Khotbah Minggu 06 September 2026 (Minggu XIV Set. Trinitatis) - Kasih Kepada Allah dan sesama manusia (Lukas 10:25-37)
Pendahuluan
Kasih merupakan inti dari seluruh kehidupan Kristen.
Sejak Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru, Allah menyatakan diri-Nya sebagai
Allah yang mengasihi dan memanggil umat-Nya untuk hidup di dalam kasih. Namun
dalam kenyataan hidup, kasih sering kali dipahami hanya sebagai perasaan,
simpati, atau sikap baik kepada orang-orang yang dekat dengan kita. Tidak
sedikit orang yang merasa telah mengasihi Allah karena rajin beribadah, berdoa,
membaca firman, dan melayani di gereja, tetapi dalam kehidupan sehari-hari
masih menyimpan kebencian, prasangka, bahkan mengabaikan penderitaan sesama. Di
sinilah Yesus menunjukkan bahwa kasih kepada Allah tidak pernah dapat
dipisahkan dari kasih kepada sesama manusia. Kasih kepada Allah selalu memiliki
bukti yang nyata dalam relasi dengan manusia.
Lukas 10:25–37 muncul dalam perjalanan Yesus menuju
Yerusalem. Sejak Lukas 9:51, Yesus sedang berjalan menuju kota di mana Ia akan
menyerahkan diri-Nya untuk disalibkan. Di sepanjang perjalanan itu Yesus
mengajar para murid mengenai karakter Kerajaan Allah. Setelah mengutus tujuh
puluh murid untuk memberitakan Injil dan mereka kembali dengan sukacita, Lukas
mencatat percakapan Yesus dengan seorang ahli Taurat. Percakapan ini bukan
sekadar diskusi teologi, melainkan sebuah konfrontasi terhadap pemahaman agama
yang hanya berhenti pada pengetahuan.
Lukas menuliskan bahwa seorang ahli Taurat berdiri untuk
"mencobai" Yesus. Kata Yunani yang digunakan adalah ἐκπειράζων (ekpeirazōn), yang berarti menguji atau mencobai
dengan maksud mencari kesalahan. Ahli Taurat itu bukan datang sebagai murid
yang ingin belajar, tetapi sebagai seorang yang merasa dirinya memahami Taurat
dan ingin menguji Yesus di hadapan orang banyak. Pertanyaannya tampak
sederhana, "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang
kekal?" Namun di balik pertanyaan itu tersembunyi pemahaman bahwa hidup
kekal dapat diperoleh melalui usaha manusia.
Yesus tidak langsung memberikan jawaban. Ia mengembalikan
ahli Taurat kepada Kitab Taurat yang selama ini dipelajarinya. Ahli Taurat
mampu menjawab dengan benar: mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Tetapi
ketika Yesus berkata, "Perbuatlah demikian," persoalannya menjadi
nyata. Pengetahuan tentang hukum ternyata belum tentu berarti kehidupan yang
melakukan hukum itu. Karena ingin membenarkan dirinya, ahli Taurat kembali
bertanya, "Siapakah sesamaku manusia?" Pertanyaan inilah yang melahirkan
perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati, sebuah cerita yang mengubah cara
pandang manusia tentang kasih dan sesama.
Perumpamaan ini juga lahir dari situasi sosial yang
sangat sensitif. Orang Yahudi dan orang Samaria memiliki permusuhan yang telah
berlangsung ratusan tahun. Orang Yahudi menganggap orang Samaria sebagai bangsa
yang najis dan sesat. Sebaliknya, orang Samaria juga memandang orang Yahudi
sebagai musuh. Ketika Yesus menjadikan seorang Samaria sebagai tokoh utama yang
melakukan kehendak Allah, Ia sedang meruntuhkan tembok kebencian, prasangka,
dan eksklusivisme yang dibangun oleh manusia. Melalui perumpamaan ini Yesus
menunjukkan bahwa kasih Allah selalu melampaui batas suku, agama, status
sosial, bahkan permusuhan.
Penjelasan Nast
Percakapan dimulai dengan pertanyaan mengenai hidup yang
kekal. Ayat 25 ahli Taurat bertanya, "Apa yang harus kuperbuat untuk
memperoleh hidup yang kekal?" Kata "memperoleh" berasal dari
kata Yunani κληρονομήσω (klēronomēsō),
dari kata kerja κληρονομέω (klēronomeō), yang berarti mewarisi atau menerima
warisan. Menariknya, warisan bukan sesuatu yang dibeli atau diusahakan, tetapi
diberikan berdasarkan hubungan dengan pemberi warisan. Yesus ingin membawa ahli
Taurat memahami bahwa hidup kekal berakar pada relasi dengan Allah, bukan
sekadar prestasi menjalankan hukum.
