Khotbah Partangiangan (Minggu IX Set. Trinitatis) - Semua Janji Tuhan Dipenuhi (2 Korintus 1 : 15 - 24)

Pendahuluan

Janji adalah sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan manusia. Setiap orang pasti pernah berjanji kepada orang lain. Dalam keluarga, seseorang berjanji untuk menjaga dan mengasihi. Dalam persahabatan, seseorang berjanji untuk tetap setia. Dalam pekerjaan, orang berjanji untuk menyelesaikan tanggung jawabnya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita hidup dengan banyak janji. Namun, kita juga mendapati bahwa tidak semua janji manusia dapat dipegang sepenuhnya. Ada orang yang berjanji dengan sungguh-sungguh, tetapi kemudian tidak mampu menepatinya. Ada yang mengatakan "ya", tetapi karena keadaan berubah, akhirnya berkata "tidak". Ada juga yang memberikan janji dengan mudah, tetapi tidak memiliki kesungguhan untuk melaksanakannya. Akibatnya, janji yang tidak ditepati dapat melahirkan kekecewaan, kehilangan kepercayaan, bahkan merusak hubungan.

Karena pengalaman seperti itu, tidak jarang seseorang membawa pengalaman tentang ketidaksetiaan manusia ke dalam hubungan dengan Tuhan. Ketika doa belum dijawab, kita mulai bertanya apakah Tuhan masih mendengar. Ketika hidup mengalami penderitaan, kita bertanya apakah Tuhan masih menyertai. Ketika rencana kita tidak berjalan sesuai harapan, kita mulai berpikir bahwa mungkin Tuhan telah melupakan kita. Padahal, sering kali masalahnya bukan karena Tuhan tidak setia, melainkan karena kita mengukur kesetiaan Tuhan berdasarkan keadaan dan keinginan kita sendiri.

Dalam 2 Korintus 1:15–24 membawa kepada sebuah penghiburan yang sangat penting: manusia dapat berubah, rencana manusia dapat berubah, tetapi kesetiaan Allah tidak akan pernah berubah. Paulus membawa jemaat Korintus untuk melihat perbedaan yang sangat jelas antara keterbatasan manusia dan kesetiaan Allah. Rencana Paulus memang pernah berubah, tetapi perubahan rencana Paulus tidak berarti bahwa Allah telah berubah. Apa yang tidak dapat dilakukan manusia dengan sempurna, Allah melakukannya dengan sempurna. Apa yang tidak dapat dijamin oleh manusia, Allah menjaminnya melalui kesetiaan-Nya.

Surat 2 Korintus ditulis dalam konteks hubungan Paulus dengan jemaat Korintus yang tidak selalu berjalan dengan mudah. Paulus adalah rasul yang memberitakan Injil dan membangun jemaat di Korintus, tetapi kemudian muncul berbagai persoalan dalam kehidupan jemaat. Ada persoalan moral, persoalan mengenai kehidupan iman, dan juga persoalan yang berkaitan dengan penerimaan jemaat terhadap kerasulan Paulus. Sebagian orang bahkan mempertanyakan kewibawaan dan integritas Paulus sebagai rasul. Hubungan Paulus dengan jemaat Korintus menjadi semakin rumit ketika Paulus mengubah rencana kunjungannya. Sebelumnya Paulus memiliki rencana untuk mengunjungi mereka. Ia bermaksud datang ke Korintus, kemudian melanjutkan perjalanan ke Makedonia, setelah itu kembali lagi ke Korintus, dan akhirnya melanjutkan perjalanan ke Yudea. Namun, rencana tersebut tidak terlaksana sebagaimana yang direncanakan.

Perubahan rencana ini kemudian menimbulkan pertanyaan di tengah jemaat. Jika Paulus sudah berkata akan datang tetapi kemudian tidak datang, apakah Paulus adalah orang yang tidak konsisten? Apakah ia membuat rencana dengan sembarangan? Apakah perkataan Paulus dapat dipercaya? Mungkin ada orang-orang yang melihat perubahan rencana tersebut lalu berkata bahwa Paulus adalah orang yang mudah mengatakan "ya", tetapi kemudian berubah menjadi "tidak".

