Khotbah Minggu 19 Juli 2026 (Minggu VII Set. Trinitatis) - Hari Sukacita bagi Umat Allah (Ester 9 : 11 - 19)
Pendahuluan
Setiap orang
tentu mendambakan sukacita dalam hidupnya. Namun, sukacita yang sejati tidak
selalu lahir dari keadaan yang nyaman dan menyenangkan. Ada sukacita yang
justru lahir dari pergumulan yang berat, dari air mata yang panjang, dan dari
pengalaman ketika seseorang merasa tidak memiliki harapan lagi. Sering kali,
setelah melewati masa-masa sulit, manusia baru menyadari bahwa Tuhan tidak
pernah meninggalkan hidupnya. Sukacita yang demikian bukanlah sukacita yang
dangkal, melainkan sukacita yang lahir dari pengalaman nyata akan pertolongan
dan penyertaan Allah.
Pengalaman
seperti inilah yang dialami oleh bangsa Yahudi dalam kitab Ester. Kitab Ester
berlatar belakang kehidupan orang-orang Yahudi yang tinggal di tanah Persia
pada masa pemerintahan Raja Ahasyweros. Setelah pembuangan Babel, tidak semua
orang Yahudi kembali ke Yerusalem. Sebagian besar tetap tinggal dan tersebar di
berbagai wilayah Kekaisaran Persia sebagai kelompok minoritas. Mereka hidup di
tengah bangsa asing, berada di bawah kekuasaan kerajaan lain, serta harus
berjuang mempertahankan identitas dan iman mereka sebagai umat Allah.
Di tengah
situasi tersebut, muncul Haman, seorang pejabat tinggi kerajaan yang sangat
membenci Mordekhai dan bangsa Yahudi. Kebencian pribadinya berkembang menjadi
rencana besar untuk memusnahkan seluruh orang Yahudi di seluruh wilayah Persia.
Dengan persetujuan raja, Haman mengeluarkan surat perintah yang menetapkan hari
pembantaian terhadap bangsa Yahudi. Ketakutan dan kesedihan pun meliputi
seluruh umat. Kitab Ester mencatat bahwa orang-orang Yahudi berpuasa, menangis,
dan meratap karena mereka melihat masa depan yang gelap dan ancaman kehancuran
yang begitu nyata.
Namun, di
tengah situasi yang tampaknya mustahil itu, Allah bekerja melalui orang-orang
yang dipakai-Nya. Allah memakai keberanian Ester yang rela mempertaruhkan
nyawanya untuk menghadap raja, serta hikmat Mordekhai yang tetap setia kepada
Tuhan. Meskipun nama Allah tidak pernah disebutkan secara langsung dalam kitab
Ester, tangan-Nya nyata memimpin setiap peristiwa, mengubah keadaan yang penuh
ancaman menjadi kemenangan dan keselamatan bagi umat-Nya.
Ester 9:11–19 adalah
bagian akhir dari kisah tersebut. Setelah ancaman pemusnahan dibatalkan,
orang-orang Yahudi memperoleh kemenangan atas musuh-musuh mereka. Hari yang
semula ditetapkan sebagai hari kebinasaan berubah menjadi hari perjamuan,
syukur, dan sukacita. Dari peristiwa inilah kemudian lahir perayaan Purim, yang
terus dikenang oleh bangsa Yahudi sebagai tanda pertolongan Allah. Allah
sanggup membalikkan keadaan. Ia dapat mengubah tangisan menjadi sukacita,
ketakutan menjadi pengharapan, dan kelemahan menjadi kemenangan. Ketika manusia
merasa tidak memiliki jalan keluar, Tuhan tetap bekerja dengan cara-Nya sendiri
untuk menyatakan kasih dan pemeliharaan-Nya kepada umat-Nya.
Penjelasan
Nats
Ester 9:11–19 merupakan
puncak dari kisah penyelamatan bangsa Yahudi di tanah Persia. Sebelumnya,
bangsa Yahudi hidup di bawah ancaman pemusnahan yang dirancang oleh Haman,
pejabat tinggi kerajaan yang membenci Mordekhai dan seluruh orang Yahudi.
Melalui campur tangan Allah yang bekerja melalui Ester dan Mordekhai, keadaan
berbalik: mereka yang semula hendak dimusnahkan justru memperoleh kekuatan
untuk mempertahankan hidup mereka.
