Khotbah Partangiangan (Minggu X Set. Trinitatis) - Tenanglah, Jangan Takut (Mazmur 62 : 1 - 5)
Pendahuluan
Setiap orang pasti pernah mengalami masa-masa yang membuat hati menjadi gelisah. Ada yang cemas memikirkan masa depan, takut kehilangan pekerjaan, khawatir akan kesehatan, kecewa karena dikhianati, atau terluka oleh perkataan dan tindakan orang lain. Ketika tekanan datang bertubi-tubi, ketenangan menjadi sesuatu yang sulit ditemukan. Pikiran dipenuhi berbagai kemungkinan buruk, hati dipenuhi kecemasan, bahkan iman pun dapat mulai goyah. Dalam keadaan seperti itu, manusia biasanya mencari tempat bergantung. Ada yang berharap pada uang, kekuasaan, relasi, atau kemampuan sendiri. Namun semua itu terbatas dan dapat berubah sewaktu-waktu. Apa yang hari ini tampak kuat, besok dapat runtuh. Karena itu, dunia tidak pernah mampu memberikan ketenangan yang benar-benar bertahan.
Di tengah kenyataan seperti itulah Mazmur pasal 62 berbicara. Mazmur ini termasuk mazmur kepercayaan (Psalm of Trust) yang ditulis oleh Daud. Berbeda dengan banyak mazmur ratapan yang dipenuhi permohonan agar Tuhan segera bertindak, Mazmur 62 justru dipenuhi dengan pengakuan iman dan ketenangan. Menariknya, ketenangan itu bukan muncul karena keadaan telah membaik, melainkan ketika ancaman masih nyata. Musuh-musuh Daud masih berusaha menjatuhkannya, memfitnahnya, bahkan ingin merampas kedudukannya. Mereka berpura-pura bersikap baik dengan kata-kata yang manis, tetapi di dalam hati mereka menyimpan kebencian dan rencana jahat. Dengan kata lain, Daud sedang hidup di tengah tekanan yang sangat berat.
Judul mazmur ini menyebutkan bahwa mazmur tersebut dipersembahkan "untuk pemimpin biduan. Menurut: Yedutun. Mazmur Daud." Yedutun adalah salah seorang pemimpin musik pada zaman Daud (1 Tawarikh 16:41–42; 25:1–3). Hal ini menunjukkan bahwa mazmur ini bukan sekadar doa pribadi Daud, tetapi juga menjadi nyanyian iman yang dinyanyikan dalam ibadah umat Israel. Pengalaman pribadi Daud dijadikan kesaksian bersama agar seluruh umat belajar menggantungkan hidup hanya kepada Allah.
Meskipun Alkitab tidak menjelaskan secara pasti peristiwa yang melatarbelakangi penulisan Mazmur 62, banyak penafsir menghubungkannya dengan masa pemberontakan Absalom (2 Samuel 15–18) atau masa ketika Daud menghadapi berbagai pengkhianatan dari orang-orang terdekatnya. Dalam peristiwa itu, Daud tidak hanya menghadapi musuh dari luar, tetapi juga mengalami luka karena pengkhianatan dari dalam keluarganya sendiri dan orang-orang yang pernah dipercayainya. Situasi seperti itu tentu sangat mengguncang hati siapa pun. Namun justru dalam keadaan itulah Daud menyatakan, "Hanya dekat Allah saja aku tenang." Kalimat ini menunjukkan bahwa sumber ketenangan Daud bukanlah keadaan yang aman, melainkan Allah yang tidak pernah berubah. Daud tidak memulai mazmur ini dengan menceritakan besarnya persoalan atau kekuatan musuhnya. Akan tetapi ia lebih dahulu mengarahkan pandangannya kepada Allah. Baru setelah itu ia berbicara tentang ancaman yang dihadapinya. Ini mengajarkan bahwa iman tidak dimulai dengan melihat masalah, tetapi dengan mengenal siapa Allah. Ketika Allah menjadi pusat perhatian, persoalan tidak lagi menguasai hati.
