Khotbah Partangiangan (Minggu VIII Set. Trinitatis) - Karya Allah bagi Orang Pilihan-Nya (Keluaran 19:1-6)
Pendahuluan
Banyak orang memahami pemilihan
Allah hanya sebagai sebuah hak istimewa. Menjadi umat pilihan sering dianggap
identik dengan menerima berkat, perlindungan, dan berbagai kemudahan dalam
hidup. Akibatnya, ketika kesulitan datang, ketika doa belum terjawab, atau
ketika jalan hidup terasa berat, muncul pertanyaan dalam hati: "Apakah
Tuhan masih menyertai saya?" atau "Mengapa orang yang mengikut Tuhan
masih harus mengalami penderitaan?". Alkitab menunjukkan bahwa orang
pilihan Allah bukanlah orang yang bebas dari pergumulan, melainkan orang yang
mengalami karya Allah secara khusus di tengah pergumulan itu. Pemilihan Allah
bukan berarti tidak ada pergumulan, tetapi Allah sendiri hadir dan berkarya di
dalam pergumulan tersebut. Pemilihan Allah tidak hanya berbicara tentang hak
istimewa, tetapi juga tentang tujuan dan panggilan hidup.
Konteks Keluaran 19 sangat
penting untuk dipahami. Pasal-pasal sebelumnya menceritakan bagaimana Allah
bertindak secara luar biasa demi menyelamatkan bangsa Israel dari perbudakan
Mesir. Selama ratusan tahun mereka hidup sebagai budak yang tertindas di bawah
kekuasaan Firaun. Mereka tidak memiliki kekuatan politik, militer, maupun
ekonomi untuk membebaskan diri mereka sendiri. Namun Allah mendengar seruan
mereka dan mengingat perjanjianNya dengan Abraham, Ishak, dan Yakub (Kel.
2:24).
Melalui Musa, Allah kemudian
menyatakan kuasaNya dengan mendatangkan sepuluh tulah ke atas Mesir.
Puncaknya, Allah membebaskan Israel dari tangan Firaun dan membawa mereka
menyeberangi Laut Teberau. Setelah keluar dari Mesir, perjalanan mereka menuju
Tanah Perjanjian tidak langsung berjalan mulus. Mereka menghadapi berbagai
kesulitan di padang gurun. Di Mara mereka menemukan air yang pahit (Kel.
15:22-25). Di padang gurun Sin mereka mengeluh karena kelaparan (Kel. 16:1-3).
Di Rafidim mereka kehausan dan bersungut-sungut kepada Musa (Kel. 17:1-7).
Bahkan mereka harus menghadapi serangan Amalek (Kel. 17:8-16). Berulang kali
bangsa Israel menunjukkan kelemahan iman mereka, tetapi berulang kali pula
Allah menunjukkan kesetiaan-Nya melalui pemeliharaan dan pertolongan-Nya.
Keluaran 19 menjadi sebuah titik
balik yang sangat penting dalam perjalanan Israel. Setelah tiga bulan
meninggalkan Mesir, mereka tiba di Gunung Sinai, gunung yang sama tempat Allah
pernah menampakkan diri kepada Musa melalui semak yang menyala tetapi tidak
terbakar (Kel. 3:1-12). Apa yang terjadi di Sinai bukan sekadar persinggahan
dalam perjalanan menuju Kanaan. Sinai adalah tempat Allah membentuk identitas
umatNya. Jika di Mesir mereka mengalami pembebasan, maka di Sinai mereka akan
belajar tentang panggilan dan tujuan hidup sebagai umat Allah.
Sebelum Allah memberikan Sepuluh
Hukum Taurat dalam pasal berikutnya, Allah terlebih dahulu mengingatkan Israel
tentang apa yang telah dilakukanNya bagi mereka. Allah ingin mereka memahami
bahwa ketaatan kepada-Nya harus lahir dari pengalaman akan kasih karunia-Nya.
