Khotbah Minggu 26 Juli 2026 (Minggu VIII Set. Trinitatis) - Karya Allah bagi Orang Pilihan-Nya (Roma 8 : 26 - 30)
Pendahuluan
Hidup manusia tidak pernah lepas dari pergumulan. Selama masih hidup di
dunia, manusia akan berhadapan dengan berbagai macam persoalan. Ada masa ketika
kita menghadapi persoalan yang begitu berat sehingga kita tidak tahu harus
berbuat apa. Kita sudah berusaha mencari jalan keluar, sudah memikirkan
berbagai kemungkinan, bahkan sudah meminta nasihat kepada banyak orang, tetapi
keadaan tetap tidak berubah. Pada saat seperti itu, hati manusia dapat dipenuhi
oleh ketakutan, kecemasan, kebingungan, dan keputusasaan. Pergumulan yang
paling berat terkadang bukan hanya ketika kita tidak memiliki jalan keluar,
tetapi ketika kita tidak memahami apa yang sedang Tuhan kerjakan. Kita dapat
menerima kenyataan bahwa hidup tidak selalu mudah, tetapi yang sulit adalah
ketika kita berdoa dan sepertinya tidak ada jawaban; ketika kita berharap
tetapi keadaan justru semakin berat; ketika kita meminta pertolongan Tuhan
tetapi masalah tidak segera berakhir. Ada saat ketika kita bertanya: Mengapa
Tuhan mengizinkan semua ini terjadi? Mengapa doa saya belum dijawab? Mengapa
saya harus melewati jalan yang begitu sulit? Apakah Tuhan masih bekerja dalam
hidup saya?
Ada penderitaan yang membuat seseorang hanya mampu menangis. Ada pergumulan
yang begitu dalam sehingga tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Ada keadaan
ketika seseorang ingin berdoa, tetapi tidak tahu lagi apa yang harus dikatakan
kepada Tuhan. Mulut tidak mampu berkata-kata, pikiran tidak mampu menemukan
jawaban, dan hati hanya mampu mengeluh di hadapan Allah. Dalam keadaan seperti
itu, seseorang dapat merasa seolah-olah sedang berjalan sendirian menghadapi
persoalannya. Firman Tuhan dalam Roma 8:26–30 memberikan penghiburan yang
sangat kuat: orang percaya tidak pernah berjalan sendirian dalam pergumulan
hidupnya. Ketika kita lemah, Roh Kudus menolong. Ketika kita tidak tahu
bagaimana harus berdoa, Roh Kudus berdoa bagi kita. Ketika kita tidak memahami
apa yang sedang terjadi, Allah tetap bekerja. Dan ketika kita tidak mampu
melihat tujuan dari perjalanan hidup kita, Allah sedang mengarahkan semuanya
kepada tujuan-Nya.
Surat Roma ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat yang berada di kota
Roma. Jemaat ini hidup dalam lingkungan yang tidak mudah. Mereka adalah
orang-orang yang percaya kepada Kristus dan harus menjalani kehidupan iman di
tengah dunia yang penuh dengan berbagai tantangan. Jemaat Roma juga terdiri
dari orang-orang percaya yang memiliki latar belakang yang berbeda, khususnya
orang Yahudi dan bangsa-bangsa lain. Karena itu, Paulus menulis surat ini untuk
menjelaskan dengan jelas tentang Injil, tentang keselamatan yang dikerjakan
Allah melalui Yesus Kristus, tentang pembenaran oleh iman, dan tentang
kehidupan baru yang dijalani oleh orang-orang yang telah menerima keselamatan.
