Khotbah Minggu 23 Agustus 2026 (Minggu XII Set. Trinitatis) - Teguh Berpegang Pada Kebenaran (Efesus 4 : 7 - 16)
Pendahuluan
Kehidupan setiap orang percaya
selalu diperhadapkan dengan berbagai hal yang dapat menggoyahkan iman. Dunia terus
berubah, cara berpikir manusia berubah, nilai-nilai kehidupan berubah, dan
berbagai macam pengajaran semakin mudah ditemukan. Dahulu seseorang mungkin
hanya mendengar pengajaran dari mimbar gereja, sekolah minggu, atau buku-buku
rohani. Sekarang, dalam hitungan detik, seseorang dapat mendengar berbagai
macam khotbah, pendapat tentang Alkitab, ajaran tentang iman, bahkan pandangan
yang bertentangan satu dengan yang lain melalui media sosial dan internet.
Tidak semua yang terdengar rohani berasal dari kebenaran firman Tuhan. Ada yang
benar-benar membangun iman, tetapi ada pula yang dapat menyesatkan. Karena itu
persoalan bagi orang percaya bukan hanya "apa yang kita percaya?",
tetapi juga "seberapa kuat kita berdiri di dalam apa yang kita
percaya?"
Dalam Efesus 4:14 Paulus
menggabarkan bahwa orang percaya jangan lagi menjadi seperti anak-anak yang
"diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran." Gambaran ini
seperti sebuah perahu yang berada di tengah laut dan tidak memiliki kemudi yang
kuat. Ketika angin bertiup dari satu arah, perahu bergerak ke arah itu; ketika
angin berubah, perahu kembali terbawa ke arah yang lain. Demikian pula
kehidupan iman seseorang yang tidak memiliki dasar yang kuat. Ia mudah
mengikuti pendapat yang sedang populer, mudah percaya kepada perkataan orang,
mudah berubah ketika menghadapi masalah, dan mudah meninggalkan keyakinannya
ketika keadaan tidak sesuai dengan harapan. Karena itu Paulus menghendaki agar
jemaat bukan lagi menjadi "anak-anak", tetapi menjadi orang percaya
yang dewasa, kokoh, dan mampu membedakan kebenaran dari kesesatan.
Surat ini dituliskan oleh Rasul
Paulus dan ditujukan kepada jemaat di Efesus serta lingkungan gereja di Asia
Kecil. Efesus merupakan kota penting di wilayah Asia Kecil, pusat perdagangan
dan kehidupan keagamaan. Kota ini juga dikenal sebagai pusat penyembahan kepada
dewi Artemis. Dalam Kisah Para Rasul 19 kita melihat bahwa pemberitaan Injil di
Efesus membawa perubahan besar sehingga terjadi pertentangan dengan kepentingan
keagamaan dan ekonomi yang ada di kota tersebut. Dengan demikian, jemaat hidup
di tengah masyarakat yang memiliki berbagai keyakinan, nilai, dan pengaruh
keagamaan. Menjadi pengikut Kristus bukan berarti hidup tanpa tantangan. Mereka
harus tetap berdiri dalam iman kepada Kristus di tengah lingkungan yang
memiliki berbagai pengaruh.
Sebelum masuk ke Efesus 4:7–16,
Paulus terlebih dahulu berbicara mengenai kesatuan. Dalam ayat 3–6 ia
menekankan satu tubuh, satu Roh, satu pengharapan, satu Tuhan, satu iman, satu
baptisan, dan satu Allah. Jadi dasar kehidupan jemaat adalah kesatuan di dalam
Kristus. Namun kesatuan itu tidak berarti bahwa semua orang harus mempunyai
karunia, tugas, dan fungsi yang sama. Justru setelah berbicara tentang
kesatuan, Paulus mengatakan dalam ayat 7 bahwa "kepada kita masing-masing
telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus." Ada
satu tubuh, tetapi banyak anggota. Ada satu Tuhan, tetapi berbagai karunia. Ada
satu iman, tetapi berbagai bentuk pelayanan. Perbedaan itu bukan untuk
menciptakan persaingan, melainkan supaya seluruh tubuh Kristus dapat saling
melengkapi.
