Khotbah Partangiangan (Minggu VII Set. Trinitatis) - Hari Sukacita bagi Umat Allah (Yohanes 10 : 11 - 16)
Pendahuluan
Setiap orang mendambakan sukacita
dalam hidupnya. Tidak ada seorang pun yang ingin hidup dalam ketakutan,
kesedihan, atau bahkan dalam penderitaan. Namun, dalam kenyataannya, hidup
tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan. Ada saat-saat ketika
manusia harus menghadapi berbagai persoalan: permasalahan keluarga, tekanan
ekonomi, penyakit, kehilangan orang-orang yang dikasihi, atau masa depan yang belum
diketahui bagaimana kepastiannya. Oleh sebab itu banyak orang yang mengangap bahwa
sukacita sering kali dipahami hanya sebagai sesuatu yang bergantung pada
keadaan. Ketika keadaan baik, orang dapat bersukacita; tetapi ketika masalah
datang, sukacita itu perlahan memudar.
Nats Yohanes 10:11-16 mengajak
kita untuk melihat bahwa sukacita sejati tidak bergantung pada situasi yang
kita alami, melainkan pada keyakinan bahwa kita memiliki Tuhan yang senantiasa
menyertai dan memelihara kehidupan kita. Sukacita orang percaya bukanlah
sukacita yang lahir karena hidup tanpa persoalan, melainkan sukacita yang
muncul dari kesadaran bahwa di tengah segala pergumulan, ada Sang Gembala yang
tidak pernah meninggalkan umat-Nya.
Untuk memahami perkataan Tuhan
Yesus dalam Yohanes 10:11–16, kita perlu melihat konteksnya. Perikop ini tidak
berdiri sendiri, melainkan kelanjutan dari peristiwa dalam Yohanes 9.
Sebelumnya, Yesus menyembuhkan seorang yang buta sejak lahir. Mukjizat tersebut
seharusnya menjadi alasan bagi orang-orang Farisi untuk bersyukur dan
memuliakan Allah. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Orang Farisi
mempertanyakan tindakan Yesus, bahkan mengusir orang yang telah disembuhkan itu
dari komunitas mereka karena ia mengakui kuasa Yesus.
Peristiwa ini memperlihatkan
kegagalan para pemimpin agama Yahudi dalam menjalankan tugas mereka sebagai
pemimpin umat. Mereka lebih mementingkan tradisi, kekuasaan, dan kehormatan
daripada memperhatikan kehidupan rohani umat yang mereka pimpin. Mereka seharusnya
menjadi gembala yang melindungi dan membimbing, tetapi justru menjadi
penghalang bagi orang-orang yang ingin datang kepada Allah.
Dalam situasi itulah Yesus
menyampaikan pengajaran tentang gembala yang baik. Bagi masyarakat Yahudi pada
masa itu, gambaran tentang gembala bukanlah sesuatu yang asing. Banyak tokoh
besar dalam Perjanjian Lama, seperti Abraham, Musa, dan Daud, pernah hidup
sebagai gembala. Bahkan, Allah sendiri digambarkan sebagai gembala bagi
umat-Nya. Pemazmur berkata, “TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku”
(Mzm. 23:1). Nabi Yehezkiel juga pernah mengecam para pemimpin Israel yang
hanya memikirkan kepentingan diri sendiri dan tidak memelihara kawanan domba
yang dipercayakan kepada mereka (Yeh. 34:1–10).
Pada zaman Yesus, kehidupan
seorang gembala bukanlah pekerjaan yang mudah. Seorang gembala harus memimpin
domba-dombanya mencari padang rumput, menyediakan air, melindungi mereka dari
binatang buas, dan menjaga mereka siang dan malam. Domba adalah hewan yang
lemah dan sangat bergantung kepada gembalanya. Tanpa gembala, domba mudah
tersesat dan menjadi mangsa serigala.
Melalui gambaran yang sederhana
tetapi sangat mendalam ini, Yesus memperkenalkan diri-Nya dengan berkata,
“Akulah gembala yang baik.” Ia ingin menunjukkan perbedaan antara diri-Nya dan
para pemimpin agama yang hanya mencari kepentingan sendiri. Seorang pekerja
upahan mungkin akan melarikan diri ketika bahaya datang, tetapi Yesus adalah
Gembala yang rela menyerahkan nyawa-Nya demi keselamatan domba-domba-Nya.
