Khotbah Minggu 12 Juli 2026 (Minggu VI Set. Trinitatis) - Saling Menolong (3 Yohanes 1 : 5 - 8)
Pendahuluan
Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang pasti pernah berada pada dua posisi: menjadi orang yang membutuhkan pertolongan atau menjadi orang yang diminta untuk menolong. Tidak ada manusia yang dapat hidup sendiri. Sejak lahir hingga akhir hidupnya, manusia selalu membutuhkan orang lain. Ada saatnya seseorang memiliki kesehatan, kekuatan, dan berkat sehingga ia mampu menolong sesamanya. Namun ada pula masa ketika ia menghadapi kesulitan, sakit, kehilangan pekerjaan, masalah keluarga, atau pergumulan hidup sehingga ia membutuhkan uluran tangan orang lain. Itulah sebabnya saling menolong merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia.
Namun, jika memperhatikan keadaan saat ini, semangat saling menolong semakin memudar. Kemajuan teknologi memang memudahkan komunikasi, tetapi tidak selalu membuat hubungan antarmanusia semakin dekat. Kesibukan pekerjaan, pendidikan, dan berbagai aktivitas sering kali membuat seseorang hanya berfokus pada dirinya sendiri. Tidak sedikit orang yang bersikap, “Selama saya tidak terganggu, persoalan orang lain bukan urusan saya.” Bahkan, ada yang enggan membantu karena merasa tidak mengenal orang tersebut, takut dimanfaatkan, atau menganggap bahwa masih ada orang lain yang bisa menolong. Sikap individualistis seperti ini perlahan-lahan mengikis kepedulian, bahkan dapat terjadi di tengah kehidupan bergereja. Padahal gereja dipanggil bukan hanya menjadi tempat berkumpul untuk beribadah, melainkan menjadi keluarga Allah yang saling memperhatikan dan saling menanggung beban.
Persoalan yang hampir serupa juga terjadi pada masa gereja mula-mula. Pada akhir abad pertama, Injil sedang diberitakan ke berbagai daerah di luar Yerusalem. Banyak penginjil dan pelayan Tuhan melakukan perjalanan dari satu kota ke kota yang lain untuk memberitakan Yesus Kristus. Perjalanan pada masa itu bukanlah hal yang mudah. Jalan-jalan masih berbahaya, perjalanan memakan waktu yang lama, dan tidak tersedia penginapan yang aman seperti sekarang. Selain itu, para penginjil memilih untuk tidak meminta bantuan dari orang-orang yang belum percaya agar pelayanan mereka tidak dianggap sebagai cara mencari keuntungan. Karena itulah mereka sangat bergantung pada kasih dan keramahtamahan jemaat-jemaat yang mereka kunjungi. Mereka membutuhkan tempat menginap, makanan, bekal perjalanan, bahkan dukungan doa agar pelayanan Injil dapat terus berlangsung.
Dalam konteks inilah Rasul Yohanes menulis surat 3 Yohanes. Walaupun hanya terdiri dari satu pasal dan merupakan salah satu kitab terpendek dalam Perjanjian Baru, surat ini menyimpan pesan yang sangat penting mengenai kasih yang diwujudkan dalam tindakan nyata. Surat ini ditujukan kepada seorang jemaat bernama Gayus, seorang yang dikenal hidup dalam kebenaran dan memiliki hati yang terbuka bagi pekerjaan Tuhan.
Menariknya, Yohanes tidak hanya menampilkan satu teladan. Ia juga memperlihatkan dua sikap yang sangat bertolak belakang. Di satu sisi ada Gayus yang dengan sukacita membuka rumahnya bagi para pelayan Tuhan, memenuhi kebutuhan mereka, serta mendukung pemberitaan Injil. Di sisi lain ada Diotrefes yang justru menolak para pelayan Tuhan, ingin menjadi yang paling utama, bahkan melarang jemaat lain untuk menerima mereka dan mengucilkan orang-orang yang tetap ingin menolong (ayat 9–10). Melalui kedua tokoh ini, Yohanes ingin menunjukkan bahwa setiap orang percaya harus memilih sikap hidupnya: apakah menjadi orang yang membangun pekerjaan Tuhan atau justru menjadi penghalangnya.