Namun, Paulus tidak membela dirinya dengan mengatakan bahwa ia benar dan orang lain salah. Akan tetapi Paulus justru menggunakan persoalan tersebut untuk membawa jemaat kepada sebuah kebenaran yang jauh lebih besar, yaitu kesetiaan Allah. Paulus tidak menjadikan dirinya sebagai pusat pembelaan. Ia menunjuk kepada Allah yang setia. Seolah-olah Paulus berkata: "Jangan mengukur kesetiaan Allah berdasarkan perubahan rencana manusia. Jangan menyamakan perubahan rencana perjalanan dengan perubahan janji Allah." Rencana Paulus dapat berubah karena ia adalah manusia. Paulus tidak mengetahui seluruh keadaan yang akan terjadi. Ia memiliki keterbatasan, Tetapi Allah tidak demikian. Allah mengetahui awal dan akhir. Allah mengetahui seluruh perjalanan hidup manusia. Karena itu, ketika rencana manusia berubah, kita tidak boleh menyimpulkan bahwa janji Allah juga berubah.

Semua Janji Tuhan Dipenuhi bukan berarti bahwa Tuhan akan memberikan semua yang kita inginkan. Ini berbicara tentang bagaimana keyakinan bahwa setiap janji yang sungguh-sungguh diberikan Allah pasti digenapi sesuai dengan kehendak, waktu, dan rencana-Nya. Tuhan mungkin tidak menjawab doa kita dengan cara yang kita bayangkan, tetapi Tuhan tidak pernah gagal menjadi Allah yang setia. Ada kalanya kita meminta Tuhan mengubah keadaan, tetapi Tuhan justru memberikan kekuatan untuk menghadapi keadaan itu. Ada kalanya kita meminta jalan yang mudah, tetapi Tuhan memberikan penyertaan untuk melewati jalan yang sulit. Ada kalanya kita ingin Tuhan segera mengakhiri pergumulan, tetapi Tuhan memakai pergumulan itu untuk membentuk iman kita. Kita mungkin tidak selalu memahami cara Tuhan bekerja dalam kehidupan kita, tetapi kita dapat mempercayai bahwa Tuhan tidak pernah mengingkari janjiNya.

Paulus menegaskan bahwa Allah telah meneguhkan orang percaya di dalam Kristus, mengurapi mereka, memeteraikan mereka sebagai milik-Nya, dan memberikan Roh Kudus di dalam hati sebagai jaminan. Artinya, kesetiaan Allah bukan hanya sesuatu yang kita dengar melalui pemberitaan firman, tetapi sesuatu yang sedang dikerjakan Allah dalam kehidupan kita. Kehadiran Roh Kudus menjadi tanda bahwa kita adalah milik Allah dan bahwa pekerjaan keselamatan yang telah dimulai-Nya akan terus dikerjakan sampai kepada penggenapannya. Inilah dasar pengharapan orang percaya: bukan  karena pada sempurnanya rencana kita, bukan pada kepastian keadaan hidup kita, tetapi pada Kristus yang adalah "Ya" bagi semua janji Allah. Menjalani kehidupan dengan iman yang teguh, dan percaya apa yang telah Tuhan janjikan tidak pernah gagal.