Hal ini penting karena pada zaman
jemaat mula-mula, perbedaan latar belakang dapat dengan mudah menjadi sumber
perpecahan. Ada orang Yahudi dan non-Yahudi, ada orang dengan latar belakang
sosial dan budaya yang berbeda, serta ada berbagai fungsi pelayanan dalam
jemaat. Paulus ingin menunjukkan bahwa semuanya memiliki tempat dalam tubuh
Kristus. Kristus sendiri yang memberikan karunia kepada setiap orang dan
memberikan berbagai pelayan untuk memperlengkapi jemaat. Jadi gereja bukan
tempat beberapa orang bekerja sementara yang lain hanya menjadi penonton.
Setiap anggota mempunyai bagian dalam pekerjaan Kristus.
Kita juga hidup di tengah
berbagai pengaruh. Ada begitu banyak suara yang berbicara tentang bagaimana
manusia harus menjalani hidup. Ada berbagai pemikiran, nilai, ideologi, bahkan
pengajaran yang mengatasnamakan iman Kristen. Jika orang percaya tidak memiliki
dasar yang kuat dalam Kristus dan firman-Nya, ia akan mudah diombang-ambingkan.
Karena itu kita tidak cukup hanya menjadi orang yang lama berada di gereja;
kita harus menjadi orang yang bertumbuh di dalam Kristus. Kita tidak cukup
hanya mengetahui banyak ayat Alkitab; kita harus semakin mengenal Kristus dan
membiarkan firman-Nya membentuk kehidupan kita.
Teguh bukan berarti keras kepala
dan menolak semua pendapat orang lain. Teguh berarti mempunyai dasar yang jelas
sehingga tidak mudah kehilangan arah. Teguh berarti tetap percaya ketika
keadaan berubah. Teguh berarti tetap melakukan kehendak Tuhan ketika banyak
orang memilih jalan yang berbeda. Teguh berarti mampu membedakan kebenaran dari
kesesatan. Dan yang paling penting, keteguhan itu membawa kita semakin dekat
kepada Kristus, sebab Dialah Kepala tubuh, sumber kehidupan, dan tujuan
pertumbuhan gereja.
Dengan demikian, Efesus 4:7–16
mengajak kita melihat bahwa gereja yang kuat bukanlah gereja yang hanya banyak
aktivitasnya, tetapi gereja yang anggotanya bertumbuh dalam kebenaran, saling
melayani sesuai karunia, tidak mudah diombang-ambingkan oleh berbagai
pengajaran, dan bersama-sama semakin menyerupai Kristus. Kebenaran yang kita
pegang bukan sekadar sesuatu yang kita ucapkan, tetapi sesuatu yang kita
hidupi. Dan ketika kebenaran itu dihidupi dalam kasih, tubuh Kristus akan
semakin kuat, dewasa, dan menjadi kesaksian di tengah dunia.
Penjelasan
Nast
Efesus 4:7 dimulai dengan
perkataan, "Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih
karunia menurut ukuran pemberian Kristus." Dalam teks Yunani tertulis:
Ἑνὶ δὲ ἑκάστῳ ἡμῶν ἐδόθη ἡ χάρις κατὰ τὸ μέτρον τῆς δωρεᾶς τοῦ Χριστοῦ (heni de
hekastō hēmōn edothē hē charis kata to metron tēs dōreas tou Christou).
Kata ἑκάστῳ (hekastō)
berarti "masing-masing" atau "setiap orang", sedangkan ἐδόθη (edothē)
berarti "telah diberikan". Bentuk kata ini menunjukkan bahwa kasih
karunia itu diterima, bukan dihasilkan oleh manusia. Sumbernya adalah Kristus.
Kemudian kata χάρις (charis)
berarti kasih karunia, sedangkan μέτρον (metron)
berarti ukuran atau takaran dan δωρεά (dōrea)
berarti pemberian atau karunia. Jadi Paulus hendak menegaskan bahwa setiap
orang percaya menerima pemberian dari Kristus dengan ukuran yang ditentukan
oleh Kristus sendiri. Tidak ada anggota tubuh Kristus yang tidak berguna.
