Khotbah Partangiangan (Minggu III Set. Trinitatis) - Pemeliharaan Allah yang Universal (Matius 6 : 25 - 34)

Pendahuluan

Kehidupan manusia selalu berjalan berdampingan dengan berbagai kekhawatiran. Setiap zaman memiliki bentuk kekhawatirannya sendiri. Ada orang yang khawatir tentang pekerjaan, penghasilan, biaya pendidikan anak, kesehatan, masa depan keluarga, bahkan pelayanan di gereja. Tidak sedikit orang yang setiap hari bekerja keras, tetapi tetap merasa takut akan apa yang akan terjadi esok hari. Ketika kebutuhan hidup semakin banyak dan keadaan ekonomi sering tidak menentu, hati manusia mudah dipenuhi kecemasan. Akibatnya, banyak orang kehilangan sukacita hari ini karena terlalu memikirkan hari esok.

Ironisnya, di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kekhawatiran manusia tidak semakin berkurang. Manusia memiliki berbagai sarana untuk mempermudah hidup, tetapi ketenangan hati tidak selalu bertambah. Banyak orang berusaha mencari rasa aman melalui tabungan, pekerjaan, usaha, jabatan, atau relasi yang dimiliki. Semua hal tersebut memang penting dalam kehidupan, tetapi tidak ada satu pun yang dapat memberikan jaminan mutlak. Kekayaan dapat habis, pekerjaan dapat hilang, kesehatan dapat menurun, dan keadaan dapat berubah sewaktu-waktu. Karena itu, manusia sering hidup dalam ketakutan terhadap sesuatu yang belum tentu terjadi.

Pergumulan seperti ini juga dialami oleh masyarakat pada zaman Yesus. Sebagian besar orang di sana hidup sebagai petani, nelayan, penggembala, dan buruh harian. Kehidupan mereka sangat bergantung pada hasil panen, cuaca, dan pekerjaan setiap hari. Jika panen gagal, mereka terancam kekurangan makanan. Jika tidak ada pekerjaan, mereka tidak memiliki penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Selain itu, mereka juga harus menghadapi berbagai pajak yang dibebankan oleh pemerintah Romawi. Kehidupan mereka penuh dengan ketidakpastian. Oleh sebab itu, kekhawatiran tentang makanan, minuman, dan pakaian merupakan persoalan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Dalam situasi seperti itulah Yesus menyampaikan pengajaran yang terdapat dalam Matius 6:25–34. Perikop ini merupakan bagian dari Khotbah di Bukit, yaitu pengajaran Yesus tentang kehidupan warga Kerajaan Allah. Sebelum bagian ini, Yesus berbicara tentang harta di surga dan harta di bumi (Mat. 6:19–21), kemudian tentang mata sebagai pelita tubuh (Mat. 6:22–23), dan akhirnya tentang ketidakmungkinan mengabdi kepada dua tuan, yaitu Allah dan Mamon (Mat. 6:24). Setelah membahas bahaya menjadikan harta sebagai tuan kehidupan, Yesus melanjutkan pengajaran-Nya dengan membahas kekhawatiran. Sebab sering kali kekhawatiran muncul ketika manusia lebih percaya kepada kekayaan dan kemampuannya sendiri daripada kepada Allah.

Yesus mengajak para murid untuk melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda. Yesus tidak mengarahkan mereka kepada kekuatan manusia, melainkan kepada pemeliharaan Allah. Ia menunjuk kepada burung-burung di udara dan bunga-bunga di ladang sebagai bukti bahwa Allah tidak pernah mengabaikan ciptaan-Nya. Burung-burung dipelihara, bunga-bunga dihiasi dengan keindahan, dan seluruh alam semesta berada dalam perhatian Sang Pencipta. Jika Allah memelihara ciptaan yang demikian kecil, terlebih lagi manusia yang diciptakan menurut gambar-Nya.

Pemeliharaan Allah bukan hanya berlaku bagi orang-orang tertentu, melainkan menjangkau seluruh ciptaan. Allah yang menciptakan langit dan bumi adalah Allah yang juga memelihara langit dan bumi. Ia memberi makan burung-burung, menumbuhkan bunga-bunga, mengatur musim-musim, dan menopang kehidupan manusia. Yesus mengajak umat-Nya untuk meninggalkan kekhawatiran yang berlebihan dan belajar hidup dalam iman kepada Allah yang setia. Ketika manusia menyadari bahwa hidupnya berada dalam tangan Tuhan, ia dapat menghadapi hari ini dan hari esok dengan hati yang tenang, karena Allah yang memelihara seluruh ciptaan juga memelihara kehidupan umat-Nya.