Ayat 11
dimulai dengan laporan yang disampaikan kepada Raja Ahasyweros mengenai jumlah
orang yang terbunuh di benteng Susan. Tercatat bahwa lima ratus orang telah
dibunuh, termasuk kesepuluh anak Haman. Penyebutan anak-anak Haman bukanlah
sekadar catatan sejarah, melainkan menunjukkan bahwa kekuasaan dan pengaruh
keluarga Haman telah benar-benar berakhir. Rencana jahat yang pernah disusun
untuk menghancurkan bangsa Yahudi kini runtuh sepenuhnya.
Mendengar
laporan tersebut, raja kembali bertanya kepada Ester, “Apakah lagi
permintaanmu? Permintaanmu itu akan dikabulkan.” Pertanyaan ini menunjukkan
besarnya kepercayaan dan kasih sayang raja kepada Ester. Sejak Ester
memberanikan diri menghadap raja tanpa dipanggil, ia telah memperoleh tempat
yang istimewa di hati raja. Namun, lebih dari itu, pertanyaan raja
memperlihatkan bagaimana Allah bekerja melalui relasi dan keputusan manusia
untuk melindungi umat-Nya.
Menanggapi
tawaran raja, Ester meminta agar orang-orang Yahudi di Susan diizinkan
mempertahankan diri selama satu hari lagi, serta agar mayat kesepuluh anak
Haman digantung pada tiang. Bagi pembaca modern, permintaan ini mungkin tampak
keras. Namun, dalam konteks Persia kuno, tindakan tersebut merupakan tanda
bahwa ancaman terhadap bangsa Yahudi harus benar-benar diakhiri. Ester memahami
bahwa meskipun Haman telah mati, masih ada orang-orang yang menyimpan kebencian
dan dapat kembali mengancam keselamatan umat Allah.
Pada hari
berikutnya, tiga ratus orang lagi dibunuh di Susan. Sementara itu, di seluruh
wilayah kerajaan Persia, orang-orang Yahudi berhasil mengalahkan tujuh puluh
lima ribu musuh mereka. Angka yang besar ini menggambarkan betapa luasnya
permusuhan terhadap bangsa Yahudi di seluruh kekaisaran. Ancaman yang mereka
hadapi bukanlah ancaman kecil atau terbatas pada satu daerah saja, melainkan
ancaman yang dapat menghapus keberadaan mereka sebagai umat Allah.
Namun, ada
satu hal yang sangat ditekankan oleh penulis kitab Ester. Sebanyak tiga kali
dalam pasal ini dicatat kalimat yang sama: “Tetapi jarahan tidaklah mereka
rampas” (ayat 10, 15, dan 16). Dalam bahasa Ibrani digunakan ungkapan “ûbabbizzāh
lōʾ šālḥû ʾet-yādām” (וּבַבִּזָּה לֹא שָׁלְחוּ אֶת־יָדָם), yang secara
harfiah berarti, “mereka tidak mengulurkan tangan kepada harta rampasan.” Frasa
ini menunjukkan bahwa bangsa Yahudi dengan sengaja tidak mengambil atau
menyentuh barang-barang rampasan perang. Kata “bizzāh” (בִּזָּה) berarti
“jarahan” atau “rampasan,” sedangkan “šālḥû” (שָׁלְחוּ) berarti “mereka mengulurkan/mengirim,” dan “yādām” (יָדָם) berarti
“tangan mereka.” Susunan kata ini menegaskan tindakan sadar untuk menahan diri
dari mengambil keuntungan materi dari kemenangan yang mereka peroleh. Penulis
kitab Ester menekankan bahwa perjuangan mereka bukan didorong oleh keserakahan,
melainkan semata-mata untuk mempertahankan hidup dan menjaga keberlangsungan
umat Allah.
Pengulangan
ini bukan tanpa alasan. Penulis ingin menegaskan bahwa tindakan orang Yahudi
bukanlah perang untuk memperkaya diri atau membalas dendam demi keuntungan
pribadi. Mereka tidak menggunakan kemenangan itu sebagai kesempatan untuk
merampas kekayaan musuh. Tujuan mereka hanyalah mempertahankan hidup dan
menjaga keberlangsungan umat Allah. Sikap ini juga mengingatkan pada kisah Saul
dalam 1 Samuel 15, ketika ia gagal menaati perintah Tuhan karena mengambil
jarahan perang.