Mungkin karunia setiap orang berbeda, tetapi semuanya berasal dari Tuhan dan
semuanya mempunyai tujuan dalam kehidupan gereja.
Ayat 8 kemudian menjelaskan
sumber pemberian itu dengan mengutip Mazmur 68:19: "Tatkala Ia naik ke
tempat tinggi, Ia membawa tawanan-tawanan; Ia memberikan pemberian-pemberian
kepada manusia." Dalam teks Yunani terdapat kata ἀναβάς (anabas),
"telah naik", dan ἔδωκεν (edōken),
"Ia memberikan". Disini Paulus sedang menunjukkan bahwa Kristus
adalah Tuhan yang menang dan berkuasa. Ia telah turun, kemudian naik dan
ditinggikan. Karena itu segala karunia pelayanan yang dimiliki gereja pada
dasarnya bukan milik manusia. Kristuslah yang memberikan. Gereja tidak boleh
memandang pelayanan sebagai tempat mencari kehormatan, sebab setiap pelayanan
adalah pemberian dari Kristus.
Ayat 9–10 berbicara mengenai
Kristus yang "telah turun" dan "telah naik". Kata Yunani καταβάς (katabas)
berarti "telah turun", sedangkan ἀναβάς (anabas) berarti "telah naik". Paulus
memperlihatkan sebuah pola: Kristus yang ditinggikan adalah Kristus yang
terlebih dahulu merendahkan diri. Ia datang ke dalam dunia, mengambil rupa
manusia, menjalani penderitaan dan kematian, kemudian dibangkitkan dan
ditinggikan. Pada ayat 10 dikatakan bahwa Ia naik "jauh lebih tinggi
daripada semua langit, untuk memenuhkan segala sesuatu." Kata πληρώσῃ (plērōsē),
dari plēroō, berarti "memenuhi", "menggenapi", atau
"membuat penuh". Kristus yang telah menang dan ditinggikan itulah
yang memenuhi dan memerintah atas segala sesuatu. Karena itu gereja tidak hidup
tanpa arah. Gereja berada di bawah pemerintahan Kristus yang adalah Tuhan atas
segala sesuatu.
Kemudian ayat 11 berkata, "Dan
Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik
pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar."
Teks Yunani menggunakan kalimat καὶ αὐτὸς ἔδωκεν (kai autos edōken), yang berarti "dan Ia
sendiri memberikan." Penekanannya ada pada αὐτός (autos), "Ia sendiri". Artinya,
pelayanan gereja bukan pertama-tama berasal dari keinginan manusia, tetapi
berasal dari Kristus. Paulus kemudian menyebut ἀποστόλους (apostolous),
rasul-rasul; προφήτας (prophētas),
nabi-nabi; εὐαγγελιστάς (euangelistas),
pemberita-pemberita Injil; ποιμένας (poimenas),
gembala-gembala; dan διδασκάλους (didaskalous),
pengajar-pengajar. Bentuk pelayanan boleh berbeda, tetapi sumbernya satu, yaitu
Kristus. Karena itu tidak ada alasan bagi pelayan Tuhan untuk membanggakan
jabatan, sebab yang memberikan pelayanan tersebut adalah Kristus dan tujuannya
adalah membangun tubuh-Nya.
Hal ini semakin jelas dalam ayat
12: "untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi
pembangunan tubuh Kristus." Kata καταρτισμός (katartismos)
yang diterjemahkan "memperlengkapi" berasal dari kata καταρτίζω (katartizō),
yang mempunyai arti mempersiapkan, memperbaiki, membentuk, atau membuat
seseorang siap melakukan tugasnya. Ini memberikan pemahaman yang sangat penting
tentang pelayanan gereja. Pendeta, gembala, pengajar dan para pelayan gereja
bukan dipanggil untuk melakukan semua pelayanan sendirian. Mereka dipanggil
untuk memperlengkapi orang-orang kudus supaya seluruh jemaat mampu melakukan
pekerjaan pelayanan. Kata διακονίας (diakonias)
berarti "pelayanan". Jadi setiap anggota gereja dipanggil untuk
melayani sesuai dengan karunia yang diterimanya. Tujuan akhirnya adalah οἰκοδομὴν (oikodomēn),
yaitu pembangunan atau penguatan σώματος τοῦ Χριστοῦ (sōmatos tou Christou), "tubuh
Kristus". Gereja bertumbuh ketika setiap anggota mengambil bagian dalam
pelayanan.