Dalam Surat Roma, Paulus menunjukkan bahwa manusia pada dasarnya berada di
bawah kuasa dosa dan tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri melalui kekuatan
atau perbuatan manusia. Keselamatan merupakan karya kasih karunia Allah yang
dinyatakan melalui Yesus Kristus. Melalui Kristus, manusia yang berdosa
dibenarkan oleh iman dan menerima kehidupan yang baru. Namun, kehidupan baru di
dalam Kristus bukan berarti bahwa orang percaya langsung terbebas dari semua
penderitaan dan pergumulan. Orang yang sudah dibenarkan tetap hidup di dunia
yang masih berada dalam kondisi yang rusak. Karena itu, kehidupan iman tetap
memiliki pergumulan.
Karya Allah bagi orang pilihan-Nya bukan berarti bahwa orang percaya tidak
akan pernah mengalami penderitaan. Justru firman Tuhan menunjukkan bahwa orang
percaya dapat mengalami kelemahan, keluhan, penderitaan, dan masa-masa ketika
mereka tidak tahu harus berdoa apa. Tetapi di tengah semuanya itu, Allah tidak
pernah berhenti berkarya. Allah berkarya melalui Roh Kudus yang menolong dalam
kelemahan. Allah berkarya melalui Roh Kudus yang berdoa bagi umat-Nya. Allah
berkarya dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan. Allah berkarya
dengan membentuk umat-Nya menjadi serupa dengan Kristus. Allah berkarya dengan
memanggil, membenarkan, dan membawa umat-Nya kepada kemuliaan.
Oleh karena itu ketika kita berada dalam keadaan yang sulit, jangan
terburu-buru menyimpulkan bahwa Allah telah meninggalkan kita. Ketika kita
tidak mengerti apa yang sedang terjadi, jangan berpikir bahwa Allah kehilangan
kendali. Ketika kita tidak mampu berdoa dengan kata-kata, jangan merasa bahwa
doa kita tidak sampai kepada Tuhan. Sebab firman Tuhan hari ini mengingatkan
kita bahwa di balik kelemahan kita ada pertolongan Roh Kudus, di balik
ketidakmengertian kita ada hikmat Allah, di balik segala sesuatu ada karya
Allah, dan di balik seluruh perjalanan hidup orang percaya ada rencana
keselamatan Allah yang sedang digenapi. Sebab mungkin kita belum melihat
jawabannya saat ini. Mungkin kita belum memahami seluruh jalan yang sedang kita
lalui. Tetapi satu hal yang dapat kita pegang dengan iman: Allah tidak pernah
berhenti bekerja bagi orang-orang yang mengasihi Dia dan yang dipanggil sesuai
dengan rencana-Nya.
Penjelasan Nats
Roma 8:26 dimulai dengan perkataan, "Demikian juga Roh membantu kita
dalam kelemahan kita." Kalimat ini tidak dapat dilepaskan dari apa yang
telah dikatakan Paulus dalam ayat-ayat sebelumnya. Kata "demikian
juga" dalam bahasa Yunani adalah ὡσαύτως (hōsautōs),
yang berarti "demikian juga", "dengan cara yang sama", atau
"demikian pula". Kata ini menghubungkan karya Roh Kudus dengan
keadaan orang percaya yang sedang mengalami penderitaan dan menantikan
kemuliaan yang akan datang.
Di ayat-ayat sebelumnya, Paulus telah berbicara tentang penderitaan yang
dialami oleh orang percaya. Dalam Roma 8:18 Paulus berkata bahwa penderitaan
zaman sekarang tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan.
Kemudian Paulus menggambarkan seluruh ciptaan yang sedang mengeluh dan
menantikan pembebasan. Bukan hanya ciptaan yang mengeluh, tetapi orang-orang
percaya juga mengeluh dalam hati sambil menantikan pengangkatan sebagai anak,
yaitu pembebasan tubuh mereka. Dengan demikian, Roma 8:26 berada dalam konteks
kehidupan orang percaya yang sudah diselamatkan tetapi masih menantikan
kepenuhan keselamatan. Kita sudah menjadi anak-anak Allah, tetapi masih
menantikan kemuliaan yang sempurna. Kita sudah memiliki pengharapan, tetapi
masih hidup di tengah dunia yang penuh penderitaan. Kita sudah menerima Roh
Kudus, tetapi masih mengalami kelemahan sebagai manusia yang hidup di dunia
yang belum sepenuhnya dipulihkan. Dalam keadaan seperti itu, Paulus berkata
bahwa Roh membantu kita dalam kelemahan kita.