Penjelasan Nats

Yesus memulai pengajaran-Nya dengan sebuah kalimat yang sangat penting: “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai” (ay. 25). Kata “karena itu” menunjukkan bahwa ajaran ini tidak dapat dipisahkan dari ayat sebelumnya. Setelah Yesus mengajarkan bahwa seseorang tidak dapat mengabdi kepada Allah dan Mamon (ay. 24), Ia kemudian berbicara tentang kekhawatiran. Hubungan keduanya sangat erat. Mamon menjanjikan rasa aman melalui harta, sedangkan Allah mengajarkan rasa aman melalui iman. Ketika seseorang menjadikan kekayaan sebagai sandaran hidup, ia akan terus hidup dalam ketakutan kehilangan apa yang dimilikinya. Namun ketika seseorang menjadikan Allah sebagai sandaran hidup, ia belajar mempercayakan hidupnya kepada pemeliharaan Tuhan.

Kata “kuatir” berasal dari kata Yunani merimnaō (μεριμνάω), yang secara harfiah berarti “terpecah” atau “terbagi.” Gambaran ini menunjukkan keadaan hati yang tidak lagi utuh karena terbagi antara percaya kepada Allah dan takut terhadap masa depan. Karena itu, Yesus tidak sedang melarang umat-Nya untuk bekerja, menabung, atau merencanakan masa depan. Alkitab sendiri mengajarkan pentingnya kerja keras dan hikmat dalam mengelola kehidupan. Yang Yesus larang adalah kekhawatiran yang menguasai hati sehingga manusia kehilangan damai sejahtera dan tidak lagi percaya kepada Allah. Kekhawatiran yang berlebihan pada akhirnya menjadi bentuk ketidakpercayaan kepada pemeliharaan Tuhan.

Untuk menjelaskan kebenaran ini, Yesus mengajak para murid memperhatikan burung-burung di udara. Ia berkata, “Pandanglah burung-burung di langit” (ay. 26). Kata “pandanglah” (emblepsate) berarti melihat dengan sungguh-sungguh dan memperhatikan dengan cermat. Yesus mengundang para murid untuk belajar tentang Allah melalui ciptaan-Nya. Burung-burung tidak memiliki lumbung penyimpanan seperti manusia, tidak memiliki ladang, tidak memiliki jaminan ekonomi, tetapi setiap hari mereka tetap memperoleh makanan. Bukan karena mereka malas atau tidak berusaha, melainkan karena Allah memelihara mereka melalui tatanan ciptaan yang telah ditetapkan-Nya.

Di sini Yesus sedang menunjukkan salah satu aspek penting dari pemeliharaan Allah yang universal. Allah tidak hanya memperhatikan manusia, tetapi juga seluruh ciptaan. Pemazmur pernah berkata bahwa Allah memberi makanan kepada segala yang hidup (Mzm. 145:15-16). Burung-burung yang tampaknya tidak berarti bagi manusia ternyata tetap berada dalam perhatian Allah. Jika demikian, betapa lebih berharganya manusia di hadapan Tuhan. Pertanyaan Yesus, “Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?” bukan sekadar perbandingan, melainkan penegasan tentang nilai manusia di mata Allah. Manusia adalah ciptaan yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Karena itu, tidak ada alasan bagi umat Tuhan untuk berpikir bahwa Allah tidak memperhatikan kehidupan mereka.

Pada ayat 27 Yesus melanjutkan argumentasiNya dengan sebuah pertanyaan retoris: “Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta pada jalan hidupnya?” Maksud pertanyaan ini adalah menunjukkan keterbatasan manusia. Kekhawatiran sering membuat manusia merasa seolah-olah ia sedang mengendalikan masa depan, padahal kenyataannya tidak demikian. Tidak ada seorang pun yang dapat memperpanjang hidupnya hanya dengan terus-menerus merasa cemas. Sebaliknya, kekhawatiran sering menguras tenaga, melemahkan tubuh, mengganggu pikiran, dan merampas sukacita. Yesus sedang mengajarkan bahwa kecemasan tidak menghasilkan apa-apa. Kekhawatiran tidak mengubah masa depan, tetapi hanya merusak ketenangan hari ini.

