Khotbah Partangiangan (Minggu II Set. Trinitatis) - Dibenarkan oleh Karena Iman (Habakuk 2 : 1 - 5)
Pendahuluan
Kehidupan tidak selalu berjalan seperti yang diharapkan. Ada masa ketika
segala sesuatu tampak baik dan berjalan lancar, tetapi ada juga masa ketika
manusia harus menghadapi berbagai pergumulan yang sulit dimengerti. Sering kali
orang bertanya mengapa hal-hal buruk terjadi kepada orang yang berusaha hidup
benar, sementara orang yang berbuat jahat justru terlihat berhasil dan
menikmati hidupnya. Ketika melihat ketidakadilan, penderitaan, kekerasan, dan
berbagai masalah yang tidak kunjung selesai, muncul pertanyaan dalam hati:
Apakah Allah melihat semua ini? Mengapa Allah seakan-akan diam? Mengapa
pertolongan-Nya tidak segera datang?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini bukan hanya pergumulan manusia masa kini.
Sejak zaman dahulu, umat Tuhan juga bergumul dengan hal yang sama. Salah satu
tokoh yang mengalami pergumulan tersebut adalah nabi Habakuk. Berbeda dengan
nabi-nabi lain yang biasanya menyampaikan firman Allah kepada umat, kitab
Habakuk berisi percakapan antara seorang nabi dengan Allah. Di dalam kitab ini
terlihat bagaimana Habakuk dengan jujur menyampaikan kebingungan, kekecewaan,
bahkan pertanyaannya kepada Tuhan.
Habakuk hidup pada masa-masa terakhir Kerajaan Yehuda, ketika kehidupan
rohani bangsa itu sedang merosot. Hukum Allah tidak lagi dihormati.
Ketidakadilan terjadi di mana-mana. Orang kuat menindas orang lemah. Kekerasan
dan kejahatan semakin bertambah. Habakuk melihat semua itu dan merasa heran
mengapa Allah membiarkannya berlangsung begitu lama. Ia berseru kepada Tuhan,
tetapi menurut pandangannya, Allah belum bertindak.
Ketika Allah akhirnya menjawab, jawaban itu justru membuat Habakuk semakin
bingung. Allah memberitahukan bahwa Ia akan memakai bangsa Babel untuk
menghukum Yehuda. Bangsa Babel dikenal sebagai bangsa yang kejam, sombong, dan
penuh kekerasan. Habakuk tidak mengerti bagaimana Allah yang kudus dapat
memakai bangsa seperti itu untuk melaksanakan kehendak-Nya. Baginya,
penghukuman terhadap Yehuda mungkin dapat dipahami, tetapi mengapa Allah
memakai alat yang tampaknya lebih jahat daripada bangsa yang akan dihukum?
Pergumulan Habakuk menunjukkan bahwa iman tidak berarti seseorang selalu
mengerti semua rencana Allah. Ada saat-saat ketika umat Tuhan tidak memahami
apa yang sedang Allah kerjakan. Ada keadaan ketika jalan Tuhan tampak berbeda
dari harapan manusia. Namun di tengah kebingungan itu, Habakuk memilih untuk
tetap datang kepada Allah dan menantikan jawaban-Nya. Ia tidak meninggalkan
Tuhan karena pertanyaannya belum terjawab, tetapi tetap berdiri dalam
pengharapan sambil menunggu apa yang akan difirmankan Tuhan.
Dalam Habakuk 2:1–5, Allah memberikan jawaban yang bukan hanya ditujukan
kepada Habakuk, tetapi juga kepada semua orang percaya sepanjang zaman. Allah
tidak menjelaskan seluruh rencana-Nya secara rinci. Sebaliknya, Allah
mengarahkan perhatian Habakuk kepada satu hal yang lebih penting, yaitu belajar
mempercayai Tuhan. Di tengah keadaan yang tidak menentu, di tengah situasi yang
sulit dipahami, Allah menghendaki umat-Nya hidup dengan iman.
Puncak dari jawaban Allah terdapat dalam ayat 4 yang berbunyi, "Orang
benar itu akan hidup oleh percayanya." Kalimat ini menjadi inti dari
seluruh kitab Habakuk. Kehidupan orang percaya tidak ditentukan oleh apa yang
dilihat dengan mata, tetapi oleh kepercayaannya kepada Allah yang setia.
Meskipun keadaan tampak buruk, Allah tetap memegang kendali atas sejarah.
Meskipun kejahatan terlihat menang untuk sementara waktu, Allah tetap bekerja
menggenapi kehendak-Nya.