Kata "kelemahan" dalam bahasa Yunani adalah ἀσθένεια (astheneia).
Kata ini dapat menunjuk kepada kelemahan, ketidakberdayaan, keterbatasan, atau
keadaan ketika seseorang tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk menghadapi
sesuatu. Dalam Roma 8:26, kelemahan ini tidak harus dipahami hanya sebagai
kelemahan fisik. Paulus berbicara tentang kelemahan manusia dalam menghadapi
kehidupan yang penuh penderitaan, keterbatasan dalam memahami kehendak Allah,
dan ketidakmampuan untuk mengetahui dengan sempurna apa yang seharusnya diminta
dalam doa.
Paulus menggunakan kata συναντιλαμβάνεται (sunantilambanetai),
yang diterjemahkan "membantu" atau "menolong". Kata ini
berasal dari gabungan beberapa unsur yang memberikan gambaran tentang seseorang
yang turut mengambil bagian dalam memikul suatu beban. Kata ini mengandung
pengertian "memegang bersama-sama", "turut membantu", atau
"datang untuk menolong seseorang yang sedang memikul beban." Gambaran
ini sangat begitu indah. Bayangkan seseorang sedang membawa beban yang terlalu
berat. Ia berusaha berjalan, tetapi tubuhnya semakin lemah. Kemudian datang
seseorang yang tidak hanya berkata, "Saya melihat kamu sedang
kesulitan," tetapi benar-benar mendekat dan memegang beban itu
bersama-sama.
Demikianlah karya Roh Kudus. Roh Kudus tidak hanya melihat kelemahan
manusia dari jauh. Roh Kudus hadir di tengah kelemahan itu. Roh Kudus tidak
meninggalkan orang percaya untuk berjuang sendirian. Ia datang untuk menolong
dan menopang. Karena itu, ketika seseorang merasa lemah, ia tidak boleh
berpikir bahwa Allah sedang jauh. Justru di tengah kelemahan, Roh Kudus sedang
bekerja. Ketika manusia merasa tidak mampu lagi menanggung beban, Roh Kudus
turut menopang. Ketika manusia tidak mampu memahami apa yang sedang terjadi,
Roh Kudus tetap bekerja.
Paulus kemudian melanjutkan, "sebab kita tidak tahu, bagaimana
sebenarnya harus berdoa." Dalam bahasa Yunani terdapat ungkapan τὸ γὰρ τί προσευξώμεθα καθὸ δεῖ οὐκ οἴδαμεν (to gar ti
proseuxōmetha katho dei ouk oidamen). Secara sederhana, Paulus mengatakan
bahwa kita tidak tahu apa yang harus kita doakan sebagaimana seharusnya. Paulus
tidak berkata bahwa orang percaya tidak tahu bagaimana cara berdoa. Orang
percaya tentu tahu bahwa mereka harus berdoa. Persoalannya adalah mereka tidak
selalu tahu apa yang seharusnya didoakan sesuai dengan kehendak Allah.
Kata οὐκ οἴδαμεν (ouk
oidamen) berarti "kita tidak tahu". Paulus menggunakan kata
"kita". Ini berarti ketidaktahuan dalam doa merupakan pengalaman yang
dapat dialami oleh setiap orang percaya. Ada saat ketika kita berdoa meminta
Tuhan membuka suatu jalan, tetapi kita tidak tahu apakah jalan yang kita
inginkan adalah jalan yang terbaik. Ada saat ketika kita berdoa agar suatu
masalah segera berakhir, tetapi kita tidak tahu apakah Tuhan sedang menggunakan
masalah itu untuk membentuk iman dan kehidupan kita. Di sinilah kita melihat
betapa besarnya pertolongan Roh Kudus. Paulus berkata, "tetapi Roh sendiri
berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak
terucapkan."