Kita hidup di tengah dunia yang penuh ketidakpastian. Berita buruk datang silih berganti, tekanan hidup semakin berat, dan banyak hal di luar kendali kita. Firman Tuhan hari ini tidak mengatakan bahwa hidup akan bebas dari masalah, tetapi mengajarkan bahwa di tengah segala pergumulan kita dapat memiliki hati yang tetap tenang. Ketenangan itu bukan berasal dari kekuatan diri sendiri, melainkan dari keyakinan bahwa Allah tetap memegang kendali atas hidup umat-Nya. Sebagaimana Daud menemukan damai di tengah ancaman, demikian pula setiap orang percaya dipanggil untuk mempercayakan hidup sepenuhnya kepada Tuhan dan mendengar suara-Nya yang berkata, "Tenanglah, jangan takut."
Penjelasan Nats
Mazmur 62 dibuka dengan sebuah pengakuan iman yang menjadi inti dari seluruh mazmur ini: "Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku." Daud tidak memulai dengan membicarakan besarnya ancaman yang sedang dihadapinya, melainkan dengan menyatakan siapa Allah baginya. Inilah ciri iman yang dewasa. Ketika banyak orang memulai dengan persoalan, Daud memulai dengan Allah. Ia sadar bahwa cara seseorang memandang Allah akan menentukan cara ia menghadapi persoalan hidup. Ayat 1 dalam bahasa Ibrani berbunyi: אַךְ אֶל־אֱלֹהִים דּוּמִיָּה נַפְשִׁי מִמֶּנּוּ יְשׁוּעָתִי ('Ak el-'Elohim dumiyyah napshi, mimmennu yeshu'ati). Kata, אַךְ ('ak), berarti "hanya", "semata-mata", atau "sungguh." Kata ini menjadi kata kunci dalam Mazmur 62 dan diulang berkali-kali (ay. 1, 2, 4, 5, 6, dan 9). Pengulangan tersebut menunjukkan bahwa Daud ingin menegaskan bahwa Allah adalah satu-satunya tempat bergantung. Ia tidak membagi pengharapannya antara Allah dan kekuatan manusia. Bagi Daud, hanya Allah yang mampu memberikan keamanan yang sejati.
Selanjutnya digunakan kata דּוּמִיָּה (dumiyyah), yang berasal dari akar kata דָּמַם (damam), yang berarti "diam", "tenang", "berhenti bergejolak", atau "beristirahat". Kata ini bukan menggambarkan diam karena menyerah atau putus asa, melainkan ketenangan batin yang lahir dari kepercayaan penuh kepada Allah. Daud tidak mengatakan bahwa masalahnya telah selesai atau musuh-musuhnya telah lenyap. Sebaliknya, ia mengakui bahwa jiwanya telah tenang sebelum keadaan berubah. Dengan demikian, damai yang berasal dari Allah tidak bergantung pada situasi, tetapi pada hubungan dengan Allah yang setia. Kemudian Daud berkata, "dari pada-Nyalah keselamatanku." Kata יְשׁוּעָה (yeshu'ah) berarti keselamatan, pembebasan, pertolongan, atau kemenangan. Dalam Perjanjian Lama, kata ini menunjuk kepada tindakan Allah yang menyelamatkan umat-Nya dari bahaya dan penderitaan. Menariknya, dari akar kata inilah kemudian muncul nama יֵשׁוּעַ (Yeshua), yaitu Yesus, yang berarti "TUHAN adalah keselamatan". Dengan demikian, sejak Perjanjian Lama keselamatan selalu dipahami berasal dari Allah semata.