Karena itu, tema "Dibenarkan oleh Karena Iman" mengingatkan bahwa
hubungan manusia dengan Allah tidak dibangun di atas kekuatan, usaha, atau
kemampuan manusia, melainkan di atas iman kepada-Nya. Iman bukan sekadar
percaya bahwa Allah ada, tetapi bersandar penuh kepada-Nya, bahkan ketika
jalan-Nya belum dapat dipahami. Orang benar adalah orang yang tetap percaya
kepada Tuhan ketika jawaban belum datang, ketika pertolongan belum terlihat,
dan ketika keadaan di sekelilingnya tidak sesuai dengan harapannya. Dunia masih
dipenuhi ketidakadilan, penderitaan, dan berbagai persoalan yang sering kali
membuat manusia bertanya tentang pekerjaan Allah. Namun melalui Habakuk, Tuhan
mengajarkan bahwa umat-Nya dipanggil bukan untuk hidup berdasarkan apa yang
dilihat, melainkan berdasarkan iman kepada Allah yang setia. Sebab pada
akhirnya, orang benar akan hidup bukan karena kekuatannya sendiri, tetapi
karena imannya kepada Tuhan.
Penjelasan Nast
Habakuk 2:1–5 merupakan jawaban Allah atas pergumulan besar yang sedang dialami oleh nabi Habakuk. Sebelumnya, Habakuk melihat begitu banyak kejahatan dan ketidakadilan terjadi di Yehuda. Ia bertanya mengapa Allah seolah-olah diam. Ketika Allah menjawab bahwa Ia akan memakai bangsa Babel untuk menghukum Yehuda, Habakuk kembali bertanya: bagaimana mungkin Allah memakai bangsa yang lebih jahat untuk menghukum umat-Nya? Di tengah kebingungan itulah Habakuk menantikan jawaban Tuhan.
Ayat 1 dimulai dengan keputusan Habakuk untuk berdiri di tempat
pengintaiannya dan berjaga di atas menara. Pada zaman itu, seorang penjaga kota
akan berdiri di atas tembok atau menara untuk mengamati keadaan di kejauhan. Ia
harus tetap terjaga, fokus, dan sabar. Sedikit saja ia lengah, bahaya dapat
datang tanpa diketahui. Habakuk memakai gambaran ini untuk menunjukkan sikap
hatinya di hadapan Allah. Setelah menyampaikan segala pertanyaan dan
keluhannya, ia memilih untuk menunggu Tuhan berbicara.
Di sini terlihat bahwa iman bukanlah keadaan di mana seseorang memiliki
semua jawaban. Iman justru sering kali muncul ketika seseorang belum memiliki
jawaban. Habakuk tidak mengerti jalan Tuhan, tetapi ia tetap datang kepada
Tuhan. Ia tidak mencari jawaban di tempat lain. Ia tidak meninggalkan Allah
karena kebingungannya. Sebaliknya, ia tetap menantikan firman Tuhan. Sikap ini
mengajarkan bahwa ketika menghadapi persoalan hidup yang sulit dipahami, hal
pertama yang harus dilakukan bukanlah menjauh dari Tuhan, melainkan tetap
tinggal dekat dengan-Nya dan menantikan kehendak-Nya.
Dalam ayat 2, Tuhan mulai menjawab Habakuk. Allah memerintahkan agar
penglihatan atau wahyu yang diterima itu ditulis dengan jelas pada loh-loh.
Perintah ini menunjukkan bahwa firman Allah bukanlah sesuatu yang samar atau
tidak pasti. Apa yang Allah katakan harus dicatat karena memiliki kepastian dan
otoritas. Allah ingin umat-Nya mengetahui bahwa apa yang akan terjadi sudah
berada dalam rencana-Nya.
Perintah untuk menuliskannya dengan jelas juga menunjukkan bahwa Allah
ingin firman-Nya dapat dimengerti oleh semua orang. Tuhan tidak sedang
menyampaikan sesuatu yang hanya dapat dipahami oleh Habakuk. Pesan itu harus
diketahui oleh umat sehingga mereka dapat memegangnya ketika masa-masa sulit
datang. Dengan kata lain, Allah sedang memberikan dasar pengharapan bagi
umat-Nya. Ketika keadaan tampak kacau, mereka dapat kembali mengingat firman
yang telah Tuhan nyatakan.
Pada ayat 3, Allah menjelaskan bahwa penglihatan itu masih menunggu waktu
yang telah ditetapkan. Di sinilah letak pergumulan terbesar manusia. Sering
kali manusia ingin Allah bertindak segera. Manusia ingin jawaban yang cepat,
pertolongan yang langsung terlihat, dan perubahan yang terjadi saat itu juga.
