Khotbah Partangiangan (Minggu XIII Set. Trinitatis) - Firman Tuhan Menjadi Kegirangan Bagiku (2 Timotius 4:6-8)

Pendahuluan

Dalam kehidupan setiap orang selalu ada sesuatu yang menjadi sumber kegembiraan. Ada yang bersukacita karena keluarga yang diberkati, pekerjaan yang berhasil, kesehatan yang baik, atau cita-cita yang tercapai. Namun kegembiraan yang dibangun di atas keadaan hidup sering kali bersifat sementara. Akan tetapi ketika penderitaan datang, ketika harapan tidak sesuai kenyataan, ketika orang-orang yang kita kasihi meninggalkan kita, bahkan ketika hidup diperhadapkan dengan ancaman kematian, kegembiraan itu dapat berubah menjadi ketakutan dan keputusasaan. Karena itu muncul sebuah pertanyaan penting bagi setiap orang percaya: adakah kegirangan yang tetap bertahan ketika segala sesuatu di sekitar kita berubah?

Firman Tuhan menunjukkan bahwa ada sukacita yang tidak bergantung pada keadaan, yaitu sukacita yang lahir dari hubungan yang hidup dengan Allah melalui firman-Nya. Nabi Yeremia pernah bersaksi, “Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya; firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku dan menjadi kesukaan hatiku” (Yeremia 15:16). Kesaksian yang sama terlihat dalam kehidupan Rasul Paulus. Sekalipun tubuhnya dipenjara, pelayanannya dibatasi, dan kematiannya sudah di depan mata, hatinya tetap dipenuhi pengharapan dan sukacita. Firman Tuhan telah menjadi kegirangan yang tidak dapat dirampas oleh siapa pun.

2 Timotius 4:6–8 berasal dari surat terakhir yang ditulis oleh Rasul Paulus. Surat ini termasuk dalam Surat-Surat Pastoral dan ditujukan kepada Timotius, anak rohani sekaligus rekan pelayanan Paulus yang sedang menggembalakan jemaat di Efesus. Berbeda dengan surat-surat Paulus yang lain, 2 Timotius memiliki nuansa yang sangat pribadi. Paulus tidak lagi menulis dari perjalanan misi atau dari penahanan rumah yang relatif bebas sebagaimana dicatat dalam Kisah Para Rasul 28, melainkan dari penjara Roma yang keras dan gelap. Ia diperlakukan sebagai seorang penjahat dan menanti pelaksanaan hukuman mati pada masa pemerintahan Kaisar Nero, ketika penganiayaan terhadap orang-orang Kristen sedang memuncak.

Situasi Paulus pada waktu itu sangat menyedihkan secara manusiawi. Banyak rekan pelayanan telah meninggalkannya karena takut atau karena alasan lain. Demas meninggalkan Paulus karena mencintai dunia, beberapa rekan pergi ke daerah pelayanan yang lain, dan hanya Lukas yang tetap setia mendampinginya (2 Timotius 4:10–11). Paulus juga menyadari bahwa waktunya di dunia tidak lama lagi. Ia tidak lagi berharap dibebaskan, melainkan mempersiapkan Timotius untuk melanjutkan pelayanan Injil setelah dirinya tiada. Oleh sebab itu, pasal 4 menjadi bagian penutup sekaligus warisan rohani Paulus kepada generasi penerus pelayanan.

Sebelumnya, Paulus telah memberikan amanat yang sangat kuat kepada Timotius: “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya” (2 Tim. 4:2). Amanat tersebut menunjukkan bahwa pusat pelayanan gereja adalah Firman Tuhan. Setelah menyampaikan tugas itu kepada Timotius, Paulus kemudian mengalihkan pembicaraan kepada dirinya sendiri. Ia tidak sedang mengeluh tentang penderitaan yang dialami, tetapi memberikan kesaksian tentang bagaimana Firman Tuhan telah menopang hidupnya hingga akhir. Kesaksian ini menjadi teladan bahwa seorang pelayan Tuhan dapat menghadapi akhir hidupnya dengan damai karena hidupnya berakar pada kebenaran Allah.