Ayat 13 menjelaskan tujuan dari
pelayanan tersebut: "sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan
pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat
pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus." Kata πάντες (pantes)
berarti "semua". Paulus tidak berbicara tentang pertumbuhan beberapa
orang saja, tetapi seluruh jemaat. Kemudian terdapat kata ἑνότητα (henotēta),
yang berarti "kesatuan", dan πίστεως (pisteōs),
"iman". Kesatuan yang dimaksud bukan sekadar berkumpul dalam satu
tempat atau memiliki nama gereja yang sama, tetapi kesatuan dalam iman kepada
Kristus. Selanjutnya Paulus menggunakan kata ἐπίγνωσις (epignōsis), yang berarti pengenalan yang benar
atau pengenalan yang mendalam. Jadi kedewasaan iman tidak hanya diukur dari
berapa lama seseorang menjadi Kristen, tetapi dari seberapa dalam ia mengenal
Kristus.
Paulus kemudian mengatakan εἰς ἄνδρα τέλειον (eis
andra teleion), "menjadi manusia dewasa." Kata τέλειος (teleios)
berarti dewasa, matang, mencapai tujuan atau menjadi sempurna dalam arti
mencapai kematangan. Dengan demikian, gereja dipanggil untuk bertumbuh.
Pertumbuhan gereja tidak hanya berbicara mengenai jumlah anggota, pembangunan
gedung, banyaknya kegiatan, atau kemajuan organisasi. Pertumbuhan yang terutama
adalah pertumbuhan rohani. Semakin lama seseorang mengikuti Kristus, seharusnya
semakin matang imannya, semakin benar kehidupannya, semakin kuat pengenalannya
kepada Tuhan, dan semakin nyata kasihnya kepada sesama.
Karena itu ayat 14 berkata, "sehingga
kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin
pengajaran." Dalam bahasa Yunani digunakan kata νήπιοι (nēpioi),
yang berarti anak-anak kecil atau bayi. Paulus menggunakan istilah ini untuk
menggambarkan orang yang belum matang dalam iman. Kemudian ia menggunakan dua
kata yang sangat kuat, yaitu κλυδωνιζόμενοι (kludōnizomenoi)
dan περιφερόμενοι (peripheromenoi).
Kludōnizomenoi berkaitan dengan gelombang laut, sedangkan peripheromenoi
berarti dibawa ke sana kemari. Gambarnya adalah sebuah perahu yang tidak
mempunyai pegangan kuat dan akhirnya terbawa oleh gelombang. Demikianlah orang
yang tidak bertumbuh dalam kebenaran: ia mudah berubah mengikuti keadaan dan
mudah percaya kepada berbagai pengajaran.
Paulus bahkan mengatakan bahwa
mereka dapat dibawa oleh παντὶ ἀνέμῳ τῆς διδασκαλίας (panti
anemō tēs didaskalias), yaitu "setiap angin pengajaran". Kata διδασκαλία (didaskalia)
berarti pengajaran. Ini menjadi peringatan bagi gereja bahwa tidak semua
pengajaran yang terdengar baik dan menarik harus diterima begitu saja. Terlebih
pada zaman sekarang, berbagai pengajaran dapat masuk melalui media sosial,
video, internet, dan berbagai platform digital. Orang percaya perlu memiliki
kemampuan untuk menguji setiap pengajaran berdasarkan firman Tuhan. Jangan
sampai iman kita ditentukan oleh apa yang sedang populer, tetapi oleh apa yang
benar di hadapan Kristus.
