Khotbah Partangiangan (Minggu I Set. Trinitatis) - Dunia dan Segala Isinya adalah Milik Tuhan (1 Korintus 10 : 18 - 26)

Pendahuluan

Setiap zaman memiliki tantangannya sendiri bagi kehidupan iman. Pada masa kini, manusia hidup di tengah dunia yang menawarkan begitu banyak pilihan, kesempatan, dan godaan. Kemajuan teknologi membuka akses yang hampir tanpa batas kepada berbagai informasi dan hiburan. Dunia mengajarkan bahwa kebahagiaan dapat ditemukan melalui kekayaan, kesuksesan, popularitas, kekuasaan, dan pemenuhan keinginan pribadi. Akibatnya, manusia sering kali menempatkan berbagai hal tersebut sebagai sumber keamanan dan pengharapan hidupnya.

Secara lahiriah seseorang dapat tetap beribadah, tetap mengaku percaya kepada Tuhan, bahkan tetap aktif dalam pelayanan. Namun di dalam hatinya bisa saja ada berbagai "berhala" yang diam-diam mengambil tempat Tuhan. Berhala pada zaman modern tidak selalu berupa patung atau altar penyembahan. Berhala dapat berupa apa saja yang menjadi pusat kehidupan dan memperoleh kesetiaan yang seharusnya diberikan kepada Allah. Ketika manusia lebih mengandalkan uang daripada Tuhan, lebih mengejar pengakuan manusia daripada kehendak Allah, atau lebih takut kehilangan kenyamanan daripada kehilangan persekutuan dengan Tuhan, saat itulah hati mulai terbagi.

Pergumulan seperti ini ternyata bukanlah hal yang baru. Jemaat Korintus pada abad pertama juga menghadapi persoalan yang hampir sama. Mereka hidup di tengah masyarakat yang sangat plural dan dipengaruhi oleh berbagai nilai keagamaan serta budaya yang bertentangan dengan iman Kristen. Kota Korintus merupakan salah satu kota terbesar dan terkaya di Kekaisaran Romawi. Letaknya yang strategis menjadikan Korintus sebagai pusat perdagangan, pelayaran, dan pertemuan berbagai bangsa. Orang-orang dari berbagai latar belakang budaya, agama, dan filsafat berkumpul di kota ini.

Di tengah kemajuan ekonomi tersebut, kehidupan keagamaan Korintus sangat dipengaruhi oleh penyembahan kepada banyak dewa. Di berbagai sudut kota berdiri kuil-kuil yang dipersembahkan kepada dewa-dewa Yunani dan Romawi. Salah satu yang terkenal adalah kuil dewi Aphrodite yang berkaitan dengan kesuburan dan kenikmatan hidup. Selain itu terdapat pula kuil-kuil yang didedikasikan bagi Apollo, Poseidon, dan berbagai dewa lainnya. Bagi masyarakat Korintus, agama bukan hanya urusan pribadi, melainkan bagian dari seluruh kehidupan sosial, ekonomi, dan politik.

Dalam konteks seperti itu, banyak pertemuan bisnis, pesta keluarga, perjamuan resmi, bahkan kegiatan sosial masyarakat dilaksanakan di lingkungan kuil-kuil penyembahan berhala. Hewan-hewan yang dipersembahkan kepada dewa biasanya dibagi menjadi tiga bagian. Sebagian dibakar di altar, sebagian diberikan kepada imam kuil, dan sebagian lagi digunakan dalam perjamuan atau dijual di pasar. Karena itu hampir mustahil bagi seorang Kristen di Korintus untuk sepenuhnya menghindari kontak dengan makanan yang pernah dipersembahkan kepada berhala.

Situasi inilah yang melatarbelakangi pembahasan Paulus dalam 1 Korintus 10:18–26. Sebagian anggota jemaat merasa tidak ada masalah menghadiri perjamuan di kuil karena mereka tahu bahwa berhala sebenarnya tidak memiliki kuasa. Mereka beranggapan bahwa kebebasan dalam Kristus memberi mereka hak untuk melakukan hal tersebut. Namun sebagian anggota jemaat lainnya melihat tindakan itu sebagai bentuk kompromi dengan kehidupan lama yang penuh penyembahan berhala.