Perintah Allah tidak didasarkan pada paksaan, melainkan pada hubungan yang
telah dibangun melalui karya penyelamatanNya. Dalam Keluaran 19:1-6 kita
melihat bahwa Allah bukan hanya membebaskan orang pilihanNya dari perbudakan,
tetapi juga memelihara mereka, membawa mereka mendekat kepadaNya, dan
memberikan identitas serta panggilan yang baru. Karya Allah bagi orang pilihanNya
tidak berhenti pada keselamatan, melainkan berlanjut dalam pembentukan hidup
agar mereka menjadi umat yang memuliakan namaNya di tengah dunia. Allah yang
memilih Allah juga yang memelihara, membentuk, dan mengutus umat pilihanNya
untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya.
Penjelasan Nats
Keluaran 19 merupakan salah satu
pasal paling penting dalam kitab Keluaran. Pasal ini menjadi jembatan antara
karya pembebasan Allah (Kel. 1–18) dan pemberian hukum Taurat (Kel. 20–24).
Sebelum Allah menyampaikan Sepuluh Hukum, Ia terlebih dahulu mengingatkan
bangsa Israel tentang siapa Dia dan apa yang telah Ia kerjakan bagi mereka. Hal
ini menunjukkan bahwa ketaatan kepada Allah selalu didasarkan pada kasih
karunia yang lebih dahulu dinyatakan. Allah tidak berkata, "Taatlah
dahulu, baru Aku menyelamatkanmu," melainkan, "Aku telah
menyelamatkanmu, karena itu hiduplah sebagai umat-Ku."
Ayat pertama diawali dengan
penjelasan waktu, בַּחֹדֶשׁ הַשְּׁלִישִׁי (baḥōdeš haššelîšî) yang berarti "pada bulan yang
ketiga." Keterangan waktu ini bukan sekadar informasi kronologis, tetapi
menunjukkan bahwa selama tiga bulan perjalanan dari Mesir menuju Sinai, Allah
terus menyatakan pemeliharaan-Nya. Mereka telah melewati Laut Teberau, menerima
manna dari langit, memperoleh air dari gunung batu, dan mengalami kemenangan
atas Amalek. Seluruh perjalanan itu menjadi bukti bahwa Allah tidak hanya
sanggup membebaskan umat-Nya, tetapi juga sanggup memelihara mereka.
Selanjutnya dikatakan bahwa
bangsa Israel tiba di מִדְבַּר סִינָי (midbar
sînai), "padang gurun Sinai." Kata מִדְבַּר (midbar)
berarti padang gurun, sebuah tempat yang identik dengan kesunyian, kekurangan,
dan ketidakberdayaan manusia. Namun di dalam Alkitab, padang gurun justru
menjadi tempat Allah mendidik umatNya. Di Mesir mereka belajar tentang kuasa
Allah yang membebaskan, sedangkan di padang gurun mereka belajar bergantung
sepenuhnya kepadaNya. Tuhan membawa mereka ke tempat yang tidak memungkinkan
mereka mengandalkan kekuatan sendiri supaya mereka belajar bahwa hidup
bergantung kepada Allah. Demikian pula dalam kehidupan orang percaya, sering
kali Tuhan memakai "padang gurun kehidupan" masa-masa sulit,
kegagalan, atau pergumulan untuk membentuk iman dan ketergantungan kepadaNya.
Pada ayat ketiga dikatakan bahwa וּמֹשֶׁה עָלָה אֶל־הָאֱלֹהִים (ûmōšeh 'ālāh el-hā'ĕlōhîm), "Musa naik menghadap Allah." Kata kerja עָלָה ('alah) berarti "naik", "mendaki", atau "menghampiri." Dalam Perjanjian Lama, kata ini sering dipakai ketika seseorang datang mendekati hadirat Allah. Musa bertindak sebagai perantara antara Allah dengan bangsa Israel. Hal ini menjadi gambaran tentang Yesus Kristus sebagai Pengantara yang sempurna antara Allah dan manusia (1Tim. 2:5). Menariknya, Allah menyebut umat itu sebagai בֵּית יַעֲקֹב (bêt Ya'aqob), "keturunan Yakub", dan בְּנֵי יִשְׂרָאֵל (benê Yiśrā'ēl), "orang Israel." Nama Yakub mengingatkan asal-usul mereka yang penuh kelemahan dan kegagalan, sedangkan nama Israel mengingatkan identitas baru yang diberikan Allah. Dengan demikian, Allah sedang mengingatkan bahwa mereka adalah umat yang telah diubah oleh kasih karuniaNya.