Penjelasan Nast

Paulus memulai bagian ini dengan menjelaskan rencana perjalanannya kepada jemaat Korintus. Dalam ayat 15, ia menyatakan bahwa ia pernah berniat untuk datang terlebih dahulu kepada mereka. Kata Yunani yang dipakai, ἐβουλόμην (eboulomēn) dari βούλομαι (boulomai), menunjukkan sebuah kehendak yang sungguh-sungguh, bukan rencana yang asal-asalan. Jadi Paulus memang benar-benar memiliki maksud untuk mengunjungi jemaat Korintus. Rencananya adalah dari Korintus ia akan pergi ke Makedonia, lalu kembali lagi ke Korintus, dan setelah itu menuju Yudea. Bahkan dalam ayat 16 ia berharap jemaat dapat menolong perjalanannya ke Yudea. Kata “menolong” di sini yang digunakan adalah kata προπέμψαι (propempsai), dari kata προπέμπω (propempō), yang berarti mengantar atau mendukung perjalanan seseorang. Ini menunjukkan bahwa hubungan Paulus dengan jemaat di Korintus bukan hanya satu arah. Ia melayani mereka, tetapi mereka juga diajak terlibat dalam mendukung pelayanan Injil.

Namun rencana itu kemudian berubah, dan di sinilah muncul persoalan. Sebagian orang di Korintus mulai meragukan integritas Paulus. Jika ia sudah berencana datang tetapi tidak jadi, apakah itu berarti ia tidak dapat dipercaya? Apakah ia orang yang mudah berkata “ya” tetapi kemudian menjadi “tidak”? Karena itu Paulus bertanya dalam ayat 17, apakah ia ”bertindak” ἐλαφρίᾳ (elaphria), dari ἐλαφρός (elaphros), yang berarti ringan, sembrono, atau tidak serius. Paulus sedang menolak anggapan bahwa dirinya bertindak sembarangan atau tidak dapat diandalkan. Lalu ia melanjutkan dengan pertanyaan lain: apakah ia membuat rencana menurut keinginannya sendiri sehingga dalam dirinya ada “ya” dan “tidak” sekaligus. Ungkapan Yunani τὸ ναὶ καὶ τὸ οὔ (to nai kai to ou) menggambarkan sikap yang tidak konsisten, perkataan yang tidak teguh.

Tetapi Paulus ingin menegaskan sesuatu yang penting: perubahan rencana manusia tidak sama dengan ketidaksetiaan. Manusia memang terbatas. Kita bisa merencanakan sesuatu hari ini, tetapi besok keadaan bisa berubah. Paulus tidak sedang menyamakan dirinya dengan Allah. Ia tidak mengklaim bahwa dirinya tidak pernah berubah. Ia hanya menegaskan bahwa perubahan rencana manusia tidak boleh disamakan dengan ketidaksetiaan Allah. Karena itu ia berkata dalam ayat 18, “Allah adalah setia” πιστὸς δὲ θεός (pistos de ho Theos). Kata πιστός (pistos) berarti setia, dapat dipercaya, dan tidak berubah. Di sinilah Paulus mengalihkan fokus dari dirinya kepada Allah. Ketika integritasnya dipertanyakan, ia tidak membela diri terlebih dahulu, tetapi menunjuk kepada karakter Allah. Manusia bisa berubah, tetapi Allah tidak. Manusia bisa gagal menepati perkataan, tetapi Allah tidak pernah mengingkari firman-Nya. Inilah dasar iman orang percaya.

Dalam ayat 19 ia menegaskan bahwa Yesus Kristus bukanlah “ya dan tidak”, melainkan di dalam Dia hanya ada “ya”. Ungkapan Yunani οὐκ ἐγένετο ναὶ καὶ οὔ (ouk egeneto nai kai ou) menegaskan bahwa Kristus tidak bersifat tidak konsisten. Tetapi sebaliknya, ἀλλὰ ναὶ ἐν αὐτῷ γέγονεν (alla nai en autō gegonen) berarti di dalam Dia hanya ada “ya”. Paulus sedang mengalihkan dasar kepercayaan jemaat dari manusia kepada Kristus. Paulus bisa berubah rencana, tetapi Kristus tidak berubah. Paulus terbatas, tetapi Kristus adalah Anak Allah. Paulus tidak tahu masa depan, tetapi Kristus memegang masa depan. Karena itu, di dalam Kristus tidak ada ketidakpastian. Di dalam Dia hanya ada kepastian.