Firman Tuhan Menjadi Kegirangan Bagiku bukanlah kegembiraan yang muncul karena keadaan hidup yang menyenangkan, melainkan sukacita yang lahir dari hati yang dikuasai oleh Firman Tuhan. Kegirangan karena Firman berarti menemukan kekuatan, penghiburan, dan pengharapan di dalam janji-janji Allah, bahkan ketika kehidupan sedang berada dalam masa yang paling gelap. Paulus tidak menemukan kegirangan di dalam penjara, bukan pula dalam kebebasan, kesehatan, atau keberhasilan pelayanan. Kegirangannya berasal dari Firman Tuhan yang telah membentuk hidup, memelihara imannya, dan memenuhi hatinya dengan pengharapan akan janji Allah. Inilah kegirangan yang tidak bergantung pada keadaan, melainkan pada kesetiaan Tuhan yang dinyatakan melalui firman-Nya. Bagi setiap orang percaya, nats ini mengajak kita untuk menemukan sumber sukacita yang sejati: hidup yang tetap berpegang pada Firman Tuhan sampai garis akhir kehidupan.

Penjelasan Nast

Dalam 2 Timotius 4:6–8, Paulus sedang menyampaikan kesaksian pribadi yang sangat dalam menjelang akhir kehidupannya. Ia tidak berbicara sebagai seseorang yang sedang menyerah karena penderitaan, tetapi sebagai seorang yang telah memahami hidupnya dari sudut pandang iman. Firman Tuhan yang selama ini yang diberitakan dan dipeliharanya telah membentuk cara Paulus memandang penderitaan, pelayanan, kematian, dan masa depan. Karena itu, 2 Timotius 4:6-8 bergerak dari persembahan hidup, kesetiaan dalam perjuangan, sampai pengharapan akan mahkota.

Pada ayat 6 Paulus berkata, “Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat.” Teks Yunani berbunyi: ἐγὼ γὰρ ἤδη σπένδομαι, καὶ καιρὸς τῆς ἀναλύσεώς μου ἐφέστηκεν (egō gar ēdē spendomai, kai ho kairos tēs analyseōs mou ephestēken). Kata ἐγώ (egō) berarti “aku”, dengan penekanan kepada diri Paulus sendiri. Ia sedang memberikan kesaksian pribadi tentang apa yang sedang terjadi dalam hidupnya. Kemudian kata ἤδη (ēdē) berarti “sekarang sudah” atau “sudah pada saat ini”. Artinya, Paulus telah menyadari bahwa kematiannya bukan lagi sesuatu yang masih jauh, tetapi sudah berada di hadapannya. Kata yang sangat penting adalah σπένδομαι (spendomai), dari kata σπένδω (spendō) yang berarti mencurahkan persembahan minuman. Dalam tradisi ibadah Israel, anggur dicurahkan sebagai persembahan di hadapan Allah. Paulus memakai gambaran tersebut untuk menggambarkan kematiannya. Ia melihat darahnya yang akan dicurahkan bukan semata-mata sebagai akibat kekejaman manusia, tetapi sebagai persembahan terakhir dari hidup yang sejak awal telah ia serahkan kepada Tuhan. Dengan demikian, kematian Paulus tidak dipandang sebagai kegagalan pelayanan. Justru sampai pada akhir hidupnya, dirinya tetap menjadi persembahan bagi Allah.