Kata yang digunakan untuk "berdoa untuk kita" adalah ὑπερεντυγχάνει (huperentynchanei).
Kata ini mengandung pengertian bersyafaat, memohon bagi seseorang, atau berdoa
demi kepentingan orang lain. Jadi, Roh Kudus tidak hanya menolong orang percaya
untuk berdoa, tetapi Roh Kudus sendiri bertindak sebagai Pribadi yang berdoa
syafaat bagi orang-orang percaya. Di sini terlihat bahwa dalam kelemahan
manusia terdapat karya Roh Kudus yang begitu dalam. Ketika kita tidak tahu
harus berkata apa, Roh Kudus berdoa. Ketika kita tidak mampu mengungkapkan isi
hati, Roh Kudus mengetahui. Ketika kita tidak mampu memahami kehendak Allah,
Roh Kudus berdoa sesuai dengan kehendak Allah.
Paulus menggunakan ungkapan στεναγμοῖς ἀλαλήτοις (stenagmois
alalētois), yang berarti "keluhan-keluhan yang tidak terucapkan"
atau "desahan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata." Ini
menggambarkan kedalaman pergumulan yang tidak dapat dirumuskan dalam bahasa
manusia. Ada saat ketika seseorang hanya mampu menghela napas. Ada saat ketika
seseorang hanya mampu menangis. Ada saat ketika seseorang duduk dalam
keheningan karena tidak tahu harus berkata apa. Namun, keheningan itu tidak
berarti bahwa Allah tidak mendengar. Keluhan yang tidak terucapkan tidak
berarti bahwa pergumulan itu tidak diketahui Tuhan. Roh Kudus mengetahui
kedalaman hati manusia dan membawa pergumulan itu dalam doa yang sesuai dengan
kehendak Allah. Karena itu, ada penghiburan besar bagi orang percaya: kita
tidak pernah sendirian dalam doa. Bahkan ketika kita tidak mampu berdoa dengan
kata-kata, Roh Kudus hadir dan berdoa bagi kita.
Roma 8:27 kemudian berkata bahwa "Allah yang menyelidiki hati nurani,
mengetahui maksud Roh itu." Dalam bahasa Yunani, "menyelidiki"
menggunakan kata ἐραυνῶν (eraunōn),
dari kata ἐρευνάω (ereunaō),
yang berarti menyelidiki secara mendalam, memeriksa, atau mengetahui sampai ke
dalam. Allah adalah Allah yang menyelidiki hati. Manusia hanya dapat melihat
apa yang tampak dari luar, tetapi Allah mengetahui kedalaman hati manusia.
Manusia mungkin tidak mampu menjelaskan apa yang dirasakannya, tetapi Allah
mengetahuinya.
Paulus kemudian mengatakan bahwa Roh berdoa "sesuai dengan kehendak
Allah." Dalam bahasa Yunani terdapat frasa κατὰ θεόν (kata
theon), yang dapat dipahami sebagai "sesuai dengan Allah" atau
"menurut kehendak Allah." Kita sering berdoa berdasarkan apa yang
kita lihat dan apa yang kita pikir baik. Roh berdoa berdasarkan kehendak Allah
yang sempurna. Doa kita mungkin berkata, "Tuhan, berikanlah apa yang saya
inginkan." Tetapi Roh membawa doa itu sesuai dengan apa yang Allah
kehendaki. Sebab Allah tidak hanya mendengar kalimat yang keluar dari mulut
kita. Allah menyelidiki hati, dan Roh menolong kita dalam kelemahan.
