersifat universal. Allah memanggil gereja
bukan hanya untuk menikmati keselamatan itu sendiri, tetapi juga untuk
memberitakan Injil kepada segala bangsa, sehingga semakin banyak orang menjadi
bagian dari kumpulan besar yang memuliakan Allah di hadapan takhta-Nya.
Penjelasan
Nast
Dalam penglihatan yang
diterimanya, Rasul Yohanes berkata: "Kemudian dari pada itu aku
melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat
terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa"
(ay. 9). Ungkapan "Kemudian dari pada itu aku melihat" menunjukkan adanya
peralihan dari penglihatan sebelumnya tentang 144.000 orang yang dimeteraikan
(ay. 1-8) kepada suatu pemandangan yang jauh lebih luas. Jika sebelumnya
Yohanes "mendengar" jumlah orang yang dimeteraikan, sekarang ia
"melihat" suatu kumpulan besar yang tidak terhitung jumlahnya. Hal
ini memperlihatkan keluasan karya keselamatan Allah.
Frasa "dari segala bangsa
dan suku dan kaum dan bahasa" menegaskan sifat universal dari
keselamatan Allah. Dalam bahasa Yunani digunakan ungkapan ek pantos ethnous
kai phylōn kai laōn kai glōssōn (ἐκ παντὸς ἔθνους καὶ φυλῶν καὶ λαῶν καὶ γλωσσῶν), yang secara harfiah berarti "dari setiap bangsa,
suku, kaum, dan bahasa." Yohanes ingin menunjukkan bahwa karya penebusan
Kristus melampaui semua batas etnis, budaya, bahasa, dan status sosial. Di
dunia manusia sering terpecah karena perbedaan, tetapi di hadapan takhta Allah
semua orang percaya dipersatukan dalam penyembahan kepada Allah. Penglihatan
ini sekaligus menggenapi janji Allah kepada Abraham bahwa melalui keturunannya
segala bangsa di bumi akan mendapat berkat (Kej. 12:3).
Yohanes melihat mereka "berdiri
di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba." Posisi berdiri di
hadapan takhta menunjukkan bahwa mereka telah diterima di hadirat Allah.
Pertanyaan yang muncul pada Wahyu 6:17, "Siapakah yang dapat
bertahan?" kini terjawab. Mereka yang telah ditebus oleh Kristus
sanggup berdiri di hadapan Allah bukan karena kekuatan atau kesalehan mereka
sendiri, tetapi karena kasih karunia Allah.
Mereka mengenakan "jubah
putih" (stolas leukas). Dalam Kitab Wahyu, warna putih
melambangkan kemurnian, kemenangan, sukacita, dan pembenaran. Jubah putih ini
bukanlah hasil usaha manusia, melainkan anugerah Allah kepada mereka yang setia
kepada Kristus. Hal ini semakin dipertegas pada ayat 14 ketika dikatakan bahwa
mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak
Domba. Dengan demikian, jubah putih melambangkan kehidupan yang telah disucikan
dan dibenarkan oleh pengorbanan Kristus.
Selain itu, mereka memegang daun-daun
palem di tangan mereka. Dalam tradisi Yahudi, daun palem sering digunakan
dalam perayaan Pondok Daun (Im. 23:40) sebagai lambang sukacita dan ucapan
syukur kepada Allah. Daun palem juga menjadi simbol kemenangan. Ketika Yesus
memasuki Yerusalem, orang banyak menyambut-Nya dengan daun palem (Yoh. 12:13).
Dengan demikian, daun palem dalam penglihatan Yohanes melambangkan kemenangan
umat Allah yang telah melewati penderitaan dan kini bersukacita dalam
keselamatan yang sempurna.