Di tengah kehidupan yang penuh
dengan ketidakpastian, ketakutan, dan berbagai tantangan, perkataan Yesus ini
menjadi sumber penghiburan dan sukacita bagi umat Allah. Sukacita itu lahir
bukan karena kita terbebas dari masalah, tetapi karena kita mengetahui bahwa
hidup kita berada di tangan Sang Gembala yang baik, yang mengenal kita,
memelihara kita, dan tidak pernah meninggalkan kita.
Penjelasan
Nats
Dalam Yohanes 10:11–16, Yesus
menyampaikan salah satu gambaran yang paling indah tentang diri-Nya, yaitu
sebagai Gembala yang baik. Gambaran ini tidak hanya berbicara tentang hubungan
antara seorang gembala dan domba, tetapi juga menyatakan kasih Allah yang hadir
melalui Yesus Kristus. Melalui perkataan-Nya, Yesus menunjukkan siapa diri-Nya,
bagaimana kasih-Nya kepada umat-Nya, serta tujuan kedatangan-Nya ke dunia.
Pada ayat 11, Yesus berkata,
“Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi
domba-dombanya.” Dalam bahasa Yunani, kalimat “Akulah gembala yang baik”
ditulis: “Ἐγώ εἰμι ὁ ποιμὴν ὁ καλός” (Egō eimi ho poimēn ho kalos). Ungkapan “Ἐγώ εἰμι” (Egō eimi) berarti “AKU ADALAH AKU” dan
merupakan salah satu ungkapan penting dalam Injil Yohanes. Melalui ungkapan
ini, Yesus menyatakan identitas-Nya dan menunjukkan bahwa Ia adalah Pribadi
yang diutus oleh Allah untuk melaksanakan karya keselamatan. Ungkapan ini juga
mengingatkan pada penyataan Allah dalam Perjanjian Lama ketika Allah menyatakan
nama-Nya kepada Musa: “AKU ADALAH AKU” (Kel. 3:14). Yesus bukan hanya seorang
pengajar moral, nabi, atau pemimpin rohani, tetapi Ia adalah Mesias, Anak
Allah, yang datang untuk mencari dan menyelamatkan manusia yang tersesat.
Kata “gembala” dalam bahasa
Yunani adalah “ποιμήν” (poimēn),
yang berarti seorang penjaga atau pemelihara kawanan. Sedangkan kata “baik”
berasal dari kata “καλός” (kalos),
yang tidak hanya berarti baik secara moral, tetapi juga indah, mulia, sempurna,
dan memiliki kualitas yang sesuai dengan kehendak Allah. Ketika Yesus menyebut
diri-Nya sebagai “Gembala yang baik” (ὁ ποιμὴν ὁ καλός), Ia sedang membedakan diri-Nya dari para pemimpin yang
gagal menjalankan tanggung jawab mereka. Dalam Perjanjian Lama, para pemimpin
Israel sering digambarkan sebagai gembala yang dipercayakan untuk menjaga umat
Allah. Namun, banyak dari mereka justru menyalahgunakan tanggung jawab
tersebut. Mereka mencari keuntungan pribadi, mengejar kehormatan, dan tidak
peduli terhadap penderitaan umat. Karena itu, Yesus hadir sebagai Gembala yang
sejati, yang tidak hanya berbicara tentang kasih, tetapi membuktikan kasih itu
melalui pengorbanan.
Kalimat berikutnya, “Gembala yang
baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya,” dalam bahasa Yunani berbunyi: “ὁ ποιμὴν ὁ καλὸς τὴν ψυχὴν αὐτοῦ τίθησιν ὑπὲρ τῶν προβάτων” (ho poimēn ho kalos tēn psychēn autou tithēsin hyper
tōn probatōn). Kata “memberikan” berasal dari kata “τίθημι” (tithēmi),
yang berarti meletakkan, menyerahkan, atau memberikan dengan sengaja. Kata ini
menunjukkan bahwa kematian Yesus bukanlah sebuah kecelakaan atau kekalahan,
melainkan tindakan kasih yang dilakukan dengan kehendak-Nya sendiri. Kata
“nyawa” berasal dari “ψυχή” (psychē),
yang menunjuk kepada kehidupan atau diri seseorang secara utuh. Sedangkan
“domba-domba” berasal dari kata “πρόβατα” (probata),
yang menggambarkan umat yang berada dalam pemeliharaan Sang Gembala.