Paulus kemudian berkata, καιρὸς τῆς ἀναλύσεώς μου ἐφέστηκεν. Kata καιρός (kairos) berbeda dengan χρόνος (chronos) yang lebih menunjuk kepada waktu dalam pengertian kronologis. Kairos menunjuk kepada waktu atau saat yang memiliki makna tertentu dalam rencana Allah. Paulus tidak sekadar berkata bahwa “waktu berjalan”, tetapi bahwa suatu saat yang telah ditentukan telah tiba. Sementara itu, ἀναλύσεως (analyseōs) berasal dari ἀναλύω (analyō) yang berarti “melepaskan”, “berangkat”, atau “membubarkan kemah”. Kata ini dapat digunakan untuk keberangkatan kapal setelah tali pengikatnya dilepaskan. Ini adalah sebuah gambaran yang sangat indah karena bagi Paulus, kematian bukanlah kehancuran, melainkan keberangkatan. Ia akan meninggalkan dunia ini untuk menuju kepada Kristus. Karena itu, orang yang hidup dalam Firman tidak melihat kematian hanya sebagai akhir, tetapi sebagai keberangkatan menuju persekutuan kekal dengan Tuhan. Inilah yang membuat Paulus mampu menghadapi kematian dengan ketenangan dan bahkan kegirangan. Firman Tuhan telah memberikan kepadanya perspektif yang berbeda terhadap kematian.

Pada ayat 7 Paulus melanjutkan kesaksiannya dengan mengatakan “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” Dalam bahasa Yunani: τὸν καλὸν ἀγῶνα ἠγώνισμαι, τὸν δρόμον τετέλεκα, τὴν πίστιν τετήρηκα (ton kalon agōna ēgōnismai, ton dromon teteleka, tēn pistin tetērēka). Ada tiga pernyataan yang sangat kuat dalam ayat ini. Paulus pertama-tama mengatakan τὸν καλὸν ἀγῶνα ἠγώνισμαι. Kata ἀγών (agōn) berarti “pertandingan”, “perjuangan”, atau “pergumulan yang berat”. Dari kata inilah muncul kata “agonize” dalam bahasa Inggris, yang menggambarkan perjuangan yang sungguh-sungguh. Paulus tidak mengatakan bahwa hidupnya mudah. Ia mengetahui bahwa mengikut Kristus berarti masuk dalam perjuangan. Namun ia menyebutnya καλὸν (kalon), “baik”, “mulia”, atau “bernilai”. Perjuangan itu berat, tetapi bernilai karena dilakukan demi Kristus dan Injil. Kata ἠγώνισμαι (ēgōnismai) berasal dari ἀγωνίζομαι (agōnizomai), “berjuang” atau “bertanding”. Ini menunjukkan suatu perjuangan yang telah dilakukan dan menghasilkan keadaan yang tetap. Paulus dapat melihat kembali seluruh perjalanan hidupnya dan berkata bahwa ia telah berjuang sampai selesai.

Kemudian Paulus berkata, τὸν δρόμον τετέλεκα, “aku telah menyelesaikan perlombaan.” Kata δρόμος (dromos) secara harfiah berarti “jalan”, “lintasan”, atau “perlombaan”. Kata ini menggambarkan perjalanan yang memiliki tujuan. Paulus tidak sekadar berjalan tanpa arah; hidupnya memiliki panggilan yang diberikan Kristus. Kata τετέλεκα (teteleka) berasal dari τελέω (teleō) yang berarti “menyelesaikan”, “menuntaskan”, atau “mencapai tujuan”, ini menunjukkan bahwa tugas itu telah diselesaikan dan hasilnya tetap ada. Kata ini mengingatkan pada perkataan Paulus dalam Kisah Para Rasul 20:24, bahwa ia ingin menyelesaikan perlombaan dan pelayanan yang diterimanya dari Tuhan Yesus. Jadi, yang menjadi kegirangan Paulus bukan karena ia memperoleh kehidupan yang nyaman, tetapi karena ia mengetahui bahwa ia telah setia menjalankan panggilan yang Tuhan berikan. Ada kepuasan rohani ketika seseorang dapat melihat kembali kehidupannya dan berkata: “Tuhan telah memberikan saya tugas, dan dengan pertolongan-Nya saya telah menyelesaikannya.”