Namun Allah memiliki waktu-Nya sendiri. Apa yang menurut manusia terlambat,
belum tentu terlambat menurut Allah.
Allah menegaskan bahwa penglihatan itu tidak akan mengecewakan. Meskipun
tampaknya lama, penggenapannya pasti datang. Tuhan sedang mengajar Habakuk
bahwa keterlambatan bukan berarti kegagalan. Ketika Allah belum bertindak,
bukan berarti Ia tidak bekerja. Ketika janji-Nya belum terlihat, bukan berarti
Ia melupakan umat-Nya. Sesungguhnya Allah sedang menggenapi rencana-Nya menurut
waktu yang sempurna.
Kebenaran ini penting bagi kehidupan orang percaya. Ada kalanya seseorang
telah lama berdoa tetapi belum melihat jawaban. Ada yang menunggu pemulihan
keluarga, kesembuhan, pekerjaan, atau jalan keluar dari masalah hidup. Dalam
keadaan seperti itu muncul godaan untuk meragukan Tuhan. Namun melalui Habakuk,
Allah mengingatkan bahwa umat-Nya dipanggil untuk tetap percaya sekalipun belum
melihat hasilnya. Iman yang sejati bukanlah iman yang muncul setelah segala
sesuatu menjadi jelas, tetapi iman yang tetap bertahan ketika segala sesuatu
masih belum jelas.
Kemudian Allah sampai pada inti jawaban-Nya dalam ayat 4. Ayat ini menjadi
pusat dari seluruh kitab Habakuk dan salah satu ayat yang paling penting dalam
Alkitab: "Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, hatinya tidak lurus,
tetapi orang benar itu akan hidup oleh percayanya."
Pertama-tama Allah berbicara tentang orang yang membusungkan dada. Ini
adalah gambaran tentang orang yang sombong dan mengandalkan dirinya sendiri.
Dalam konteks kitab Habakuk, gambaran ini terutama menunjuk kepada bangsa
Babel. Mereka menjadi bangsa yang besar karena kekuatan militernya. Mereka
menaklukkan banyak bangsa dan merasa tidak ada yang dapat menghentikan mereka.
Mereka hidup dengan keyakinan bahwa kekuasaan dan kemampuan mereka sendiri
adalah sumber keberhasilan mereka.
Namun Allah melihat hati mereka. Di mata manusia mereka tampak kuat dan
berhasil, tetapi di hadapan Allah hati mereka tidak lurus. Kesombongan membuat
mereka tidak bergantung kepada Tuhan. Mereka merasa mampu mengendalikan hidup
mereka sendiri. Allah menunjukkan bahwa keberhasilan yang dibangun di atas
kesombongan pada akhirnya akan runtuh.
Sebaliknya, Allah berbicara tentang orang benar. Orang benar bukanlah orang
yang tidak pernah berbuat dosa, melainkan orang yang hidup dalam hubungan yang
benar dengan Allah dan menaruh kepercayaannya kepada-Nya. Ketika Allah berkata
bahwa orang benar akan hidup oleh percayanya, Allah sedang mengajarkan bahwa
dasar kehidupan umat-Nya adalah iman.
Iman yang dimaksud di sini bukan sekadar percaya bahwa Allah ada. Iman
adalah mempercayakan hidup sepenuhnya kepada Tuhan. Iman tetap bertahan ketika
keadaan sulit. Iman tetap berharap ketika jalan keluar belum terlihat. Iman
tetap taat ketika kehendak Tuhan belum sepenuhnya dipahami. Orang benar hidup
bukan berdasarkan apa yang dilihat oleh matanya, tetapi berdasarkan siapa Allah
yang dipercayainya.
Habakuk sedang melihat bangsa Babel yang kuat dan Yehuda yang lemah. Secara
manusia, keadaan itu tampak tidak adil. Namun Allah meminta Habakuk untuk
melihat lebih jauh daripada keadaan yang tampak. Kekuatan Babel hanyalah
sementara, sedangkan kesetiaan Allah berlangsung selama-lamanya. Karena itu
orang benar tidak boleh membangun hidupnya di atas keadaan yang berubah-ubah,
tetapi di atas janji Allah yang tidak berubah.
Ayat ini kemudian menjadi dasar penting dalam Perjanjian Baru. Rasul Paulus
menjelaskan bahwa manusia tidak dapat dibenarkan di hadapan Allah karena usaha
atau perbuatannya. Semua manusia adalah orang berdosa dan tidak sanggup
menyelamatkan dirinya sendiri. Karena itu Allah mengaruniakan keselamatan
melalui Yesus Kristus. Barangsiapa percaya kepada Kristus akan dibenarkan oleh
Allah. Keselamatan adalah anugerah yang diterima dengan iman, bukan hasil usaha
manusia.