Sebelum memberikan tuntutan apa
pun, Allah lebih dahulu mengingatkan karya penyelamatanNya. Dalam ayat keempat
Tuhan berkata, אַתֶּם רְאִיתֶם (attem re'item), "kamu sendiri telah melihat." Kata רָאָה (ra'ah)
bukan sekadar melihat dengan mata, tetapi menyaksikan dan mengalami sendiri
suatu peristiwa. Allah tidak meminta mereka percaya kepada sesuatu yang belum
pernah mereka alami. Mereka telah melihat sendiri bagaimana Allah menghukum
Mesir melalui sepuluh tulah, membelah Laut Teberau, dan mengalahkan musuh-musuh
mereka. Pengalaman akan karya Allah itulah yang menjadi dasar hubungan mereka
dengan Tuhan.
Selanjutnya Allah berkata, וָאֶשָּׂא אֶתְכֶם (wa'essa etkem), "Aku telah membawa kamu." Kata נָשָׂא (nāśā')
berarti mengangkat, menopang, memikul, atau membawa. Kata ini menggambarkan
tindakan Allah yang aktif menopang umat-Nya sepanjang perjalanan. Mereka tidak
berjalan sendirian; Allah sendirilah yang memikul mereka. Gambaran ini
dipertegas melalui ungkapan עַל־כַּנְפֵי נְשָׁרִים ('al-kanpê nešārîm), "di atas sayap rajawali." Kata כָּנָף (kanāph)
berarti sayap, sedangkan נֶשֶׁר (nešer)
berarti rajawali atau elang besar. Dalam budaya Timur Dekat kuno, rajawali
melambangkan kekuatan, perlindungan, dan kemampuan membawa anak-anaknya terbang
dengan aman. Allah memakai gambaran ini untuk menunjukkan kelembutan sekaligus
kuasaNya. Israel dapat keluar dari Mesir bukan karena kekuatan mereka,
melainkan karena Allah sendiri yang menopang mereka.
Namun tujuan Allah bukan hanya
membebaskan mereka dari Mesir. Tuhan berkata, וָאָבִא אֶתְכֶם אֵלָי (wa'ābi etkem 'ēlay), "Aku membawa kamu kepadaKu."
Kata kerja בּוֹא (bô')
berarti membawa masuk atau membawa mendekat. Inilah tujuan utama keselamatan.
Allah tidak hanya ingin mengeluarkan Israel dari perbudakan, tetapi membawa
mereka masuk ke dalam persekutuan dengan diri-Nya. Keselamatan selalu memiliki
dimensi relasional. Allah menyelamatkan manusia supaya manusia mengenal,
mengasihi, dan hidup bersama-Nya. Demikian pula karya Kristus di kayu salib
bukan hanya membebaskan manusia dari hukuman dosa, tetapi juga memperdamaikan
manusia dengan Allah.
Barulah setelah mengingatkan
kasih karunia-Nya, Allah menyampaikan syarat perjanjian pada ayat kelima. Teks
Ibraninya berbunyi אִם־שָׁמוֹעַ תִּשְׁמְעוּ בְּקֹלִי ('im-shāmoa'
tishme'û beqōlî), yang secara harfiah berarti, "Jika sungguh-sungguh
mendengar suaraKu." Frasa שָׁמוֹעַ תִּשְׁמְעוּ (shāmoa' tishme'û) merupakan bentuk infinitive absolute yang
diikuti kata kerja imperfek, sebuah bentuk gramatikal Ibrani yang berfungsi
memberi penekanan. Artinya bukan sekadar "mendengar", tetapi
"benar-benar mendengar", "mendengar dengan
sungguh-sungguh", atau "taat sepenuhnya." Mendengar (שָׁמַע – shāma')
hampir selalu berarti mendengar yang diwujudkan dalam ketaatan. Firman Allah
tidak cukup didengar, tetapi harus dilakukan.