Pada ayat 2, Daud melanjutkan pengakuan imannya: אַךְ הוּא צוּרִי וִישׁוּעָתִי מִשְׂגַּבִי לֹא אֶמּוֹט ('Ak hu tsuri vishu'ati misgavi lo emmot). Sekali lagi Daud mengawali dengan kata אַךְ ('ak), menegaskan bahwa hanya Allah yang menjadi sandarannya. Ia kemudian menyebut Allah sebagai צוּר (tsur), yaitu "gunung batu" atau "batu karang". Di wilayah Palestina, batu karang merupakan tempat perlindungan yang kokoh ketika terjadi peperangan. Daud sendiri, ketika dikejar Saul, sering berlindung di gua-gua dan pegunungan berbatu. Oleh sebab itu, ketika ia menyebut Allah sebagai tsur, ia sedang menyatakan bahwa Allah adalah perlindungan yang tidak mungkin runtuh sekalipun seluruh dunia bergoncang. Selain itu Allah disebut sebagai מִשְׂגָּב (misgav), yang berarti "benteng yang tinggi" atau "kubu pertahanan". Berbeda dengan benteng biasa, misgav menunjuk kepada tempat perlindungan yang berada di tempat tinggi sehingga musuh sulit mencapainya. Gambaran ini menunjukkan bahwa perlindungan Allah berada jauh di atas kemampuan musuh untuk menghancurkan umat-Nya. Karena itu Daud berkata, אֶמּוֹט לֹא (lo emmot), yang berasal dari kata מוֹט (mot), yang berarti "goyah", "terguncang", atau "jatuh". Perkataan ini bukan berarti Daud tidak akan menghadapi kesulitan, melainkan bahwa imannya tidak akan runtuh karena Allah menopangnya. Dunia di sekitarnya boleh bergoncang, tetapi hidupnya tetap berdiri teguh di atas dasar yang kokoh.
Setelah menyatakan siapa Allah baginya, barulah Daud berbicara mengenai musuh-musuhnya pada ayat 3–4, עַד־אָנָה תְּהוֹתְתוּ עַל־אִישׁ ('Ad-anah tehotetu 'al-'ish). Kata תְּהוֹתְתוּ (tehotetu) berasal dari akar kata הָתַת (hatat), yang berarti "menyerang", "merobohkan", "menghancurkan", atau "memukul dengan keras". Kata ini menggambarkan serangan yang terus-menerus, bukan sekali saja. Musuh-musuh Daud tidak berhenti sampai ia benar-benar jatuh. Kemudian Daud menggambarkan dirinya seperti "dinding yang miring" dan "tembok yang hendak roboh." Dalam bahasa Ibrani digunakan ungkapan: כְּקִיר נָטוּי גָּדֵר הַדְּחוּיָה (keqir natuy, gader hadekhuyah). Kata קִיר (qir) berarti "dinding", sedangkan נָטוּי (natuy) berarti "miring" atau "condong". Gambaran ini menunjukkan bagaimana musuh memandang Daud. Mereka menganggap Daud sudah lemah, rapuh, dan tinggal menunggu saat untuk dijatuhkan. Namun, apa yang tampak rapuh di mata manusia ternyata tetap berdiri karena Allah menopangnya.
Ayat 4 memperlihatkan bentuk kejahatan yang dilakukan musuh. Mereka tidak hanya menyerang secara terbuka, tetapi juga hidup dalam kemunafikan. Firman Tuhan berkata: בְּפִיו יְבָרֵכוּ וּבְקִרְבָּם יְקַלְלוּ (Befiv yevarekhu uveqirbam yeqalelu). Kata יְבָרֵכוּ (yevarekhu) berasal dari akar kata בָּרַךְ (barakh), yang berarti "memberkati" atau "mengucapkan kata-kata baik". Sebaliknya, יְקַלְלוּ (yeqalelu) berasal dari kata קָלַל (qalal), yang berarti "mengutuki", "menghina", atau "merendahkan". Gambaran ini menunjukkan adanya kepalsuan hati. Bibir mereka penuh pujian, tetapi hati mereka penuh kebencian. Daud sedang menghadapi orang-orang yang memakai kata-kata manis sebagai topeng untuk menyembunyikan niat jahat.Menghadapi semua itu, respons Daud sangat mengagumkan. Ia tidak membalas kebencian dengan kebencian. Sebaliknya, pada ayat 5 ia kembali berbicara kepada dirinya sendiri:
אַךְ לֵאלֹהִים דּוֹמִּי נַפְשִׁי כִּי־מִמֶּנּוּ תִּקְוָתִי ('Ak le'Elohim dommi nafshi, ki mimmennu tiqvati). Kata דּוֹמִּי (dommi) berasal dari akar yang sama, דָּמַם (damam), tetapi di sini berbentuk ajakan kepada diri sendiri. Daud sedang berkata kepada jiwanya, "Tenanglah! Jangan gelisah! Tetaplah berharap kepada Allah!" Ini menunjukkan bahwa iman bukan sekadar menunggu perasaan tenang datang dengan sendirinya, tetapi secara sadar mengarahkan hati untuk tetap percaya kepada Allah.