Kemudian Paulus membawa sebuah pernyataan yang sangat kuat: "Kita tahu
sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan
kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia." Kata "kita tahu" dalam
bahasa Yunani adalah οἴδαμεν (oidamen).
Paulus tidak berkata, "kita menduga", "kita berharap", atau
"mungkin". Ia berkata, "kita tahu." Ini adalah sebuah
keyakinan iman. Namun, yang kita ketahui bukan selalu bagaimana Allah bekerja.
Kita tidak selalu mengetahui alasan di balik setiap peristiwa. Kita tidak
selalu memahami mengapa suatu doa belum dijawab. Kita tidak selalu mengerti
mengapa Tuhan mengizinkan penderitaan tertentu.
Tetapi kita tahu satu hal bahwa Allah tetap bekerja. Kata "turut
bekerja" berasal dari kata Yunani συνεργεῖ (synergei),
dari kata συνεργέω (synergeō),
yang berarti "bekerja bersama", "bekerja secara bersamaan",
atau "bekerja untuk mencapai suatu tujuan." Disini Paulus tidak
mengatakan bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup manusia itu sendiri
adalah baik. Ia mengatakan bahwa Allah bekerja di dalam segala sesuatu untuk
mencapai tujuan-Nya. Karena itu, Roma 8:28 bukanlah janji bahwa semua keadaan
akan berubah menjadi seperti yang kita inginkan. Akan tetapi ayat ini adalah
janji bahwa dalam segala sesuatu yang terjadi, Allah tidak pernah berhenti
bekerja bagi umat-Nya.
Ayat 29 "Sebab semua orang yang dipilihNya dari semula, mereka juga
ditentukanNya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya." Di
sinilah kita menemukan makna yang lebih dalam dari kata "kebaikan"
dalam Roma 8:28. Kata "kebaikan" tidak boleh hanya dipahami sebagai
kehidupan yang lebih nyaman, keadaan ekonomi yang lebih baik, kesembuhan dari
penyakit, keberhasilan dalam pekerjaan, atau terbebas dari semua masalah. Semua
itu memang dapat menjadi berkat dari Tuhan, tetapi Paulus sedang berbicara
tentang sesuatu yang jauh lebih dalam. Allah sedang mengerjakan kebaikan yang
berhubungan dengan tujuan keselamatan. Tujuan itu adalah agar umat-Nya menjadi
serupa dengan gambaran Anak-Nya.
Dalam bahasa Yunani, kata "menjadi serupa" adalah συμμόρφους (symmorphous),
yang berarti "memiliki bentuk yang serupa", "menjadi sesuai
dengan", atau "menjadi serupa dengan". Sedangkan
"gambaran" adalah εἰκόνος (eikonos),
dari kata εἰκών (eikōn),
yang berarti gambar, rupa, atau gambaran. Jadi, karya Allah dalam kehidupan
orang percaya memiliki tujuan yang sangat jelas: Allah sedang membentuk
kehidupan kita agar semakin serupa dengan Kristus.
Terkadang di dalam doa, kita meminta Tuhan mengubah keadaan, tetapi Tuhan
justru menggunakan keadaan itu untuk mengubah diri kita. Kita meminta Tuhan
mengambil masalah, tetapi Tuhan menggunakan masalah itu untuk membentuk iman. Kita
meminta Tuhan menghilangkan penderitaan, tetapi Tuhan menggunakan penderitaan
itu untuk mengajar kita bergantung kepadaNya. Kita meminta Tuhan segera membuka
jalan, tetapi Tuhan menggunakan masa penantian untuk membentuk kesabaran. Dengan
demikian, karya Allah tidak selalu terlihat dalam perubahan keadaan. Terkadang
karya Allah justru terlihat dalam perubahan diri kita di tengah keadaan yang
tidak berubah. Masalah mungkin masih ada, tetapi kita menjadi lebih kuat dalam
iman. Penderitaan mungkin belum berakhir, tetapi kita menjadi lebih dekat
kepada Tuhan. Doa mungkin belum dijawab seperti yang kita harapkan, tetapi kita
belajar menyerahkan kehendak kita kepada kehendak Allah. Inilah karya Allah
yang sering kali tidak langsung terlihat oleh mata manusia.