Allah juga berkata, וּשְׁמַרְתֶּם אֶת־בְּרִיתִי (ûshemartem
et-berîtî), "dan memegang perjanjianKu." Kata שָׁמַר (shāmar)
berarti menjaga, memelihara, atau menaati dengan setia. Sedangkan בְּרִית (berît)
berarti perjanjian. Perjanjian Sinai bukanlah kontrak antara dua pihak yang
setara, melainkan ikatan kasih yang diprakarsai Allah sendiri. Karena itu,
ketaatan Israel bukanlah syarat agar Allah mengasihi mereka, tetapi respons
terhadap kasih yang telah lebih dahulu mereka terima. Sebagai akibat dari
ketaatan itu, Allah berkata, וִהְיִיתֶם לִי סְגֻלָּה (wihyîtem lî segullāh), "kamu akan menjadi harta kesayanganKu."
Kata סְגֻלָּה (segullāh)
menunjuk pada harta pribadi seorang raja yang paling berharga dan dijaga secara
khusus. Walaupun seluruh kerajaan adalah milik raja, ada harta tertentu yang
menjadi milik pribadinya dan memiliki nilai istimewa. Demikianlah Allah
memandang Israel. Mereka menjadi umat yang dikasihi bukan karena jumlah,
kekuatan, atau kebaikan mereka, tetapi karena pilihan dan kasih karunia Allah.
Pernyataan berikutnya, כִּי־לִי כָּל־הָאָרֶץ (kî-lî kol-hā'ārets), "sebab Akulah yang empunya seluruh
bumi," menegaskan bahwa Allah adalah Tuhan atas seluruh bangsa. Pemilihan
Israel bukan berarti Allah tidak mengasihi bangsa lain, tetapi melalui Israel
Allah hendak menyatakan diri-Nya kepada seluruh dunia.
Puncaknya terdapat pada ayat
keenam. Allah berkata, וְאַתֶּם תִּהְיוּ־לִי מַמְלֶכֶת כֹּהֲנִים וְגוֹי קָדוֹשׁ (we'attem tihyû-lî mamlekhet kohănîm wegôy qādôš), "Kamu
akan menjadi bagiKu kerajaan imam dan bangsa yang kudus." Kata מַמְלֶכֶת (mamleket)
berarti kerajaan atau pemerintahan, sedangkan כֹּהֲנִים (kohănîm) berarti
imam-imam. Imam adalah perantara antara Allah dan manusia. Dengan demikian,
seluruh bangsa Israel dipanggil menjadi perantara yang memperkenalkan Allah
kepada bangsa-bangsa lain melalui kehidupan mereka. Selanjutnya mereka disebut וְגוֹי קָדוֹשׁ (gôy qādôš), "bangsa yang kudus." Kata קָדוֹשׁ (qādôš)
berarti dipisahkan atau dikhususkan bagi Allah. Kekudusan bukan pertama-tama
berbicara tentang kesempurnaan moral, tetapi tentang identitas sebagai milik
Allah yang harus tercermin dalam cara hidup yang berbeda dari bangsa-bangsa
lain.
Karya Allah bagi orang pilihanNya
selalu dimulai dengan kasih karunia. Allah lebih dahulu membebaskan,
memelihara, mengangkat, dan membawa Israel kepada diriNya. Setelah itu barulah
Allah memanggil mereka untuk hidup dalam ketaatan dan menjalankan identitas
sebagai harta kesayanganNya, kerajaan imam, dan bangsa yang kudus. Pola ini
juga digenapi dalam Perjanjian Baru. Melalui Yesus Kristus, orang percaya
terlebih dahulu diselamatkan oleh kasih karunia, kemudian dipanggil untuk hidup
kudus dan menjadi "imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan
Allah sendiri" (1Ptr. 2:9). Dengan demikian, identitas sebagai umat
pilihan bukan hanya merupakan sebuah hak istimewa, tetapi juga sebuah panggilan
untuk memancarkan kemuliaan Allah di tengah dunia.