Pada bagian akhir digunakan kata תִּקְוָה (tiqvah), yang berarti "pengharapan". Dalam pengertian Ibrani, tiqvah bukanlah harapan yang tidak pasti atau sekadar angan-angan. Kata ini menunjuk kepada pengharapan yang memiliki dasar yang kokoh, yaitu kesetiaan Allah terhadap janji-Nya. Dengan demikian, Daud tidak berharap kepada perubahan keadaan, melainkan kepada Allah yang tidak pernah berubah.
Melalui Mazmur 62:1–5, Daud mengajarkan bahwa ketenangan sejati tidak lahir karena masalah telah selesai, melainkan karena kita mengenal siapa Allah. Selama Allah tetap menjadi יְשׁוּעָה (yeshu'ah), keselamatan kita; צוּר (tsur), gunung batu kita; מִשְׂגָּב (misgav), benteng perlindungan kita; dan sumber תִּקְוָה (tiqvah), pengharapan kita, maka kita dapat tetap hidup tanpa dikuasai rasa takut. Dunia boleh berubah, manusia dapat mengecewakan, dan keadaan dapat mengguncang, tetapi orang yang berharap kepada Tuhan akan memiliki hati yang tenang karena hidupnya berada di dalam tangan Allah yang tidak pernah gagal memegang janji-Nya.
Refleksi
Mazmur 62 mengajarkan bahwa ketenangan bukanlah hasil dari keadaan yang tenang, melainkan hasil dari iman yang tertuju kepada Allah. Sering kali kita berpikir, "Kalau masalah ini selesai, barulah saya bisa tenang." Kita menunggu keadaan berubah lebih dahulu agar hati kita damai. Namun firman Tuhan justru mengajarkan hal yang sebaliknya. Allah ingin mengubah hati kita terlebih dahulu, kemudian dari hati yang tenang itulah kita dimampukan menghadapi persoalan. Damai sejahtera yang diberikan Allah tidak bergantung pada ada atau tidaknya masalah, tetapi pada keyakinan bahwa Allah tetap memegang kendali atas hidup kita.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak hal yang dapat membuat kita takut. Ketidakpastian ekonomi, kehilangan pekerjaan, sakit penyakit, konflik dalam keluarga, masa depan anak-anak, bahkan berita-berita yang kita dengar setiap hari dapat membuat hati dipenuhi kecemasan. Ketakutan sering kali membuat kita kehilangan sukacita, sulit berdoa, mudah marah, dan mengambil keputusan berdasarkan kepanikan, bukan berdasarkan iman. Ketika rasa takut menguasai hati, kita mulai lebih percaya kepada apa yang kita lihat daripada kepada janji Tuhan. Padahal, ketakutan bukanlah tanda bahwa Allah meninggalkan kita, melainkan kesempatan untuk belajar mempercayai-Nya lebih dalam.