Kemudian Paulus mengatakan bahwa Kristus menjadi "yang sulung di
antara banyak saudara." Dalam bahasa Yunani, "yang sulung"
adalah πρωτότοκον (prōtotokon),
dari kata πρωτότοκος (prōtotokos).
Dalam konteks ini, Kristus memiliki tempat yang utama di antara umat yang
diselamatkan. Ia adalah pusat dari seluruh karya keselamatan Allah. Tujuan
keselamatan bukan hanya supaya manusia menerima berkat Tuhan atau sekadar
terhindar dari hukuman. Tujuan keselamatan adalah membawa manusia masuk ke
dalam hubungan dengan Kristus dan membentuk kehidupannya semakin serupa dengan
Kristus.
Kemudian Roma 8:30 memberikan rangkaian karya Allah yang sangat indah: "Mereka
yang ditentukanNya dari semula, mereka itu juga dipanggilNya. Dan mereka yang
dipanggilNya, mereka itu juga dibenarkanNya. Dan mereka yang dibenarkanNya,
mereka itu juga dimuliakanNya." Di sini terdapat empat kata kerja penting
dalam bahasa Yunani: προώρισεν (proōrisen)
– ditentukan sebelumnya. ἐκάλεσεν (ekalesen)
– dipanggil. ἐδικαίωσεν (edikaiōsen)
– dibenarkan. ἐδόξασεν (edoxasen)
– dimuliakan. Rangkaian ini menunjukkan bahwa keselamatan orang percaya berada
dalam karya dan rencana Allah. Karya keselamatan Allah tidak berhenti pada satu
titik. Allah bukan hanya memanggil seseorang untuk percaya, lalu membiarkannya
berjalan sendirian. Allah terus bekerja dalam kehidupan orang tersebut sampai
kepada tujuan akhirnya.
Kata προώρισεν (proōrisen)
berkaitan dengan penetapan atau tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Kata
ini menunjukkan bahwa keselamatan berada dalam rencana Allah. Kemudian kata ἐκάλεσεν (ekalesen)
menunjukkan panggilan Allah kepada orang-orang yang menjadi milik-Nya. Kata ἐδικαίωσεν (edikaiōsen)
menunjuk kepada tindakan Allah membenarkan orang berdosa melalui iman kepada
Kristus. Dan akhirnya ἐδόξασεν (edoxasen)
berarti "memuliakan". Paulus menggunakan bentuk lampau untuk kata "dimuliakan".
Padahal, jika dilihat dari pengalaman manusia, kemuliaan itu masih merupakan
sesuatu yang akan datang. Namun Paulus berbicara seolah-olah kemuliaan itu
sudah terjadi. Hal ini menunjukkan kepastian karya dan rencana Allah.
Inilah penghiburan yang diberikan Roma 8:26–30: ketika kita tidak mampu
memegang kehidupan kita sendiri, Roh Kudus menolong kita; ketika kita tidak
memahami apa yang sedang terjadi, Allah tetap bekerja; dan ketika kita tidak
mengetahui bagaimana perjalanan ini akan berakhir, kita dapat percaya bahwa Allah
sedang membawa orang-orang yang dikasihi-Nya menuju tujuan keselamatan yang
telah ditetapkan-Nya. Karya Allah bagi orang pilihanNya bukanlah karya yang
berhenti di tengah jalan. Allah bekerja di dalam kelemahan, bekerja melalui
penderitaan, bekerja di tengah penantian, dan bekerja dalam segala sesuatu
untuk mencapai tujuanNya. Pada akhirnya, semua itu diarahkan kepada satu tujuan
yang mulia: supaya kita menjadi serupa dengan Kristus, AnakNya, dan mengambil
bagian dalam kemuliaan yang telah disediakanNya.