Inilah sebabnya ayat 20 menjadi pusat: Kristus adalah “ya” bagi semua janji Allah. Dalam bahasa Yunani, ὅσαι γὰρ ἐπαγγελίαι θεοῦ, ἐν αὐτῷ τὸ ναί (hosai gar epangeliai Theou, en autō to nai). Artinya, semua janji Allah menemukan kepastiannya di dalam Kristus. Ini tidak berarti bahwa Tuhan akan mengabulkan semua keinginan manusia. Janji Allah berbeda dengan keinginan manusia. Allah bekerja sesuai kehendak dan rencana keselamatanNya. Kadang kita meminta jalan keluar, tetapi Tuhan memberi kekuatan untuk bertahan. Kita meminta perubahan keadaan, tetapi Tuhan memberi keteguhan hati. Kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan, tetapi kita tidak pernah kehilangan apa yang Tuhan janjikan.

Tuhan tidak menjanjikan hidup tanpa penderitaan, tetapi Ia menjanjikan penyertaan. Ia tidak menjanjikan hidup tanpa lembah, tetapi Ia menjanjikan kehadiranNya di dalam lembah itu. Ia tidak menjanjikan semua doa dijawab sesuai keinginan kita, tetapi Ia menjanjikan bahwa Ia bekerja untuk kebaikan kita. Karena itu, Kristus tetap menjadi “Ya” bahkan ketika hidup kita terasa seperti “Tidak”. Ketika tidak ada jalan, Kristus adalah jalan. Ketika tidak ada harapan, Kristus adalah harapan. Ketika kita merasa sendirian, Kristus tetap menyertai.

Maka Paulus berkata, oleh Dia kita mengatakan “Amin” untuk memuliakan Allah. Kata ἀμήν (amēn) adalah pernyataan iman, bukan sekadar penutup doa. Kita berkata “Amin” bukan karena semua keadaan sesuai keinginan kita, tetapi karena kita percaya kepada Kristus yang adalah “Ya” bagi janji Allah. “Amin” berarti kita percaya meskipun belum melihat, tetap percaya meskipun belum mengerti, dan tetap berserah meskipun keadaan belum berubah. Dan semua itu dilakukan untuk kemuliaan Allah.

Dalam ayat 21-22, Paulus juga menjelaskan bahwa Allah sendiri yang meneguhkan orang percaya di dalam Kristus. Kata βεβαιῶν (bebaiōn) berarti meneguhkan atau membuat kokoh. Iman kita tidak berdiri di atas kekuatan kita sendiri, tetapi di atas karya Allah. Allah juga mengurapi kita, dari kata χρίσας (chrisas) yang berakar dari kata χρίω (chriō), yang berkaitan dengan Kristus sebagai Yang Diurapi. Ini menunjukkan bahwa Allah bukan hanya memanggil, tetapi juga memperlengkapi. Lalu Allah memeteraikan kita, dari kata σφραγισάμενος (sphragisamenos) akar kata dari σφραγίζω (sphragizō), yang berarti memberi tanda kepemilikan. Kita adalah milik Allah. Dan Allah memberikan Roh Kudus sebagai ἀρραβών (arrabōn), yaitu jaminan atau uang muka dari keselamatan yang akan digenapi sepenuhnya. Roh Kudus menjadi bukti bahwa Allah sedang membawa kita menuju penggenapan janji-Nya. Karena itu, meskipun kita masih dalam proses, Allah tidak berhenti bekerja. Kita mungkin belum melihat semuanya, tetapi kita sudah memiliki jaminannya. Kita mungkin belum sampai tujuan, tetapi kita tahu siapa yang memimpin perjalanan kita.

