Khotbah Partangiangan (Minggu IV Set. Trinitatis) - Kasih yang Menggembirakan dan Menguatkan (Bilangan 14 : 11 – 19)

Pendahuluan

Setiap orang tentu pernah mengalami masa-masa ketika semangat hidup mulai melemah. Pergumulan, masalah keluarga, sakit penyakit, pelayanan yang terasa berat, atau doa yang belum dijawab sering kali membuat seseorang kecewa dan kehilangan pengharapan. Tidak jarang, dalam situasi seperti itu, manusia mulai mempertanyakan kasih dan penyertaan Tuhan. Ada yang bertanya, "Apakah Tuhan masih peduli?" atau "Mengapa Tuhan membiarkan semua ini terjadi?" Ketika persoalan terasa lebih besar daripada kemampuan diri, manusia cenderung dipenuhi oleh rasa takut, keraguan, bahkan keluhan.

Pengalaman seperti ini sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru. Sejak dahulu, umat Allah juga pernah mengalami hal yang sama. Kitab Bilangan secara khusus menceritakan perjalanan bangsa Israel di padang gurun menuju Tanah Perjanjian. Nama "Bilangan" berasal dari pencatatan jumlah atau sensus bangsa Israel (Bil. 1 dan 26). Namun, lebih dari sekadar catatan jumlah penduduk, kitab ini menggambarkan perjalanan iman umat Allah: bagaimana Allah dengan setia memimpin, memelihara, dan menyertai umat-Nya, sekalipun mereka berulang kali menunjukkan ketidakpercayaan dan pemberontakan.

Secara keseluruhan, Kitab Bilangan memperlihatkan dua kenyataan yang berjalan berdampingan. Di satu sisi tampak kesetiaan Allah yang tidak pernah berubah. Allah memimpin umat-Nya dengan tiang awan dan tiang api, menyediakan manna, air, dan berbagai kebutuhan mereka di padang gurun. Namun, di sisi lain tampak pula kelemahan manusia yang terus bersungut-sungut, memberontak, dan meragukan Tuhan. Dengan demikian, kitab ini bukan hanya menceritakan sejarah Israel, tetapi juga menjadi cermin kehidupan orang percaya pada masa kini. Betapa sering manusia melupakan pertolongan Tuhan ketika berhadapan dengan tantangan baru.

Bilangan 14 merupakan salah satu puncak krisis dalam perjalanan Israel di padang gurun. Peristiwa ini terjadi setelah Musa mengutus dua belas pengintai untuk mengamati tanah Kanaan (Bil. 13). Setelah empat puluh hari mengintai, sepuluh orang pengintai memberikan laporan yang menakutkan. Mereka memang mengakui bahwa negeri itu berlimpah susu dan madu, tetapi mereka lebih menekankan besarnya kota-kota berkubu dan kuatnya penduduk Kanaan. Hanya Yosua dan Kaleb yang tetap percaya bahwa Tuhan sanggup memberikan negeri itu kepada Israel.

Laporan yang pesimis itu membuat seluruh bangsa Israel diliputi ketakutan. Mereka menangis, bersungut-sungut terhadap Musa dan Harun, bahkan ingin kembali ke Mesir. Mereka lupa bahwa Allah yang telah membebaskan mereka dari perbudakan adalah Allah yang sama yang akan memimpin mereka memasuki Tanah Perjanjian. Ketidakpercayaan itu bukan sekadar rasa takut, tetapi merupakan penolakan terhadap Allah sendiri.

Di tengah situasi yang sangat genting tersebut, Tuhan menyatakan murka-Nya atas ketidakpercayaan umat. Namun, ketika penghukuman Allah seolah sudah tidak dapat dihindari, Musa tampil sebagai seorang pengantara yang berdiri di antara Allah dan umat. Musa memohon agar Tuhan mengampuni bangsa Israel berdasarkan kasih setia-Nya. Melalui Bilangan 14:11–19, umat diajak untuk melihat bahwa kasih Allah adalah kasih yang menggembirakan dan menguatkan. Kasih itu tidak bergantung pada kesetiaan manusia, melainkan pada karakter Allah yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Kasih inilah yang memberi pengharapan baru bagi umat yang lemah, jatuh, dan sering kali gagal dalam perjalanan imannya.