Paulus juga berbicara tentang κυβείᾳ (kybeia),
yang secara harfiah berkaitan dengan permainan dadu dan secara metaforis
menunjuk kepada kelicikan atau permainan manusia. Kemudian ia menggunakan kata πανουργίᾳ (panourgia),
yaitu kelicikan atau tipu daya. Ini menunjukkan bahwa kesesatan tidak selalu
datang dalam bentuk yang kasar dan mudah dikenali. Ada kalanya kesesatan
dikemas dengan kata-kata yang menarik, terlihat masuk akal, bahkan menggunakan
ayat-ayat Alkitab. Karena itu gereja harus memiliki kedewasaan rohani. Kita
tidak boleh menerima sesuatu hanya karena pembicaranya terkenal, pengikutnya
banyak, atau penyampaiannya menarik. Kebenaran harus diuji berdasarkan Kristus
dan firman Tuhan.
Sebaliknya, ayat 15 memberikan
jalan yang benar: "tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam
kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah
Kepala." Dalam teks Yunani terdapat kata ἀληθεύοντες (alētheuontes). Kata ini
berasal dari ἀλήθεια (alētheia),
yang berarti "kebenaran". Alētheuontes bukan sekadar berarti
"mengatakan kebenaran", tetapi memiliki pengertian hidup dalam
kebenaran atau menjalankan kebenaran. Jadi "teguh berpegang pada
kebenaran" bukan hanya berarti kita mampu mengatakan bahwa sesuatu itu
benar. Kebenaran harus menjadi bagian dari kehidupan kita.
Namun Paulus menambahkan ἐν ἀγάπῃ (en agapē), "di dalam kasih". Ini
sangat penting. Orang percaya tidak dipanggil untuk memegang kebenaran dengan
kesombongan, kekerasan, atau kebencian. Kebenaran harus berjalan bersama kasih.
Kita tidak boleh mengorbankan kebenaran demi menyenangkan manusia, tetapi kita
juga tidak boleh menggunakan kebenaran untuk menyakiti dan merendahkan orang
lain. Kebenaran tanpa kasih dapat menjadi keras, sedangkan kasih tanpa
kebenaran dapat kehilangan arah. Gereja dipanggil untuk memegang kebenaran
dengan teguh sekaligus menyampaikannya dengan kasih.
Kemudian Paulus mengatakan αὐξήσωμεν (auxēsōmen),
"kita bertumbuh", εἰς αὐτὸν (eis auton),
"kepada Dia", yaitu Kristus. Ini menunjukkan arah pertumbuhan gereja.
Kita tidak bertumbuh untuk membesarkan nama manusia, organisasi, atau kelompok
tertentu. Kita bertumbuh kepada Kristus. Kristus adalah ἡ κεφαλή (hē kephalē), "Kepala". Jadi semakin
gereja bertumbuh, semakin gereja harus berpusat kepada Kristus.
Akhirnya ayat 16 menggambarkan
bagaimana pertumbuhan itu terjadi: "Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, yang
rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya..."
Kata συναρμολογούμενον (synarmologoumenon)
berarti "tersusun dengan rapi" atau "dipersatukan dengan
tepat". Kata συμβιβαζόμενον (symbibazomenon)
berarti "diikat menjadi satu" atau "dipersatukan". Gambaran
ini adalah tubuh yang setiap bagiannya saling terhubung. Tidak ada bagian yang
berdiri sendiri.
Paulus kemudian menegaskan bahwa
pertumbuhan terjadi "sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap
anggota." Dalam bahasa Yunani terdapat κατ' ἐνέργειαν ἐν μέτρῳ ἑνὸς ἑκάστου μέρους, yang
menunjuk pada pekerjaan atau fungsi masing-masing bagian. Ini kembali
mengingatkan kita kepada ayat 7: setiap orang menerima kasih karunia menurut
ukuran pemberian Kristus. Jadi setiap anggota memiliki bagian. Ketika setiap
anggota menjalankan tugasnya dengan setia, tubuh Kristus bertumbuh. Tujuan
akhirnya adalah οἰκοδομὴν ἑαυτοῦ ἐν ἀγάπῃ (oikodomēn heautou en agapē), yaitu
"membangun dirinya dalam kasih."