Dalam ay. 23, Paulus menjelaskan bahwa ia tidak datang ke Korintus bukan karena tidak peduli, tetapi karena ia ingin menyayangkan mereka. Kata φείδομαι (pheidomai) berarti menahan diri agar tidak bertindak terlalu keras. Ini menunjukkan hati seorang gembala. Ia juga menegaskan bahwa ia tidak ingin menguasai iman jemaat. Kata κυριεύω (kurieuō) berarti memerintah atau mendominasi. Sebaliknya, ia menyebut dirinya συνεργός (synergos), rekan sekerja bagi sukacita jemaat. Pelayanan bukan untuk menguasai, tetapi untuk membangun. Karena Kristus adalah pusat iman, maka pelayanan harus membawa orang kepada Kristus, bukan kepada manusia. Ketika manusia mengecewakan, iman kita tidak goyah. Ketika rencana berubah, pengharapan kita tidak hilang. Sebab dasar iman kita adalah Kristus yang tetap menjadi “Ya” bagi semua janji Allah.

Manusia bisa berubah, tetapi Allah tidak berubah. Keadaan bisa berubah, tetapi Kristus tetap sama. Manusia bisa mengecewakan, tetapi Allah tetap setia. Dan karena Kristus adalah “Ya” bagi semua janji Allah, kita dapat hidup dengan keyakinan bahwa apa yang Tuhan janjikan tidak akan pernah gagal.

Refleksi

Sering kali kita mengukur kesetiaan Tuhan berdasarkan keadaan yang sedang kita alami. Ketika hidup berjalan baik, doa dijawab, pekerjaan lancar, keluarga dalam keadaan baik, dan rencana berjalan sesuai harapan, kita mudah berkata bahwa Tuhan itu setia. Tetapi ketika keadaan berubah, ketika doa belum terjawab, ketika pergumulan semakin berat, atau ketika rencana yang kita susun gagal, kita mulai bertanya: "Di mana Tuhan?" Padahal kesetiaan Tuhan tidak pernah ditentukan oleh keadaan kita. Tuhan tetap setia, bukan hanya ketika hidup berjalan sesuai keinginan kita, tetapi juga ketika kita berada dalam keadaan yang tidak kita mengerti.

Paulus mengingatkan bahwa rencana manusia dapat berubah, tetapi janji Allah tidak pernah berubah. Kita boleh merencanakan masa depan, berdoa, dan berharap, tetapi rencana kita bukan jaminan hidup kita. Pintu dapat tertutup, jalan dapat berbelok, dan harapan dapat tidak terwujud, namun itu tidak berarti Tuhan meninggalkan kita. Bisa jadi Tuhan sedang menuntun kita melalui jalan yang tidak kita pahami, tetapi tetap dalam pemeliharaan-Nya. Karena itu, kita dipanggil untuk membedakan antara keinginan kita dan janji Tuhan, sebab tidak semua yang kita inginkan adalah bagian dari janji-Nya, tetapi semua yang Tuhan janjikan pasti akan digenapi dalam waktu dan cara-Nya yang sempurna.

Penutup

2 Korintus 1:15–24 mengingatkan kita bahwa kehidupan ini memang penuh dengan perubahan. Rencana kita dapat berubah, keadaan dapat berubah, manusia dapat berubah, tetapi Tuhan tidak berubah. Semua janji Tuhan memiliki kepastian di dalam Yesus Kristus, sebab Kristus adalah "Ya" bagi semua janji Allah. Karena itu, ketika kita menghadapi masa depan yang tidak pasti, kita tidak perlu hidup dalam ketakutan. Kita dapat berkata "Amin", sebab kita percaya kepada Allah yang setia. Mungkin hari ini kita belum melihat penggenapan dari apa yang kita doakan, tetapi kita percaya bahwa Tuhan tidak pernah melupakan janji-Nya. Marilah terus berpegang kepada Kristus, sebab di dalam Dia ada kepastian, pengharapan, dan keselamatan. Apa yang Tuhan janjikan mungkin tidak selalu datang menurut waktu dan cara yang kita inginkan, tetapi Tuhan selalu setia menggenapi janji-Nya sesuai dengan kehendak-Nya. Amin. (SRDP)

🤝 Dukung Pelayanan Firman Tuhan

Apabila khotbah, renungan, dan artikel di website ini menjadi berkat, Anda dapat ikut mendukung pelayanan ini melalui doa maupun persembahan kasih.

❤️ Dukung Pelayanan