Penjelasan Nats

Pada ayat 11 Tuhan berfirman kepada Musa: "Berapa lama lagi bangsa ini menista Aku, dan berapa lama lagi mereka tidak percaya kepada-Ku, sekalipun segala tanda mujizat yang Kulakukan di tengah-tengah mereka?" Pertanyaan Tuhan ini bukanlah karena Ia tidak mengetahui jawabannya, melainkan merupakan ungkapan kesedihan dan kekecewaan Allah terhadap sikap umat-Nya. Kata "menista" dalam bahasa Ibrani menggunakan kata nā'ats (נָאַץ) yang berarti menghina, meremehkan, atau menolak dengan sengaja. Dengan kata lain, ketidakpercayaan Israel bukan sekadar kelemahan iman, tetapi merupakan tindakan meremehkan Allah sendiri.

Bangsa Israel telah berulang kali menyaksikan kuasa Tuhan. Mereka melihat sepuluh tulah di Mesir, mengalami pembebasan dari perbudakan, berjalan melewati Laut Teberau yang terbelah, menerima manna setiap hari, memperoleh air dari gunung batu, dan dipimpin oleh tiang awan serta tiang api. Namun, ketika mereka mendengar laporan sepuluh pengintai mengenai besarnya tantangan di tanah Kanaan, mereka langsung melupakan seluruh karya Allah tersebut. Mereka lebih percaya kepada apa yang dilihat oleh mata daripada kepada janji Tuhan.

Di sini tampak bahwa akar permasalahan Israel bukanlah karena musuh terlalu kuat, melainkan karena iman mereka terlalu kecil. Mereka memandang masalah lebih besar daripada Allah. Sikap ini sering kali juga muncul dalam kehidupan orang percaya pada masa kini. Ketika keadaan berjalan baik, seseorang mudah memuji Tuhan. Namun ketika menghadapi masalah, sakit penyakit, tekanan ekonomi, atau pergumulan pelayanan, tidak sedikit orang yang mulai bersungut-sungut dan mempertanyakan kasih Tuhan. Firman ini mengingatkan bahwa iman sejati tidak dibangun atas situasi, tetapi atas karakter Allah yang tidak pernah berubah.

Pada ayat 12, Tuhan menyatakan: "Aku akan memukul mereka dengan penyakit sampar dan melenyapkan mereka, tetapi engkau akan Kubuat menjadi bangsa yang lebih besar dan lebih berkuasa daripada mereka." Pernyataan ini menunjukkan bahwa Allah adalah Allah yang kudus dan adil. Dosa tidak pernah dianggap remeh oleh Allah. Ketidakpercayaan dan pemberontakan umat mendatangkan murka-Nya. Namun, ayat ini juga dapat dipahami sebagai sebuah ujian bagi Musa. Allah menawarkan kesempatan kepada Musa untuk menjadi leluhur dari bangsa yang baru. Secara manusiawi, tawaran ini tentu sangat menguntungkan. Musa selama ini terus-menerus menghadapi keluhan, pemberontakan, dan penolakan dari bangsa Israel. Ia mempunyai alasan untuk merasa kecewa terhadap umat itu. Akan tetapi, Musa tidak memanfaatkan kesempatan tersebut demi kepentingan pribadinya. Ia tidak mencari kemuliaan bagi dirinya sendiri. Sebaliknya, ia justru berdiri di hadapan Allah untuk membela umat yang sering menyakitinya.