3 Yohanes 1:5–8 merupakan bagian ketika Yohanes memberikan pujian kepada Gayus. Hal yang menarik adalah Yohanes tidak memuji Gayus karena kekayaannya, kepandaiannya, atau kedudukannya dalam gereja. Ia dipuji karena kesetiaannya dalam menolong orang lain. Bahkan orang-orang yang ditolongnya bukanlah keluarga atau sahabat dekat, melainkan para pelayan Tuhan yang sebelumnya tidak dikenalnya. Bagi Yohanes, tindakan menerima tamu, menyediakan makanan, memberi tempat beristirahat, dan membantu kebutuhan perjalanan para pemberita Injil bukanlah pekerjaan yang sepele. Semua itu adalah bentuk kasih kepada Kristus dan partisipasi nyata dalam pekerjaan Allah.
Hal ini mengingatkan bahwa saling menolong bukan sekadar tindakan sosial atau bentuk belas kasihan kepada sesama. Saling menolong adalah wujud iman yang hidup, bukti kasih kepada Kristus, dan cara setiap orang percaya mengambil bagian dalam pekerjaan Injil. Ketika orang percaya rela membuka hati, tangan, dan hidupnya untuk menolong sesama, pada saat itulah kasih Allah dinyatakan kepada dunia. Gereja pun tidak hanya dikenal karena ibadah atau kegiatannya, tetapi karena kehidupan jemaatnya yang saling mengasihi dan saling menopang.
Penjelasan Nats
Rasul Yohanes memulai bagian ini dengan memberikan pujian kepada Gayus. Ia berkata, ”Saudaraku yang kekasih, engkau bertindak setia dalam segala sesuatu yang engkau lakukan untuk saudara-saudara, sekalipun mereka adalah orang-orang asing.” (ay. 5). Pujian ini bukanlah pujian yang diberikan karena Gayus memiliki jabatan yang tinggi dalam gereja atau karena ia memiliki kemampuan berkhotbah yang luar biasa. Yohanes justru melihat sesuatu yang sering kali dianggap sederhana oleh banyak orang, yaitu kesetiaan Gayus dalam menolong sesama.
Kata yang dipakai Yohanes adalah “bertindak setia”. Kesetiaan yang dimaksud bukan hanya setia dalam menghadiri ibadah atau menjalankan kewajiban agama, melainkan setia melakukan kehendak Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Bagi Yohanes, kesetiaan kepada Allah selalu terlihat melalui tindakan nyata. Iman yang hidup tidak hanya diucapkan dengan bibir, tetapi juga diwujudkan melalui perbuatan kasih.
Yang lebih menarik lagi, orang-orang yang ditolong Gayus adalah “saudara-saudara, sekalipun mereka adalah orang-orang asing.” Mereka bukan keluarga, bukan sahabat dekat, bahkan mungkin baru pertama kali datang ke rumah Gayus. Mereka adalah para pelayan Tuhan yang sedang melakukan perjalanan untuk memberitakan Injil dari satu tempat ke tempat yang lain. Pada masa itu, perjalanan sangat berat dan berbahaya. Mereka tidak memiliki kendaraan yang nyaman, tidak ada hotel atau penginapan yang aman di setiap kota, dan mereka juga tidak meminta bantuan kepada orang-orang yang tidak mengenal Allah agar pelayanan mereka tidak dianggap sebagai pekerjaan mencari keuntungan. Karena itulah mereka sangat bergantung pada jemaat yang bersedia membuka pintu rumahnya dan memberikan pertolongan.
Gayus memahami bahwa orang-orang yang datang kepadanya bukan sekadar tamu biasa. Mereka adalah hamba-hamba Tuhan yang sedang mengerjakan pekerjaan Allah. Karena itu ia menerima mereka dengan sukacita, menyediakan tempat tinggal, makanan, serta bekal untuk melanjutkan perjalanan mereka. Semua itu dilakukan bukan karena mengharapkan balasan, melainkan karena kasihnya kepada Kristus.