Daud memberikan teladan yang sangat indah. Ia tidak menyangkal bahwa dirinya sedang berada dalam bahaya. Ia tahu musuh sedang mengepungnya, memfitnahnya, bahkan berusaha menjatuhkannya. Namun, ia juga tahu bahwa ancaman terbesar bukanlah musuh di luar, melainkan hati yang kehilangan kepercayaan kepada Allah. Karena itu, ia berbicara kepada dirinya sendiri, "Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang." Daud tidak membiarkan perasaannya mengendalikan imannya, tetapi ia membiarkan imannya mengendalikan perasaannya. Ia mengingatkan jiwanya bahwa Allah tetap menjadi gunung batu, benteng, keselamatan, dan sumber pengharapannya.
Hal yang sama perlu kita lakukan sebagai orang percaya. Tidak setiap hari kita akan merasa kuat. Ada saat-saat di mana hati kita dipenuhi kegelisahan dan pertanyaan. Pada saat itulah kita perlu memberitakan firman Tuhan kepada diri sendiri. Jangan hanya mendengarkan suara ketakutan yang berkata, "Bagaimana jika semuanya gagal?" atau "Bagaimana jika Tuhan tidak menolong?" Sebaliknya, dengarkan suara firman Tuhan yang berkata bahwa Dia adalah gunung batu yang tidak tergoyahkan, benteng yang tidak dapat ditembus, dan sumber keselamatan yang tidak pernah gagal. Semakin kita memenuhi hati dengan firman Tuhan, semakin kecil ruang bagi ketakutan untuk menguasai hidup kita.
Mazmur ini juga mengingatkan bahwa dunia menawarkan banyak tempat untuk berharap, tetapi semuanya bersifat sementara. Kekayaan dapat habis, jabatan dapat hilang, kesehatan dapat menurun, dan manusia yang kita percayai dapat mengecewakan kita. Hanya Allah yang tidak pernah berubah. Karena itu, jangan jadikan keberhasilan, harta, atau manusia sebagai dasar ketenangan hidup. Bangunlah hidup di atas Allah yang kekal. Ketika dasar kehidupan kita adalah Allah, badai boleh datang, tetapi tidak akan mampu merobohkan iman kita.
Penutup
Mazmur 62:1–5 mengakhiri perenungan kita dengan sebuah undangan untuk membangun hidup di atas dasar yang tidak pernah berubah, yaitu Allah sendiri. Dunia akan terus berubah, persoalan akan datang silih berganti, manusia dapat mengecewakan, dan apa yang kita miliki hari ini dapat lenyap dalam sekejap. Namun, di tengah segala ketidakpastian itu, Allah tetap sama: Dia adalah gunung batu yang kokoh, benteng perlindungan yang tidak pernah runtuh, keselamatan yang pasti, dan sumber pengharapan yang tidak akan mengecewakan orang yang percaya kepada-Nya. Karena itu, jangan biarkan ketakutan menguasai hati kita atau kekhawatiran mencuri sukacita dan damai sejahtera yang Tuhan berikan. Belajarlah seperti Daud yang memilih untuk memandang Allah lebih besar daripada persoalannya, sehingga di tengah ancaman ia tetap dapat berkata, "Hanya kepada Allah saja aku tenang." Marilah kita melangkah memasuki hari-hari yang ada di depan dengan iman yang teguh, menyerahkan setiap beban, kecemasan, dan pergumulan ke dalam tangan Tuhan, sebab Dia yang memelihara hidup kita tidak pernah tertidur, tidak pernah meninggalkan umat-Nya, dan tidak pernah gagal menggenapi setiap janji-Nya. Oleh karena itu, apa pun yang sedang kita hadapi hari ini, dengarkanlah suara Tuhan yang terus bergema melalui firman-Nya: "Tenanglah, jangan takut." Sebab selama Tuhan menyertai kita, tidak ada alasan untuk kehilangan pengharapan, karena pada akhirnya Dia akan menyatakan pertolongan, pemeliharaan, dan kemenangan bagi setiap orang yang tetap berharap kepada-Nya. Amin (SRDP)
🤝 Dukung Pelayanan Firman Tuhan
Apabila khotbah, renungan, dan artikel di website ini menjadi berkat, Anda dapat ikut mendukung pelayanan ini melalui doa maupun persembahan kasih.
❤️ Dukung Pelayanan