Sikap Musa memperlihatkan hati seorang pemimpin yang sejati. Kepemimpinan yang berkenan kepada Tuhan bukanlah kepemimpinan yang mencari kehormatan pribadi, melainkan kepemimpinan yang rela berkorban dan mendoakan umat. Musa menjadi gambaran seorang pengantara yang berdiri di antara Allah dan manusia. Dalam terang Perjanjian Baru, pelayanan Musa ini menunjuk kepada pelayanan Kristus yang menjadi Pengantara sempurna bagi umat manusia.

Pada ayat 13-16, Musa mulai menyampaikan doa syafaatnya. Menariknya, Musa tidak membela Israel dengan mengatakan bahwa mereka tidak bersalah. Musa tidak berusaha menutupi dosa umat. Ia menyadari bahwa bangsa Israel memang telah berdosa. Namun Musa mendasarkan doanya pada kemuliaan Allah. Musa berkata bahwa jika Israel dibinasakan, bangsa Mesir dan bangsa-bangsa lain akan mendengar hal itu. Mereka dapat berkata: "Oleh karena TUHAN tidak berkuasa membawa bangsa ini masuk ke negeri yang dijanjikan-Nya kepada mereka, maka Ia menyembelih mereka di padang gurun." (ay. 16).

Bagi Musa, persoalan utama bukanlah keselamatan Israel semata, melainkan kemuliaan nama Tuhan di tengah bangsa-bangsa. Dalam dunia Perjanjian Lama, nama seseorang berkaitan erat dengan kehormatan, karakter, dan reputasinya. Musa khawatir bangsa-bangsa lain akan salah memahami Allah. Mereka dapat menganggap bahwa Allah Israel tidak cukup kuat untuk menggenapi janji-Nya. Di sini terlihat kedewasaan rohani Musa. Ia tidak berpusat pada dirinya sendiri, tetapi berpusat pada Allah. Doa yang dewasa bukanlah doa yang hanya berisi kepentingan pribadi, melainkan doa yang mengutamakan kemuliaan Tuhan. Dalam kehidupan orang percaya, sering kali doa hanya berfokus pada kebutuhan pribadi: berkat, kesehatan, pekerjaan, atau keberhasilan. Firman Tuhan mengajar bahwa tujuan tertinggi dari setiap doa adalah supaya nama Tuhan dimuliakan.

Pada ayat 17-18 Musa mendasarkan permohonannya pada karakter Allah sendiri. Musa berkata: "TUHAN itu berpanjang sabar dan berlimpah kasih setiaNya berlimpah-limpah, Ia mengampuni kesalahan dan pelanggaran..." Pernyataan ini sebenarnya mengutip penyataan Allah kepada Musa dalam Keluaran 34:6-7, ketika Allah memperkenalkan diri-Nya setelah peristiwa anak lembu emas.

Ungkapan 'erek appayim (אֶרֶךְ אַפַּיִם) yang diterjemahkan "panjang sabar" secara harfiah berarti "berhidung panjang". Dalam budaya Ibrani, seseorang yang "berhidung panjang" dipahami sebagai orang yang lambat marah atau tidak mudah tersulut emosi. Hal ini menunjukkan kesabaran Allah yang luar biasa terhadap umat-Nya.

Sementara itu, kata ḥesed (חֶסֶד) yang diterjemahkan "kasih setia" merupakan salah satu kata terpenting dalam Perjanjian Lama. Kata ini menunjuk pada kasih Allah yang setia kepada perjanjian-Nya, kasih yang tidak berubah sekalipun umat-Nya sering gagal. Kasih Allah bukanlah kasih yang bergantung pada kesetiaan manusia, melainkan kasih yang bersumber dari natur Allah sendiri.

Namun Musa juga menyadari bahwa kasih Allah tidak meniadakan keadilan-Nya. Pada ayat 18 ditegaskan bahwa Allah "sekali-kali tidak membebaskan orang yang bersalah dari hukuman." Artinya, Allah adalah Allah yang penuh kasih sekaligus Allah yang adil. Ia mengampuni dosa, tetapi Ia juga mendisiplinkan umat-Nya. Kasih dan keadilan Allah berjalan bersama.