Hal ini mengajarkan bahwa kasih Kristen tidak dibatasi oleh hubungan keluarga, suku, atau kedekatan pribadi. Dunia sering mengajarkan untuk membantu orang yang pernah membantu kita atau orang yang dapat memberikan keuntungan bagi kita. Namun firman Tuhan mengajarkan sesuatu yang berbeda. Orang percaya dipanggil untuk mengasihi karena terlebih dahulu telah dikasihi oleh Kristus. Kasih yang berasal dari Tuhan tidak memilih-milih kepada siapa kasih itu diberikan. Justru melalui kasih yang seperti inilah dunia dapat melihat perbedaan kehidupan orang percaya.
Selanjutnya Yohanes berkata, ”Mereka telah memberi kesaksian di hadapan jemaat tentang kasihmu. Baik benar perbuatanmu, jikalau engkau menolong mereka dalam perjalanan mereka, dengan suatu cara yang berkenan kepada Allah.” (ay. 6). Kalimat ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan Gayus ternyata tidak berhenti hanya di rumahnya. Para pelayan Tuhan yang pernah menerima pertolongannya kemudian menceritakan pengalaman mereka kepada jemaat-jemaat lain. Dengan kata lain, kasih Gayus menjadi kesaksian yang hidup.
Yohanes tidak hanya memuji Gayus karena telah menerima mereka, tetapi juga mendorongnya untuk ”menolong mereka dalam perjalanan mereka.” Ungkapan ini berarti memberikan bekal yang mereka perlukan agar dapat melanjutkan pelayanan. Bantuan yang diberikan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan sesaat, tetapi juga agar pekerjaan pemberitaan Injil dapat terus berlangsung. Dengan demikian, pertolongan Gayus menjadi bagian dari misi Allah.
Sering kali seseorang merasa bahwa pertolongan kecil yang diberikannya tidak berarti. Mungkin hanya memberikan segelas air minum, menyediakan tempat beristirahat, mengantar seseorang, mengunjungi orang sakit, atau memberikan sedikit bantuan kepada mereka yang membutuhkan. Namun di mata Tuhan, tidak ada kasih yang dilakukan dengan tulus yang sia-sia. Apa yang dianggap kecil oleh manusia dapat menjadi berkat yang sangat besar bagi orang lain. Bahkan sering kali pertolongan sederhana itulah yang menguatkan seseorang untuk terus bertahan dalam pergumulannya.
Kasih yang diwujudkan dalam tindakan akan selalu meninggalkan jejak. Orang mungkin akan melupakan kata-kata yang pernah kita ucapkan, tetapi mereka akan mengingat kasih yang pernah mereka terima. Itulah sebabnya pelayanan Gayus menjadi kesaksian di tengah jemaat. Kehidupannya menjadi bukti bahwa Injil yang diberitakan benar-benar telah mengubah cara hidupnya.
Di tengah kehidupan sekarang, kesaksian seperti ini sangat dibutuhkan. Gereja tidak hanya dikenal karena gedungnya yang megah, banyaknya kegiatan, atau indahnya liturgi ibadah. Gereja akan menjadi terang ketika setiap anggotanya memiliki kepedulian terhadap sesama. Ketika jemaat saling mengunjungi yang sakit, menghibur yang berduka, membantu mereka yang mengalami kesulitan ekonomi, mendukung mahasiswa yang sedang berjuang menempuh pendidikan, memperhatikan para lanjut usia, dan saling menopang dalam doa, pada saat itulah kasih Kristus benar-benar terlihat. Dunia dapat mengenal Kristus bukan hanya melalui khotbah yang didengar, tetapi juga melalui kasih yang mereka lihat dalam kehidupan umat-Nya.