Setelah
peperangan berakhir, suasana duka dan ketakutan berubah menjadi sukacita.
Orang-orang Yahudi di daerah-daerah kerajaan berhenti berperang pada hari
ketiga belas bulan Adar dan menjadikan hari keempat belas sebagai hari
perjamuan dan sukacita. Sementara itu, orang-orang Yahudi di Susan, karena
berperang satu hari lebih lama, merayakan kemenangan mereka pada hari kelima
belas. Perjamuan yang mereka adakan bukan sekadar pesta kemenangan militer.
Perayaan itu merupakan ungkapan syukur atas pemeliharaan Allah yang telah
menyelamatkan mereka dari ancaman pemusnahan. Hari yang semula ditetapkan
sebagai hari kematian kini berubah menjadi hari sukacita. Inilah awal mula
perayaan Purim, yang kemudian ditetapkan sebagai peringatan tahunan bagi bangsa
Yahudi.
Salah satu
keunikan kitab Ester adalah tidak adanya penyebutan nama Allah secara langsung.
Namun, justru di situlah pembaca diajak untuk melihat karya Allah yang
tersembunyi. Allah bekerja melalui keberanian Ester, kesetiaan Mordekhai,
perubahan hati raja, dan bahkan melalui peristiwa-peristiwa politik di kerajaan
Persia. Di balik semua peristiwa itu, Allah memelihara umat-Nya dan membuktikan
bahwa Ia tidak pernah meninggalkan mereka. Ester 9:11–19 menjadi kesaksian
bahwa Tuhan sanggup membalikkan keadaan. Hari yang dipenuhi ketakutan diubah
menjadi hari keselamatan; ancaman berubah menjadi kemenangan; dan ratapan
berubah menjadi sukacita bagi umat Allah.
Refleksi
Pertama,
sukacita sejati berasal dari pertolongan Tuhan. Bangsa Yahudi dapat bersukacita
bukan karena kekuatan mereka sendiri, melainkan karena Allah memelihara dan
menyertai mereka. Dalam kehidupan kita, sering kali kita hanya melihat
kesulitan yang sedang dihadapi: masalah keluarga, pergumulan ekonomi,
pekerjaan, pendidikan, dan berbagai tantangan lainnya. Namun, melalui kisah
Ester, kita diingatkan bahwa Tuhan tetap bekerja, bahkan ketika kehadiran-Nya
tidak terlihat secara langsung.
Kedua,
sukacita sejati tidak lahir dari harta benda. Berkali-kali penulis kitab Ester
menegaskan bahwa orang Yahudi tidak mengambil jarahan. Mereka memahami bahwa
kemenangan bukanlah kesempatan untuk mencari keuntungan pribadi. Dunia sering
mengukur kebahagiaan dari banyaknya harta dan keberhasilan, tetapi firman Tuhan
mengajarkan bahwa sukacita yang sejati lahir dari relasi yang benar dengan
Allah.
Ketiga,
sukacita harus dibagikan kepada sesama. Orang Yahudi tidak merayakan kemenangan
itu seorang diri. Mereka berkumpul, berpesta, dan bersukacita bersama-sama.
Demikian pula kehidupan orang percaya. Sukacita yang Tuhan berikan tidak boleh
disimpan untuk diri sendiri, melainkan harus diwujudkan melalui kasih,
perhatian, dan kepedulian kepada orang lain.
Penutup
Ester 9:11–19
mengajarkan kepada kita bahwa Allah sanggup mengubah ketakutan menjadi
keberanian, kesedihan menjadi sukacita, dan ancaman menjadi kemenangan.
Sekalipun nama Allah tidak disebutkan dalam kitab Ester, pemeliharaan-Nya nyata
dalam kehidupan umat-Nya. Hari sukacita bagi umat Allah bukanlah hari tanpa
pergumulan, melainkan hari ketika umat menyadari bahwa Tuhan tidak pernah
meninggalkan mereka. Karena itu, marilah kita tetap setia kepada Tuhan, percaya
kepada penyertaan-Nya, dan membagikan sukacita yang kita terima kepada sesama. Amin. (SRDP)
🤝 Dukung Pelayanan Firman Tuhan
Apabila khotbah, renungan, dan artikel di website ini menjadi berkat, Anda dapat ikut mendukung pelayanan ini melalui doa maupun persembahan kasih.
❤️ Dukung Pelayanan