Refleksi
Firman Tuhan mengajak kita untuk melihat kehidupan dari sudut pandang karya
Allah. Sering kali kita menilai kasih Tuhan berdasarkan keadaan hidup yang dialami.
Ketika semuanya berjalan baik, kita mudah berkata bahwa Tuhan baik, tetapi
ketika masalah datang, kita mulai bertanya apakah Tuhan masih menyertai. Roma
8:26–30 mengingatkan bahwa kebaikan Allah tidak bergantung pada keadaan. Allah
tetap baik ketika kita sehat maupun sakit, ketika doa dijawab maupun ketika
kita masih menunggu. Ketika kita lemah dan tidak tahu bagaimana harus berdoa,
Roh menolong dan berdoa bagi kita. Karena itu, jangan menjauh dari Tuhan ketika
sedang lemah. Datanglah kepadaNya dengan apa adanya, bahkan ketika yang mampu
kita lakukan hanyalah menangis. Ketika kita tidak memahami keadaan hidup, kita
tetap dipanggil untuk percaya bahwa Allah sedang bekerja. Kita tidak selalu
mengetahui mengapa penderitaan terjadi atau mengapa doa belum dijawab, tetapi
iman berarti tetap percaya kepada Allah meskipun belum memahami apa yang sedang
Dia kerjakan.
Roma 8:28–29 mengingatkan bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu
untuk mendatangkan kebaikan, dan kebaikan itu terutama adalah membentuk kita
menjadi semakin serupa dengan Kristus. Karena itu, jangan hanya meminta Tuhan
mengubah keadaan, tetapi izinkan Tuhan mengubah hati dan kehidupan kita melalui
keadaan yang sedang kita jalani. Roma 8:30 juga mengingatkan bahwa hidup orang
percaya berada dalam rencana Allah: Ia memanggil, membenarkan, dan membawa umatNya
menuju kemuliaan. Maka, jangan menyerah ketika mengalami penderitaan, jangan
kehilangan pengharapan ketika doa belum dijawab, dan jangan menganggap Allah
telah meninggalkan kita hanya karena keadaan belum berubah. Karya Allah belum
selesai. Mungkin saat ini kita sedang berada di tengah proses yang belum kita
pahami, tetapi Allah mengetahui tujuan akhirnya. Ketika kita lemah, Roh Kudus
menolong; ketika kita tidak mengerti, Allah tetap bekerja; dan ketika kita
berada dalam proses, Allah sedang membentuk kita menjadi serupa dengan Kristus.
Penutup
Roma 8:26–30 mengarahkan kita untuk memandang kehidupan dengan pengharapan.
Kita mungkin tidak memahami semua yang terjadi, tetapi kita dapat mempercayakan
hidup kepada Allah yang mengetahui awal dan akhir perjalanan kita. Roh Kudus
menolong dalam kelemahan, dan Allah setia menggenapi rencanaNya bagi umatNya.
Karena itu, tetaplah teguh dalam iman dan jangan biarkan pergumulan hari ini
merampas pengharapan akan hari esok. Apa pun yang sedang kita hadapi, kita
percaya bahwa hidup kita berada dalam tangan Allah dan seluruh karyaNya sedang
membawa kita kepada tujuan keselamatan yang sempurna, yaitu kemuliaan bersama
Kristus. Allah tidak pernah meninggalkan pekerjaan tanganNya. Ia akan menuntun
umatNya sampai pada tujuanNya. Amin. (SRDP)
🤝 Dukung Pelayanan Firman Tuhan
Apabila khotbah, renungan, dan artikel di website ini menjadi berkat, Anda dapat ikut mendukung pelayanan ini melalui doa maupun persembahan kasih.
❤️ Dukung Pelayanan