Yohanes kemudian menjelaskan alasan mengapa Gayus melakukan semua itu. Ia berkata, ”Sebab karena namaNya mereka telah berangkat dengan tidak menerima sesuatu pun dari orang-orang yang tidak mengenal Allah.” (ay. 7). Ungkapan ”karena namaNya” menunjuk kepada nama Yesus Kristus. Para pelayan Tuhan meninggalkan rumah, keluarga, bahkan kenyamanan hidup demi memberitakan Injil. Mereka tidak mencari kekayaan ataupun kehormatan, melainkan ingin agar semakin banyak orang mengenal Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Oleh sebab itu mereka tidak menggantungkan pelayanan mereka kepada orang-orang yang tidak mengenal Allah, tetapi kepada Tuhan yang bekerja melalui jemaat-Nya.
Karena itulah Yohanes memberikan dorongan yang sangat penting, ”Kita wajib menerima orang-orang yang demikian, supaya kita boleh mengambil bagian dalam pekerjaan mereka untuk kebenaran.” (ay. 8). Yohanes tidak berkata, “Akan lebih baik jika kita menolong mereka.” tetapi ia memakai kata ”wajib”. Artinya, mendukung pekerjaan Tuhan bukan sekadar pilihan, melainkan tanggung jawab setiap orang percaya.
Kalimat ”mengambil bagian dalam pekerjaan mereka untuk kebenaran” mengandung makna yang sangat dalam. Yohanes tidak mengatakan bahwa semua orang harus menjadi penginjil. Namun, setiap orang percaya dapat ikut ambil bagian dalam pemberitaan Injil melalui dukungan yang diberikan kepada para pelayan Tuhan. Ketika seseorang memberikan tempat tinggal, makanan, doa, tenaga, waktu, atau persembahan untuk mendukung pelayanan, ia bukan sekadar membantu seorang hamba Tuhan, tetapi sedang mengambil bagian dalam pekerjaan Allah sendiri.
Tidak semua orang dipanggil menjadi pendeta atau misionaris. Ada yang melayani dengan memberitakan firman Tuhan. Ada yang memimpin pujian. Ada yang mengajar anak-anak Sekolah Minggu. Ada yang menyediakan kendaraan bagi pelayanan. Ada yang memberi tumpangan bagi pelayan Tuhan. Ada yang menopang pelayanan melalui persembahan. Ada yang mengunjungi orang sakit, mendoakan mereka yang sedang berdukacita, atau sekadar memberikan telinga untuk mendengarkan pergumulan sesamanya. Semua pelayanan itu mungkin berbeda bentuknya, tetapi memiliki nilai yang sama di hadapan Tuhan apabila dilakukan dengan kasih dan ketulusan.
Saling menolong bukan hanya soal membantu memenuhi kebutuhan manusia. Lebih daripada itu, setiap pertolongan yang dilakukan dengan kasih merupakan bagian dari pekerjaan Allah. Ketika seseorang menguatkan yang lemah, menolong yang membutuhkan, atau mendukung pelayanan Injil, sesungguhnya ia sedang mengambil bagian dalam pekerjaan Allah bagi kebenaran. Dengan demikian, hidup orang percaya tidak hanya menjadi berkat bagi sesama, tetapi juga menjadi alat yang dipakai Tuhan untuk memperluas Kerajaan-Nya.
Refleksi
3 Yohanes 1:5-8 mengajak untuk melihat kembali kehidupan masing-masing. Selama ini, apakah masih ada hati yang peduli terhadap sesama? Atau tanpa disadari, kehidupan yang sibuk telah membuat hati menjadi kurang peka terhadap kebutuhan orang lain? Mungkin selama ini lebih mudah berkata, “Biarlah orang lain saja yang menolong,” atau “Itu bukan urusanku.” Padahal, kasih kepada Tuhan tidak hanya dinyatakan melalui doa, pujian, atau kehadiran dalam ibadah, tetapi juga melalui kepedulian kepada sesama.