Ayat 10 mencatat seruan mereka: "Keselamatan
bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!" Kata
Yunani untuk keselamatan adalah sōtēria (σωτηρία), yang
berarti pembebasan, penyelamatan, atau pelepasan. Seruan ini merupakan
pengakuan bahwa keselamatan sepenuhnya berasal dari Allah. Umat yang berdiri di
hadapan takhta menyadari bahwa mereka berada di sana bukan karena jasa atau
perbuatan baik mereka, tetapi semata-mata karena karya Allah melalui Yesus
Kristus, Sang Anak Domba. Keselamatan adalah anugerah, bukan hasil usaha
manusia.
Pada ayat 11-12, seluruh penghuni
surga—malaikat, tua-tua, dan keempat makhluk hidup—turut tersungkur di hadapan
Allah dan menyembah-Nya. Mereka menaikkan tujuh ungkapan pujian: puji-pujian,
kemuliaan, hikmat, syukur, hormat, kuasa, dan kekuatan. Angka tujuh dalam
Kitab Wahyu melambangkan kesempurnaan. Dengan demikian, seluruh surga
memberikan penyembahan yang sempurna kepada Allah yang telah menggenapkan karya
keselamatan-Nya.
Dalam ayat 13-14, salah seorang
tua-tua bertanya kepada Yohanes: "Siapakah mereka yang memakai jubah
putih itu dan dari manakah mereka datang?" Pertanyaan ini bukan karena
tua-tua tersebut tidak mengetahui jawabannya, melainkan untuk menolong Yohanes
memahami makna penglihatan itu. Yohanes menjawab, "Tuanku, tuan
mengetahui." Kemudian tua-tua itu menjelaskan bahwa mereka adalah "orang-orang
yang keluar dari kesusahan yang besar."
Ungkapan "kesusahan yang
besar" berasal dari bahasa Yunani tēs thlipseōs tēs megalēs (τῆς θλίψεως τῆς μεγάλης).
Kata thlipsis berarti tekanan, penderitaan, penindasan, atau kesesakan.
Bagi jemaat mula-mula, istilah ini menunjuk pada penganiayaan dan penderitaan
yang mereka alami karena iman kepada Kristus. Namun secara lebih luas, ungkapan
ini juga menggambarkan seluruh pergumulan yang dialami umat Tuhan sepanjang
sejarah. Penglihatan ini memberikan penghiburan bahwa penderitaan bukanlah
akhir dari perjalanan orang percaya. Mereka yang tetap setia akan memperoleh
kemenangan bersama Kristus.
Selanjutnya dikatakan bahwa
mereka "telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah
Anak Domba." Pernyataan ini tampak paradoks, sebab secara logika darah
akan mengotori pakaian. Akan tetapi, dalam teologi Perjanjian Baru, darah
Kristus justru menyucikan manusia dari dosa (1Yoh. 1:7). Melalui kematian Yesus
di kayu salib, dosa manusia diampuni dan manusia diperdamaikan dengan Allah.
Hanya melalui pengorbanan Kristus seseorang dapat dibenarkan dan memperoleh
keselamatan.
Karena telah ditebus, ayat 15
menyatakan bahwa mereka kini "berdiri di hadapan takhta Allah dan
melayani Dia siang malam di Bait-Nya." Kata Yunani latreuousin
(λατρεύουσιν) berarti melayani dalam konteks ibadah atau pelayanan
kudus kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa tujuan akhir keselamatan bukan
sekadar terbebas dari penderitaan, tetapi hidup dalam persekutuan dan
penyembahan yang kekal bersama Allah.
Selanjutnya dikatakan bahwa Allah
"akan membentangkan kemah-Nya di atas mereka." Ungkapan ini
mengingatkan pada pengalaman Israel di padang gurun ketika Allah hadir di
tengah umat-Nya melalui Kemah Suci. Sekarang, dalam kepenuhannya, Allah sendiri
akan tinggal bersama umat-Nya. Kehadiran Allah menjadi sumber keamanan,
sukacita, dan damai sejahtera yang sempurna.
Pada ayat 16, Yohanes mendengar
janji yang sangat menghiburkan: "Mereka tidak akan menderita lapar dan
dahaga lagi; matahari atau panas terik tidak akan menimpa mereka lagi."