Persoalan yang dibahas Paulus sebenarnya lebih dalam daripada sekadar soal makanan. Masalah utamanya adalah tentang kesetiaan kepada Allah. Sampai sejauh mana orang percaya dapat hidup di tengah dunia tanpa kehilangan identitasnya sebagai milik Kristus? Bagaimana orang percaya menggunakan kebebasan yang diberikan Tuhan tanpa jatuh ke dalam kompromi dengan dosa? Bagaimana orang percaya menikmati berbagai hal yang ada di dunia tanpa menjadikan dunia sebagai pusat hidupnya?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itulah Paulus menulis bagian ini. Ia mengingatkan bahwa orang percaya memang hidup di tengah dunia, tetapi mereka tidak boleh tunduk kepada nilai-nilai dunia yang bertentangan dengan kehendak Allah. Orang percaya dipanggil untuk hidup dengan kesetiaan yang utuh kepada Kristus. Namun di sisi lain, Paulus juga menolak sikap yang memandang dunia sebagai sesuatu yang harus ditakuti. Sebab dunia ini bukan milik berhala, bukan milik kuasa gelap, dan bukan milik manusia. Dunia ini adalah milik Tuhan. Karena itu, Paulus mengutip Mazmur 24:1: "Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya." Kutipan ini menjadi puncak argumentasinya. Segala sesuatu yang ada di dunia ini berasal dari Allah dan berada di bawah pemerintahan-Nya. Lautan, gunung, tanah, tumbuhan, hewan, kekayaan, kemampuan, waktu, bahkan kehidupan manusia sendiri adalah milik Tuhan. Tidak ada satu bagian pun dari ciptaan yang berada di luar kedaulatan-Nya.

Kebenaran inilah yang menjadi dasar kehidupan orang percaya. Ketika menyadari bahwa dunia dan segala isinya adalah milik Tuhan, maka orang percaya tidak akan menyembah dunia, tetapi juga tidak akan takut kepada dunia. Ia akan menggunakan segala sesuatu yang dipercayakan Tuhan dengan penuh tanggung jawab, menjaga kesetiaan kepada Kristus di tengah berbagai godaan, dan menjalani hidup dengan ucapan syukur kepada Allah Sang Pemilik seluruh ciptaan. Dengan pemahaman inilah kita memasuki perenungan firman Tuhan dalam 1 Korintus 10:18–26, yang mengajarkan bahwa di tengah dunia yang penuh dengan berbagai pengaruh, orang percaya tetap dipanggil untuk hidup bagi Tuhan, sebab dunia dan segala isinya adalah milik Tuhan.

Penjelasan Nast

Untuk memahami konteks 1 Korintus 10:18–26, bagian ini harus dibaca dalam keseluruhan argumentasi Paulus sejak pasal 8. Persoalan yang sedang dihadapi jemaat Korintus bukan sekadar soal makanan, melainkan soal identitas dan kesetiaan. Jemaat hidup di tengah masyarakat yang hampir seluruh aspek kehidupannya berhubungan dengan penyembahan berhala. Perjamuan-perjamuan di kuil menjadi bagian dari kehidupan sosial, bisnis, dan budaya. Karena itu muncul pertanyaan: sejauh mana orang percaya dapat berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat tanpa terlibat dalam penyembahan berhala? Paulus tidak menjawab persoalan ini dengan aturan yang kaku. Sebaliknya, ia mengajak jemaat memahami prinsip-prinsip rohani yang mendasarinya.

Pada ayat 18, Paulus mengarahkan perhatian jemaat kepada pengalaman Israel dalam Perjanjian Lama: "Perhatikanlah bangsa Israel menurut daging. Bukankah mereka yang makan daging korban mendapat bagian dalam pelayanan mezbah?" Dalam sistem korban Israel, khususnya korban keselamatan (peace offering), sebagian korban dipersembahkan kepada Tuhan dan sebagian dimakan oleh orang yang mempersembahkannya. Makan bersama dalam konteks ini bukan hanya kegiatan sosial, melainkan tindakan yang menyatakan persekutuan dengan Allah. Dengan ikut menikmati korban itu, seseorang menyatakan dirinya berada dalam hubungan dengan Allah yang disembah di mezbah tersebut. Melalui contoh ini Paulus sedang mengajarkan bahwa tindakan lahiriah tidak pernah netral. Apa yang dilakukan tubuh sering kali mencerminkan keberpihakan hati. Dalam pemahaman Alkitab, makan bersama memiliki makna yang sangat dalam. Makan bukan hanya soal mengisi perut, tetapi juga menyatakan persekutuan, penerimaan, dan identitas bersama. Karena itu, ketika seseorang mengambil bagian dalam suatu perjamuan keagamaan, ia sedang menyatakan dirinya terlibat dalam makna rohani yang terkandung di dalamnya.

Paulus mengajukan pertanyaan yang mungkin muncul dalam pikiran jemaat: "Apakah yang kumaksudkan? Bahwa persembahan berhala adalah sesuatu? Atau bahwa berhala adalah sesuatu?" (ay. 19). Paulus segera mengingatkan apa yang pernah ia katakan sebelumnya bahwa berhala sebenarnya bukan apa-apa. Patung-patung itu hanyalah hasil karya manusia. Mereka tidak memiliki kuasa ilahi dan tidak dapat bertindak apa pun.