Sering kali ada anggapan bahwa untuk menolong harus memiliki banyak harta atau kemampuan yang besar. Namun firman Tuhan hari ini menunjukkan bahwa pertolongan tidak selalu harus berupa uang. Gayus dipuji bukan karena kekayaannya, melainkan karena kesediaannya membuka hati dan membuka rumahnya bagi orang-orang yang membutuhkan. Tuhan tidak pertama-tama melihat besar kecilnya pemberian, tetapi melihat ketulusan hati orang yang memberi.
Setiap orang memiliki kesempatan untuk menolong. Ada yang dapat memberikan waktu untuk mengunjungi orang yang sakit. Ada yang dapat memberikan telinga untuk mendengarkan mereka yang sedang bergumul. Ada yang dapat menguatkan melalui doa. Ada yang dapat berbagi makanan kepada tetangga yang sedang mengalami kesulitan. Ada pula yang dapat mendukung pelayanan gereja melalui tenaga, pikiran, ataupun persembahan. Sekalipun terlihat sederhana, semua itu sangat berarti di hadapan Tuhan apabila dilakukan dengan kasih.
Pekerjaan untuk memberikan Injil bukan hanya tanggung jawab pendeta, penatua, atau pelayan khusus. Setiap orang percaya dipanggil untuk mengambil bagian. Mungkin tidak semua dapat berkhotbah atau pergi memberitakan Injil ke tempat yang jauh, tetapi semua dapat ikut mendukung pekerjaan Tuhan melalui doa, tenaga, waktu, perhatian, maupun persembahan. Ketika seseorang menolong pekerjaan Tuhan dengan tulus, ia sedang ikut ambil bagian dalam memperluas Kerajaan Allah.
Teladan Gayus mengajak untuk bertanya kepada diri sendiri: Jika suatu hari orang lain menceritakan tentang kehidupan kita, kesaksian seperti apa yang akan mereka sampaikan? Apakah mereka mengenang kita sebagai orang yang mudah menolong, suka menguatkan, dan murah hati? Ataukah mereka mengenang kita sebagai orang yang sibuk dengan diri sendiri dan tidak peduli terhadap kebutuhan sesama? Jangan pernah merasa bahwa pertolongan yang diberikan terlalu kecil. Di tangan Tuhan, pertolongan yang sederhana dapat menjadi jawaban doa bagi seseorang, menjadi kekuatan bagi mereka yang hampir putus asa, bahkan menjadi sarana agar semakin banyak orang mengalami kasih Kristus. Ketika hidup dipenuhi dengan semangat saling menolong, bukan hanya sesama yang diberkati, tetapi nama Tuhan juga dimuliakan melalui setiap perbuatan kasih yang dilakukan.
Penutup
Melalui 3 Yohanes 1:5–8, Tuhan mengajarkan bahwa saling menolong bukan sekadar perbuatan baik atau kebiasaan yang patut dipuji. Saling menolong adalah wujud nyata dari iman kepada Kristus. Gayus menjadi teladan karena ia tidak hanya percaya kepada Tuhan dengan perkataan, tetapi juga membuktikan imannya melalui tindakan. Ia membuka hati, membuka rumah, dan membuka tangannya bagi orang-orang yang membutuhkan. Apa yang tampak sederhana di mata manusia ternyata sangat berharga di hadapan Tuhan.
Hiduplah dengan hati yang peka terhadap kebutuhan sesama. Jangan menunggu diminta untuk menolong. Jangan menunggu memiliki banyak baru mau berbagi. Mulailah dari hal-hal kecil yang dapat dilakukan hari ini. Sebab kasih yang diwujudkan dalam tindakan akan membawa penghiburan bagi sesama, menjadi kesaksian bagi dunia, dan memuliakan nama Tuhan. Biarlah melalui kehidupan yang saling mengasihi dan saling menolong, banyak orang melihat kasih Kristus dinyatakan, dan nama Tuhan semakin dimuliakan. Amin. SRDP
🤝 Dukung Pelayanan Firman Tuhan
Apabila khotbah, renungan, dan artikel di website ini menjadi berkat, Anda dapat ikut mendukung pelayanan ini melalui doa maupun persembahan kasih.
❤️ Dukung Pelayanan