Dengan demikian, "orang benar akan hidup oleh iman" bukan hanya
berbicara tentang bagaimana seseorang memulai kehidupan bersama Allah, tetapi
juga bagaimana ia menjalani seluruh hidupnya. Sejak awal hingga akhir, orang
percaya hidup dengan bergantung kepada anugerah Tuhan.
Pada ayat 5, Allah kembali menggambarkan kesombongan Babel. Mereka adalah
bangsa yang rakus, tidak pernah puas, dan terus ingin menaklukkan bangsa-bangsa
lain. Mereka mengumpulkan kekayaan, wilayah, dan kekuasaan tanpa batas. Namun
Allah menegaskan bahwa kesombongan dan kerakusan seperti itu tidak akan
bertahan selamanya. Babel mungkin tampak berjaya untuk sementara waktu, tetapi
penghakiman Allah pasti datang.
Melalui bagian ini Allah sedang mengajarkan bahwa sejarah dunia bukan
ditentukan oleh kekuatan manusia, melainkan oleh kedaulatan-Nya. Bangsa yang
paling kuat sekalipun tetap berada di bawah kuasa Allah. Kerajaan yang paling
besar sekalipun dapat runtuh ketika Tuhan bertindak. Sebaliknya, orang-orang
yang tetap percaya kepada Tuhan akan dipelihara oleh-Nya.
Karena itu, pesan utama Habakuk 2:1–5 adalah panggilan untuk tetap hidup dalam iman di tengah keadaan yang sulit dipahami. Ketika jawaban Tuhan terasa lambat, ketika kejahatan tampak menang, dan ketika masa depan terlihat tidak pasti, Allah mengingatkan bahwa firman-Nya tidak pernah gagal. Orang yang mengandalkan dirinya sendiri pada akhirnya akan jatuh, tetapi orang yang percaya kepada Tuhan akan tetap hidup oleh iman dan menikmati pemeliharaan Allah yang setia.
Refleksi
Habakuk mengajarkan bahwa iman sejati tidak bergantung pada keadaan yang
terlihat. Ketika hidup berjalan baik, mudah untuk percaya kepada Allah. Namun
ketika doa belum dijawab, masalah belum selesai, dan masa depan terasa tidak
pasti, iman mulai diuji. Allah mengajak umat-Nya untuk tetap percaya meskipun
belum melihat penggenapan janji-Nya. Orang benar hidup oleh iman, bukan oleh
penglihatan. Ia percaya bahwa Allah tetap bekerja bahkan ketika keadaan tampak
gelap.
Pembenaran oleh iman juga mengingatkan bahwa keselamatan tidak dapat dibeli
dengan perbuatan baik. Tidak ada manusia yang cukup baik untuk menyelamatkan
dirinya sendiri. Keselamatan adalah anugerah Allah yang diberikan melalui Yesus
Kristus dan diterima dengan iman. Karena itu kehidupan orang percaya harus
menjadi kehidupan yang terus bergantung kepada Tuhan. Setiap langkah,
keputusan, pelayanan, dan pergumulan dijalani dengan keyakinan bahwa Allah
memegang kendali atas segala sesuatu.
Penutup
Habakuk 2:1–5 membawa umat Allah kepada satu kebenaran yang sangat
mendasar: orang benar akan hidup oleh iman. Ketika dunia tampak tidak adil,
ketika jawaban Tuhan terasa tertunda, dan ketika masa depan terlihat tidak
menentu, Allah memanggil umat-Nya untuk tetap percaya kepada-Nya.
Kesombongan dan kekuatan manusia akan berlalu, tetapi firman Allah tetap
untuk selama-lamanya. Janji-Nya tidak pernah gagal. Oleh karena itu, kehidupan
orang percaya tidak dibangun di atas apa yang dapat dilihat oleh mata,
melainkan di atas iman kepada Allah yang setia.
Di dalam Yesus Kristus, Allah membenarkan orang berdosa oleh iman. Anugerah
itu menjadi dasar keselamatan dan sumber kekuatan untuk menjalani kehidupan
setiap hari. Karena itu, di tengah segala pergumulan hidup, umat Tuhan
dipanggil untuk terus berpegang pada janji-Nya dan hidup oleh iman, sebab “orang
benar akan hidup oleh percayanya.” (Habakuk 2:4). Amin (SRDP)