Namun Paulus tidak berhenti pada tingkat itu. Ia membawa jemaat melihat realitas yang lebih dalam. Pada ayat 20 ia berkata bahwa apa yang dipersembahkan bangsa-bangsa lain sesungguhnya dipersembahkan kepada roh-roh jahat dan bukan kepada Allah. Di sini Paulus tidak sedang mengatakan bahwa setiap patung memiliki kuasa. Yang ia maksud adalah bahwa di balik sistem penyembahan yang menolak Allah yang benar terdapat kuasa-kuasa rohani yang menentang pekerjaan Allah. Karena itu persoalannya bukan pada dagingnya, bukan pada makanannya, dan bukan pada patungnya. Persoalannya adalah keterlibatan dalam suatu sistem penyembahan yang mengalihkan hormat dan kemuliaan yang seharusnya diberikan kepada Allah. Ketika seseorang dengan sadar mengambil bagian dalam perjamuan penyembahan berhala, ia sedang memberikan kesan bahwa dirinya turut menerima dan mendukung penyembahan tersebut.

Inilah sebabnya Paulus berkata dengan sangat tegas dalam ayat 21, "Kamu tidak dapat minum dari cawan Tuhan dan juga dari cawan roh-roh jahat." Ungkapan ini berhubungan langsung dengan Perjamuan Kudus yang telah dibahas Paulus sebelumnya. Dalam Perjamuan Kudus, orang percaya mengambil bagian dalam persekutuan dengan Kristus yang telah menyerahkan diri-Nya di kayu salib. Roti dan cawan menjadi tanda kesatuan umat dengan Kristus dan dengan sesama orang percaya. Karena itu Paulus menegaskan bahwa tidak mungkin seseorang hidup dalam dua kesetiaan sekaligus. Tidak mungkin seseorang menyatakan dirinya milik Kristus tetapi pada saat yang sama memberikan dirinya kepada kuasa-kuasa lain. Allah menuntut kesetiaan yang utuh. Sejak Perjanjian Lama, Allah adalah Allah yang menghendaki umat-Nya mengasihi Dia dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap kekuatan mereka. Hati yang terbagi selalu menjadi persoalan serius dalam kehidupan umat Allah.

Pada ayat 22 Paulus menambahkan, "Atau maukah kita membangkitkan cemburu Tuhan?" Ungkapan ini mengingatkan kepada hubungan perjanjian antara Allah dan umat-Nya. Kecemburuan Allah bukanlah kecemburuan yang lahir dari kelemahan atau egoisme manusia, melainkan kecemburuan kasih. Seperti seorang suami yang mengasihi istrinya dan menghendaki kesetiaan dalam pernikahan, demikian pula Allah menghendaki kesetiaan umat yang telah ditebus-Nya. Setelah menjelaskan bahaya kompromi dengan penyembahan berhala, Paulus beralih kepada pembahasan mengenai kebebasan Kristen. Jemaat Korintus tampaknya memiliki slogan yang sering mereka gunakan: "Segala sesuatu diperbolehkan." Mereka memahami kebebasan Kristen sebagai kebebasan untuk melakukan apa saja selama mereka memiliki pengetahuan bahwa berhala tidak berarti apa-apa.

Namun Paulus mengoreksi pemahaman itu. Ia berkata bahwa sekalipun segala sesuatu diperbolehkan, tidak semuanya berguna dan tidak semuanya membangun. Dengan kata lain, ukuran kehidupan Kristen tidak berhenti pada pertanyaan, "Apakah ini dosa?" tetapi juga mencakup pertanyaan, "Apakah ini membawa manfaat rohani?" dan "Apakah ini membangun orang lain?" Paulus mengajarkan bahwa kebebasan Kristen selalu berada di bawah hukum kasih. Orang percaya tidak dipanggil untuk menggunakan kebebasannya demi kepentingan diri sendiri, melainkan demi kemuliaan Allah dan kebaikan sesama. Karena itu ia berkata, "Jangan seorang pun mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain" (ay. 24). Prinsip ini sangat berbeda dengan semangat dunia. Dunia mengajarkan untuk mencari keuntungan pribadi, mengejar kepentingan sendiri, dan mengutamakan diri sendiri. Namun Injil mengajarkan bahwa kehidupan orang percaya harus mencerminkan kasih Kristus yang rela berkorban bagi orang lain. Kebebasan dalam Kristus bukanlah kebebasan untuk berbuat semaunya, tetapi kebebasan untuk mengasihi.