Dengan demikian, Efesus 4:7–16
menunjukkan sebuah proses yang sangat jelas: Kristus memberikan kasih karunia →
Kristus memberikan para pelayan → para pelayan memperlengkapi jemaat → jemaat
melakukan pelayanan → tubuh Kristus dibangun → jemaat menjadi dewasa → tidak
mudah diombang-ambingkan oleh pengajaran yang menyesatkan → hidup dalam
kebenaran dan kasih → bertumbuh menuju Kristus. Jadi teguh berpegang pada
kebenaran bukan berarti berdiri sendirian, melainkan bertumbuh bersama sebagai
tubuh Kristus, saling memperlengkapi, saling membangun, dan menjadikan Kristus
sebagai Kepala dalam seluruh kehidupan gereja.
Refleksi
Efesus 4:7–16 mengajak kita
bertanya kepada diri sendiri: Apakah iman kita sudah dewasa? Jangan sampai kita
sudah bertahun-tahun menjadi orang Kristen tetapi masih mudah digoyahkan oleh
berbagai keadaan. Ketika hidup berjalan baik, kita percaya kepada Tuhan. Tetapi
ketika masalah datang, kita mulai mempertanyakan Tuhan. Ketika mendengar ajaran
yang berbeda, kita mudah berpindah. Ketika menghadapi penderitaan, kita merasa
Tuhan meninggalkan kita. Firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa kita
dipanggil untuk menjadi orang percaya yang teguh, bukan karena kita kuat dengan
kemampuan sendiri, tetapi karena kita terus bertumbuh dalam pengenalan kepada
Kristus.
Kita diajak untuk melihat bahwa
Tuhan memberikan karunia kepada setiap orang. Jangan pernah kita merasa tidak
berguna dalam pelayanan di gereja. Mungkin tidak semua orang berkhotbah, tetapi
ada yang melayani dengan musik, mengajar anak-anak, mengunjungi orang sakit,
membantu orang yang membutuhkan, mendukung pelayanan, mendoakan gereja, atau
menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari. Semua itu memiliki tempat dalam
tubuh Kristus. Yang Tuhan kehendaki bukanlah kita memiliki karunia yang sama,
tetapi setia menggunakan karunia yang telah diberikan-Nya untuk membangun
sesama.
Teguh dalam kebenaran tidak
berarti kita menjadi keras terhadap orang lain. Paulus berkata bahwa kita harus
"berpegang kepada kebenaran di dalam kasih." Kita harus berani
mempertahankan kebenaran, tetapi melakukannya dengan kasih. Kita harus berani
mengatakan yang benar, tetapi bukan untuk menjatuhkan. Kita harus mampu berbeda
pendapat tanpa membenci. Kita harus mampu menegur tanpa merendahkan. Dan dalam
segala sesuatu, arah pertumbuhan kita tetap satu: kepada Kristus, Kepala
gereja.
Penutup
Efesus 4:7–16 mengingatkan bahwa Kristus tidak memanggil kita menjadi orang percaya yang mudah diombang-ambingkan. Ia memberikan kasih karunia, memberikan karunia pelayanan, memperlengkapi kita melalui gereja, dan menghendaki kita bertumbuh menjadi dewasa dalam iman. Karena itu, marilah kita teguh berpegang pada kebenaran, bertumbuh dalam pengenalan kepada Kristus, menggunakan karunia untuk melayani, dan melakukan semuanya dalam kasih. Jangan biarkan berbagai ajaran, keadaan, persoalan, atau perubahan zaman menjauhkan kita dari Kristus. Sebab semakin kita berakar dalam Kristus, semakin kita mengenal kebenaran, dan semakin kita hidup dalam kasih, maka semakin kuat pula kita berdiri sebagai tubuh Kristus di tengah dunia. Amin. SRDP
🤝 Dukung Pelayanan Firman Tuhan
Apabila khotbah, renungan, dan artikel di website ini menjadi berkat, Anda dapat ikut mendukung pelayanan ini melalui doa maupun persembahan kasih.
❤️ Dukung Pelayanan