Kata “baik” dalam perkataan Yesus
bukan sekadar berarti memiliki sifat yang ramah atau murah hati. Kata ini
menunjukkan sesuatu yang mulia, sempurna, dan sesuai dengan tujuan Allah.
Kebaikan Yesus terlihat dari kesediaan-Nya memberikan nyawa bagi domba-domba-Nya.
Seorang gembala biasa mungkin mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi domba,
tetapi Yesus melakukan lebih dari itu. Ia dengan sukarela menyerahkan hidup-Nya
sebagai korban penebusan bagi dosa manusia. Salib menjadi bukti terbesar bahwa
kasih Sang Gembala tidak terbatas.
Pada ayat 12–13, Yesus
menggambarkan perbedaan antara gembala yang baik dan seorang pekerja upahan.
Dalam bahasa Yunani, “pekerja upahan” disebut “μισθωτός” (misthōtos), yaitu seseorang yang bekerja karena
mendapatkan upah. Seorang pekerja upahan melakukan tugasnya karena mendapatkan
imbalan. Ia tidak memiliki hubungan yang mendalam dengan domba-domba yang
dijaganya. Ketika bahaya datang, seperti serigala yang menyerang kawanan domba,
ia memilih menyelamatkan dirinya sendiri daripada mempertahankan domba-domba
itu. Baginya, keselamatan pribadi lebih penting daripada kehidupan domba.
Gambaran tentang pekerja upahan
ini menjadi teguran bagi para pemimpin agama pada masa Yesus. Mereka memiliki
kedudukan sebagai pemimpin umat, tetapi hati mereka tidak benar-benar mengasihi
umat Allah. Mereka lebih memperhatikan aturan dan kepentingan mereka sendiri
daripada membawa orang kepada kasih dan keselamatan Allah. Mereka gagal menjadi
gembala karena tidak memiliki hati seorang gembala.
Berbeda dengan pekerja upahan,
Yesus adalah Gembala yang sejati. Ia tidak meninggalkan umat-Nya ketika
menghadapi bahaya. Ia hadir dalam penderitaan, berjalan bersama umat-Nya dalam
kelemahan, dan memberikan kekuatan ketika mereka mengalami pergumulan. Puncak
kasih-Nya terlihat melalui kematian-Nya di kayu salib. Yesus tidak kehilangan
nyawa-Nya karena keadaan yang tidak terkendali, tetapi Ia menyerahkannya dengan
sukarela sebagai wujud kasih kepada domba-domba-Nya.
Pada ayat 14–15, Yesus berkata,
“Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku.” Dalam bahasa
Yunani, kata “mengenal” berasal dari kata “γινώσκω” (ginōskō), yang berarti mengenal melalui
pengalaman, hubungan, dan kedekatan. Kata ini memiliki makna yang jauh lebih
dalam daripada sekadar mengetahui informasi tentang seseorang. Mengenal berarti
memiliki hubungan yang dekat, penuh kepercayaan, dan didasarkan pada kasih.
Yesus mengenal umat-Nya secara pribadi. Ia mengetahui pergumulan yang tidak
terlihat oleh orang lain, memahami luka yang tersembunyi, mendengar doa yang
tidak terucapkan, dan mengetahui setiap perjalanan hidup yang dilalui oleh
umat-Nya.
Sebaliknya, domba-domba yang
mengenal Gembalanya dipanggil untuk mendengarkan suara-Nya dan mengikuti
pimpinan-Nya. Hubungan antara Yesus dan umat percaya bukan hubungan yang
sepihak. Yesus mengenal dan mengasihi umat-Nya, sementara umat-Nya dipanggil untuk
percaya, taat, dan hidup dalam kehendak-Nya. Seperti domba yang aman ketika
mengikuti gembalanya, demikian pula orang percaya menemukan kehidupan yang
sejati ketika berjalan bersama Kristus.
Yesus kemudian berkata bahwa
hubungan-Nya dengan domba-domba-Nya memiliki kesatuan yang sama seperti
hubungan-Nya dengan Bapa. Hal ini menunjukkan bahwa kasih Yesus kepada umat-Nya
berasal dari kasih Allah sendiri. Karya penyelamatan yang dilakukan Yesus
bukanlah rencana yang terpisah dari Allah Bapa, melainkan bagian dari kehendak
Allah untuk menyelamatkan manusia.