Pada ayat 25–26 Paulus kemudian memberikan petunjuk praktis. Jemaat diperbolehkan membeli dan memakan daging yang dijual di pasar tanpa harus melakukan penyelidikan khusus mengenai asal-usulnya. Mengapa? Karena pada dirinya sendiri makanan tidak najis. Makanan adalah bagian dari ciptaan Allah.

Dasar teologis yang diberikan Paulus sangat penting. Ia mengutip Mazmur 24:1, "Karena Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya." Kutipan ini menjadi puncak argumentasi Paulus. Dunia ini bukan milik berhala. Dunia ini bukan milik roh-roh jahat. Dunia ini bukan milik manusia. Dunia ini adalah milik Tuhan. Semua yang ada di dalamnya berasal dari Allah dan berada di bawah pemerintahan-Nya. Tanah tempat manusia berpijak adalah milik Tuhan. Laut yang luas adalah milik Tuhan. Gunung-gunung yang menjulang adalah milik Tuhan. Hasil bumi yang menjadi makanan manusia adalah milik Tuhan. Bahkan kehidupan manusia sendiri adalah milik Tuhan. Melalui kutipan ini Paulus mengajarkan keseimbangan yang sangat indah. Di satu sisi orang percaya harus tegas menolak segala bentuk penyembahan berhala dan kompromi dengan dosa. Namun di sisi lain orang percaya tidak perlu hidup dalam ketakutan terhadap dunia. Seluruh ciptaan berada di bawah kedaulatan Allah. Karena itu orang percaya dapat menikmati berkat-berkat Tuhan dengan hati yang penuh syukur selama semuanya digunakan sesuai kehendak-Nya.

Refleksi

Firman Tuhan hari ini mengajak untuk melihat kembali siapa yang menjadi pusat kehidupan. Apakah Tuhan sungguh-sungguh menjadi Tuhan atas seluruh hidup, ataukah ada "berhala-berhala modern" yang diam-diam mengambil tempat-Nya? Banyak orang tidak lagi sujud di depan patung berhala, tetapi hati manusia tetap dapat terikat kepada berhala-berhala modern. Uang, karier, kekuasaan, pendidikan, teknologi, popularitas, bahkan pelayanan dapat menjadi berhala ketika hal-hal tersebut lebih dicintai daripada Tuhan.

Paulus mengingatkan bahwa orang percaya tidak dapat hidup dengan hati yang terbagi. Mengikuti Kristus berarti memberikan seluruh hidup kepada-Nya. Kesetiaan kepada Tuhan harus terlihat dalam keputusan-keputusan sehari-hari, dalam penggunaan waktu, dalam pengelolaan keuangan, dalam pekerjaan, dalam relasi, dan dalam seluruh aspek kehidupan.

Paulus juga mengajarkan bahwa orang percaya tidak perlu takut menghadapi dunia. Dunia dan segala isinya adalah milik Tuhan. Karena itu pekerjaan, pendidikan, budaya, ilmu pengetahuan, teknologi, dan berbagai aspek kehidupan dapat digunakan sebagai sarana untuk memuliakan Allah. Orang percaya dipanggil bukan untuk melarikan diri dari dunia, melainkan hidup di tengah dunia sebagai saksi Kristus.

Ketika seseorang menyadari bahwa dunia dan segala isinya adalah milik Tuhan, ia tidak akan menjadikan dunia sebagai berhala, tetapi juga tidak akan membenci dunia. Ia akan mengelola segala sesuatu yang dipercayakan Tuhan dengan rasa syukur, tanggung jawab, dan kesetiaan kepada Kristus yang adalah Tuhan atas seluruh ciptaan.

Penutup

1 Korintus 10:18–26, Paulus mengingatkan bahwa kehidupan orang percaya harus ditandai oleh kesetiaan yang utuh kepada Kristus. Tidak ada tempat bagi hati yang terbagi antara Tuhan dan berhala-berhala dunia. Namun pada saat yang sama, orang percaya tidak perlu hidup dalam ketakutan, sebab Tuhan adalah pemilik seluruh ciptaan. Dunia dan segala isinya adalah milik Tuhan. Karena itu segala sesuatu yang ada dalam hidup ini harus diterima dengan ucapan syukur, digunakan dengan penuh tanggung jawab, dan diarahkan untuk kemuliaan Allah.

Ketika menyadari bahwa dunia dan segala isinya adalah milik Tuhan, maka hidup tidak lagi berpusat pada diri sendiri, melainkan pada Sang Pemilik kehidupan. Dalam setiap pekerjaan, pelayanan, keputusan, dan langkah kehidupan, orang percaya dipanggil untuk berkata: “Tuhan, semuanya milik-Mu, dan biarlah semuanya dipakai untuk memuliakan nama-Mu.” Amin. (SRDP)