Yesus kemudian bertanya, "Apa yang tertulis dalam
hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?" Ahli Taurat mengutip Ulangan 6:5
dan Imamat 19:18. Jawaban itu menunjukkan bahwa ia mengetahui inti Taurat
dengan benar. Kata Yunani untuk "kasihilah" adalah ἀγαπήσεις (agapēseis), berasal dari kata ἀγαπάω (agapaō). Kata ini tidak menunjuk pada kasih yang
didasarkan pada perasaan, tetapi kasih yang lahir dari keputusan, komitmen, dan
pengabdian penuh kepada Allah. Kasih seperti ini mencakup seluruh keberadaan
manusia.
Yesus menyebut empat dimensi kehidupan manusia: hati,
jiwa, kekuatan, dan akal budi. Kata καρδίας (kardias) menunjuk pusat kehendak dan keputusan
hidup. Ψυχή (psychē) berarti kehidupan atau keberadaan
manusia secara utuh. Ἰσχύς (ischys) berbicara tentang seluruh tenaga,
kemampuan, dan sumber daya yang dimiliki. Sedangkan διάνοια (dianoia) menunjuk pikiran, pengertian, dan
kemampuan memahami kehendak Allah. Dengan demikian, mengasihi Allah berarti
menyerahkan seluruh hidup kepada-Nya tanpa ada bagian yang disembunyikan.
Namun hukum kasih tidak berhenti pada relasi vertikal.
Ahli Taurat juga mengutip, "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu
sendiri." Kata "sesama" berasal dari Yunani πλησίον (plēsion), yang secara harfiah berarti
"orang yang dekat." Dalam tradisi Yahudi, makna "sesama"
sering dibatasi hanya kepada sesama orang Yahudi atau orang yang dianggap layak
menerima kasih. Yesus tidak membantah definisi itu secara langsung, tetapi
memperluas maknanya melalui sebuah perumpamaan.
Yesus berkata, "Jawabmu itu benar; perbuatlah
demikian, maka engkau akan hidup." Kata "perbuatlah" menggunakan
bentuk Yunani ποίει (poiei),
yang berarti teruslah melakukan atau jadikan itu sebagai kebiasaan hidup.
Artinya, kasih bukan tindakan sesekali ketika suasana hati baik, melainkan gaya
hidup yang terus-menerus dijalankan.
Ayat 29 memperlihatkan motivasi hati ahli Taurat. Lukas
menulis bahwa ia ingin "membenarkan dirinya." Kata Yunani δικαιῶσαι (dikaiōsai) berarti menyatakan diri benar atau
membuktikan bahwa dirinya telah memenuhi tuntutan hukum. Pertanyaan
"Siapakah sesamaku?" sebenarnya bukan keinginan mengetahui kehendak
Allah, melainkan usaha mencari batas minimal kewajiban kasih.
Yesus kemudian menceritakan seseorang yang turun dari
Yerusalem ke Yerikho. Jalan ini memang terkenal berbahaya karena menurun tajam
melewati padang gurun berbatu dan sering menjadi tempat persembunyian penyamun.
Orang itu jatuh ke tangan λῃσταῖς (lēstais), yaitu perampok yang menggunakan
kekerasan. Ia dirampok, dipukul, dan ditinggalkan ἡμιθανῆ (hēmithanē), "setengah mati." Gambaran
ini menunjukkan seseorang yang sama sekali tidak mampu menyelamatkan dirinya.
Yang pertama lewat adalah seorang imam. Ia melihat korban
itu tetapi menyeberang ke sisi lain jalan. Kata Yunani yang digunakan Lukas
adalah ἀντιπαρῆλθεν (antiparēlthen), yang berarti dengan sengaja
melewati dari sisi seberang atau sisi yang lain. Setelah imam datang seorang
Lewi, pelayan Bait Allah, dan melakukan hal yang sama. Mereka melihat
penderitaan, tetapi memilih menjaga jarak. Mungkin mereka takut menjadi najis
jika korban sudah mati, mungkin takut penyamun masih bersembunyi. Apa pun alasannya,
Yesus menunjukkan bahwa pengetahuan agama tanpa kasih dapat membuat seseorang
kehilangan hati yang peka terhadap penderitaan manusia.