Setelah berbicara tentang burung-burung di udara, Yesus mengalihkan perhatian para murid kepada bunga bakung di ladang (ay. 28-30). Bunga-bunga liar itu tumbuh tanpa menenun pakaian atau menghasilkan kain. Namun Allah menghiasi mereka dengan keindahan yang luar biasa. Bahkan Yesus mengatakan bahwa Raja Salomo dalam segala kemegahannya tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga-bunga itu. Bagi orang Yahudi, Salomo adalah lambang kekayaan, kemuliaan, dan kejayaan kerajaan Israel. Namun semua kemegahan manusia itu masih kalah dibandingkan keindahan yang Allah berikan kepada bunga yang hanya hidup dalam waktu singkat.

Melalui ilustrasi burung-burung di udara dan bunga bakung yang diladang, Yesus ingin menunjukkan bahwa pemeliharaan Allah bukan hanya berkaitan dengan kebutuhan hidup, tetapi juga mencakup keindahan, keteraturan, dan keberlangsungan ciptaan. Allah bukan sekadar memberi kehidupan, tetapi juga memelihara kehidupan itu dengan kasih dan perhatian yang sempurna. Jika rumput yang hari ini tumbuh dan besok dibakar saja diperlakukan demikian oleh Allah, terlebih lagi manusia yang memiliki nilai kekal di hadapan-Nya.

Di tengah penjelasan tersebut Yesus memberikan teguran yang lembut tetapi tajam: “Hai orang yang kurang percaya!” (ay. 30). Istilah Yunani yang digunakan adalah oligopistoi, yang berarti “orang yang memiliki iman yang kecil.” Menariknya, Yesus tidak menyebut mereka tidak beriman, tetapi beriman kecil. Artinya, akar persoalan mereka bukanlah tidak mengenal Allah, melainkan belum sepenuhnya mempercayai Allah. Mereka mengenal kuasa Tuhan, tetapi sering meragukan pemeliharaan-Nya ketika menghadapi kesulitan hidup. Teguran ini juga berlaku bagi banyak orang percaya saat ini. Sering kali manusia lebih mudah melihat besarnya masalah daripada besarnya kuasa Allah. Manusia lebih fokus pada apa yang tidak dimiliki daripada pada Allah yang sanggup mencukupi.

Pada ayat 31–32 Yesus kembali mengulangi larangan untuk kuatir. Pengulangan ini menunjukkan betapa pentingnya ajaran tersebut. Yesus berkata bahwa kekhawatiran mengenai makanan, minuman, dan pakaian adalah ciri kehidupan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Dalam konteks Yahudi, “bangsa-bangsa lain” (ethnē) menunjuk kepada mereka yang hidup tanpa hubungan perjanjian dengan Allah. Karena mereka tidak mengenal Allah sebagai Bapa, mereka merasa harus mengamankan hidup mereka sendiri. Akibatnya, seluruh hidup mereka berpusat pada pencarian kebutuhan jasmani.

Namun murid-murid Kristus memiliki identitas yang berbeda. Mereka memiliki Bapa di surga. Kalimat “Bapamu yang di surga tahu” merupakan inti penghiburan dalam perikop ini. Allah bukan hanya Mahakuasa, tetapi juga Mahatahu. Ia mengetahui kebutuhan umat-Nya bahkan sebelum mereka mengungkapkannya dalam doa. Pengetahuan Allah bukanlah pengetahuan yang pasif, melainkan pengetahuan yang disertai kepedulian dan tindakan pemeliharaan. Allah mengetahui kebutuhan umat-Nya karena Ia mengasihi mereka sebagai anak-anak-Nya.

Puncak seluruh pengajaran ini terdapat pada ayat 33: “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Kata “carilah” (zēteite) berbentuk present imperative yang menunjukkan tindakan yang terus berlangsung. Dengan kata lain, Yesus memerintahkan agar pencarian terhadap Kerajaan Allah menjadi gaya hidup orang percaya. Kerajaan Allah bukan sekadar tempat, tetapi pemerintahan Allah atas kehidupan manusia. Mencari Kerajaan Allah berarti menjadikan kehendak Allah sebagai prioritas utama dalam setiap aspek kehidupan.

Selain mencari Kerajaan Allah, Yesus juga memerintahkan untuk mencari “kebenaran-Nya” (dikaiosynē). Dalam Injil Matius, kebenaran menunjuk pada kehidupan yang sesuai dengan kehendak Allah. Jadi, orang percaya dipanggil bukan hanya untuk percaya kepada Allah, tetapi juga hidup dalam ketaatan kepada-Nya. Dunia mengajarkan manusia untuk mengejar materi terlebih dahulu, kemudian baru memikirkan Tuhan. Namun Yesus membalik pola tersebut. Allah harus menjadi yang utama, sedangkan kebutuhan hidup ditempatkan dalam tangan pemeliharaan-Nya.