Pada ayat 19 Musa memohon: "Ampunilah kiranya kesalahan bangsa ini sesuai dengan besarnya kasih setia-Mu." Kata "ampunilah" berasal dari kata Ibrani sālaḥ (סָלַח), yang menunjuk kepada tindakan Allah menghapus atau mengangkat dosa umat-Nya. Musa menyadari bahwa satu-satunya harapan Israel hanyalah belas kasihan Tuhan. Tidak ada jasa, prestasi, ataupun kebaikan umat yang dapat menyelamatkan mereka.

Umat Tuhan diajak untuk menyadari bahwa kasih Allah sungguh merupakan kasih yang menggembirakan dan menguatkan. Kasih itu menggembirakan karena Allah masih membuka jalan pengampunan bagi orang berdosa. Kasih itu juga menguatkan karena sekalipun manusia sering gagal dan jatuh, Allah tetap setia memegang umat-Nya dan menuntun mereka untuk melanjutkan perjalanan iman. Bukan kekuatan manusia yang menjadi dasar pengharapan, melainkan kasih setia Allah yang tidak pernah berkesudahan.

Refleksi

Sering kali orang percaya bersikap seperti bangsa Israel. Ketika berkat Tuhan nyata, kita mudah bersyukur. Namun ketika menghadapi persoalan, kita cepat takut, bersungut-sungut, bahkan meragukan penyertaan Tuhan. Firman Tuhan melalui Bilangan 14:11–19 mengingatkan bahwa iman yang sejati tidak diukur dari keadaan yang sedang dihadapi, tetapi dari kesediaan untuk tetap percaya kepada Allah di tengah kesulitan. Tuhan yang dahulu menolong, adalah Tuhan yang sama yang tetap bekerja pada masa kini.

Selain itu, kasih Allah yang panjang sabar seharusnya mendorong setiap orang percaya untuk hidup dalam rasa syukur. Sering kali kita lebih banyak mengingat masalah daripada mengingat pemeliharaan Tuhan. Padahal, jika kita melihat kembali perjalanan hidup kita, ada begitu banyak bukti kasih dan pertolongan Tuhan yang telah kita alami. Karena itu, kehidupan orang percaya seharusnya ditandai oleh ucapan syukur, bukan oleh keluhan dan sungut-sungut.

Musa memberikan teladan tentang pentingnya menjadi pendoa syafaat. Di tengah kesalahan umat, Musa tidak meninggalkan mereka, tetapi membawa mereka kepada Tuhan dalam doa. Demikian juga orang percaya dipanggil untuk tidak mudah menghakimi atau menyerah terhadap sesama, melainkan hadir sebagai pembawa kasih, pengampunan, dan doa bagi keluarga, gereja, serta orang-orang yang sedang bergumul. Dengan demikian, kasih Allah yang telah kita terima dapat menjadi kasih yang menghibur dan menguatkan orang lain.

Penutup

Bilangan 14:11–19 mengingatkan bahwa sekalipun manusia sering gagal dan tidak setia, Allah tetap adalah Allah yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Kasih-Nya adalah kasih yang menggembirakan karena menghadirkan pengampunan, dan kasih yang menguatkan karena memberikan harapan baru. Di tengah berbagai pergumulan hidup, umat Tuhan dipanggil untuk terus memandang kepada kasih-Nya. Ketika kasih Tuhan menjadi dasar kehidupan, sukacita dan kekuatan akan tetap ada, sekalipun jalan yang dilalui tidak selalu mudah. Amin. SRDP

🤝 Dukung Pelayanan Firman Tuhan

Apabila khotbah, renungan, dan artikel di website ini menjadi berkat, Anda dapat ikut mendukung pelayanan ini melalui doa maupun persembahan kasih.

❤️ Dukung Pelayanan