Refleksi
Firman Tuhan mengajak kita untuk
melihat kembali perjalanan hidup kita dari sudut pandang Allah. Bangsa Israel
sering kali hanya melihat padang gurun yang gersang, kekurangan makanan,
kehausan, dan berbagai ancaman yang mereka hadapi. Namun Allah mengajak mereka
mengingat apa yang telah Ia lakukan: membebaskan mereka dari Mesir, menopang
mereka "di atas sayap rajawali," dan membawa mereka kepada-Nya.
Demikian pula dalam kehidupan kita. Sering kali kita lebih mudah mengingat
masalah yang sedang dihadapi daripada mengingat kesetiaan Tuhan yang telah
menyertai perjalanan hidup kita. Padahal, jika kita mau menoleh ke belakang,
kita akan menemukan begitu banyak bukti bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan
kita. Ada doa yang telah dijawab, ada jalan yang telah dibukakan, ada kekuatan
yang diberikan ketika kita merasa tidak sanggup lagi. Semua itu merupakan karya
Allah yang terus berlangsung dalam hidup orang-orang yang percaya kepada-Nya.
Tujuan keselamatan bukan sekadar
supaya kita terlepas dari masalah atau menerima berbagai berkat jasmani. Allah
berkata kepada Israel, "Aku membawa kamu kepadaKu." Ini menunjukkan
bahwa tujuan tertinggi dari karya keselamatan adalah membangun hubungan yang
akrab dengan Allah. Sebab itu, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah
selama ini kita lebih mencari tangan Tuhan yang memberi berkat daripada mencari
hadirat-Nya? Jangan sampai kita datang kepada Tuhan hanya ketika membutuhkan
pertolongan, tetapi menjauh ketika keadaan hidup sudah membaik. Orang yang
telah mengalami karya keselamatan Allah akan terus rindu hidup dalam
persekutuan dengan-Nya melalui doa, firman, dan ketaatan setiap hari.
Menjadi umat pilihan Allah bukan
hanya berbicara tentang identitas, tetapi juga tentang tanggung jawab. Allah
memanggil Israel menjadi "harta kesayangan," "kerajaan
imam," dan "bangsa yang kudus." Panggilan yang sama kini diberikan
kepada gereja melalui Yesus Kristus (1Ptr. 2:9). Artinya, kehidupan orang
percaya harus menjadi cerminan karakter Allah di tengah dunia. Di tengah
masyarakat yang dipenuhi ketidakjujuran, kebencian, penyalahgunaan kuasa, dan
kompromi terhadap dosa, kita dipanggil untuk hidup dalam kebenaran, kasih,
kekudusan, serta menjadi pembawa damai. Dunia
mungkin tidak membaca Alkitab, tetapi dunia membaca kehidupan orang percaya.
Karena itu, melalui perkataan, sikap, keputusan, pekerjaan, dan pelayanan kita,
biarlah orang lain dapat melihat karya Allah yang nyata sehingga nama Tuhan
dimuliakan.
Penutup
Keluaran 19:1–6 menunjukkan bahwa
karya Allah bagi orang pilihan-Nya selalu berlangsung dalam tiga tahap. Allah
memimpin mereka dengan pemeliharaanNya, Allah menyelamatkan mereka dengan kasih
karuniaNya, lalu memberi mereka identitas dan panggilan sebagai umat milikNya.
Semua itu berawal dari inisiatif Allah, bukan dari kehebatan manusia. Di dalam
Yesus Kristus, karya yang sama terus dinyatakan kepada gereja. Kristus telah
menebus kita dari perbudakan dosa, membawa kita kepada Allah, dan menjadikan
kita "bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus" (1
Petrus 2:9). Karena itu, marilah kita hidup dengan penuh syukur atas karya
keselamatan Allah, tetap setia menaati firman-Nya, dan menjalankan panggilan
kita sebagai saksi-Nya di tengah dunia. Dengan demikian, melalui hidup kita,
banyak orang dapat melihat kemuliaan Allah dan mengenal Dia sebagai Tuhan dan
Juruselamat. (SRDP)
🤝 Dukung Pelayanan Firman Tuhan
Apabila khotbah, renungan, dan artikel di website ini menjadi berkat, Anda dapat ikut mendukung pelayanan ini melalui doa maupun persembahan kasih.
❤️ Dukung Pelayanan