Pernyataan ketiga adalah τὴν πίστιν τετήρηκα, “aku telah memelihara iman.” Kata πίστις (pistis) berarti “iman”, “kepercayaan”, atau “kesetiaan”. Dalam konteks ini, pistis dapat menunjuk kepada iman kepada Kristus sekaligus iman yang dipercayakan melalui Injil. Kata τετήρηκα (tetērēka) berasal dari τηρέω (tēreō), yang berarti “menjaga”, “memelihara”, “memegang erat”, atau “mempertahankan sesuatu agar tetap utuh”. Jadi Paulus tidak hanya mengatakan bahwa ia pernah memiliki iman. Ia berkata bahwa ia telah memelihara iman itu sampai akhir. Ada perbedaan besar antara memulai perjalanan iman dan tetap setia sampai akhir. Banyak orang dapat bersemangat ketika pertama kali percaya, tetapi tantangan terbesar adalah tetap memegang iman ketika menghadapi penderitaan, penolakan, kesepian, dan kematian. Paulus menunjukkan bahwa Firman Tuhan membuatnya mampu menjaga iman tersebut. Firman yang ia beritakan kepada orang lain terlebih dahulu menjadi kekuatan yang menjaga dirinya sendiri.

Ayat 8 kemudian membawa kita dari masa lalu Paulus kepada pengharapan masa depan: “Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya.” Teks Yunani berkata: λοιπὸν ἀπόκειταί μοι τῆς δικαιοσύνης στέφανος (loipon apokeitai moi ho tēs dikaiosynēs stephanos). Kata λοιπόν (loipon) dapat berarti “selanjutnya”, “akhirnya”, atau “sekarang tinggal”. Setelah Paulus berbicara mengenai perjuangan dan penyelesaian tugas, kini perhatiannya diarahkan kepada apa yang telah menantinya. Kata ἀπόκειται (apokeitai) berarti “telah tersedia”, “telah disimpan”, atau “telah diletakkan untuk seseorang”. Ini menggambarkan sesuatu yang telah disediakan dan menunggu waktunya untuk diberikan. Paulus memiliki keyakinan bahwa apa yang Tuhan janjikan tidak akan hilang. Janji itu sudah tersedia di hadapannya.

Yang tersedia itu disebut τῆς δικαιοσύνης στέφανος, “mahkota kebenaran”. Kata στέφανος (stephanos) adalah mahkota kemenangan yang diberikan kepada seorang pemenang, khususnya dalam perlombaan atau pertandingan. Ini sangat sesuai dengan gambaran ἀγών dan δρόμος pada ayat sebelumnya. Paulus menggambarkan kehidupannya seperti seorang atlet yang telah menyelesaikan perlombaan dan sekarang menantikan mahkota kemenangan. Namun mahkota ini bukan diberikan oleh manusia. Paulus berkata bahwa mahkota itu akan diberikan oleh δίκαιος κριτής (ho dikaios kritēs), “Hakim yang adil”. Kata κριτής (kritēs) berarti hakim atau orang yang memberikan keputusan. Ini menjadi sangat kuat karena Paulus sendiri sedang berada di hadapan pengadilan manusia yang menjatuhkan hukuman mati kepadanya. Pengadilan manusia dapat memberikan keputusan yang tidak adil, tetapi Paulus percaya bahwa ada Hakim yang lebih tinggi, yaitu Tuhan sendiri. Penilaian terakhir atas hidupnya tidak berada di tangan Nero, tetapi di tangan Kristus.

Paulus kemudian mengatakan bahwa mahkota itu diberikan ἐν ἐκείνῃ τῇ ἡμέρᾳ, “pada hari itu”, yaitu hari kedatangan dan penghakiman Tuhan. Ia menggunakan istilah ἐπιφάνεια (epiphaneia), yang berarti “penampakan”, “kedatangan”, atau manifestasi Kristus. Jadi pandangan Paulus tidak berhenti pada kematian. Ia melihat melampaui kematian kepada hari ketika Kristus datang dalam kemuliaan. Inilah yang membuat Paulus tetap memiliki kegirangan. Dunia mungkin melihat seorang tahanan yang sedang menunggu kematian, tetapi Paulus melihat dirinya sebagai seorang pemenang yang sedang menunggu kedatangan Hakim yang adil dan menerima mahkota yang telah disediakan Tuhan.