Janji ini menggemakan Yesaya 49:10. Semua penderitaan, kekurangan, dan
kesesakan yang dialami di dunia akan berakhir. Tidak ada lagi kelaparan,
penderitaan, ataupun kesakitan, sebab Allah telah memulihkan segala sesuatu.
Puncak penghiburan terdapat pada
ayat 17: "Sebab Anak Domba yang di tengah-tengah takhta itu akan
menggembalakan mereka dan akan menuntun mereka ke mata air kehidupan."
Gambaran ini sangat unik karena Yesus digambarkan sekaligus sebagai Anak Domba
dan Gembala. Dia yang dahulu menjadi korban bagi keselamatan manusia kini
memimpin dan memelihara umat-Nya untuk selama-lamanya. Kata Yunani poimanei
(ποιμανεῖ) berarti menggembalakan, memimpin, dan memelihara.
Kristus bukan hanya menyelamatkan umat-Nya, tetapi juga terus memelihara mereka
hingga mencapai kehidupan yang kekal.
Akhirnya, Yohanes mendengar janji
yang sangat indah: "Dan Allah akan menghapus segala air mata dari mata
mereka." Ini merupakan gambaran tentang pemulihan yang sempurna. Semua
dukacita, penderitaan, dan air mata yang pernah dialami umat Tuhan di dunia
akan dihapuskan oleh Allah sendiri. Dengan demikian, Wahyu 7:9-17 menjadi
sebuah penghiburan besar bagi gereja di segala zaman bahwa sekalipun umat Tuhan
harus melewati berbagai penderitaan, pada akhirnya mereka akan menikmati
keselamatan dan persekutuan yang kekal bersama Allah.
Refleksi
Wahyu 7:9–17 mengingatkan bahwa keselamatan Allah terbuka bagi semua bangsa. Oleh karena itu, gereja dipanggil untuk memberitakan Injil kepada semua orang tanpa membedakan suku, bahasa, budaya, ataupun status sosial. Tidak seorang pun berada di luar jangkauan kasih Allah. Firman ini juga menguatkan orang percaya yang sedang mengalami penderitaan. Kesulitan, pergumulan, dan air mata bukanlah akhir dari perjalanan iman. Allah melihat setiap pergumulan umat-Nya dan menjanjikan pemulihan yang sempurna. Karena itu, orang percaya dipanggil untuk tetap setia, bertekun, dan berharap kepada Kristus. Selain itu, penglihatan Yohanes mengingatkan gereja bahwa tujuan akhir hidup orang percaya adalah hidup bersama Allah untuk selama-lamanya. Pengharapan akan kemuliaan kekal seharusnya mendorong gereja untuk tetap hidup dalam kekudusan, kesetiaan, dan semangat bersaksi di tengah dunia.
Penutup
Wahyu 7:9–17 menghadirkan sebuah pengharapan yang besar bagi umat Tuhan. Di tengah dunia yang penuh penderitaan dan ketidakpastian, Allah menunjukkan bahwa pada akhirnya akan ada suatu kumpulan besar dari segala bangsa, suku, kaum, dan bahasa yang berdiri di hadapan takhta-Nya dan memuliakan Dia. Keselamatan itu telah disediakan melalui Yesus Kristus, Sang Anak Domba. Karena itu, marilah hidup dalam iman dan kesetiaan kepada Kristus. Sekalipun harus melewati berbagai pergumulan, umat Tuhan dapat tetap berharap, sebab Kristus adalah Gembala yang memimpin umat-Nya menuju kehidupan yang kekal, dan Allah sendiri akan menghapus segala air mata dari mata mereka. Amin. SRDP
🤝 Dukung Pelayanan Firman Tuhan
Apabila khotbah, renungan, dan artikel di website ini menjadi berkat, Anda dapat ikut mendukung pelayanan ini melalui doa maupun persembahan kasih.
❤️ Dukung Pelayanan