Kemudian datang seorang Samaria. Bagi orang Yahudi, orang
Samaria adalah musuh. Tetapi justru tokoh yang dianggap najis itulah yang
menjadi teladan. Lukas menulis bahwa ketika melihat korban itu,
"tergeraklah hatinya oleh belas kasihan." Kata Yunani yang dipakai
adalah ἐσπλαγχνίσθη (esplagchnisthē), berasal dari σπλαγχνίζομαι (splagchnizomai). Kata ini menggambarkan belas
kasihan yang muncul dari lubuk hati yang terdalam, sebuah rasa iba yang begitu
kuat sehingga mendorong seseorang bertindak. Kata yang sama sering dipakai
Injil ketika menggambarkan hati Yesus yang tergerak melihat orang banyak.
Belas kasihan itu diwujudkan dalam tindakan. Orang
Samaria mendekati korban, membalut lukanya, menuangkan minyak dan anggur,
menaikkannya ke atas keledainya sendiri, membawanya ke penginapan, dan
merawatnya. Ia bahkan memberikan dua dinar kepada pemilik penginapan. Kata δηνάρια (dēnaria) menunjuk upah sekitar dua hari kerja
seorang buruh. Kasih ternyata memiliki harga yang harus dibayar. Orang Samaria
rela mengorbankan waktu, tenaga, kenyamanan, bahkan hartanya demi menyelamatkan
orang yang sama sekali tidak dikenalnya.
Di akhir cerita Yesus mengajukan pertanyaan yang berbeda
dari pertanyaan ahli Taurat. Bukan lagi, "Siapakah sesamaku manusia?"
tetapi, "Siapakah yang menjadi sesama manusia dari orang yang jatuh ke
tangan penyamun itu?" Perubahan ini sangat penting. Yesus menggeser fokus
dari mencari objek kasih kepada menjadi pelaku kasih. Ahli Taurat menjawab,
"Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Kata
"belas kasihan" adalah ἔλεος (eleos), yang berarti kemurahan hati Allah yang
diwujudkan kepada orang yang membutuhkan. Lalu Yesus menutup dengan perintah, πορεύου καὶ σὺ ποίει ὁμοίως (poreuou kai sy poiei homoiōs): "Pergilah,
dan perbuatlah demikian." Bentuk perintah ini menunjukkan bahwa belas
kasihan harus menjadi kehidupan sehari-hari setiap murid Kristus.
Refleksi
Perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati mengingatkan
kita bahwa kasih kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari kasih kepada manusia.
Kita mungkin rajin beribadah, melayani, dan memahami firman Tuhan, tetapi semua
itu kehilangan makna apabila hati kita tidak tergerak melihat penderitaan
sesama. Imam dan Lewi mengenal Taurat, tetapi orang Samaria menghidupi Taurat.
Yesus memanggil kita bukan hanya menjadi orang yang mengetahui firman,
melainkan orang yang melakukan firman.
Di tengah kehidupan saat ini, sesama kita bisa hadir
dalam berbagai wajah: keluarga yang membutuhkan perhatian, tetangga yang sedang
mengalami kesulitan, teman yang terluka oleh perkataan kita, atau orang yang
berbeda suku, agama, budaya, dan pandangan dengan kita. Kasih Kristen tidak
memilih-milih siapa yang layak dikasihi. Kasih justru hadir ketika kita
bersedia mendekat kepada mereka yang terluka, meskipun hal itu menuntut
pengorbanan waktu, tenaga, dan kenyamanan.
Kasih yang diajarkan Yesus juga menantang gereja untuk
menjadi komunitas belas kasihan. Gereja dipanggil bukan hanya menjadi tempat
orang beribadah, tetapi tempat orang mengalami kasih Allah melalui tindakan
nyata. Ketika gereja mengunjungi yang sakit, menolong yang miskin, mendampingi
yang lemah, mengampuni yang bersalah, dan membuka tangan bagi mereka yang
berbeda, saat itulah dunia melihat kasih Allah bekerja melalui umat-Nya.
Penutup
Yesus tidak menutup percakapan ini dengan teori, tetapi dengan sebuah perintah: "Pergilah, dan perbuatlah demikian." Hidup kekal bukan dibuktikan oleh banyaknya pengetahuan tentang Allah, melainkan oleh kehidupan yang mengasihi Allah dengan segenap hati dan mengasihi sesama melalui tindakan belas kasihan. Marilah kita menjadi orang-orang yang bukan hanya bertanya siapa sesama kita, tetapi setiap hari memilih untuk menjadi sesama bagi siapa pun yang Tuhan hadirkan dalam perjalanan hidup kita. Dengan demikian, kasih Allah nyata melalui hidup kita dan menjadi kesaksian tentang Kerajaan Allah di tengah dunia. Amin. SRDP
🤝 Dukung Pelayanan Firman Tuhan
Apabila khotbah, renungan, dan artikel di website ini menjadi berkat, Anda dapat ikut mendukung pelayanan ini melalui doa maupun persembahan kasih.
❤️ Dukung Pelayanan