Pada ayat 16, Yesus berkata, “Ada
lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini.” Dalam bahasa
Yunani, kalimat ini berbunyi: “καὶ ἄλλα πρόβατα ἔχω ἃ οὐκ ἔστιν ἐκ τῆς αὐλῆς ταύτης” (kai alla
probata echō ha ouk estin ek tēs aulēs tautēs). Kata “domba-domba lain”
adalah “ἄλλα πρόβατα” (alla
probata), yang menunjuk kepada orang-orang di luar komunitas Israel.
Sedangkan kata “kandang” berasal dari “αὐλή” (aulē),
yang berarti halaman atau tempat berkumpulnya kawanan.
Pernyataan ini memiliki makna
yang sangat luas. “Kandang ini” menunjuk kepada umat Israel sebagai bangsa
pilihan Allah pada waktu itu, sedangkan “domba-domba lain” menunjuk kepada
bangsa-bangsa lain di luar Israel. Yesus menyatakan bahwa karya keselamatan
Allah tidak hanya diperuntukkan bagi satu kelompok tertentu, tetapi terbuka
bagi semua orang yang percaya kepada-Nya.
Yesus Kristus menunjukkan bahwa
tujuan kedatangan-Nya adalah menghimpun semua umat Allah menjadi satu kawanan
dengan satu Gembala. Dalam bahasa Yunani, “satu kawanan” adalah “μία ποίμνη” (mia poimnē), dan “satu gembala” adalah “εἷς ποιμήν” (heis poimēn). Perbedaan latar belakang, suku,
bangsa, dan budaya tidak menjadi penghalang bagi kasih Kristus. Semua orang
yang datang kepada-Nya dipanggil untuk menjadi bagian dari keluarga Allah. Yohanes
10:11–16 memperlihatkan bahwa Yesus adalah Gembala yang mengenal, mengasihi,
melindungi, dan menyerahkan hidup-Nya bagi umat-Nya. Dialah Gembala yang
memberikan rasa aman dan sukacita sejati, karena di dalam Dia kita tidak pernah
berjalan sendirian.
Refleksi
Pertama, Sukacita sejati tidak
berasal dari keadaan yang selalu baik, melainkan dari keyakinan bahwa hidup
kita berada dalam pemeliharaan Kristus, Sang Gembala yang baik. Kita dapat
bersukacita karena Yesus tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Dalam perjalanan
hidup, kita mungkin menghadapi masalah keluarga, kesulitan ekonomi, penyakit,
atau kekecewaan. Ada saat-saat ketika kita merasa sendirian. Namun, Yesus
mengingatkan bahwa Ia tetap hadir dan menjaga kita.
Kedua, kita dapat bersukacita
karena kita dikenal oleh Tuhan. Dunia sering kali menilai seseorang berdasarkan
jabatan, harta, atau keberhasilannya. Akan tetapi, Yesus mengenal kita secara
pribadi. Ia mengetahui pergumulan kita, bahkan ketika tidak ada seorang pun
yang memahaminya.
Ketiga, kita dipanggil untuk
menjadi saksi kasih Kristus. Sebagai domba-domba Sang Gembala, kita dipanggil
untuk saling memperhatikan, menghibur, dan menolong sesama. Sukacita yang Tuhan
berikan tidak boleh berhenti pada diri sendiri, tetapi harus dibagikan kepada
orang lain.
Penutup
Yohanes 10:11–16 mengajarkan bahwa
Yesus adalah Gembala yang baik, yang mengenal, memelihara, dan rela menyerahkan
nyawa-Nya bagi umat-Nya. Di tengah berbagai pergumulan hidup, kita dapat tetap
bersukacita karena hidup kita berada di dalam tangan-Nya. Hari sukacita bagi
umat Allah bukanlah hari tanpa masalah, melainkan hari ketika umat menyadari
bahwa mereka memiliki Gembala yang setia. Karena itu, marilah kita terus
mendengarkan suara-Nya, mengikuti jalan-Nya, dan hidup dalam sukacita yang
berasal dari kasih Kristus. Amin. (SRDP)
🤝 Dukung Pelayanan Firman Tuhan
Apabila khotbah, renungan, dan artikel di website ini menjadi berkat, Anda dapat ikut mendukung pelayanan ini melalui doa maupun persembahan kasih.
❤️ Dukung Pelayanan