Janji “semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” sering disalahpahami sebagai jaminan kekayaan. Padahal maksud Yesus bukanlah bahwa setiap orang percaya akan hidup berlimpah secara materi. Yang dijanjikan adalah pemeliharaan Allah atas kebutuhan umat-Nya. Allah akan mencukupkan apa yang benar-benar diperlukan bagi kehidupan dan panggilan mereka. Pemeliharaan Tuhan tidak selalu berarti kelimpahan, tetapi selalu berarti kecukupan menurut kehendak-Nya.

Akhirnya, pada ayat 34 Yesus menutup pengajaran-Nya dengan berkata, “Janganlah kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri.” Yesus tidak mengajarkan sikap hidup tanpa perencanaan, tetapi mengajarkan hidup yang berpusat pada kepercayaan kepada Allah. Masa depan memang penting, tetapi masa depan berada di tangan Tuhan. Setiap hari memiliki tantangan dan pergumulannya sendiri, tetapi setiap hari juga memiliki anugerah dan pemeliharaan Allah yang baru. Karena itu, orang percaya dipanggil untuk menjalani hari ini dengan setia sambil menyerahkan hari esok kepada Tuhan yang memegang seluruh kehidupan.

Yesus menyatakan bahwa Allah adalah Bapa yang memelihara seluruh ciptaan-Nya. Burung-burung di udara, bunga-bunga di ladang, dan manusia semuanya berada dalam perhatian Tuhan. Inilah gambaran pemeliharaan Allah yang universal. Allah bukan hanya Pencipta dunia, tetapi juga Pemelihara dunia. Ia menopang kehidupan ciptaan-Nya setiap hari dan secara khusus memelihara umat yang percaya kepada-Nya. Oleh karena itu, respons yang dikehendaki Yesus bukanlah hidup dalam kecemasan, melainkan hidup dalam iman, ketaatan, dan kepercayaan kepada pemeliharaan Allah yang tidak pernah gagal.

Refleksi

Matius 6:25-34 mengingatkan bahwa Allah yang menciptakan dunia adalah Allah yang juga memelihara dunia. Burung-burung di udara, bunga-bunga di ladang, musim yang berganti, dan kehidupan yang terus berlangsung menjadi kesaksian tentang pemeliharaan Allah yang universal. Tidak ada bagian dari ciptaan yang berada di luar perhatian-Nya.

Namun pemeliharaan Allah yang universal tidak berarti semua orang bebas dari kesulitan. Burung tetap harus mencari makan, bunga tetap menghadapi panas matahari, dan manusia tetap menghadapi berbagai pergumulan hidup. Yang dijanjikan Tuhan bukanlah hidup tanpa masalah, melainkan hidup yang berada dalam tangan pemeliharaan-Nya.

Di tengah ketidakpastian ekonomi, tantangan pelayanan, pergumulan keluarga, dan berbagai persoalan hidup, firman Tuhan mengajak untuk mengalihkan pandangan dari kecemasan kepada pemeliharaan Allah. Ketika manusia hanya memandang masalah, kekhawatiran akan bertambah. Tetapi ketika manusia memandang Allah yang memegang hidupnya, iman akan bertumbuh.

Penutup

Matius 6:25–34 menyatakan bahwa Allah adalah Bapa yang memelihara seluruh ciptaan-Nya. Burung-burung di udara dan bunga-bunga di ladang menjadi saksi bahwa tidak ada ciptaan yang luput dari perhatian Tuhan. Jika Allah memelihara mereka, terlebih lagi manusia yang telah diciptakan menurut gambar-Nya dan ditebus oleh kasih-Nya.

Karena itu, panggilan orang percaya bukanlah hidup dalam kecemasan, melainkan hidup dalam iman. Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya harus menjadi prioritas utama kehidupan. Ketika Allah ditempatkan sebagai pusat hidup, manusia dapat melangkah dengan tenang karena mengetahui bahwa hari ini dan hari esok berada dalam tangan Bapa yang setia.

Pemeliharaan Allah yang universal mengajarkan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan ciptaan-Nya. Ia memelihara dunia dengan kuasa-Nya dan memelihara umat-Nya dengan kasih seorang Bapa. Oleh sebab itu, orang percaya dapat hidup dengan keyakinan bahwa apa pun yang terjadi, Tuhan tetap memegang dan memelihara kehidupannya. Amin. (SRDP)