Hal yang sangat penting adalah Paulus tidak berhenti dengan mengatakan bahwa mahkota itu hanya untuk dirinya. Ia berkata, οὐ μόνον δὲ ἐμοί, ἀλλὰ καὶ πᾶσιν τοῖς ἠγαπηκόσιν τὴν ἐπιφάνειαν αὐτοῦ, “bukan hanya kepadaku, tetapi juga kepada semua orang yang mengasihi kedatangan-Nya.” Kata πᾶσιν (pasin) berarti “semua”, sehingga pengharapan Paulus bukanlah pengharapan pribadi yang eksklusif. Kata ἠγαπηκόσιν (ēgapēkosin) berasal dari ἀγαπάω (agapaō), “mengasihi”, yang menunjukkan kasih yang telah muncul dan tetap berlangsung. Orang percaya yang mengasihi kedatangan Kristus adalah orang yang hidupnya diarahkan kepada Kristus dan menantikan penggenapan janji-Nya. Dengan demikian, ayat 8 mengubah kesaksian pribadi Paulus menjadi pengharapan seluruh gereja. Apa yang dinantikan Paulus juga menjadi pengharapan setiap orang yang tetap setia kepada Kristus.

Jika ketiga ayat ini dibaca secara keseluruhan, terlihat bahwa Firman Tuhan telah membawa Paulus melewati tiga tahap kehidupan: “aku dicurahkan”, “aku telah menyelesaikan”, dan “telah tersedia bagiku.” Ia memandang kematiannya sebagai persembahan, kehidupannya sebagai perlombaan, dan masa depannya sebagai penerimaan mahkota. Karena itu kegirangan Paulus tidak berasal dari keadaan yang sedang ia alami, tetapi dari kepastian bahwa hidupnya berada di tangan Tuhan. Firman Tuhan telah membuatnya mampu berkata dengan penuh keyakinan bahwa penderitaan bukan akhir, kematian bukan kekalahan, dan kesetiaan kepada Kristus tidak pernah sia-sia.

Refleksi

2 Timotius 4:6–8 mengajak bagaimana kita melihat kembali dari mana sebenarnya sumber kegirangan dalam hidup kita berasal. Kita sering mengukur sukacita berdasarkan keadaan: ketika usaha berhasil kita bersukacita, ketika keluarga dalam keadaan baik kita bersukacita, ketika pelayanan berjalan lancar kita bersukacita. Tetapi ketika persoalan datang, ketika doa belum terjawab, ketika pelayanan menghadapi penolakan, ketika orang yang kita harapkan justru meninggalkan kita, kegirangan itu mudah hilang. Akan tetapi Rasul Paulus menunjukkan sesuatu yang berbeda. Ia berada di penjara, sedang menantikan kematian, bahkan telah mengalami kesendirian dalam pelayanan. Namun di tengah keadaan itu ia tetap dapat berkata, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” Artinya, kegirangan Paulus tidak ditentukan oleh keadaan di sekelilingnya, tetapi oleh Firman Tuhan yang telah menjadi dasar kehidupannya.

Hal ini menjadi pertanyaan penting bagi kehidupan kita: apakah Firman Tuhan sungguh-sungguh menjadi kegirangan bagi kita, atau Firman Tuhan hanya menjadi sesuatu yang kita dengarkan ketika berada di gereja? Kita dapat membaca Alkitab setiap hari, mendengarkan khotbah setiap minggu, bahkan aktif dalam pelayanan, tetapi semuanya itu belum tentu berarti Firman Tuhan telah berakar dalam hati. Firman menjadi kegirangan ketika Firman itu membentuk cara kita menghadapi kehidupan. Ketika kita kecewa, Firman menghibur. Ketika kita takut, Firman menguatkan. Ketika kita bingung menentukan jalan, Firman memberikan arah. Ketika kita menderita, Firman mengingatkan bahwa Tuhan tidak meninggalkan kita. Ketika kita gagal, Firman mengingatkan bahwa kasih karunia Tuhan masih tersedia. Dan ketika kita menghadapi kematian, Firman memberikan pengharapan bahwa kehidupan kita tidak berakhir dalam kematian, tetapi ada kehidupan kekal bersama Kristus.

Kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah kita masih memelihara iman? Paulus tidak berkata, “Aku telah memiliki iman,” tetapi “Aku telah memelihara iman.” Ada tanggung jawab untuk menjaga iman sampai akhir. Iman dapat menjadi lemah ketika kita terlalu lama menjauh dari Firman. Iman dapat kehilangan kekuatannya ketika kita lebih mempercayai perkataan manusia daripada janji Tuhan. Iman dapat kehilangan kegirangannya ketika hati kita lebih dipenuhi kekhawatiran daripada Firman Allah. Karena itu, memelihara iman berarti terus kembali kepada Firman, membiarkan Firman menegur kita ketika salah, menguatkan kita ketika lemah, dan mengarahkan kita ketika kehilangan jalan.

Dan pada akhirnya, Paulus mengarahkan pandangannya kepada mahkota kebenaran. Ini mengingatkan kita bahwa kehidupan kita tidak berhenti pada apa yang dapat dilihat sekarang. Ada hari Tuhan yang akan datang. Ada perjumpaan dengan Kristus. Ada penghakiman yang adil. Ada janji yang akan digenapi. Karena itu, jangan hanya bertanya, “Apa yang saya dapatkan dari kehidupan ini?” tetapi juga bertanya, “Apakah saya tetap setia kepada Tuhan sampai garis akhir?” Dunia mungkin tidak selalu menghargai kesetiaan kita. Pelayanan kita mungkin tidak selalu mendapatkan pujian. Pengorbanan kita mungkin tidak selalu diketahui orang. Tetapi Tuhan melihat semuanya. Tidak ada kesetiaan yang sia-sia di hadapan-Nya. Dengan demikian, Firman Tuhan Menjadi Kegirangan Bagiku bukan hanya sebuah kata-kata yang kita ucapkan, tetapi sebuah kesaksian hidup yang harus kita wujudkan. Biarlah ketika kita mengalami keberhasilan, kita tetap bersyukur melalui Firman. Ketika mengalami kegagalan, kita tetap dikuatkan oleh Firman. Ketika menghadapi penderitaan, kita tetap bertahan karena Firman.

Penutup

Paulus berada di penghujung hidupnya. Ia tidak lagi berbicara tentang bagaimana memperpanjang hidupnya, memperoleh kekayaan, mencari kenyamanan, atau mempertahankan kedudukannya. Ia berbicara tentang kesetiaan. Ia telah dicurahkan sebagai persembahan, telah menyelesaikan pertandingan, telah mencapai garis akhir, dan telah memelihara iman. Semua itu terjadi karena hidupnya telah berakar pada Firman Tuhan. Firman yang dahulu ia beritakan kepada banyak orang kini menjadi kekuatan yang menopangnya sendiri ketika ia berada dalam penjara dan menantikan kematian.

Kesaksian Paulus mengingatkan kita bahwa pada akhirnya bukan seberapa panjang kita hidup yang menjadi ukuran utama, bukan pula seberapa besar keberhasilan yang kita capai menurut ukuran manusia, tetapi apakah kita tetap setia kepada Tuhan sampai akhir. Hidup boleh berubah, keadaan boleh tidak sesuai dengan harapan, manusia dapat meninggalkan kita, kekuatan tubuh dapat semakin berkurang, tetapi Firman Tuhan tetap menjadi dasar yang tidak berubah. Karena itu, selama Tuhan masih memberikan kesempatan, marilah kita hidup dalam Firman, melayani dengan setia, memelihara iman, dan terus berjalan sekalipun jalan itu tidak selalu mudah. Amin. SRDP

🤝 Dukung Pelayanan Firman Tuhan

Apabila khotbah, renungan, dan artikel di website ini menjadi berkat, Anda dapat ikut mendukung pelayanan ini melalui doa maupun persembahan kasih.

❤️ Dukung Pelayanan